
"Enghh." Kyline merentangkan kedua tangannya, badan ia terasa pegal-pegal, ntah karena kecapean atau kebanyakan tidur, Kyline pun tidak tau.
Kyline melihat sekitarnya lalu mengerutkan keningnya, merasa ada yang ganjil.
Tapi apa?
"Siap-siap Kyline lima belas menit lagi bel berbunyi." Meira sedang duduk dengan tenang sembari menyesap tehnya.
Seketika bola mata Kyline melebar setelah mengingat kejadian kemarin.
Kenapa aku sudah tiba diacademy?
Dimana Aistan?
"Meira, menga-"
"Semalam ada siswa academy yang mengantarmu kesini, Dia mengatakan kau tertidur ketika perjalanan pulang." Meira tidak akan membiarkan Kyline menyelesaikan kalimatnya, karena nanti akan muncul pertanyaan beruntun yang Kyline ajukan.
"Jangan potong ucapanku Meira!" Kyline berkata dengan nada tajamnya.
"bagaimana kencanmu dengan pemuda itu?" Meira berkata dengan senyuman yang menggoda, tidak menghiraukan ucapan tajam Kyline.
Seketika Kyline mengingat kejadian semalam, senyum tipis terukir dibibir mungilnya. "itu bukan kencan, hanya jalan-jalan biasa."
Kyline turun dari kasurnya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk menghindarkan pertanyaan Meira, Kyline tidak menghiraukan Meira yang sedang terkekeh.
"Akhirnya status lajangmu selama ratusan tahun akan hilang, JANGAN LUPA KENALKAN DIA KEPADAKU YA KYLINE." Teriak Meira agar Kyline yang berada didalam kamar mandi mendengarnya.
Setelah mengatakan itu Meira bertopang dagu alisnya tertaut, tadi setelah Kyline bangun ia berniat melihat apa yang terjadi kemarin dengan Kyline. cara satu-satunya lewat tatapan mata, tapi yang ia lihat hanya kegelapan seolah ada kabut yang menghalanginya untuk melihat.
Tidak salah lagi, Aistan yang mengunci nya agar tidak bisa dilihat oleh siapapun.
Meira geleng-geleng kepala takjub, tidak menyangka Kyline akan bersanding dengan Aistan.
Meira yang melihat Kyline keluar kamar mandi lantas menutup bukunya, pandangannya tidak lepas dari Kyline. "Kita berlima sudah tau dimana letak pusaka itu Kyline."
Sedangkan Kyline yang sedang memakai pakaiannya menoleh kearah Meira. "kata kau tidak mudah untuk menemukan pusaka itu, karena ada sihir yang menghalanginya."
"Semalam kita berlima merasakan energi cukup besar diruang bawah tanah, mungkin itu tempatnya."
Kyline mengerutkan alisnya. "kekuatan guru-guru di academy ini tidak bisa dianggap remeh Meira."
"Satu lagi Kyline, pusaka itu dijaga seekor Hydra."
Seketika Kyline membalikan badan sepenuhnya menghadap Meira. "Hydra? Hewan itu cukup merepotkan." Kyline berdecak malas ketika mendengar nama hewan itu.
Meira menganggukan kepalanya membenarkan ucapan Kyline, hewan itu cukup sulit diajak negoisasi.
"Ular yang waktu itu ingin menemui mu lagi Kyline." Meira berkata sembari berjalan mengambil jubahnya.
Kyline yang sedang kesusahan memakai sepatu menghentikan kegiatannya. "malam ini suruh dia kesini, aku juga memiliki banyak pertanyaan untuknya, tidak mungkin dia hanya guardian."
Meira menganggukan kepalanya. "kau benar Kyline, dia hanya menyamar menjadi guardian untuk menunggumu."
Kyline yang sudah memakai sepatunya lantas berdiri tegak dan menautkan alisnya. "Hmm, menarik."
"Aku melihat sedikit masa lalunya, dia cukup dekat dengan ibundamu Kyline."
Kyline yang sedang berkaca membalikan badannya kearah Meira, raut wajahnya berubah sendu. "Mungkin ada pesan yang ingin dia sampaikan, aku sudah lumayan lama dikastil, banyak yang sudah berubah."
Meira yang melihat raut wajah Kyline hanya menghela napas pelan. "Kita beri mereka semua kematian yang menyakitkan Kyline." Meira tersenyum tipis ketika Kyline sedang menatapnya.
