Magic Shine/Origin

Magic Shine/Origin
Chapter 31: Latihan bersama



Satu Bulan telah berlalu, semenjak kehancuran Desa [Minos], namun waktu yang telah terlewati itu tidak kunjung membuat Gen merasa lebih baik.


Sungai tempatnya berlatih terletak tepat di perbatasan antara kedua desa tersebut, hal itulah yang membuat Gen selalu mengingat peristiwa perih tersebut, dimana ia Gagal menyelamatkan orang lain.


Saat ia sedang melamun, tiba-tiba Gadis berambut coklat bernama Lunaris itu muncul kembali. Secara tidak langsung, mereka sudah cukup akrab, karena mereka berdua sudah sering bertemu selama Satu Bulan terakhir.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Lunaris, kepada Gen yang kala itu sedang termenung.


Gen pun mematahkan lamunannya, lalu menoleh kearah Lunaris.


"Ahh tidak, hanya melihat pemandangan desa yang hancur diseberang.


Lunaris pun menoleh kearah yang Gen maksud, namun ia sama sekali tidak melihat ada desa disana. Yang ada hanyalah hutan rimbun, nampaknya Desa Minos kini sudah tidak terurus, sehingga dibiarkan menjadi Hutan.


"Boleh aku duduk disampingmu?" Tanya Lunaris.


"Silahkan," Respon Gen, dengan sangat lesu.


Lunaris pun duduk disebelah Gen, namun ia duduk agak berjauhan. Lunaris sepertinya penasaran dengan Gen, itu karena walaupun mereka sering bertemu ketika latihan, namun Lunaris sama sekali belum pernah melihat Gen berlatih. Karena Selama ini, hanya Gen lah yang melihat bagaimana kemampuan Lunaris dalam sihir.


"Hei, kenapa kau tidak berlatih?" Tanya Lunaris, seraya memancing Gen agar mau memamerkan kekuatannya.


Gen menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasanya ia sangat malas untuk menggunakan kekuatannya saat ini, namun ia bingung bagaimana cara menolak Lunaris yang sepertinya sangat tertarik dengannya.


"Baiklah baiklah, akan ku tunjukan" Tak punya pilihan, akhirnya Gen pun berdiri.


Ia mengambil ancang-ancang, kemudian memusatkan fokusnya untuk membentuk bayangan kekuatan yang ia inginkan didalam kepalanya.


"Bentuk Elemen Api, Fase 3!" Aura api dari tubuh Gen langsung menyala, dan ia pun berhasil memasuki mode andalannya itu.


Lunaris merasa kagum, namun ia nampaknya merasa familiar dengan apa yang baru saja Gen lakukan.


"Itu, sihir pengubah warna baju dan rambut bukan?" Celetuk Lunaris.


"Enak saja! Ini adalah perwujudan kekuatanku tahu!" Bantah Gen, karena merasa tidak terima kekuatannya dibilang seperti itu olehnya.


Gen memamerkan sedikit keahliannya, seperti melemparkan bola api, dan pukulan api yang ia miliki.


"Hmm, pantas saja kau dapat mengalahkan penjahat waktu itu. Asal kau tahu, kau cukup terkenal dikalangan prajurit dan calon prajurit kerajaan, tapi mereka semua tidak mengetahui kemampuanmu," Ujar Lunaris.


"Lalu karena kau bertemu denganku, kau penasaran juga dengan kekuatanku?"


"Iya. Tapi sepertinya kau masih amatir, aku saja jauh lebih hebat daripada kau," Ejek Lunaris.


Gen tentu saja tidak terima dengan penghinaan itu, pasalnya, ia sudah terlanjur yakin bahwa dialah pemilik kekuatan paling hebat di Negara ini.


"Baiklah, bagaimana jika kita membuktikannya!" Tantang Gen.


Lunaris menaruh tongkat sihirnya, sekaligus membuka jubah yang sedari tadi ia kenakan. Terlihat Lunaris memakai Almamater berupa rompi berwarna biru, dengan tulisan "Witch" dipunggung nya.


"Baiklah, pertarungan tangan kosong ya!" Tantang Lunaris, sembari mengambil kuda-kuda.


Gen berubah kembali ke bentuk dasar, kemudian ia juga mengambil kuda-kuda untuk menghadapi gadis berambut coklat itu.


"Tidak apa, jika kau ingin menggunakan kekuatanmu," Lunaris menawarkan keringanan kepada Gen.


