Me And Myguardian

Me And Myguardian
Calldira.



Kyline mendongak menatap Aistan yang sedang tertawa.


Apa yang lucu?


Kyline mendengus agar Aistan berhenti tertawa.


Aistan langsung terdiam ketika tiba-tiba Kyline menatap kosong kearah depan, seperti sedang memikirkan sesuatu.


Aistan mengerutkan dahinya, ia tidak suka melihat Kyline seperti ini jika sedang bersamanya.


Aistan maju selangkah lantas merengkuh pinggang ramping itu mendekat kearahnya.


Kyline tersentak lantas membulatkan matanya ketika mendongak menatap aistan yang sangat intim dengan dirinya.


Kyline mencoba melepaskan tangan aistan yang sedang memeluk pinggangnya, tapi naas tenaga Aistan lebih kuat darinya.


"Lepas Ais." Kyline berbisik dengan pelan.


Aistan tersenyum tipis bahkan sangat tipis, ketika mendengar Kyline hanya menyebut tiga huruf dari nama depannya.


"Kalo gue gamau?" Aistan menaikan sebelah alisnya menantang Kyline.


Ingin rasanya Kyline langsung menciptakan api ditangannya lalu dilempar kewajah Aistan yang arogan itu, jika perlu ia langsung teleportasi ke kemarnya.


Tapi apa daya, fisik dan batinnya tidak sejalan. Bahkan tangan ia sudah meremas roknya karena bingung harus berbuat apa, tidak mungkin ia memanggil guardiannya, yang ada Kyline akan ditertawakan karena tunduk dengan lelaki dihadapannya.


Astaga, kemana keberanianku dihadapan lelaki ini?


Kyline masih merutuki fisiknya yang tidak sejalan dengan yang dipikirkan-nya.


Aistan mengangkat dagu Kyline agar menatapnya. Tatapan yang sangat sulit dibaca dari aistan berhasil membuat Kyline enggan mengalihkan matanya.


Banyak misteri didalam mata itu, Kyline melihat samar aura kekuasaan yang menguar dari lelaki dihadapannya, Aura yang belum pernah ia lihat dari siapapun. Aura yang bisa membuat seluruh wanita bertekuk lutut dihadapannya.


Aistan sengaja membiarkan Kyline melihat auranya, hanya setengah tidak lebih. ia tau Kyline tidak bodoh ingin melewatkan kesempatan yang diberi Aistan untuk menatapnya, dengan menatap sedekat ini Kyline bisa melihat lebih jauh siapa sebenarnya Aistan.


Aistan juga sengaja membiarkan Kyline melihat sedikit memorinya, untuk meredakan rasa penasaran wanita dihadapannya.


"Sudah cukup." Setelah Aistan mengatakan itu, ia menarik pinggang ramping Kyline lebih dekat.


Aistan memiringkan wajahnya lantas diciumnya bibir mungil Kyline, hanya sepuluh detik.


Manis.


Aistan tersenyum tipis setelah mencium Kyline, Aistan sebenarnya ingin lebih, tapi wanita dihadapannya harus menyesuaikan diri dulu dengan yang barusan ia lakukan. ia tau Kyline belum pernah berciuman sebelumnya. Bahkan wanita ini jarang dipeluk oleh lawan jenisnya.


Munafik jika ia tidak tergoda dengan tubuh ramping Kyline. Harumnya, auranya, parasnya.


Bahkan makhluk atau penyihir berkekuatan tinggi manapun akan langsung menerjang Kyline jika tidak lihat ada aura mematikan yang melindunginya.


Kyline tercengang, badannya berubah menjadi kaku seperti boneka manekin. Sungguh lelaki dihadapannya baru saja menciumnya.


MENCIUMNYA?!


Kyline membulatkan matanya lantas menatap aistan dengan tajam.


"Ais—"


Kyline tidak melanjutkan ucapannya ketika melihat Aistan menyentuh pipinya dengan jarinya.


"Dari sekian banyak wanita yang gue temuin selama gue hidup, kenapa harus lo?"


Kyline mengerutkan keningnya, mencoba mencerna ucapan Aistan.


"Wanita yang selalu menutupi kelemahannya, Wanita yang mencoba kuat dihadapan semua orang."


Aistan semakin merengkuh pinggang ramping Kyline. "Lo ga se-sempurna itu."


Aistan terdiam sejenak membiarkan Kyline mencerna semua ucapannya. ia sudah memikirkan ini semalaman, setelah kejadian di dunia manusia bersama wanita ini. Aistan selalu ingin bersamanya lagi dan lagi.


