Magic Shine/Origin

Magic Shine/Origin
Chapter 43: Apa itu Kebenaran?



Beliana berlari sekuat yang ia bisa, untuk menyusul Arthur yang tengah bertarung sendirian, demi melindungi para warga sipil.


Setelah beberapa kali berhenti karena kelelahan, akhirnya ia tiba di dekat Akademi. Ia melihat Arthur yang tengah bertarung menggunakan Bentuk yang belum pernah ia lihat sebelumnya, bentuk dimana tubuh Arthur dipenuhi dengan tato berwarna emas.


"Arthur, kau ini memang, sangat mengagumkan," Beliana mengucapkan kata-kata itu secara frontal.


"Excalibur Slash!" Arthur bersiap untuk mengeluarkan jurus terkuat nya.


Beliana merasa berdebar, karena ia senang mengetahui bahwa Arthur sedikit lagi menang. Akan tetapi, eksprertasi nya hancur ketika melihat serangannya dihentikan oleh Pria yang tengah dihadapinya itu.


"Apa, jadi pria itu juga adalah Iblis? sebenarnya apa yang telah terjadi di dunia ini!" Gumam Beliana, yang terkejut melihat hal aneh itu.


Ia menyaksikan Arthur dipukul dengan sangat kuat, sehingga menyebabkan Pedang nya terhempas. Entah kebetulan atau bagaimana, pedang itu terhempas dan jatuh di dekat Beliana.


Tapi Beliana tidak langsung mengambilnya, karena terlalu beresiko jika ia sampai ketahuan. Arthur menggunakan Armor Singa, tepat setelah ia bangkit dari pukulan tadi.


"Si bodoh itu! dia bahkan tidak memiliki mana yang cukup!" Gumam Beliana, dengan tubuh yang gemetar.


Ia takut Arthur akan langsung dihabisi, karena keadaan saat ini sangat tidak menguntungkan baginya. Akan tetapi, kejadian selanjutnya sangatlah aneh.


Kedua Iblis itu menghilang meninggalkan Arthur begitu saja, padahal jika mereka mau, mereka hanya perlu melancarkan satu serangan untuk membunuh Arthur. Arthur pun langsung tersungkur, tepat setelah kedua musuhnya itu pergi.


"Arthur!" Beliana berlari kearah Arthur, untuk memberinya pertolongan pertama.


Sesampainya disana, Beliana langsung menggunakan Sihir penyembuhan untuk menyembuhkan Arthur.


"Sihir Cahaya: Penyembuhan!"


Baru sedikit luka yang disembuhkan, sihir miliknya langsung berhenti seketika. Nampaknya, tubuhnya tidak mampu untuk mengeluarkan sihir penyembuhan lagi, itu adalah batasnya untuk hari ini, setidaknya sampai ia beristirahat.


"Tidak, kenapa? Arthur, bangunlah! Arthur!" Beliana terus memanggil nama Arthur, karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Ia melihat tubuh Arthur dipenuhi dengan lubang, dan luka gores yang cukup dalam. Beberapa tulangnya retak, dan aliran mana nya yang tidak stabil, karena dipaksakan untuk bertarung melebihi batasnya.


Ia terus menggoyang-goyangkan tubuh Arthur, seakan meminta Arthur untuk membuka matanya. Akan tetapi, semua usahanya itu sia-sia saja, karena Arthur tidak bergeming sama sekali.


"Tidak, Arthur, Hiks!" Ia menangis di atas tubuh Arthur, seraya memeluknya.


"Kau ini benar-benar keterlaluan ya!" Celetuk Chimera, yang membuat Beliana langsung tertegun.


Sesaat setelah itu, ia mendengar Arthur yang seperti menahan tawa. Rupanya sedari tadi, Arthur hanya mengerjai Beliana saja, karena ia tidak sepenuhnya kehilangan kesadaran.


"Hehehehe, harusnya kau biarkan momen itu berjalan sedikit lebih lama, Chimera," Ujar Arthur, yang langsung membuka matanya.


Wajah Beliana langsung merona seketika, karena ia merasa malu. Ia pun langsung memukul Arthur, untuk membalas perbuatannya.


"Dasar bodoh, rasakan ini!"


'Plaakk' Sebuah tamparan mendarat di pipi Arthur.


"Aduh! Hei, itu sakit tahu!" Seru Arthur yang langsung duduk, setelah ditampar.


"Salah sendiri! Beraninya kau mengerjai ku, padahal aku serius mengkhawatirkan mu tahu!" Bentak Beliana.


Arthur pun tersenyum tipis, lalu, ia pun segera berdiri untuk pergi dari tempat itu. Akan tetapi, kakinya tidak mampu menopang tubuhnya sendiri, dikarenakan kondisi yang tengah terluka. Dengan sigap, Beliana pun langsung menahan tubuh Arthur, dan memberikan sandaran supaya Arthur dapat berjalan.


