Magic Shine/Origin

Magic Shine/Origin
Chapter 30: Konflik seorang pemimpin



2 Hari berlalu, sejak kehancuran Desa Minos.


Pukul 16:42


Arthur sedang berdiam diri di kamarnya, sembari memikirkan ucapan yang dilontarkan oleh Gen. Ia terbawa emosi ketika Gen merendahkan Pemerintah, namun ia sendiri tidak mengerti alasan mengapa Gen bersikap seperti itu.


Selama ini, ia hanya berfokus pada kekuatan. Arthur sama sekali tidak memiliki kemampuan berpolitik, karena baginya, menjadi seorang Raja berarti harus melindungi rakyatnya secara langsung.


"Chimera, apa kau merasa bahwa ada yang salah dengan kerajaan ini?" Tanya Arthur, kepada Chimera yang berada di dalam tubuhnya.


"Sudah ratusan tahun aku terkurung di kerajaan ini, tentu saja aku lebih dulu menyadarinya, jauh sebelum dirimu," Jawab Chimera.


Rasa penasaran Arthur semakin tinggi, namun ia merasa ragu untuk membuktikannya. Pasalnya, ia telah menentang semua perkataan Gen, jika ia berbalik dan membenarkan perkataan Gen, maka sama saja ia telah menjilat air liurnya sendiri.


Harga diri dan kebenaran, kedua hal yang sulit dipadukan. Setiap orang pasti memiliki harga diri, bahkan mereka rela menutup semua kebenaran, hanya agar harga diri mereka tetap terjaga. Itulah kondisi Arthur saat ini, terlahir dari keluarga kerajaan, tentu saja membuatnya memiliki harga diri yang tinggi.


Hati Arthur saat ini sangat gundah, karena ia tidak memiliki Resolusi apa-apa sebagai seorang Pangeran. Disaat ia sedang kebingungan, Chimera pun langsung memberikan sebuah Ide kepada Arthur.


"Bagaimana jika kau melihat langsung, bagaimana cara ayahmu memerintah?" Saran Chimera.


"Aku kan tinggal disini, jadi aku tahu bagaimana mereka bekerja," Timpal Arthur.


"Oh ya? Kau bahkan belum pernah masuk ke ruang rapat loh," Celetuk Chimera.


Arthur pun tersentak, dan langsung bangun dari posisi tidur ke posisi duduk. Ia baru saja mengingat sesuatu, bahwa Ayahnya sama sekali tidak pernah mengajaknya untuk berdiskusi soal kerajaan.


Tentu saja hal ini merupakan hal yang rancu, mengingat Arthur adalah Calon Raja, tapi ia tidak diberikan bekal apapun untuk memerintah. Arthur pun menyetujui perkataan Chimera, dan ia pun keluar dari kamarnya yang mewah itu.


Arthur berjalan dengan santai, supaya tidak menarik perhatian. Namun, semuanya justru berbanding terbalik dengan bayangan Arthur, semua orang yang ada di dalam Istana seakan terkejut ketika melihat kemana Arthur hendak pergi.


"Hei, apakah pangeran Arthur akan pergi ke Ruang rapat?" Bisik salah satu pelayan kepada pelayan yang lainya.


"Ini keajaiban atau justru petaka ya?" Bisik Orang yang lainya.


Mereka membicarakan hal buruk tentang nya, namun meskipun mendengarnya, tidak ada reaksi yang ditunjukan oleh Arthur. Ia hanya berjalan menatap kedepan, dengan tatapan yang kesal.


Setibanya ia di lorong, dimana Ruang rapat terletak, ia melihat ada 2 Orang penjaga Kerajaan yang sedang berjaga disana. Salah satu dari mereka adalah Centaur, dan satu lainnya adalah Orc. Keputusan yang tepat untuk menempatkan mereka disana, karena kedua Ras itu terkenal akan ketangguhan fisiknya.


"Sial, aku terlambat! Tidak, aku bahkan tidak tahu kapan Rapat itu diadakan," Gumam Arthur, ketika melihat dari kejauhan.


"Masuk saja, lagi pula kau adalah Anak Raja bukan?" Ujar Chimera, seraya memberi saran untuk Arthur.


Arthur pun menyetujui saran Chimera, namun niatnya batal, dikarenakan Rapat yang diadakan sudah selesai.


Para peserta rapat pun keluar ruangan, kecuali Sang Raja dan Sang Ratu. Arthur yang terkejut pun langsung bersembunyi dibalik dinding, dan ia sengaja membalikan tubuhnya supaya terlihat seperti orang yang sedang berjalan.


Dan benar saja, tidak ada yang memperhatikan Arthur, dikarenakan ia tidak memakai Almamaternya. Apalagi warna rambut pirang adalah hal lumrah, jadi penampilan Arthur di istana bisa dibilang tidak terlalu mencolok, jika tidak memakai Almamater.


