
"Sihir elemen api, dapat diserap?" Gumam Alaster, yang terkejut ketika melihat kemampuan Ignite.
Alaster tidak menyerah, ia pun langsung menggunakan Elemen lain yang ia miliki untuk menyerang Ignite.
"Tombak Angin!" Alaster mengumpulkan energi angin di tongkat sihirnya, sehingga membentuk sebuah Tombak rasaksa.
Tanpa berlama-lama lagi, ia berlari menerjang kearah Ignite untuk menusukkan tombak Angin tersebut.
Ignite sama sekali tak bergeming ketika menerima serangan itu, dan serangan Alaster berhasil menusuk ke dada sebelah kanan dari Ignite.
Bukannya meringis kesakitan, Ignite malah terkekeh geli ketika menerima serangan itu. Hal ini tentu saja membuat Alaster kebingungan.
"Ksatria Sihir, apakah kau tidak pernah belajar mengenai sistem kerja Elemental?" Tanya Ignite, dengan nada yang merendahkan.
"Cih, tutup mulutmu, dan pergilah ke neraka!" Alaster menusukan tombaknya lebih dalam lagi.
Ignite pun tertawa, kemudian ia mengeluarkan aura api yang cukup besar. Api yang dikeluarkan oleh Ignite ternyata menjalar terhadap Tombak Angin milik Alaster, yang menyebabkan serangan angin milik Alaster berubah menjadi kobaran api.
Kobaran api itu ternyata berbalik menyerang Alaster, dan menyebabkan tangan dan tongkat sihir Alaster menjadi hangus.
Ia tidak memiliki pilihan lain, kecuali mundur dan menjauh dari Iblis api itu.
Di sisi lain, Gen dan para Penyihir lain tengah sibuk menghadapi serbuan Phantom yang cukup banyak. Mereka cukup kewalahan, karena tidak pernah menghadapi Iblis sebelumnya.
Gen menggunakan jurus Bor Angin, untuk melubangi jantung para Phantom. Cara itu terbukti ampuh, karena Para Phantom yang dadanya ditembus ternyata langsung kalah, dan menghilang.
"Semuanya! Serang bagian jantungnya, itu kelemahan mereka!" Seru Gen, memberitahu para Penyihir yang lain.
Meskipun mereka mengetahui kelemahan para Phantom, namun para penyihir tetap kesulitan untuk menghadapinya. Berbeda dengan Gen yang bertarung menggunakan Serangan fisik, mereka yang bertarung menggunakan Sihir cenderung kesulitan menghadapi kelihaian serangan Phantom yang membabi buta.
Korban pun tak terhindarkan, kebanyakan yang menjadi korban justru orang yang tidak bertarung, yaitu para Orang tua atau pendamping daripada Lulusan Penyihir.
Orang-orang tak bersalah itu pun harus meregang nyawa dengan cara yang tidak manusiawi, mati dengan tercabik-cabik.
Para Penyihir yang melihat orang yang mereka sayangi tewas didepan mata mereka langsung terjatuh lemas, dengan tatapan kosong di mata mereka.
Gen merasakan ada yang tidak beres dengan kondisi para penyihir itu, sehingga membuatnya tidak fokus ketika bertarung.
"Awas!" Seorang wanita tiba-tiba berteriak kepadanya, lalu sebuah tembakan air muncul untuk menyerang Phantom yang ingin menyerang Gen ketika ia sedang termenung.
"Fokuslah dalam bertarung!" Tegur Lunaris kepada Gen.
"Hehe, maaf maaf. Lunaris, apa kau merasakan ada yang aneh dengan para penyihir itu?" Tanya Gen.
Lunaris pun langsung memperhatikan sekitarnya, dan benar saja, ia melihat berapa penyihir sedang terduduk dengan posisi yang lemas.
Tak lama setelah itu, kejadian aneh pun muncul. Tubuh para Penyihir terlihat retak, tak lama kemudian tubuh fana mereka pun hancur. Dari dalam tubuh Penyihir itu, keluarlah makhluk yang sedang mereka lawan saat ini, yaitu Phantom.
Lunaris langsung memuntahkan isi perutnya, ketika melihat pemandangan mengerikan itu. Sementara otak Gen langsung dipenuhi dengan pertanyaan yang berujung kepada kesimpulan yang menyedihkan.
"Jadi, yang kita lawan adalah, bagian dari kita, Para Makhluk hidup? Yang benar saja, apa-apaan ini!" Gumam Gen, yang tampaknya tidak terima dengan semua ini.
Ia pun menjadi ragu untuk melawan para Phantom, dikarenakan kesimpulan yang telah ia ambil.
Alhasil, Gen pun hanya bisa berdiri tanpa melakukan apapun. Lunaris berusaha untuk bangkit, kemudian ia pun mengarahkan Tongkat sihirnya untuk melawan para Phantom.
"Aquarin Slash!" Percikan air muncul dari tongkat sihir Lunaris.
Yang kemudian percikan air itu langsung berterbangan di udara, dan secara ajaib mampu untuk memenggal kepala Phantom itu.
Ternyata perhitungan Gen salah, para Phantom tidak bisa be-regrenasi. Mereka hanyalah Makhluk hidup, yang dirubah menjadi Monster layaknya Iblis.
Lunaris terus menyerang Phantom-phantom itu, sementara Gen hanya berdiri mematung, dengan tubuh yang gemetar.
"Hei bodoh! Apa yang kau lakukan?" Lunaris meneriaki Gen, yang sedang terdiam.
"Mereka semua, Makhluk hidup kan? Mereka bukan Iblis, tapi, bukankah membunuh mereka sama saja membunuh orang yang tidak bersalah?" Balas Gen.
Lunaris berdecih, ketika mendengar pernyataan Gen. Ia terus membunuh para Phantom itu, dan menghalau mereka agar tidak menyerang orang banyak.
"Gen, kau adalah Pahlawan bukan? Ini adalah jalan, yang dipenuhi dengan darah dan pengorbanan. Jika kau tidak siap, seharusnya kau tidak menerima kekuatan itu!" Ujar Lunaris.
Gen merasa tertampar dengan pernyataan Lunaris. Akan tetapi, tubuhnya tetap tidak mau bertarung.
"*Kenapa, harus ada pengorbanan? Apakah mendapatkan semuanya, merupakan hal yang mustahil?"
Bersambung*