Magic Shine/Origin

Magic Shine/Origin
Chapter 27: Perbedaan Sudut pandang



Arthur, Beliana, dan Selvia kini telah kembali dari perjalanan mereka. Mereka pulang cukup larut, dikarenakan Arthur membawa mereka ke kerajaan, dan diperkenalkan kepada Raja dan Ratu kerajaan [Pendragon Hall]


"Bagaimana perjalanan hari ini?" Tanya Selvia, pada Beliana.


"Menyenangkan, tapi aku agak malu, ketika kedua orang tua Arthur menyapa ku," Ucap Beliana.


Wajah Arthur seketika memerah, ketika Beliana mengingatkan dia tentang hal yang terjadi tadi.


"Ahh, iya mereka hanya bercanda, jadi mohon dilupakan saja," Arthur mengalihkan pembicaraan.


"Hihihi, akhirnya putraku menemukan belahan jiwanya," Ejek Selvia, sembari mengulangi ucapan sang Ratu.


"Selvia, diamlah!" Wajah Beliana langsung berubah warna menjadi merah padam.


Akhirnya setelah perbincangan di perjalanan, tidak terasa akhirnya mereka tiba di depan rumah Gen. Selvia hendak membuka pintu, namun ternyata pintu rumah Gen masih dalam keadaan terkunci.


"Hmm, sepertinya Gen masih belum pulang," Gumam Selvia.


Arthur merasa kecewa, namun ia masih bersikukuh untuk menunggu Gen kembali.


"Memangnya, apa yang ingin kau lakukan dengan Kak Gen?" Tanya Beliana.


"Apa ya, mungkin bisa dibilang aku tertarik dengan kekuatannya. Jadi, aku ingin mencoba beradu kekuatan dengannya," Jelas Arthur.


Tentu saja hal itu membuat Selvia dan Beliana terkejut. Sontak, Selvia pun langsung berbalik, lalu menunjuk Arthur dengan eskpresi kesalnya.


"Kalau begitu, jangan sampai membunuhnya! dengar?" Tanya Selvia, dengan nada tinggi


"Iya iya, aku juga tidak berniat membunuh orang," Jawab Arthur.


Tak lama kemudian, mereka mendengar suara derap kaki sedang mengarah ke tempat mereka. Saat ketiganya berbalik, mereka melihat Gen sedang berjalan kearah mereka.


"Eh, Kak Gen!" Sapa Beliana, sembari melambaikan tangannya.


Namun Gen seakan tidak Acuh kepada Beliana, dan ia hanya melanjutkan perjalanan dengan tatapan tertunduk kebawah.


"Eh, siapa anak itu?" Tanya Selvia, ketika melihat ada anak kecil yang sedang berjalan dibelakang Gen.


Setelah sampai di depan mereka semua, langkah Gen pun terhenti, namun pandangannya masih tetap menghadap kebawah.


"Akhirnya kembali, kau darimana saja?" Tanya Arthur, kepada Gen.


"Kau sendiri, Sedang apa disini?" Gen membalikan pertanyaan Arthur.


Hal itu sontak membuat semua orang yang ada disana terkejut, sekaligus bingung dengan sikap Gen. Tidak biasanya Gen mengeluarkan suara yang berat, dan ia tidak terlihat bersemangat seperti hari-hari sebelumnya.


"Eh, kami bertiga habis bersenang-senang. Iyakan?"


"Iya, hari ini cukup menyenangkan!" Tambah Beliana, yang bertujuan untuk mencairkan suasana canggung itu.


Namun, reaksi yang ditunjukan oleh Gen malah berbanding terbalik dengan harapan mereka. Gen terlihat kesal, bahkan ia sampai mengepalkan telapak tangannya.


"Kau bersenang-senang, padahal rakyat mu sedang kesulitan!" Ketus Gen


"Hei, apa maksud ucapan mu itu?" Arthur seakan tidak terima, dengan ucapan yang dilontarkan oleh Gen barusan.


"Dasar, bangsawan tidak berguna!" Tangan Gen langsung melayang kearah Arthur.