"Ayo, kita harus segera kerumah sakit!" Seru Beliana, tanpa menatap Arthur.


Sesaat setelah mereka beranjak, akhirnya para Ksatria pun datang untuk menyelidik tempat kejadian perkara.


...****************...


Di Rumah Sakit Pendragon Hall.


Selvia sedang menunggu hasil pemeriksaan oleh Dokter. Ia sudah mengetahui hasil pemeriksaan dari Lunaris terlebih dahulu, jadi sekarang, ia sedang menunggu hasil pemeriksaan dari Gen.


"Sial, kenapa aku tidak pernah datang di waktu yang tepat!" Gerutu Selvia, kepada dirinya sendiri.


Setelah beberapa saat ia menunggu, akhirnya Dokter yang merawat Gen pun keluar dari ruangan nya. Tanpa basa-basi, dia langsung menanyakan hasil pemeriksaan.


"Bagaimana dokter?" Tanya Selvia, yang langsung bangkit dari kursi.


"Kondisi fisik nya cukup buruk, tapi sepertinya tidak terlalu fatal. Ia terkena radang dingin, akibat tangannya yang membeku. Tapi masalah utamanya adalah Mental nya. Sepertinya, ia tengah mengalami stress." Jelas sang Dokter.


"Stress? tapi selama ini, dia tidak pernah memiliki riwayat stress dok?"Ujar Selvia, yang seolah tidak menerima pernyataan dari dokter.


"Itulah yang ingin kami tahu. Tapi, kita harus menunggunya siuman terlebih dahulu. Nanti kami akan menanyakan sesuatu kepadanya, untuk memeriksa keadaan mental nya,"


"Baiklah, terima kasih dok." Sang dokter pun langsung pergi, setelah Selvia selesai dengan pertanyaan nya.


Ia termenung untuk beberapa saat, memikirkan apa yang telah terjadi, dan bagaimana Gen bisa mendapatkan luka itu. Saat pikirannya kosong, ia langsung mengingat bahwa Gen tidak sendiri disana.


"Ahh iya, murid akademi itu!" Selvia pun langsung masuk ke kamar gadis yang terluka bersama Gen.


Ia mengetuk pintu terlebih dahulu, kemudian masuk dengan perlahan, menyembunyikan wajah paniknya. Saat ia masuk, ia mendapati bahwa gadis itu sedang memandang keluar jendela.


"Permisi, bolehkah aku duduk?" Tanya Selvia yang berusaha ramah.


Gadis itu menoleh, "Ya, silahkan saja."


Ia cukup terkejut dengan respon nya, karena gadis itu nampaknya tidak canggung dengan orang baru. Baguslah, itu mempermudah Selvia untuk berkomunikasi.


"Namaku adalah, Selvia Van Cellester. Alangkah baiknya memperkenalkan diri dulu kan, silahkan," Ucap Selvia, sebagai pembuka.


"Namaku, Lunaris Reina. Aku adalah orang yang penyebab dari tragedi yang terjadi barusan, itu kan yang ingin kau tahu?" Jawab Lunaris langsung, seakan tak ingin basa-basi.


Selvia pun langsung bingung dengan apa yang Lunaris maksud, "Tunggu, bagaimana bisa begitu?"


"Yang menyerang kami, adalah Iblis api, Ignite. Dan juga Pangeran dari Negeri Valhalla. Kerajaan itu diserang oleh Iblis Api, dan Pangeran Allen pun dirubah menjadi Iblis, dan dijadikan alat bagi Iblis itu,"


"Apakah yang merubahnya adalah, sebuah Cristal Iblis?" Potong Selvia.


"Ya, sepertinya kau mengetahui tentang hal itu. Kejadian itu sudah 5 tahun yang lalu, Raja Valhalla dibunuh, sehingga saat ini, Sang Ratu lah yang memimpin." Jelas Lunaris, yang sengaja berhenti untuk menarik nafas sejenak.


"Lalu, bagaimana kau mengetahui semua itu? dan kenapa tidak ada tindakan dari para Negara lain untuk mengatasi hal itu, bukankah itu masalah besar?" Tanya Selvia.


"Yang pertama, aku berasal dari salah satu Suku di Valhalla. Yang kedua, Iblis itu memanipulasi sistem kerajaan disana, karena tidak ada yang mampu mengalahkannya. Waktu itu, ia membawa 2 Kristal Iblis, satu tipe Es, yang satu lagi adalah tipe Air. Pangeran Allen adalah wadah untuk tipe es, dan kau tahu pasti dapat membaca kenapa aku diincar kan?"


"Astaga, apakah kau?"


"Ya, karena akulah yang hendak dijadikan sebagai wadah untuk Iblis Air."


Bersambung