Magic Shine/Origin

Magic Shine/Origin
Chapter 22: Lampaui Batas! Menuju ke Fase 3



Gen berlari sekuat tenaga, sampai akhirnya ia dapat melihat 2 sosok yang berada di depan nya. Gen melihat ada seorang Gadis kecil yang sedang menunduk ketakutan, dan di depan nya adalah Makhluk mengerikan yang disebut sebagai Ras "Orc" yang sedang mengangkat tinggi-tinggi Kampak yang sedang ia genggam.


Dengan cekatan, Gen langsung berubah ke Bentuk Elemen Angin, lalu menghentakan salah satu kakinya, sehingga ia mendapatkan dorongan supaya ia cepat sampai di tempat tujuan.


"HENTIKAN!!!!"


Akan tetapi, jarak antara Gen dan Orc yang membawa Kampak itu terlampau cukup jauh, sehingga tidak memungkinkan pukulannya untuk mengenai musuhnya itu. Disaat terdesak seperti inilah, otak Gen dapat berfikir dengan cepat, sehingga ia mampu mengambil keputusan yang tepat.


Ia menghentikan lompatannya menggunakan kaki sebelah kanan nya, kemudian melepaskan tinju nya, walaupun jaraknya dengan musuh masih terbilang cukup jauh. Gerakan yang barusan Gen lancarkan bukan sekedar gerakan meninju udara saja, melainkan ia menambahkan kekuatan Elemen Angin yang sedang ia gunakan.


Dampak dari pukulan Gen mampu menciptakan tekanan angin yang cukup kuat, dan tekanan Angin itu mampu untuk menjangkau Orc yang berdiri jauh didepan nya, sehingga Orc itu terpental menjauhi gadis kecil tersebut.


Begitu melihat celah, Gen langsung menambah laju larinya, dan langsung mendekap Gadis kecil yang hampir jadi korban keganasan Orc. Ia mengetahui bahwa dirinya tidak dapat bertarung ketika membawa gadis tersebut, dan satu-satunya keputusan yang dapat diambil adalah melarikan diri.


Gen menggendong gadis itu dipunggung nya, kemudian berlari menjauh dari Medan pertempuran, sekaligus mencari tempat yang aman dari kobaran api.


Sang Orc yang barusan terkena serangan Gen kini kembali bangkit, dan berniat untuk mengejar Gen.


"Greas, Biarkan saja!" Seru seseorang, yang memakai tudung berwarna hitam.


"Tapi, sepertinya dia bukan orang yang berasal dari desa ini, dan juga, dia sangat kuat!" Ujar Orc, yang bernama Greas itu.


"Heeh, bukankah itu seperti yang kau cari, Gilbert?" Balas seseorang bertudung hitam, dan pandangan nya beralih ke seseorang yang sedang berdiri dibelakangnya.


Dibelakang si Tudung hitam, berdirilah Gilbert, seorang Orc yang memiliki perawakan yang jauh lebih menyeramkan, disertai tubuh yang lebih besar daripada Orc yang lainya.


"Ya, aku sudah lama menunggu momen ini! Tidak ada jalan keluar dari sini, jadi kita hanya harus menunggu momentum yang tepat, untuk menghajar Anak itu!" Ujar Gilbert, sembari menunjukan seringai nya yang menyeramkan.


Sepertinya, kelompok itu sengaja membiarkan Gen lolos. Gen nampaknya tidak memperdulikan hal itu, dan hanya fokus berlari menjauhi medan pertempuran.


...****************...


Setelah berlari cukup jauh, akhirnya stamina yang Gen pertahankan kini mulai menyusut. Ia kelelahan, namun ia tetap berupaya menjauhi Gadis yang berada dipunggung nya, supaya tidak turut menjadi korban dalam penyerangan ini.


Hampir semua tempat telah dilahap kobaran api, namun akhirnya Gen dapat menemukan tempat yang tidak terbakar oleh api, yaitu disebuah gang kecil dimana bangunan disekitarnya tidak terpapar oleh api.


Disaat itulah Gen menurunkan Gadis yang sedang ia gendong, dan ia pun duduk bersandar di tembok untuk melepas penatnya.


"Apa kau, baik-baik saja?" Tanya Gen, kepada gadis, yang memiliki rambut berwarna merah muda.


Gadis itu hanya menjawab dengan anggukan kepala. Terlihat raut wajah ketakutan dari gadis itu, dan juga sekujur tubuhnya terlihat lusuh.


"Namaku Gen, Genius Ren Arion. Anu, siapa namamu?" Tanya Gen, untuk mencairkan suasana tegang diantara mereka.