"Ini saja cukup!" Jawab Gen, dengan rasa percaya diri yang tinggi.


Pertarungan pun dimulai, Gen beranjak terlebih dahulu sembari mengarahkan tinjunya ke wajah Lunaris. Lunaris menunduk ketika melihat serangan datang, kemudian membalasnya dengan cara memukul dada Gen menggunakan telapak tangannya.


Gen tersentak ketika menerima pukulan itu, pukulan yang sangat tenang, namun cukup untuk membuat Gen kesakitan.


"Bagaimana dia bisa?" Gumam Gen, yang kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi.


Tidak cukup sampai disana, Lunaris lalu menendang kaki Gen ketika dia sedang lengah, dan itu membuatnya tersungkur. Saat Gen sedang terbaring, Lunaris menggeluarkan air dari tangannya, lalu membentuknya seperti belati, dan menodongkannya kearah Gen.


"Aku, menang!" Ujar Lunaris seraya mendeklarasikan kemenangannya.


Ia berhasil mengunci Gen, hingga Gen tidak dapat bergerak. Hal ini menimbulkan banyak kejanggalan dibenak Gen, mulai dari bagaimana caranya Penyihir bisa bertarung jarak dekat, dan Lunaris yang dapat menggunakan sihir walaupun tidak memegang tongkat ataupun membaca mantra.


"Lunaris, bagaimana kau mengeluarkan sihir tanpa membaca mantra?" Tanya Gen, secara frontal.


"Hmm, ini bukan sihir. Ini adalah bentuk Manifestasi dari tenaga dalam, yang aku ubah ke bentuk air," Jawab Lunaris, sembari menghilangkan kembali Air yang ada ditangannya.


Tentu saja hal itu membuat Gen semakin bingung, pasalnya, Kirin mengatakan bahwa Manusia tidak bisa memanifestasikan tenaga dalam miliknya selain ke bentuk Aura.


"Tapi, Guruku bilang, kita tidak dapat memanifestasikannya selain ke bentuk Aura?" Tanya Gen, lagi.


"Ini memang kemampuan terlarang, sebenarnya ini memang tingkat lanjut dari Aura. Setiap Manusia memiliki Elemen yang melambangkan sifat mereka, karena aku memiliki sifat tenang, maka Elemen ku adalah Air. Jika kau mau coba, caranya adalah memfokuskan Auramu pada satu titik, kemudian tekan lebih jauh hingga membentuk objek Elemental," Jelas Lunaris.


Gen mengerti, bahwa Lunaris ternyata merupakan salah satu orang yang menguasai Potensi manusia dan Sihir secara bersamaan. Tidak diragukan lagi, bahwa yang dihadapan Gen saat ini adalah orang yang jenius.


"Pernyataan mu agak rancu dengan yang dijelaskan oleh guru ku," Gumam Gen.


"Mungkin dia ingin melindungi mu, agar tidak mencoba kemampuan terlarang itu. Tapi sekarang, itu semua keputusanmu," Balasnya.


Gen pun melakukan apa yang dijelaskan oleh Lunaris barusan. Ia mengumpulkan Aura di tangan kanannya, kemudian menekan aura tersebut. Aura ditangan Gen yang tadinya tenang kini mulai bergejolak.


Kuat dan semakin kuat, meskipun kecil, gejolak aura yang ada ditangan Gen mulai membentuk sesuai keinginannya. Dan Boom, Gen berhasil membuat api kecil di tangannya. Gen pun merasa senang dengan kemajuan ini.


Lunaris tidak terkejut, karena ia pikir, Gen harusnya sudah bisa menguasainya karena tadi ia menggunakan Bentuk Elemen Api.


"Argh, kenapa tanganku terasa sakit?


Gen merasa tangannya mulai terbakar, ia melihat tangan kanannya yang telah melepuh ketika menggunakan kekuatan tersebut.


"Matikan Auramu!" Bentak Lunaris.


Gen meredupkan Auranya, kemudian api yang ada ditangannya pun mulai menghilang. Ia tidak mengerti, mengapa kekuatan itu justru berdampak kepada tubuhnya sendiri.


"Elemen api memang sangat beresiko, karena dapat merusak penggunaannya sendiri. Kelihatanya kau amatir, jadi, kekuatan apa yang kau gunakan saat pamer kepadaku?" Tanya Lunaris, sembari menyentuh tangan Gen yang terluka.


