
"Kurang ajar! Beraninya kau membunuh rekan ku!" Ujar Orc yang membawa Kampak di punggungnya.
Orc itu mengambil Kampak dari punggungnya, kemudian ia langsung menerjang Gen yang hanya diam sambil memandangi nya.
"Kurang ajar!"
Saat Orc itu mengayunkan kampak nya, Gen dapat dengan mudah menghindari serangan tersebut, dengan cara melompat kebelakang. Saat Kampak milik Orc itu tertancap di tanah, Gen menggunakan kesempatan itu untuk melakukan serangan balik.
"Fireball Dynamite!" Lagi-lagi, Gen menggunakan jurus yang sama seperti sebelumnya.
Dengan satu serangan bola api yang berukuran sedang, Orc yang tadinya dipenuhi dengan tatapan kebencian kini berubah menjadi tatapan orang yang ketakutan.
Ia masih sempat menghindar di detik-detik terakhir, namun beberapa bagian tubuhnya yang terkena ledakan langsung hancur begitu saja.
"Arghhhhh!" Jerit Orc itu, sembari mengeluarkan cairan bening dari kelopak matanya.
"Garen!"
Gilbert langsung berlari kearah teman nya yang sedang terluka itu.
"Bertahanlah kawan!" Ujar Gilbert, seraya menenangkan Orc yang bernama Garen itu.
"Tolong Ha....ha..bisi dia!" Lirih Garen, sambil menunjuk kearah Gen.
Gilbert langsung meletakan kembali tubuh Garen, lalu berbalik menatap Gen. Tidak ada tatapan penyesalan di mata Gen, ia merasa bahwa mereka pantas mendapatkan semua ini, sebagai hukuman atas perbuatan mereka.
"Seperti inikah cara mu bertarung, Pahlawan?" Tanya Gilbert.
"Iya," Jawab Gen singkat.
Gilbert tertawa terbahak-bahak, setelah mendengar jawaban Gen.. Ada yang tidak beres dengannya, Gen menyimpulkan bahwa Gilbert terkena sebuah tekanan Mental.
"Hahahahhaha, di dunia ini memang dipenuhi oleh pahlawan palsu! Bahkan orang yang ditakdirkan menjadi seorang pahlawan malah bersikap seakan ia tidak peduli dengan Orang lain. Aku mengerti, pasti kau hanya bertarung tanpa memiliki tujuan, bukankah begitu?"
"Tutup mulutmu, orang tidak waras!" Gertak Gen.
"Hahahahhaha, ternyata kau memang tidak punya tujuan kan? Kau hanya bertarung, tanpa mengetahui apa-apa tentang dunia ini. Pahlawan sepertimu, tidak akan bisa menyelamatkan apapun! Matilah!" Gilbert melayangkan pukulannya kepada Gen.
Gen sanggup menahan pukulan Gilbert, dengan menggunakan pukulan yang sama. Saat Gilbert masih terkejut, Gen mengambil kesempatan untuk menghantam wajah Gilbert menggunakan tangannya yang lain.
"Aku tidak peduli dengan pendapatmu!" Seru Gen.
Tubuh Gilbert gemetar ketakutan. Ia baru sadar, jika perbandingan kekuatan mereka sangat jauh. Gilbert tidak memiliki pilihan lain, ia segera menghadap ke arah iblis yang ada di sampingnya, kemudian bersujud meminta pertolongan kepada Iblis tersebut.
"Wahai Iblis yang terhormat, tolong, berikan aku kekuatan untuk menghadapi bocah sialan itu!" Ujar Gilbert.
"Hmm, apa keuntungan nya bagiku jika aku melakukan nya untukmu?" Tanya Iblis tersebut. Suara yang dikeluarkan oleh Iblis itu terdengar seperti seorang wanita.
Keringat dingin bercucuran dari sekujur tubuh Orc tersebut. Ia menggigil, seolah ada sesuatu yang menghalanginya untuk berbicara. Namun karena ia sudah membulatkan tekadnya, ia pun mengatakan bayarannya dengan lantang.