Arthur yang kala itu tidak dalam keadaan siap, pun harus terkena hantaman keras diwajahnya. Sontak tindakan Gen membuat semua orang yang ada disana terkejut, bahkan Ciel pun langsung memeluk Beliana, saking takutnya.


"Gen, hentikan!" Selvia mencoba menghentikan tindakan Gen, namun Gen seolah tidak memperdulikan nya.


Arthur bangkit kembali, seraya menghapus noda darah yang keluar dari hidungnya. Ia terlihat kesal dengan perlakukan Gen, dan nampaknya ia berniat untuk membalas Gen.


"Jika kau laki-laki, maka bersikaplah jantan, dan tunggu lawan mu siap!" Arthur memukul Gen tepat di bagian pipi.


Tidak tinggal diam, Gen juga membalas pukulan Arthur. Baku hantam pun tak dapat dihindari lagi, dan mereka pun saling menyakiti satu sama lain.


Selvia dan Beliana sebenarnya ingin melerai mereka berdua, namun dengan kondisi pertarungan yang seperti itu, tidak memungkinkan bagi mereka untuk melerai dengan aman.


"Ternyata kau tidak tahu apa-apa kan? heh, pemerintahan itu memang tidak berguna, kalian hanyalah orang-orang yang memikirkan diri kalian sendiri!" Seru Gen, sebelum melayangkan pukulan ke arah Arthur.


"Hah, apa maksudmu? Justru beban seperti kalian lah yang membuat para petinggi kesulitan. Kalian hanya bisa mengeluh, tanpa memikirkan seperti apa rasanya memimpin!" Arthur membalas pukulan Gen.


Mereka berhenti beberapa saat, untuk mengambil nafas. Tubuh mereka telah babak belur, terutama bagian wajah mereka.


Arthur meminta Gen untuk tenang, dan menjelaskan mengapa Gen bersikap seperti itu. Karena ia sudah cukup stabil, akhirnya Gen pun menceritakan kejadian di desa Sinos, dengan sangat detail.


"Beliana, kau bisa merasakan Dimensi itu kan?" Tanya Gen, lagi-lagi dengan nada yang ketus.


Wajah Beliana pun menjadi murung, dan ia pun mengangguk pelan. Hampir seluruh Penyihir tingkat atas dapat merasakan ada kejanggalan, namun tidak ada seorangpun yang datang untuk memastikannya. Hal itu membuat Gen semakin kesal.


"Benar kan, prajurit, pelindung, atau apapun itu hanyalah sampah. Mereka bahkan tidak peduli dengan orang lain, tapi mereka dikagumi. Hah, ironis sekali," Hina Gen.


Tubuh Arthur gemetar, emosinya seakan naik ketika Gen mengatakan hal itu. Menjelek-jelekan kerajaan di depan seorang Pangeran, itu merupakan hal yang tabu, namun itu tidak berlaku bagi Gen.


"Kau yang tidak memiliki siapa-siapa, mana mengerti tentang hal itu!" Ketus Arthur, yang kala itu sudah naik pitam.


"Arthur!" Beliana meneriaki Arthur, untuk mencegah Arthur melanjutkan kata-katanya.


Namun semua itu sama sekali tidak berguna, Arthur tidak mengurangi niatnya sama sekali.


"Kau yang memang sudah sendirian, mana mengerti kau tentang berharganya sebuah nyawa! Kau memiliki kekuatan yang besar, kau tidak perlu takut untuk menghadapi Musuh yang kuat. Kau tidak akan merasakan penderitaan keluarga seorang ksatria, ketika mereka gugur dalam Medan perang! Kau yang dari awal sudah sendirian, kau tidak akan mengerti rasanya kehilangan!"


Kata-kata yang diucapkan oleh Arthur barusan, sontak membuat semua orang yang ada disana menjadi terkejut, tak terkecuali Gen. Mereka menilai itu adalah sesuatu yang tidak pantas diucapkan oleh seorang Pangeran, namun saat ini, Gen sama sekali tidak peduli dengan gelar dan jabatan.


Gen menarik nafas panjang, kemudian mengucapkan beberapa Patah kata untuk menjawab pernyataan Arthur itu.


"Ya, aku memang sendiri. Tidak akan ada orang yang sedih atas kematian ku, dan aku tidak akan bisa merasa kehilangan," Lirih Gen.