"Lo wanita pertama yang bisa bikin gue ngomong panjang lebar, Dari semua wanita yang gue temuin, kenapa harus lo yang bisa ngebuat gue takut kehilangan?"


Kyline tercekat, mencoba mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap bernapas.


"Kenapa harus lo?" Aistan memajukan wajahnya lantas berbisik pelan ditelinga Kyline.


Kyline menelan ludahnya. Pasti wajahnya sudah tidak karuan ntah seperti apa sekarang ini.


Aistan merasakan aura seseorang sedang mendekat kearah mereka. Ketika Kyline ingin membuka mulutnya, belum sempat sepatah katapun keluar dari bibirnya. Tiba-tiba Aistan sudah memeluknya dengan erat.


Lalu tombak es melesat dengan cepat kearah mereka berdua. Aistan merentangkan tangan kanannya kedepan lantas muncul barier didepan mereka berdua.


DUARR!!


Muncul suara memekakan telinga ketika tombak dan barier itu berbenturan.


Beruntung Aistan sudah menciptakan pelindung kedap suara disekitar mereka. Jadi suaranya tidak terdengar disepanjang koridor.


Kyline tercengang hingga tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun, karena kejadian ini sangat cepat.


Saat ini Aistan benar-benar sedang memeluknya, Aroma yang sangat memabukan melingkupinya, Nyaman dan hangat bercampur jadi satu seperti sedang tidur diatas awan.


Aistan menoleh kearah lain ketika Kyline menatapnya. "Jangan membuatku marah."


Kyline mengikuti arah pandang Aistan, lantas mendapati seorang wanita tinggi semampai berjalan mendekat, sepatu hak tingginya menggema disepanjang ujung koridor. Ada senyum menawan yang terkesan angkuh diwajahnya.


Aura yang melingkupinya tidak bisa dianggap remeh. "Senang bertemu denganmu disini, Aistan Lux Orfeus."


Mata wanita itu lalu jatuh pada salah satu tangan Aistan yang melingkari pinggang Kyline. "Bukankah terlalu terbuka seorang Aistan menunjukan kemesraannya didepan umum?"


Sontak Kyline ingin melepas tangan Aistan dari pinggangnya, tapi Aistan semakin mendekap tubuh Kyline dengan erat, hingga kepala Kyline membentur dada bidang Aistan.


"Mau ngapain ditempat ini?"


Wanita di hadapan Aistan mengedikan bahunya. "Ini tempat umum kalo kamu mau tau."


"Calldira Maia Nara." Aistan menyebut nama itu dengan penuh penekanan. Sorot matanya sangat dingin.


Kyline baru ingat jika dulu dirinya ditatap hampir serupa dengan yang Aistan perlihatkan sekarang ini. Tapi semenjak dari dunia manusia Aistan mulai mengurangi sorot seperti itu. ia baru menyadari sejak kemarin aistan tidak memperlihatkan raut dingin itu lagi didepan Kyline.


"Harus kamu tau, Aku tidak sedang bercanda."


Wanita bermarga Nara itu menunjukan senyum menawannya. "aku juga tidak sedang bercanda, Aku hanya tertarik...sama dia." Calldira mengalihkan pandangannya kearah Kyline.


"Siapa dia? Jelas bukan penyihir biasa. hingga bisa membuat seorang Aistan melindunginya."


"Bukan urusanmu." Jawaban dengan nada datar itu semakin membuat Calldira penasaran.


Calldira mencibir. "Raja yang aku kenal bukan tipe yang akan peduli dengan wanita, kecuali pada adik dan bundanya. Apa artinya dia buat kamu?"


"Jaga batasanmu Dira!" Aistan menyorot datar wanita dihadapannya.


"Aku hanya penasaran." Elak Calldira seraya menoleh kearah Kyline seperti sedang menilai.


Kyline geram dengan wanita angkuh dihadapannya. Lantas ia melepas tangan Aistan dipinggangnya yang mengendur.


Kyline maju selangkah balas menyorot remeh wanita dihadapannya.


ia menaikan sebelah alisnya menantang wanita dihadapannya.


Kyline bukan wanita lemah yang harus berdiri dibelakang ketiak laki-laki.


Dari kecil ia sudah terbiasa mengatasi wanita congkak dihadapannya ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ayo kawan yang budiman Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa, biar author slalu inget buat lanjutin ceritanya🤞🏻