"Ambil nyawaku, dan ketika aku menang nanti, maka jiwa setiap orang yang aku bunuh akan menjadi milikmu!" Seru Gilbert.
"Guru, apa-apaan kau!" Jerit Ciel, seolah tidak percaya dengan apa yang barusan Gilbert ucapkan.
"Hohoho, penawaran yang menarik. Baiklah, Kontrak diterima!" Iblis itu mengangkat tinggi-tinggi tongkat yang ia pegang.
Lingkaran sihir terbentuk di ujung Tongkat iblis tersebut, kemudian gumpalan arwah dari setiap korban yang berjatuhan langsung berkumpul di lingkaran sihir tersebut. Teriakan dari para korban yang tidak bersalah, yang bahkan setelah kematian mereka, mereka tidak mendapatkan ketenangan yang seharusnya.
Setelah semua Roh terkumpul di Tongkat Iblis itu, ia langsung mengarahkan tongkatnya kepada Gilbert. Lingkaran sihir terbentuk dibawah tanah yang Gilbert injak, kemudian lingkaran itu menyemburkan sebuah cahaya yang langsung mengenai Gilbert.
"Arghhhh!!" Gilbert menjerit kesakitan. Nampaknya, kekuatan yang diberikan kepada Gilbert jauh melebihi batasnya, sehingga Gilbert tidak mampu untuk menahan rasa sakitnya.
Setelah perjanjian selesai, cahaya dan lingkaran sihir yang mengitari Gilbert kini telah menghilang. Gen dan Ciel terkejut ketika melihat sosok Gilbert yang saat ini.
Tubuhnya membesar, dikarenakan seluruh otot yang ada di tubuhnya membesar. Saat ini, ia lebih mirip seperti Raksasa dibanding Orc.
"Bagus, inilah kekuatan yang selama ini aku cari!" Ujar Gilbert.
"Kekuatan itu berasal dari keputusasaan, tapi, keputusasaan dalam hatimu sangat jauh dari kata cukup. Kau harus cepat mengakhiri pertarungan ini, kalau tidak, maka kau akan mati!" Jelas Iblis tersebut.
"Tenang saja, akan kupastikan, bocah itu mati di tanganku!"
Tanpa basa-basi, Gilbert langsung menyerang dengan kecepatan tinggi. Kecepatan serangan Gilbert dalam bentuk berototnya jauh lebih cepat daripada bentuk normalnya.
Gen langsung terkena pukulan pertama dari Gilbert, alhasil, ia pun terpental cukup jauh. Setelah menyerang Gen, Ia langsung mengalihkan pandangannya kearah Ciel.
"Pertahankan sihirmu, supaya dia tidak kesulitan nanti. Tenang saja, setelah pertarungan ini berakhir, aku juga akan membuatmu bertemu dengannya!" Ucap Gilbert, kepada Ciel.
"Dalam Mimpimu!" Gen langsung bangkit dari posisi terjatuhnya, lalu ia langsung menggunakan kekuatan penuhnya.
Tubuhnya mengeluarkan Aura Api yang sangat besar, bahkan Gilbert dan Ciel yang berdiri dari jarak yang cukup jauh pun ikut terkena radiasi panas itu.
Gen menyerap kembali Aura yang sudah ia keluarkan, namun ia mengumpulkan Aura tersebut di tangan kanannya.
"Masih belum selesai!" Gen berlari sekuat yang ia bisa.
Saat ia hendak menghampiri Gilbert, Gilbert sudah terlebih dahulu tiba di tempat Gen. Gilbert langsung menggunakan tinju dari tangan kanannya.
"Matilah!"
Gen yang kala itu sedang terkejut pun langsung membalas Gilbert menggunakan gerakan yang sama. Hanya saja, tangan Gen saat ini telah diselimuti oleh Aura elemen api.