"Ciel.." Jawab Gadis itu, sembari menundukkan kepala.


"Baiklah Ciel, jangan khawatir, kita pasti akan selamat!"


"B..baik. Emm, Kakak,"


"Ya?"


"Terima kasih," Ujar Ciel, sembari menundukkan kepala nya.


Gen tersenyum, sembari menghela nafasnya. Perasaan bahagia ketika berhasil menyelamatkan orang lain, itulah yang kini sedang Gen rasakan. Saat sedang beristirahat, tiba-tiba Gen teringat akan suatu hal.


"Ciel, apakah ada orang lain yang masih selamat?" Tanya Gen, dengan harapan yang tinggi.


"Aku tidak tahu. Tapi, jika kita dapat memadamkan Api, kita bisa tahu ada orang atau tidak didalam sana," Ujar Ciel.


Setelah mendengar penjelasan Ciel, Gen agak ragu dengan usul yang diberikan. Karena di dimensi itu tidak ada bulan, maka api kebakaran merupakan satu-satunya akses pengelihatan mereka.


Ditambah lagi, Gen belum menguasai Elemen Air, jadi ia tidak dapat memadamkan api itu menggunakan Elemen yang ia punya.


"Kakak, apa kita akan baik-baik saja?" Tanya Ciel, sembari memainkan jari telunjuknya.


"Semua akan baik-baik saja, percayalah padaku!" Ujar Gen, sembari mengelus rambut Ciel.


"Jangan pernah percaya kepada orang lain!"


Tiba-tiba, suara aneh muncul di kepala Ciel, dan ia langsung menepis tangan Gen setelah mendengar suara itu. Gen yang tidak mengetahui apa-apa hanya dapat tercengang, sembari menyaksikan wajah ketakutan dari wajah Ciel.


"Jika kakak ingin meninggalkanku seperti yang lain, maka silahkan saja!' Bentak Ciel, kemudian ia memalingkan tubuhnya dari hadapan Gen.


Gen menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lantaran bingung ketika melihat Ciel tiba-tiba bertindak aneh. Namun ketika menelaah ucapan nya, Gen mengerti bahwa Ciel pernah mengalami hal-hal yang sulit.


"Semuanya akan baik-baik saja? JANGAN BERCANDA!" Ujar seseorang, dari jarak yang cukup dekat dari mereka berdua.


Sebuah pedang melayang kearah Ciel, yang sedang memalingkan tubuhnya. Dengan sigap, Gen langsung mendekap tubuh Ciel, lalu menggelindingkan tubuhnya agar mereka berdua tidak terkena serangan tersebut.


Dari kejauhan, nampak segerombolan musuh berjalan perlahan kearah mereka berdua.


"(Bertarung dalam keadaan seperti ini, sangat tidak menguntungkan bagiku! Jumlah mereka ada 4 orang, dan 1 orang yang memakai Jubah hitam, sepertinya dia yang harus diwaspadai!)" Batin Gen.


"Kakak, ini panas!" Pekik Ciel.


Gen melihat kebelakang, lalu ia terkejut ketika melihat bagian belakang pusaran angin yang ia buat kini telah terpapar oleh kobaran angin. Gen baru ingat, bahwa angin merupakan salah satu pemicu Api, dan menggunakan Elemen Angin ditengah kobaran api sangatlah tidak menguntungkan.


Dengan terpaksa, Gen pun membatalkan Jurusnya, dan mendarat ke tengah Desa. Tak butuh waktu lama, 4 orang musuh yang 3 diantaranya adalah Orc dapat dengan mudah menemukan mereka berdua.


"Kakak sengaja menggunakan angin untuk membakar ku kan? Seharusnya aku tidak pernah percaya pada kakak, sekarang turunkan aku!" Bentak Ciel, yang mulai meronta dari pelukan Gen.


"Apa yang kau lakukan? Tenanglah!" Bentak Gen.


Ciel tersentak ketika melihat Gen marah, tapi ia tetap memaksakan diri untuk turun.


"Bagus Ciel, seperti yang telah aku ajarkan!" Ujar Orc yang bertubuh paling besar.


Gen mulai menyadari ada yang aneh disini, lalu ia terpaksa harus berhadapan dengan 4 orang sekaligus sekarang.


"Apa maksudmu? apa yang kau lakukan pada Ciel!" Ujar Gen.


"Tidak ada, aku hanya mengajari Ciel apa artinya kehidupan!" Jawab Orc tersebut.