Gen menarik nafas panjang lagi, sebelum melanjutkan perkataanya itu.


"Maka dari itu, aku akan mendedikasikan hidupku. Kau tidak perlu membayar ku, aku akan bertarung dengan segenap kekuatanku, untuk melindungi Negara ini. Tenang saja, pasti kau akan dianggap sebagai Pemimpin yang berhasil menjaga perdamaian, maka dari itu duduk saja di Singgasana mu ya, pangeran!" Lanjut Gen.


"Kurang ajar!" Arthur yang sedang naik pitam pun langsung menghantam wajah Gen, dengan pukulannya.


Gen membalas pukulan Arthur, dan pertarungan ronde ke dua pun tak terelakan. Pertarungan yang didasarkan atas perbedaan sudut pandang, pertarungan yang sama sekali tidak menghasilkan apapun.


Seorang pemimpin yang harus menanggung beban yang besar, namun kesulitan untuk mengerti setiap keinginan dari rakyatnya. Dan juga seorang rakyat yang merasa terintimidasi oleh pemerintahan, namun ia tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang pemimpin


Mereka tidak saling mengerti satu sama lain, dan mereka tidak mungkin bisa ada di posisi yang sama. Itulah yang membuat terjadinya perbedaan sudut pandang.


Gen dan Arthur saling melancarkan pukulan terkuat mereka, secara bersamaan. Secara tidak langsung, pukulan itu adalah pukulan terakhir mereka.


"Genius Ren!"


"Arthur Ke-Sepuluh!"


Pukulan Gen mengenai kening Arthur, sementara pukulan Arthur mengenai dada Gen. Darah segar mengalir dari mulut Gen, bersamaan dengan darah yang keluar dari kening Arthur.


Mereka berhenti sejenak, lalu saling mundur untuk melepaskan pukulan yang baru saja mereka lancarkan. Nafas Gen tersenggal, nampaknya ia kelelahan karena harus melakukan 2 pertarungan sekaligus.


Sementara Arthur nampaknya masih cukup kuat untuk melanjutkan pertarungan, hanya saja melihat kondisi Gen yang seperti itu, ia merasa pertarungan mereka tidak akan adil.


Setelah menganggap pertarungan mereka selesai, Gen pun melepas Almamater yang melekat di tubuhnya, kemudian menjatuhkannya ke tanah.


"Untuk selanjutnya, aku akan bertarung sebagai Genius Ren Arion. Aku tidak butuh ini!" Ujar Gen, sembari menginjak Almamaternya.


Pertarungan pun dianggap seri, dan Gen berjalan dengan tertatih untuk masuk ke rumah. Selvia pun datang untuk membantu Gen, lalu mereka berdua pun masuk bersamaan kedalam rumah.


Diluar hanya tinggal Arthur, Beliana, dan Ciel. Beliana nampak menenangkan Ciel, sementara Arthur sepertinya membutuhkan teman bicara untuk meredakan emosinya.


"Bel..." Panggil Arthur.


Beliana berbalik dari arah Ciel, kemudian ia berjalan mendekati Arthur. Arthur nampak senang ketika Beliana mendekatinya, namun sesuatu yang tak terduga pun terjadi.


"Plakk!"


Beliana menampar Arthur, tepat di pipi sebelah kirinya. Hal itu membuat Ciel dan Arthur terkejut, karena tidak menduga bahwa reaksi Beliana akan seperti itu.


"Tarik semua ucapanmu kepada Kak Gen!" Ujar Beliana, dengan nada yang tegas.


Setelah itu, ia pun menggandeng Ciel lalu ikut masuk kerumah Gen. Kini tinggal Arthur sendiri. Tidak ada orang yang berani melewati jalan tersebut, akibat dari pertikaian mereka berdua.


Ia memandangi Almamater Gen, dengan wajah yang penuh luka. Hatinya berkecamuk, sebagai seorang pemimpin, ia merasa hari ini adalah sebuah kegagalan untuknya.


Ia menarik nafas panjang, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk menenangkan diri disana.


"Apakah aku pantas, untuk menjadi seorang raja?"


Bersambung