"Aku tidak akan kalah!" Teriak Gen, sembari mengerahkan seluruh semangatnya.
Pukulan berdua pun beradu, yang mengakibatkan detuman yang cukup keras. Hasil pukulan mereka pun seri, hal itu dapat dilihat dari posisi keduanya yang sama sekali tidak berubah.
"Cih, kenapa kau masih kuat untuk menahan serangan ku!" Ujar Gilbert, yang nampaknya masih belum puas dengan kekuatannya saat ini.
"Ini yang disebut, kekuatan tekad!"
"Apa-apaan itu?"
"Ini adalah, Pukulan berapi!" Gen kembali memukul Gilbert.
Karena panik, Gilbert langsung membalas pukulan Gen menggunakan tangannya yang lain. Ledakan terjadi diantara mereka. Ledakan itu rupanya adalah serangan Gen yang sedari tadi ia simpan. Ia menyiapkan serangan ini, setelah ia mengetahui kekuatan Gilbert yang sebenarnya.
Mereka berdua terpental kearah yang berbeda, dikarenakan besarnya ledakan dari serangan yang Gen lancarkan barusan. Gen terpelanting ke dalam sebuah bangunan yang setengah hancur, namun masih berdiri kokoh.
"Sial, staminaku menipis. Apalagi aku harus meminimalisir dampak menggunakan kontrol mana, itu membuat staminaku menjadi lebih cepat surut!" Gerutu Gen.
"Cepat selesaikan pertempuran ini, kita tidak bisa terus mengulur waktu lebih lama lagi!" Seru Kirin.
"Berisik! Kau sama sekali tidak membantu. Diam saja, dan lihat bagaimana aku mengakhiri semua ini!" Ujar Gen memantapkan diri, setelah itu dia langsung bergegas menghampiri Gilbert.
......................
Sesaat setelah ia sampai di tempat Gilbert, Gen melihat tangan bagian Kanan Gilbert telah hangus terbakar. Gen cukup kecewa dengan hal itu, karena ia kira, ia dapat menghancurkan setengah bagian tubuh Gilbert. Namun itu sudah cukup bagi Gen, karena Gilbert telah kehilangan salah satu senjatanya.
"Sial! Aku benar-benar akan membunuhmu!" Gilbert berteriak, dengan amarah yang menggebu-gebu di kepalanya.
Tangan kanan Gilbert yang telah hancur perlahan kembali terbentuk, dan ini membuat Gen terbelalak.
"Dia bisa berregrenasi? itu mustahil!" Gumam Gen
Mata Gen langsung tertuju kepada Iblis yang mengamati mereka dari kejauhan. Gen langsung mengerti, bahwa itu adalah salah satu kekuatan Iblis yang diberikan kepada Gilbert.
"Apa kau menyadari sesuatu?" Tanya Kirin melalui Batin Gen.
"Tidak, apa itu?"
"Tubuhnya mengempis! itu berarti waktunya semakin mengempis. Kau hanya perlu bertahan," Jelas Kirin.
Setelah Gen memperhatikan ulang, ternyata yang dikatakan Kirin memang benar. Tubuh Gilbert sudah tidak sebesar sebelumnya, dan secara tidak langsung, Gen telah memiliki peluang kemenangan di depan matanya.
"Maju kau!" Gilbert langsung menghantam wajah Gen, ketika Gen sedang lengah.
Gen mencoba untuk menahan tubuhnya, agar tidak terpental. Saat Gilbert hendak melancarkan serangan lainya, Gen langsung menggunakan tangannya untuk bertahan. Tidak hilang akal, Gilbert langsung menendang Gen dari arah samping, dan menyebabkan Gen kehilangan keseimbangan.
Aura Gen menghilang, bersamaan dengan tubuhnya yang mulai rubuh ke tanah. Ia sudah kehabisan Stamina. Walaupun Fase 3 cukup hemat Mana, namun stamina Gen tetap tersedot seperti biasa, sehingga Gen tetap akan mengalami kelelahan.