Saat ini, hawa panas telah menyelimuti suasana diantara kedua kubu tersebut. Gen merasa tidak yakin bahwa ia dapat mengalahkan mereka semua, namun ia tidak dapat begitu saja pergi tanpa bisa menyelamatkan apapun.


"Hei pahlawan terpilih, jika kau dapat mengalahkan mereka, maka aku akan mengembalikan Desa ini kembali ke Bumi!" Ujar seseorang bertudung hitam.


"(Sudah kuduga, dia memang patut diwaspadai! Jika ia dapat mengembalikan Desa ini, itu artinya dia adalah Iblis yang Kirin maksud!") Batin Gen.


Ciel hanya dapat memandangi Gen dari belakang, dengan tubuh yang gemetar. Panas kobaran api yang sedang melahap desa ini seperti tidak terasa oleh mereka semua, seakan ada sebuah sihir yang melindungi setiap orang yang ada disana dari jilatan panasnya api.


"Sekarang, bertarung lah dengan ku!" Ujar Orc bertubuh besar itu.


Bertarung, kini jadi satu-satunya pilihan Gen. Namun jika bertarung menggunakan Elemen api atau angin, medan pertarungan kali ini sangat tidak menguntungkan baginya.


Saat sedang berfikir keras, tiba-tiba Gen mengingat sesuatu yang sangat penting.


"Elemen yang kau gunakan dapat beradaptasi dengan Material serupa,"


Gen melihat sekelilingnya, kobaran api yang sangat besar. Pemandangan yang tadinya ia anggap sebagai petaka, kini telah berubah. Gen seperti melihat sekumpulan koin emas berwujud kobaran api, dan hal itu dapat memicu adrenalin nya bangkit. Gen tersenyum bengis, yang bermakna bahwa ia telah menemukan jalan keluar.


"Apa yang lucu?" Tanya Orc itu, yang merasa terganggu dengan senyuman Gen.


"Tidak ada, hanya saja, ini adalah hari kekalahan mu!" Gen langsung berubah ke Bentuk Elemen Api Fase 2.


Ia mempraktekan latihan nya seharian ini, yaitu mengumpulkan Mana yang ada disekitarnya. Ajaibnya, Kobaran api yang ada disekitarnya kini berkumpul masuk kedalam tubuh Gen, layaknya penyedot debu.


Kobaran api itu diubah oleh Gen menjadi Mana, sehingga itu dapat memperkuat dirinya.


"Serap lebih banyak! jika aku berhasil melampaui batasan tubuhku, aku akan melaju ke tahap berikutnya! SEMANGATLAH DIRIKU!" Penyerapan Energi yang dilakukan Gen terpacu semakin cepat.


Semua orang yang ada disana sampai menutup mata, ketika melihat silaunya tubuh Gen, tak terkecuali dengan Ciel. Ia seperti melihat sebuah matahari dihadapan nya.


Api yang membakar seluruh Desa kini telah habis terserap, dan itu menyebabkan keadaan disekitar menjadi gelap gulita. Sementara itu, tubuh Gen kini telah diselimuti oleh Aura api yang sangat tenang, berbeda ketika ia menggunakan Fase 2.


Ketika ia menggunakan Fase 1, kekuatan Gen tidak keluar sepenuhnya, jadi tidak terlalu membuang banyak energi.


Dan ketika ia menggunakan Elemen Fase 2, maka otomatis kekuatan nya akan bertambah kuat, namun itu harus dibayar dengan energi yang cepat terkuras, dikarenakan Aura yang ada ditubuhnya terus meluap, dan menyebabkan Mana yang ada ditubuhnya terbuang sia-sia.


Namun saat ini, Gen telah mendorbak Batasannya, dan berhasil naik ke Fase selanjutnya.


"Ini dia, Bentuk Elemen Api, Fase 3!"


Semua orang terkejut ketika melihat Gen bersinar. Aura yang ada di tubuhnya kini sudah dapat ia kendalikan, dan rambutnya yang tadinya berdiri bak landak kini telah kembali turun. Mirip seperti Fase 1, hanya saja, kekuatan yang ia miliki saat ini telah jauh lebih kuat.


"Akhirnya, aku menemukan lawan yang memiliki kekuatan yang sepadan denganku!" Ujar Orc bertubuh besar itu.


"Apa maksudmu sepadan? Sudah jelas bukan, aku ini jauh lebih kuat daripada dirimu!" Ujar Gen, dengan nada yang merendahkan.


Kini, pertarungan yang sebenarnya, akan dimulai!


**Bersambung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Visual: Gen Flame Mode Phase 3/ Bentuk Elemen Api Fase 3**