Saat semua orang sudah tidak terdengar lagi, Arthur pun kembali menengok ke arah Ruang rapat. Saat ia kembali, Arthur sudah tidak mendapati 2 orang penjaga yang berjaga disana.


"Sepertinya, mereka membicarakan hal yang sangat penting, bahkan sampai tidak ingin penjaga sampai tahu. Baiklah, ini kesempatanku!" Arthur menggendap-endap kearah ruang rapat, lalu berhenti di dinding yang ada di samping pintu, supaya kedua Orang tuanya tidak menyadari keberadaanya.


Ruang rapat adalah ruang yang paling tabu untuk dilewati, bahkan para ksatria kecuali yang dipilih, dan para pembantu yang ada di Istana ini sampai disumpah untuk tidak melewati, atau bahkan menguping pembicaraan orang penting di kerajaan, karena informasinya memang benar-benar rahasia.


Arthur pun mulai memasang telinganya, untuk mendengarkan secara seksama, apa yang sebenarnya diucapkan oleh Raja dan Ratu.


"Eliza akan segera kembali, aku harap, pengetahuannya tentang memimpin suatu kerajaan lebih daripada Anak sulung kita," Ujar Sang Raja.


"Itu pasti. Tapi, apa kau yakin akan menggantikan posisi Arthur dengan Eliza, pasalnya, Arthur dipilih sendiri oleh pedang Legendaris Excalibur," Sanggah Sang Ratu, seolah ragu dengan keputusan sang Raja.


"Arthur tidak bisa diharapkan untuk menjadi Raja. Lagipula, pedang hanyalah pedang, sudah banyak Raja atau Ratu yang dipilih bukan berdasarkan Takhayul lama itu. Bukan rahasia lagi, bahwa Arthur adalah 'Aib kerajaan' Sehingga para mereka pasti akan memberontak jika ia menjadi raja, aku tidak ingin mengambil Resiko tersebut." Jelas sang Raja, sembari menengguk Wine.


Arthur hanya dapat menahan rasa kesalnya, ketika mendengar apa yang keluar dari mulut ayahnya sendiri. Ia tidak sanggup untuk mendengarkan lebih banyak, dan akhirnya memilih untuk pergi dari tempat itu.


Ia keluar melalui jendela, lalu menggunakan Eagle Armor untuk terbang, dan pergi dari Istana untuk menenangkan diri. Tentu saja hal itu hanyalah setitik kebenaran yang diketahui Arthur, namun sepertinya Arthur belum siap untuk menghancurkan seluruh ekspetasinya.


......................


Arthur memilih untuk menenangkan diri di Desa Sinos, ia pun terbang di angkasa namun tanpa bergerak sedikitpun, alias hanya berdiam diri disana. Hari sudah mulai larut, namun Arthur belum ingin turun, dan kembali ke Istana.


Karena Mana nya mulai surut karena terlalu lama menggunakan kekuatan Chimera, Arthur pun memilih untuk turun.


Saat ia turun, Ia terkejut ketika melihat ada sekitar 3 orang yang keluar dari sebuah rumah. Ketiga orang itu nampaknya mabuk, tak lama kemudian, seorang pria paruh baya keluar dari rumah yang sama, kemudian memberikan beberapa keping emas kepada ketiga pria itu.


Arthur pun segera mencari posisi aman, supaya ia tidak ketahuan, sekaligus agar ia dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


"Anakmu itu memang luar biasa, aku tidak bisa melupakan sensasinya!" Ujar salah satu Ogre Pria yang sedang mabuk.


"Benar, tubuhnya benar-benar mulus!" Timpa pria yang merupakan seorang manusia berumur sekitar 25 tahunan.


"Terima kasih telah melindungi desa ini, hanya ini yang bisa aku lakukan. Maaf, permisi dan selamat malam, para Ksatria," Ujar Pria paruh baya itu, dengan ekspresi seakan menahan tangis.


Arthur terkejut, dengan apa yang barusan Pria itu katakan.


"Jadi, 2 Ogre dan 1 Manusia itu adalah Ksatria? Tapi, apa yang sebenarnya mereka lakukan?"


Ketiga Ksatria yang tengah mabuk itu pun pergi, dan meninggalkan rumah yang baru saja mereka singgahi. Saat Arthur hendak mengikuti ketiga Ksatria tersebut, ia tak sengaja mendengar suara dari rumah yang baru saja mereka singgahi.


"Teganya kau menjual keperawanan ku kepada ketiga ******** itu! Kenapa, ayah?" Jerit seorang wanita dari dalam rumah.


"Maaf nak, Ayah tidak punya pilihan lain! Jika satu ada orang saja yang tidak membayar sesuai tarif, maka mereka tidak akan mau melindungi desa ini dari para perampok dan penjahat lain. Maafkan Ayah nak!"