Gen tidak bisa menjawab bahwa itu adalah kekuatan Naga Emas, tapi ia bingung harus menjawab apa.


"Ini, ini adalah Magic Fusion," Jawab Gen, sembari menunjuk kearah punggung tangan kanannya.


Lunaris melihat sebuah benda persegi lima di punggung telapak tangannya, karena dia adalah seorang penyihir, pastinya ia tidak terkejut mengenai hal itu.


"Kau tahu, sekarang Magic Fusion sudah jarang digunakan. Pantas saja kau kuat, Myther apa yang kau kontrak?" Tanya Lunaris, sembari menggunakan kekuatan Airnya untuk menyembuhkan luka Gen.


"Emm, Naga," Jawab Gen, tapi ia berusaha untuk tidak menyinggung legenda itu.


Lunaris tampak tak acuh ketika Gen mengatakan itu, sepertinya ia sedang fokus untuk mengobati luka Gen.


"Sudah. Karena itu kekuatan Pinjaman, jadi jaga dirimu dengan baik. Teruslah berlatih, asal kau tahu saja, diluar sana masih ada yang jauh lebih kuat!" Ujar Lunaris, sembari memakai kembali Jubah miliknya.


Perkataan Lunaris seperti pisau di hati Gen, karena itu seperti menghancurkan eksprertasi nya bahwa prajurit kerajaan itu lemah.


"Minggu depan adalah kelulusan Penyihir, aku ingin kau datang ya!" Undang Lunaris.


"Tapi, aku kan orang baru. Hah kelulusan, memangnya umurmu berapa?" Gen baru sadar, bahwa ia belum pernah bertanya tentang umur Lunaris.


"Biar kutebak, 17 kan?"


Wajah Lunaris memerah, karena ternyata tebakan Gen benar.


"Ba, bagaimana kau tahu? Lagipula umurmu berapa?"


"15. Kau lebih Tua dariku kan, aku panggil kau Ibu atau Tante," Goda Gen.


"Hanya beda 2 tahun! lagipula aku ini masih muda tahu!"


Mereka berdua terus bertengkar mengenai hal yang tidak penting, hingga akhirnya mereka berdua pun saling berpamitan.


Saat berjalan menjauh, Gen tiba-tiba menyadari bahwa Lunaris begitu tenang ketika bertarung dengannya. Ia pun berbalik, dan hendak meminta kepada Lunaris untuk melatihnya menggunakan Elemen Air.


Namun ia terlambat, karena Lunaris telah pergi.


"Haah, sepertinya lain kali saja," Gen pun berjalan kembali menuju rumahnya.


...****************...


Malam hari di tengah Hutan.


4 Orang Prajurit kerajaan sedang ditugaskan untuk berjaga di hutan, karena pihak kerajaan sering menerima laporan bahwa ada yang aneh di hutan itu.


Kelompok itu diisi oleh 2 orang junior, yang merupakan Ras Elf. Satu orang penyihir manusia, dan dipimpin oleh seorang Centaur.


"Kapten Davies, bukankah ini terlalu menyeramkan," Ujar Seorang Elf pria dikelompok itu.


"Diamlah Edward, ini misi pertama kita, kau tidak boleh menjadi pengecut!" Bantah Seorang Elf wanita. Dia adalah Junior bernama Sasha.


"Sasha, Edward pelankan suara kalian! Gale, tolong gunakan sensor mu untuk mendeteksi tanda-tanda kehidupan!" Seru Sang Kapten Davies.


"Baiklah kapten!" Jawab Gale, sang pria penyihir.


Gale merasakan ada tanda-tanda kehidupan melalui tongkat sihirnya, namun tanda kehidupan ini sama sekali belum pernah terdeteksi sebelumnya.


"Kapten, sepertinya musuh kita ini merupakan makhluk yang belum pernah ditemukan sebelumnya."


"Seperti ini?"


Gale langsung merinding, ketika ia mendengar suara itu didekatnya. Ia menoleh kebelakang secara perlahan, tiba-tiba"Crash" Kepala Gale terlepas dari lehernya.


Edward yang berjalan di urutan ketiga mendadak berhenti, karena ia mendengar suara yang mengerikan. Ia menoleh kebelakang, lalu melihat sebuah Mayat dibelakangnya.


"Ka..kapten!" Jeritnya, karena tidak sanggup berkata-kata.


