
Keesokan Harinya
Sehari setelah kepergian Ciel, Selvia saat ini sedang berjalan menuju Istana kerajaan. Nampaknya ia telah memilih jalan nya, dan memutuskan pilihannya sendiri.
Saat tiba di Pintu Gerbang, jantungnya berdegup sangat kencang. Ada perasaan yang mengganjal dalam dirinya, namun ia harus mengalahkan semua keraguan yang ada di benaknya.
Ia melangkah masuk kedalam Gerbang Istana yang sangat luas itu, kemudian berjalan ke markas ksatria yang ada disebelahnya. Karena masih pagi, Markas ksatria saat ini masih sepi, dikarenakan sebagian besar ksatria masih bertugas.
Sebenarnya, Selvia masih belum lulus Akademi Ksatria, jadi seharusnya ia belum boleh datang ke tempat ini untuk bertugas. Namun sepertinya, tujuan Selvia datang ke sini bukan untuk menjalankan tugas.
Ia mengetuk pintu markas, lalu meminta izin masuk kepada seseorang yang sedang duduk di kursi besar yang ada di tengah ruangan. Ia merupakan Mentri keamanan di kerajaan, yang memiliki wujud sebagai Humanoid Ogre.
Bentuk fisiknya memang menyeramkan, namun ia memiliki kharisma, dan juga kebijaksanaan memimpin. Tidak seperti Ogre pada umumnya, bisa dibilang, Ia adalah Ogre yang istimewa.
"Salam hormat dari saya, wahai menteri!" Selvia langsung menunduk, dan memberi salam kepada sang Menteri.
"Ahh, kau adalah salah satu murid terbaik di Akademi kan? silahkan duduk," Ujar sang Menteri, dengan nada yang cukup ramah.
Selvia bangkit dari posisi hormatnya, kemudian ia duduk di kursi yang ada di depan meja sang Menteri.
"Apa yang membuatmu kemari, wahai Selvia? Bukankah jam segini, akademi sedang melakukan pembelajaran?" Tanya sang Menteri, kepada Selvia.
Selvia nampaknya ragu, namun ia memberanikan dirinya untuk memberikan dokumen yang ia genggam, dengan tubuh yang gemetar.
"Anu, sebenarnya, aku ingin menyerahkan ini," Ucap Selvia, sembari memberikan dokumen.
Wajah sang Menteri pun kebingungan, namun ia langsung membaca dokumen yang diberikan oleh Selvia, agar ia tidak penasaran.
Saat Menteri membaca dokumen tersebut, ia menunjukan raut wajah kebingungan. Karena penasaran, ia pun langsung melontarkan kegundahannya kepada Selvia.
"Bukankah ini, surat pengunduran diri? apa kau yakin ingin keluar dari Akademi?" Tanya sang Menteri, karena tidak menyangka bahwa Selvia akan mengundurkan diri dari Akademi Ksatria.
"Ya, sebenarnya memang aku sudah berencana keluar. Aku hanya tinggal butuh izin darimu, sebelum aku mengajukan ini ke Kepala sekolah. Dengan begitu, aku tidak perlu bolak-balik mengurus persuratannya," Jelas Selvia.
"Aku mengerti kenapa kau meminta izin kepadaku dulu. Tapi, kenapa kau ingin keluar? Bukankah prestasimu di Akademi cukup baik, kau juga memiliki potensi untuk menjadi Kstaria terbaik?" Tanya Menteri, seakan belum dapat menerima keputusan Selvia.
"Keputusan ini sudah kupikirkan sejak beberapa bulan yang lalu, dan saat ini adalah saat untuk mewujudkannya," Selvia bangkit dari kursinya.
"Terima kasih telah mempertahankan saya, tapi, saya ingin mencari jalan yang lain untuk melanjutkan hidup!" Selvia kembali menundukkan kepalanya.
Sang Menteri tersenyum, ia mengerti dengan keputusan Selvia, kemudian ia pun langsung menandatangani surat pengunduran diri itu.
"Angkat kepalamu, Elf bijaksana. Ini adalah keputusanmu, jangan pernah menyesal dengan keputusanmu ini. Meskipun kau bukan lagi seorang ksatria, namun kau tetaplah seorang pahlawan!" Sang Menteri pun mengembalikan Dokumen Selvia.
Selvia pun mengangkat kepalanya, lalu mengambil Dokumennya kembali. Ia pun balik kanan, dan keluar dari Kantor sang menteri, dan bergegas keluar dari Markas.
Saat ia keluar, ia melihat Kapten Eica yang sedang membaca Peta. Kapten Eica yang menyadari keberadaan Selvia pun langsung menghampirinya.
"Hai, lama tidak berjumpa," Sapa Eica.
"Kapten, lama tidak berjumpa juga,"
Eica mengajak Selvia untuk duduk di taman Istana, supaya mereka dapat mengobrol dengan nyaman. Sesampainya disana, mereka berdua langsung duduk disebuah kursi besi panjang.
"Jadi, apa kau benar-benar mengundurkan diri?" Tanya Eica, seakan sudah mengetahui tujuan Selvia datang kemari.
Selvia mengangguk pelan. Rasanya, ia tidak enak untuk mengatakannya, di depan penanggung jawabnya yang selama ini telah membimbingnya.
"Yah, pasti anak itu telah menyuruhmu keluar kan? Dan kau keluar pasti bukan karena anak itu, melainkan kau mempunyai alasan sendiri kan?"
"Bagaimana Kapten mengetahui hal itu?" Selvia nampak bingung dengan tebakan Eica.
"Ya, aku sendiri tidak menyangka bahwa ia akan melakukan tindakan seperti itu. Padahal saat pertama kali bertemu dengannya, dia adalah anak kecil yang polos," Ujar Selvia, sembari bernostalgia.
"Hahaha, Makhluk berumur pendek memang cepat tumbuh. Memiliki kekuatan seperti itu pastilah menjadi beban untuknya, apalagi umurnya yang terbilang muda, kita harus memahami hal itu,"
Selvia mengangguk. Keadaan pun menjadi hening, sampai akhirnya Selvia teringat akan sesuatu.
"Kapten, aku akan mengembalikan Almamaterku,"
"Tidak perlu. Biar bagaimanapun juga, kau sudah berjasa, anggap saja Almamater itu sebagai hadiah untukmu. Pesanku hanya satu," Eica bangkit dari tempat duduknya.
"Bimbing dan jagalah Genius Ren. Jangan sampai ia kehilangan arah, dan menyalahgunakan kekuatannya. Selamat, karena telah menemukan jalan hidupmu yang baru!" Ujar Eica, kemudian ia pun pergi meninggalkan Selvia.
Selvia mencerna setiap kalimat yang diutarakan oleh mantan Kaptennya itu, lalu ia pun bangkit, dan pergi menuju Akademi.
......................
Jarak dari Istana ke Akademi memang tidak terlalu jauh, namun Selvia memilih untuk berjalan santai, dan tidak melompat dari atap ke atap seperti yang biasa ia lakukan.
Keramaian kota yang dipenuhi oleh berbagai makhluk yang berbeda-beda, nampaknya hal itu tidak membuat Selvia kunjung merasa lebih baik. Hatinya bergejolak, dikarenakan perasaan tidak enaknya karena telah keluar dari Akademi.
Saat ia hendak berbelok ke Gang, ia melihat seseorang yang tidak asing di ujung Gang. Bertubuh manusia, dan berkaki kuda, tidak salah lagi makhluk itu adalah Centaur. Dan yang paling mengejutkan, orang itu adalah orang yang selama ini merawat Gen, dia adalah Paman Jack.
Selvia yang melihatnya pun langsung menghampiri sosok Centaur itu.
"Akhirnya kita bertemu lagi, Selvia," Ungkap Jack, yang sepertinya sudah menunggu kedatangan Selvia.
"Ada banyak hal, yang ingin kutanyakan kepadamu,"
Paman Jack pun mengajak Selvia untuk masuk kedalam Gang yang sepi, agar mereka lebih leluasa untuk berbicara. Setibanya di gang sepi, Selvia pun langsung melontarkan pertanyaannya.
"Kenapa Gen seolah tidak dapat mengingat Nama keluarganya sendiri? bahkan ia tidak tahu siapa orang tuanya, kau menemukan dia dimana?"
"6 Tahun yang lalu, aku menemukannya di sebuah rumah yang hancur akibat sebuah pembataian. Aku membawanya pergi, dan merawatnya di desa Sinos. Ia kehilangan ingatannya, maka dari itu ia tidak dapat mengingat asal usulnya sendiri," Jelas Jack.
Selvia tersentak, ia tidak menyangka asal usul Gen ternyata seperti itu. Pantas saja selama ini, Gen nampak tidak memiliki beban walaupun dia adalah anak Yatim Piatu.
"Kenapa kau tidak memberitahu ku sebelumnya? dan kenapa kau tidak menyerahkan Gen ke panti asuhan waktu itu!"
"Apakah jika aku memberi tahu mu, kau punya solusi untuknya? Menitipkannya di panti asuhan, tentu saja dia akan benar-benar kehilangan jati dirinya, dan mengganggap bahwa ia sendirian. Tidak semua orang di panti asuhan dapat menerimanya, harusnya kau tahu itu!" Jelas Jack, sebagai pembelaan untuknya.
Jika dipikir ulang oleh Selvia, maka tindakan yang dilakukan oleh Jack ada benarnya juga.
"Tujuanku bertemu denganmu, sebenarnya ingin menanyakan kabar anak itu, dan menitipkan pesan mengapa aku pergi,"
"Baik, katakan saja," Lirih Selvia.
"Aku adalah seorang petualang, aku tidak bisa terus merawatnya. Setidaknya sekarang dia sudah dewasa, maka ia sudah bisa untuk menjaga dirinya sendiri. Baiklah, sampai jumpa," Jack berbalik, dan berjalan menjauhi Selvia.
"Tunggu. Setidaknya, aku ingin mengetahui lebih banyak tentang anak itu. Tolong berikan aku petunjuk,"
Jack menolehkan kepalanya, lalu mengatakan sesuatu yang penting, "Julius Arion dan Alexandra Arion, itu adalah nama korban yang aku temukan 6 tahun yang lalu. Mereka memiliki nama belakang yang sama dengan Gen, cari tahu tentang mereka, dan kau akan menemukan petunjuk,"
Jack pun langsung pergi. Selvia merasa cukup senang, setelah menemukan petunjuk itu. Dengan begini ia dapat menemukan latar belakang Gen, dan menemukan alasan mengapa dialah yang mendapatkan kekuatan Naga Emas.
Dalam lubuk hati Selvia, ia merasa tidak rela jika harus Gen yang mendapatkan kekuatan itu. Maka dari itu, ia harus menemukan masa lalu Gen, supaya ia dapat menguak misteri tentang bagaimana Naga Emas memilih pemilik kekuatannya tersebut.
Bersambung