Hati Arthur tersayat ketika mendengar itu. Tetangga mereka pun begitu, namun mereka seakan tidak peduli, dan hanya menutup korden jendela mereka rapat-rapat, berharap suara pilu itu tidak menghantui mereka.


Arthur pun menguatkan hatinya, lalu melanjutkan perjalanannya untuk mengikuti ketiga Kstaria tadi. Arthur mengikuti mereka, hingga sampai ke Pos prajurit yang ada di desa Sinos.


"Akhirnya kalian kembali. Cepat, berikan sisa emasnya kepadaku!" Seru salah satu ksatria berjirah lengkap.


"Sepertinya, dia komandannya," Gumam Arthur.


Ketiga Ksatria itu pun memberikan koin emas yang mereka dapatkan dari pria paruh baya tadi, dan memasukannya ke kantung yang sudah disediakan oleh si komandan.


Tak lama kemudian, beberapa orang pun berlari seakan ingin menerjang mereka semua. Semuanya panik, kecuali si Komandan. Ia hanya menahan serangan yang dilancarkan oleh seseorang yang mengenakan topeng, nampaknya ia adalah bandit.


Kumpulan bandit dibelakangnya pun bersiap mengeluarkan senjata mereka, namun Si komandan menyuruh mereka untuk tenang dan berbicara baik-baik.


"Aku akan memberi tawaran bagus untuk kalian," Ujar Si Komandan.


Bandit yang barusan menyerang si komandan pun mendadak tenang, dan penasaran dengan apa yang akan ditawarkan oleh Si Komandan itu.


"Apa tawaran yang kau maksud?"


"Aku akan memberikan kantung berisi uang ini untuk kalian, tapi kalian harus berpura-pura dikalahkan esok hari pada jam 5 pagi. Setuju?"


"Pura-pura tertangkap ya, bukankah itu merugikan kami?"


"Tentu saja, tidak. Kami akan menangkap kalian seolah kalian belum sampai ke desa itu, dengan begitu hukuman kalian hanya dipenjara selama seminggu atau bahkan satu hari. Lain cerita jika kalian merampok sungguhan, sudah belum tentu mendapatkan hasil, lalu tertangkap dihukum berat. Bagaimana, tawaran bagus bukan?"


Para Bandit sepertinya tertarik dengan penawaran si Komandan, dan mereka pun menyetujuinya tanpa negosiasi.


"Dengar, kami dapat melacak kalian jika kalian berkhianat. Kami para Ksatria itu saling berbagi informasi, jadi jangan coba-coba untuk berkhianat!" Ancam Si komandan, sebelum menyerahkan kantung uang itu kepada Para Bandit.


Para Bandit pun menerima uang itu dengan perasaan senang, kemudian ia pun langsung pergi untuk bersiap menjalankan rencana busuk mereka di pagi hari.


Arthur yang tidak menyangka bahwa Ksatria bawahannya ternyata banyak yang Korup, bahkan sampai memanfaatkan warga sipil.


"Memeras para warga, lalu menggunakan nya sebagai pancingan untuk Bandit, dan akhirnya berdiri sebagai pahlawan palsu. Serendah itukah kalian!" Arthur tiba-tiba muncul dari balik semak-semak, kemudian melancarkan pukulannya tepat di wajah Si komandan.


Si Komandan pun terjatuh, dengan hidung yang mengeluarkan darah akibat pukulan Arthur.


"Hahaha, Pangeran rupanya. Kau sudah mengetahui ini, lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanya Si komandan dengan nada yang merendahkan.


"Aku akan memenjarakan kalian semua, jika perlu, aku akan membunuh kalian!"


"Whoahhahaha! Kau pikir kau siapa? Sudah kubilang bukan, kami ini saling terhubung satu sama lain. Memanipulasi bukti sangat mudah dilakukan, apalagi hanya menghadapi mu, Aib kerajaan!" Komandan itu membalas Arthur menggunakan tendangannya.


"Tidak akan ada yang percaya padamu! Kau memang kuat pangeran, tapi kekuatan tidak dapat digunakan di segala situasi, kau harus tau itu! Sekarang pulanglah, dan renungkan lah. Tidak ada yang dapat kau lakukan, dasar aib!" Ketiga Ksatria lain yang berada disisinya pun tertawa, ketika melihat Arthur direndahkan seperti itu.


Arthur hanya bisa temenung, ketika melihat perlakukan ksatria kerajaan kepada dirinya. Ekspertasi nya benar-benar hancur dalam satu hari, dan ia berjalan dengan langkah yang terseret.


Ia mulai mengerti alasan mengapa Gen marah waktu itu, dan ia merasa malu kepada dirinya sendiri karena terlambat mengetahui tentang realita ini.


Realita bahwa, sistem pemerintahan di kerajaannya ternyata Korup, dan ia tidak bisa melakukan apapun dikarenakan tidak mendapat dukungan dari siapapun.


"Hahahaha! Sungguh, pangeran yang malang."


Bersambung