Davies dan Sasha langsung menoleh kearah Edward yang ketakutan setengah mati, dan mereka pun dikejutkan dengan mayat Gael yang sudah tak memiliki kepala.


Sasha pun langsung memuntahkan isi perutnya, ketika melihat hal mengerikan itu.


"Persiapkan senjata kalian!" Seru Edward, sembari menarik pedang yang ada di pinggangnya.


Edward dan Sasha juga mengambil pedang mereka, meskipun mereka nampaknya terkena tekanan mental saat melihat Gale dalam keadaan seperti itu.


"Padahal kalian memiliki kesempatan untuk lari. Ya sudahlah, kalian yang minta ya!" Mereka bertiga mendengar suara yang sama seperti yang didengar oleh Gael sebelum kematiannya.


Sesaat setelah mendengar suara itu, tiba-tiba seluruh tubuh Sasha terbakar tanpa sebab.


"Arghh, arghh panas! Tolong aku!" Dia meronta kesakitan, dan berguling-guling guna memadamkan api itu.


Namun semuanya sia-sia, karena api itu makin membesar. Edward dan Davies menjauh dari lokasi Sasha terbakar.


"Arghhhhh!" Jeritan Sasha menggema.


Mereka berdua bergidik ketika mendengar jeritan Sasha, terdapat perasaan menyesal karena tidak dapat menyelamatkan gadis malang itu.


"Prak Prak Prak"


Ditengah suasana duka itu, terdengar suara orang bertepuk tangan. Edward dan Davies langsung menengok kearah sumber suara, dan mereka pun terkejut ketika melihat sosok makhluk yang menyerang mereka.


"Hahaha, hiburan yang cukup menyenangkan!" Ujar sosok bertubuh hitam dengan retakan berwarna merah disekujur tubuhnya.


Tidak salah lagi, itu adalah Iblis, sosok yang selama ini hanya dianggap sebagai sejarah. Sosok itu sekarang menampakan diri dihadapan mereka berdua.


"Matilah kau!" Tanpa basa-basi, Davies langsung menebaskan pedangnya kearah Iblis itu.


"Slashh!"


Pemandangan tidak masuk akal kembali terlihat, ketika pedang yang ditebaskan oleh Davies ternyata tidak mampu menembus tubuh Iblis itu.


Iblis itu pun memukul dada kiri Davies, dan naas pukulannya ternyata cukup kuat untuk menembus tubuh Davies. Alhasil, Davies pun langsung timbang karena jantungnya telah dilubangi.


"Haah, kalian ingin mengalahkanku dengan mainan ini?" Tanya Iblis itu, seraya mengambil pedang yang tadi digunakan oleh Davies.


"Bagaimana denganmu, apakah pedang ini berpengaruh padamu?" Tanya Iblis itu kepada Edward yang masih terkejut.


"Brengsek!" Edward memberanikan dirinya untuk menebas Iblis itu, namun justru tangan nya lah yang tertebas duluan oleh Iblis tersebut.


Edward terkejut ketika melihat tangannya yang telah terpotong. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung melarikan diri dari tempat itu.


"Aku tidak ingin mati! Aku tidak ingin mati! aku tidak ingin mati!" Gumamnya secara berulang.


Iblis itu pun melempar pedang yang ada ditangannya, dan "Crasss" Kaki kiri Edward terkena tebasan pedang itu, sehingga ia pun terjatuh.


Ia tidak bisa bangun, karena sebelah tangan dan kakinya telah terlepas dari tubuhnya.


"Siapapun, tolong aku!" Jeritnya meminta pertolongan.


Namun semua itu percuma, karena tidak ada seorang pun disana.


"Aku tidak akan membunuhmu, jadi nikmatilah~" Iblis itu langsung berjalan tanpa menggubris Edward.


Edward menyadari mengapa Iblis itu tidak membunuhnya, ia ingin Edward mati secara perlahan.


"Tidak!!" Ia hanya dapat menangis tanpa berbuat apa-apa, selain menunggu ajal menjemputnya. Kematian secara perlahan, itulah yang ditakutkan oleh semua orang.


Iblis itu beranjak dari hutan itu, lalu melihat kearah Negara besar bernama Pendragon Hall itu.


"Jadi itu ya. Haha, destinasi ku selanjutnya, persiapkan diri kalian!" Ucapnya sambil menunjuk Kerajaan itu dari jauh.


Arc ketiga: Kembalinya Ras Penghancur. Dimulai .


Bersambung.


Visual Lunaris