Magic Shine/Origin

Magic Shine/Origin
Chapter 44: Dampak



"Astaga," Celetuk Selvia, yang terkejut mendengar penjelasan Lunaris barusan.


"Maka dari itu, aku diselamatkan oleh ksatria dari kerajaan Valhalla, menuju ke kerajaan sekutu." Jelas Lunaris.


Selvia mengangguk, yang menandakan bahwa ia mengerti situasi Lunaris. Selvia mengerti bahwa satu tahun terakhir, hubungan antara Pendragon Hall dan Valhalla sedang tidak baik, mungkin itu berpengaruh kepada perlakuan Lunaris.


"Lalu kau mengajak Gen ke acara perpisahan mu, karena kamu merasa tidak memiliki siapa-siapa di Kerajaan ini?" Tanya Selvia tanpa basa-basi.


Lunaris tersenyum tipis, "Ya begitulah, lebih tepatnya aku ini buruk dalam bersosialisasi. Akan tetapi ketika bertemu dengannya, aku sedikit tertarik dengan orang itu."


Setelah perkataan Lunaris barusan, keadaan pun menjadi canggung. Selvia pun berpamitan pada Lunaris untuk menjenguk Gen di kamar yang lain.


"Tunggu, izinkan aku ikut!" Ucap Lunaris, sembari melepas selang infusnya.


"Kau yakin? bagaimana dengan kondisimu?" Tanya Selvia yang khawatir dengan kondisi Lunaris.


"Tidak apa-apa, ayo!" Ia berjalan dengan santai menyusul Selvia.


Mereka berdua keluar dari kamar Lunaris, kemudian mengetuk pintu dan masuk ke kamar Gen yang tepat berada di sebelah kamar Lunaris.


Mereka berjalan beriringan, kemudian Selvia mengetuk pintu kamar Gen, dan langsung membukanya karena tidak dikunci.


"Permisi," Salam Selvia.


"Astaga!"


Mereka berdua langsung terkejut seketika, setelah melihat kondisi kamar Gen. Kamar itu sangat kacau, dan Selvia pun tidak sengaja melihat gelang Kirin yang tergeletak di ujung ruangan.


Selain itu, ia juga melihat Gen yang sepertinya sedang duduk di bawah bangsalnya, sembari memegangi kepalanya.


"Maafkan aku! maafkan aku! maafkan aku! maafkan aku!" Gumam Gen, secara terus menerus.


Selvia beranjak mengambil Gelang Kirin, untuk menanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Apa yang terjadi?" Tanya Selvia.


"Dia, tengah mengalami masa yang sulit sekarang," Ujar Kirin.


Selvia tidak mengerti apa yang sebenarnya Kirin ucapkan, tapi ia memahami situasi saat ini tidak memungkinkannya untuk bicara dengan Gen.


Selvia menatap Lunaris, dan Lunaris pun langsung paham apa maksudnya. Mereka berdua pun memilih untuk keluar dari kamar Gen, dan membicarakan hal ini di tempat lain.


Sesaat setelah Selvia menutup pintu, Kirin pun langsung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di kamar Gen, beberapa saat yang lalu.


"Ketika ia pingsan, ia terus menginggau tentang pertempuran yang terjadi di Akademi, lebih tepatnya ketika ia bertarung bersama Alaster." Ujar Kirin.


"Mereka hanya bertarung besama kan? atau mungkin, ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Selvia, yang sepertinya bingung dengan pertanyaan Kirin barusan.


"Dia membunuhnya." Celetuk Lunaris.


"Dia, Genius Ren Arion, telah membunuh Alaster ketika pertarungan itu." Jawab Lunaris dengan nada yang dingin.


Hal itu tentu saja membuat dada Selvia sesak. Ia mempercayai bahwa Gen tidak akan melakukan hal itu secara sengaja, Dia ingin mengetahui ceritanya dengan jelas, tanpa ada yang disembunyikan.


"Iblis itu menggunakan Alaster sebagai tameng, ketika Gen mencoba untuk menyerangnya. Serangan Gen yang bertujuan untuk langsung membunuh Iblis itu, malah mengenai Alaster, dan membuatnya tewas di tempat. Iblis itu nampaknya tahu bahwa hal itu akan menghancurkan mental Gen, seperti yang terjadi saat ini," Kirin mencoba menjelaskan supaya tidak terjadi salah paham.


Tanpa sadar, air mata Lunaris mengalir. Ia menundukkan kepalanya, lalu meminta maaf.


"Jika aku tidak mengajaknya, maka hal ini tidak akan terjadi! Maaf saja tidak cukup untukku, aku akan, menyerahkan diri pada mereka supaya tidak menganggu Kerajaan ini lagi!"


Semua orang yang ada di rumah sakit pun langsung menoleh kearah mereka karena teriakan Lunaris, dan membuat keadaan menjadi hening.


Selvia membangunkan Lunaris, kemudian mengajaknya untuk pergi ke tempat lain tanpa mengatakan apa-apa.


Selvia dan Lunaris tiba di halaman belakang rumah sakit, dan mereka pun mencari tempat yang sepi supaya tidak menarik perhatian.


"Plakk!"


Sebuah tamparan mendarat di pipi Lunaris, sesampainya mereka disana. Terlihat sorot mata Selvia kian tajam.


"Apa kau berfikir, jika kau bersedia kalah, maka keadaan akan baik-baik saja? Apa kau pikir, kau tidak akan melakukan hal yang sama dengan Iblis api itu di kemudian hari, ketika kau berubah. Apa kau ingin membuat kami semua terbunuh? Apa kau ingin korban berjatuhan lebih banyak lagi, hah!"


Lunaris tersentak, mendengar ucapan Selvia. Apa yang diucapkan Selvia benar. Ia menyerahkan diri supaya tidak ada masalah, namun masalah lain akan datang ketika kita mengambil keputusan yang terburuk.


"Kurasa Gen sudah lebih tenang, hapus air matamu dan kita kembali untuk membantunya," Ucap Selvia, yang langsung berjalan tanpa menatap Lunaris.


Lunaris menghapus air matanya, kemudian berjalan di belakang Selvia.


...****************...


Disaat mereka berdua melewati Koridor, semua mata menatap mereka. Hal ini membuat Lunaris canggung, akan tetapi tidak untuk Selvia. Sorot matanya menunjukan ketidakpedulian, nampaknya ia sudah terbiasa dengan pandangan orang lain yang seperti itu.


Selvia mengetuk pintu, lalu membukanya dengan perlahan. Saat mereka masuk, lagi-lagi mereka dikejutkan dengan pemandangan yang aneh.


"Arthur?" Selvia melihat Arthur yang tengah babak belur, dengan Gen yang sedang terengah-engah.


Kamar pun lebih berantakan dari yang sebelumnya, nampaknya telah terjadi konflik sebelumnya.


"Pengecut! Apa kau tidak perduli dengan orang-orang yang butuh dilindungi? apa kau masih berani menyebut dirimu itu pahlawan? Kau itu hanya seorang sampah, yang kebetulan menerima tanggung jawab yang terlalu besar untukmu!" Bentak Arthur.


"Hahahah, kau berani berbicara begitu, padahal kau hanya perduli pada Beliana! Jika Beliana tidak mendapatkan hal buruk, maka kau tidak akan mungkin terpikir untuk melakukan ini!" Gen meninju Wajah Arthur dengan cukup keras.


"Hei kalian berdua, berhenti!"


Lunaris segera menutup pintunya, supaya tidak terjadi keributan.


"Apa yang, sebenarnya terjadi?"