"Waktumu habis sekarang, Bocah!" Gilbert perlahan mendekati Gen.
"Sial, Fireball Dynamite!" Gen menembakan Bola api, menggunakan satu tangan.
Gilbert berhasil menahan bola api itu menggunakan tangannya, namun asap yang disebabkan oleh ledakan itu ternyata mengganggu pengelihatan Gilbert.
"Arghhh, sial!" Gilbert mengibas-ngibaskan tangannya, untuk menghalau asap itu.
Saat asapnya pudar, ternyata Gen sudah tidak ada di tempat sebelumnya.
"Disini, kepala hijau!" Seru Gen dari belakang Gilbert.
Dengan cepat, Gen langsung memukul tengkuk Gilbert dari belakang. Gilbert mengerang kesakitan, karena Gen rupanya juga telah menggunakan Api di tangannya.
Tubuh Gilbert kembali menyusut, nyaris kembali ke bentuk semula. Ia tidak punya waktu lebih lama lagi, ia harus mengakhiri pertempuran ini.
"Menyerahlah!" Seru Gen, seakan mengetahui apa yang Ia pikirkan.
"Apa maksudmu, mulut besar! Aku akan mengakhiri hidupmu!" Gilbert kembali melancarkan pukulan.
Gen menahan pukulan Gilbert, dengan cara menyilangkan kedua tangannya di depan wajah.
"Aku tahu, setiap kau terkena serangan, maka waktumu akan semakin cepat berkurang. Benar kan?"
"Diam kau!" Gilbert menarik kembali tangannya, lalu menyerang Gen menggunakan tangan yang lain.
Gen menghindar dengan cara melompat, kemudian ia melancarkan tendangan tepat di wajah Gilbert. Gilbert langsung terguling ketika terkena serangan Gen, dan naasnya, tubuhnya kembali menyusut seperti apa yang dikatakan oleh Gen.
Gen berdiri di atas Gilbert, kemudian ia pun memukuli wajah Gilbert berkali-kali dengan tangan kosong. Perlahan tapi pasti, tubuh Gilbert pun menyusut. Ia sampai tidak memiliki tenaga untuk melawan.
Gen pun berhenti memukul. Ia kembali bangkit, untuk melihat sosok Gilbert yang saat ini memprihatinkan. Tubuhnya kurus kering, layaknya sesosok tengkorak yang dilapisi oleh kulit.
"Seharusnya, kau tidak melakukan perjanjian dengan Iblis," Ujar Gen.
Gilbert tidak dapat berbicara lagi, karena otot-otot di tubuhnya telah hampir habis. Ia hanya dapat menangisi nasibnya yang telah gagal. Orang yang ingin mengubah pandangan orang lain, namun harus tenggelam dalam lautan dendam.
Gen menyalakan obor di tangannya. Obor itu membesar, lalu ia pun melemparkan obor itu kearah Gilbert.
"Maaf, ini adalah pilihanmu," Lirih Gen.
Tubuh Gilbert perlahan dilahap oleh Si Jago Merah. Gen membalikan badannya, seolah tidak ingin melihat pemandangan itu.
"Ciel, hentikan sihirmu!" Seru Gen.
Ciel menuruti perintah Gen. Air mata Ciel sampai mengering, ketika melihat Guru yang selama ini menjaganya, kini berakhir dengan menyedihkan.
Dengan dinonaktifkan ya Sihir Ciel, Kegelapan kembali menyelimuti desa tersebut. Penerangan hanya didapat dari Api yang membakar jasad Gilbert. Seperti itulah pertarungan berakhir, bahkan Gen tidak mendapat kepuasan dari kemenangannya hari ini.
Pertanyaan yang sama terus berdengung di kepala Gen, seakan terus menghantuinya, bersamaan dengan rasa bersalah di hatinya.
"Apa alasanmu untuk bertarung?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arc 2: Kenapa aku harus bertarung? End
Bersambung