"Akan aku buktikan ke mereka semua siapa penguasa yang sebenarnya." Kyline berkata dengan senyum miringnya.
itu baru calon ratuku.
Meira yang melihat Aistan sedang bersandar ditembok dekat Kyline hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda hormat, sedangkan Aistan hanya melirik sekilas kearah meira lalu menghilang.
Kyline tidak menyadari saat ia keluar kamar mandi, Aistan sudah berdiri dipojok ruangan memperhatikan setiap gerak-geriknya, Meira pun hanya pura-pura tidak melihat agar Kyline tidak curiga.
...****************...
Sesampainya dikelas Kyline duduk dengan tenang, ia menoleh kesamping seperti menunggu seseorang yang duduk disebelahnya, tapi tidak kunjung datang.
Tidak lama Ms.Jeje masuk dengan ularnya yang mengikuti dibelakang.
"Halo anak-anakku, senang melihat kalian semua masih sehat." ucap Ms.Jeje dengan menatap seluruh muridnya.
Apa tidak ada kata-kata lain?
Kyline hanya berdecak malas, mendengar perkataan gurunya setiap masuk kelas tidak pernah berubah.
"Seperti yang kemarin saya bilang, Hari ini akan ada pertandingan antar kelas. Diantara kalian semua akan dipilih salah satu oleh kaum fairy untuk bertanding. TUNJUKAN KEMAMPUAN TERBAIK KALIAN NANTI!" Ms.Jeje berkata dengan suara lantangnya agar seluruh muridnya ikut merasakan semangat yang membara pada dirinya.
Sedangkan Kyline hanya menatap gurunya datar. Sungguh perkataan gurunya itu terlalu berlebihan.
Ms.jeje menyeringai melihat seluruh muridnya tegang. ia menyentak kakinya kelantai dengan mengucap mantra yang sangat pelan lalu kedua tangannya direntangkan. Kelas pun mulai bergetar, Semua murid menunggu apa yang selanjutnya terjadi, tidak ada yang bergerak sama sekali. bahkan saat angin mulai menerbangkan rambut mereka, semua murid menutup mata mereka ketika angin berhembus sangat cepat, membawa mereka semua ke sebuah tempat ntah dimana.
"Welcome in Elago." Sebuah suara penyambut menyadarkan mereka, lantas mereka mulai membuka matanya.
Pemandangan yang pertama kali Kyline lihat adalah lapangan yang sangat luas dengan setiap tribun disisinya.
Semua murid telah hadir dari setiap kelas dengan kekuatan elemen gurunya masing-masing.
"Semua kelas sihir I-E cepat ikuti saya!" Ms.jeje berkata dengan suara lantangnya agar seluruh murid mengalihkan pandangannya.
Ms.jeje mulai berjalan menuju tribun, ketika ingin masuk dihadapannya terdapat lelaki dengan mengenakan jubah merahnya, ia bercakap-cakap sebentar dengan Ms.jeje lalu pandangannya beralih kearah seluruh murid I-E.
"Senang melihat kalian semua calon penyihir hebat." pria itu berkata dengan senyumannya lalu mempersilahkan mereka semua naik keatas tribun.
Calon?
Raut wajah Kyline berubah datar ketika mendengar perkataan lelaki dihadapannya.
Kyline mulai naik keatas tribun, pandangannya menyapu keseluruhan murid-murid academy.
Sangat ramai.
Bahkan banyak yang bukan murid newbie ikut menyaksikan. Lalu pandangan semua murid beralih ketika melihat seseorang sedang menaiki seekor pegasus dan terbang ketengah-tengah lapangan.
"Salam untuk kalian semua calon muridku." pria itu berkata dengan suara lantangnya yang sangat keras dibantu oleh sihir.
"Sesuai yang dikatakan wali kelas kalian masing-masing, hari ini akan diadakan pertandingan antar kelas. Pemimpin kerajaan ingin melihat kekuatan calon murid feoorin academy, jika kalian beruntung salah satu dari kalian akan dipilih oleh pemimpin menjadi bagian dari sepuluh guardions."
Kyline mengalihkan pandangannya ketika mendengar kata 'pemimpin kerajaan.' pandangan ia beralih tepat disebrang tribunnya yang terdapat beberapa pemimpin kerajaan yang sedang bersenda gurau.
Seketika tangan Kyline mengepal hebat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayo kawan yang budiman Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa!