Magic Shine/Origin

Magic Shine/Origin
Chapter 28: Keputusan yang telah dipilih



Hari sudah semakin larut, namun Selvia dan Gen kini masih dalam keadaan terjaga. Selvia sedang mengobati luka yang ada di tubuh Gen, dan membiarkan Beliana dan Ciel istirahat di kamar sebelah.


"Aww sakit! pelan-pelan," Lirih Gen, saat Selvia menekan plester di wajahnya dengan kasar.


"Itu salahmu sendiri! Kau yang ceroboh, dan Sok keren, padahal kemampuanmu itu belum seberapa!" Bentak Selvia.


Gen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia juga merasa ingin meminta maaf pada Selvia atas segala tindakannya.


"Maafkan aku," Lirih Gen.


Selvia tersentak, tapi ia langsung melepaskan lamunannya dan melanjutkan pengobatan kasarnya kepada Gen.


"Gak usah sok keren! Menangis saja sana," Seru Selvia.


"Arghhh! Oi, aku tidak akan pernah menangis di hadapanmu tahu!" Ketus Gen, yang merasa terhina.


"Benarkah, berjanjilah padaku kalau begitu," Selvia mengacungkan jari kelingkingnya.


Gen juga mengacungkan jari kelingkingnya, yang berarti ia telah berjanji kepada Selvia. Janji yang terdengar konyol, namun karena Gen tidak ingin terlihat seperti pecundang, ia pun mengiyakan janji tersebut. Di sisi lain, nampaknya Selvia memiliki maksud yang lain.


Keadaan pun menjadi canggung. Karena pengobatan Gen telah selesai, Selvia pun memutuskan untuk keluar dari kamar Gen, agar ia dapat beristirahat.


"Sudah selesai, aku akan keluar, segeralah beristirahat!" Ujar Selvia, sembari berjalan menuju pintu.


"Selvia.." Sapa Gen, sebelum Elf itu meninggalkan kamarnya.


"Ya?"


"Aku ingin kau keluar dari akademi, dan bertarung lah menjadi dirimu sendiri. Maaf, tapi aku masih tidak percaya dengan tindakan korup mereka..." Pinta Gen.


Selvia tidak menggubris permintaan Gen, lalu ia pun berlalu begitu saja, setelah menutup pintu kamar Gen. Selvia ingin berjalan menuju kamar Beliana, namun ia baru ingat bahwa Ciel juga tidur disana.


Alhasil, Selvia pun mengalah, dan akhirnya ia pun memilih tidur di sofa yang ada di ruang tamu.


"Haah, sekarang aku benar-benar telah mengikuti jejak mu." Gumam Selvia, sebelum akhirnya ia pun terlelap.


......................


Keesokan Harinya.


Matahari telah terbit, dan cahayanya pun masuk melalui Jendela rumah. Selvia yang masih tertidur pun akhirnya terbangun, dikarenakan pantulan sinar matahari yang mengenai matanya.


Ia mengucek matanya, kemudian ia pun bangkit untuk merenggangkan tubuhnya.


"Arghh, tidur di sofa benar-benar tidak nyaman!" Gerutu Selvia.


Setelah selesai merenggangkan badan, ia pun langsung pergi ke kamar khusus Wanita, untuk membersihkan diri. Saat ia masuk ke kamar, ia terkejut dikarenakan Beliana dan Ciel yang sudah berpakaian rapih.


"Eh, kalian mau kemana?" Tanya Selvia, secara Frontal.


"Ciel bilang ia ingin tinggal di panti asuhan, jadi aku akan mengantarkannya kesana," Ujar Beliana.


"Eh, Gen bisa saja mengangkat mu menjadi Saudari, kau bisa tinggal disini," Sanggah Selvia, yang nampaknya tidak setuju dengan keputusan Ciel.


Ciel menggeleng, kemudian ia pun menjelaskan alasan mengapa ia ingin tinggal di panti asuhan.


Beliana dan Selvia tersenyum haru, ketika melihat Ciel yang seperti terlahir kembali. Tak lama kemudian, Gen keluar dari kamarnya dengan langkah yang tertatih.


Sontak, mereka bertiga pun langsung menghampiri Gen di ruang tamu.


"Selamat Pagi kak!" Sapa Ciel.


"Ya, Selamat Pagi. Eh, kenapa ada kereta kuda di luar?" Tanya Gen, yang menyadari bahwa ada kereta kuda yang terparkir di luar.


"Aku akan tinggal di Panti asuhan. Sampai Jumpa kakak..." Ciel melambaikan tangannya kepada Gen, lalu ia pun langsung berjalan keluar.


Ciel merasa tidak enak untuk berpamitan pada Gen, Namun Gen sepertinya memahami apa yang Ciel rasakan.


"Semoga Sukses!" Seru Gen dari belakang.


Perwakilan dari panti asuhan pun turun, untuk membantu Ciel Naik. Sementara itu, seorang Pendeta wanita juga ikut turun, namun ia malah berjalan menghampiri Gen, Selvia dan Beliana.


"Menyelamatkan jiwa orang lain adalah sebuah tindakan terpuji, Semoga Tuhan memberkati kalian," Ujar Sang Pendeta.


"Terima kasih untuk doanya." Ujar mereka bertiga secara bersamaan.


"Kumohon, jaga Ciel seperti kalian merawat anak kalian sendiri," Pinta Gen kepada sang Pendeta


Sang Pendeta pun mengangguk, Setelah itu, ia pun langsung berbalik dan naik ke Kereta kuda kembali. Gen keluar dari rumahnya, setelah Kereta kuda dari panti asuhan berangkat.


"Ciel, Jangan pernah lupakan kami!" Seru Gen dari kejauhan.


Ciel mengeluarkan kepalanya melalui jendela, kemudian membalas pesan Gen, "Itu pasti, sampai jumpa kakak!"


Gen tersenyum puas, ia menganggap Ciel adalah orang pertama yang berhasil ia lindungi. Meskipun penyesalan karena tidak dapat menyelamatkan semua orang masih tersimpan di benaknya, namun setidaknya anak itu telah memberi Gen harapan.


Selvia juga turut senang, namun tiba-tiba ia teringat kembali akan permintaan Gen semalam. Selvia pun langsung izin keluar untuk mencari ketenangan.


"Hei telinga runcing, mau kemana kau?" Tanya Gen.


"Jangan memanggilku telinga runcing! Lagi pula terserah aku mau pergi kemana, bukan urusanmu!" Balas Selvia, sembari menjulurkan lidahnya.


Setelah Selvia pergi, Gen pun langsung mengalihkan pandangannya kearah Beliana.


"Hei Bel, apa kau masih ingin menjadi seorang penyihir?" Tanya Gen.


"Hmm, bagaimana ya, Sepertinya Tidak. Lagipula Kak Gen yang payah ini masih membutuhkan ku, kalau aku tinggalkan nanti Kak Gen tidak bisa apa-apa karena cidera, hihihi," Goda Beliana.


"Apa katamu? Aku ini sangat kuat tahu!"


"Iya kuat sekali, bahkan kau selalu terluka saat mengalami pertarungan," Ejek Beliana.


"Kau tidak bertarung secara langsung, mana mengerti kau tentang itu!" Balas Gen.


"Kak Gen Payah!"


"Berisik!"


Bersambung