
Gen berjalan kearah Ciel, dengan langkah yang lesu. Warna pakaian dan rambut Gen sudah kembali seperti semula, yang menandakan bahwa ia sudah tidak lagi menggunakan Bentuk Elemen Api.
"Kakak!" Ciel langsung memeluk tubuh Gen, yang kala itu masih berdiri mematung.
"kakak, ini Almamater mu," Ujar Ciel, ketika Gen menghampirinya.
Gen pun mengambil kembali Almamater miliknya, kemudian ia pun langsung memakainya.
"Terima kasih, apa kau baik-baik saja?"
Ciel membalasnya dengan anggukan. Saat di posisi haru seperti itu, tiba-tiba Sang Iblis muncul dihadapan mereka berdua.
Sontak, Gen langsung menarik tubuh Ciel lalu berbalik membelakangi tubuh Gadis kecil itu untuk melindunginya.
"Apa yang kau mau?" Tanya Gen, dengan keringat dingin yang mengalir disekujur tubuhnya.
Gen sadar, bahwa dirinya saat ini telah kehilangan banyak Energi di pertempuran sebelumnya, ditambah kali ini yang dihadapannya merupakan Sesosok Iblis. Jadi, kemungkinan untuk Gen menang sangatlah kecil. Pemikiran itulah yang membuat Gen sampai berkeringat dingin.
"Selamat, kau berhasil menang dari Gilbert!" Puji Iblis itu kepada Gen, sembari memberikan tepuk tangan kepada Gen.
Gen dan Ciel terkejut ketika mendengar pernyataan Iblis tersebut. Mereka tidak mengerti, apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Iblis tersebut. Gen berfikir bahwa ini adalah perangkap, jadi ia memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Apa maksudmu?" Tanya Gen, sembari memasang posisi was-was.
Iblis itu terkekeh, ketika mendengar pertanyaan Gen. Kemudian, ia berjalan mendekati Gen, namun reflek tubuh Gen malah mundur ketika Iblis itu mendekat.
"Aahh, kau memang benar-benar manusia biasa! Apa kau tidak ingat janji kita tadi, Genius Ren Arion?" Tanya Iblis itu, dengan nada yang menggoda.
Gen mencoba mengingat-ingat tentang percakapan antara dia dan Iblis itu, namun tetap saja, Gen tidak dapat mengingat hal yang Iblis itu maksud.
"Apa maksudmu?" Tanya Gen, dengan ekspresi wajah yang kebingungan.
Iblis itu langsung tertawa keras, setelah mendengar Gen mengucapkan hal tersebut.
"Kalian manusia memang benar-benar tidak tahu diri!" Ketus sang Iblis kepada Gen.
Rasanya, emosi Gen mulai naik ketika mendengar Iblis mengucapkan hal itu, namun rasa takut dan logika nya menahannya untuk tidak melakukan hal yang gegabah.
"Tutup mulutmu, dan katakan saja apa mau mu!" Bentak Gen.
"Padahal kau sedang takut, tapi kau masih berani untuk membentak ku. Manusia memang menarik,"
"Katakan!" Desak Gen.
Karena desakan dari Gen, akhirnya Iblis itu pun mengalah, lalu ia pun mengatakan janji yang ia maksud kepada Gen.
"Aku berjanji padamu, ketika kau berhasil mengalahkan Gilbert, maka aku akan membebaskan Desa ini dari dimensi kegelapan ini," Jelas Iblis itu.
Memori Gen perlahan kembali, dan ia cukup senang karena itu merupakan janji yang sangat menguntungkan baginya. Tapi, Gen merasa aneh dengan iblis itu. Mengapa ia masih mau mengingatkannya tentang Janji itu, padahal ia bisa saja mengingkari janji itu?
"Apa kau merasa aneh dengan sikapku?" Tanya Iblis itu, seolah mengetahui tentang apa yang difikirkan oleh Gen.
"Bagaimana kau?"
"Sudah jelas bukan? Pikiran Mortal seperti kalian memang mudah ditebak. Ras kami bukanlah ras yang mudah untuk mengkhianati janji. Kami tidak munafik seperti kalian, itulah perbedaan diantara kita!"
Setelah cukup berbincang-bincang, Iblis itu pun mengangkat tinggi-tinggi tongkat sihirnya. Dia membaca mantra yang sangat aneh, bahkan Gen dan Ciel sama sekali tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya Iblis itu ucapkan.
Setelah itu, Lingkaran Sihir yang besar muncul di langit. Lingkaran sihir itu membesar, lalu membentuk sebuah gumpalan hitam yang akrab disapa sebagai 'Lubang Hitam'
Tanah yang diinjak mereka mulai bergetar, dimensi itu pun mulai berguncang.
"Genius Ren, setelah kau kembali ke dunia mu, maka kau akan melihat kebenaran secara langsung!" Ujar Iblis itu, seakan memberi peringatan.
Gen yang kala itu sedang kalang-kabut pun tidak terlalu memperhatikan Iblis itu, dan hanya fokus melindungi Ciel. Muncul cahaya terang dari lubang hitam tersebut, dan semua orang yang ada disana mulai menutup mata mereka karena silaunya cahaya tersebut.
Gen perlahan kembali membuka matanya, setelah ia yakin bahwa Cahaya aneh yang barusan telah menghilang. Ia memfokuskan kembali pandangannya, lalu melihat keadaan di sekitar.
l
Gen sedikit lega, namun ternyata Iblis yang tadi masih belum meninggalkan tempat itu. Karena tidak memiliki pilihan lain, Gen pun berniat untuk menghadapi Iblis itu supaya dia tidak mencari ulah.
"Apa ada orang disana!" Seru seseorang dari kejauhan.
Aksi Gen terhenti, ketika mendengar seseorang yang memanggil mereka. Rupanya, asal suara tersebut merupakan suara dari rombongan prajurit kerajaan yang baru tiba.
"Astaga ini sangat kacau!" Pekik salah satu ksatria.
"Sudah kuduga, pantas saja aku merasakan ada hal yang aneh disini!" Tambah seorang Penyihir wanita.
"Bocah berambut biru! Apa kau yang sudah melakukan semua ini?" Tanya Ksatria bertubuh tegap. Nampaknya, ia merupakan komandan dari rombongan tersebut.
Sang Iblis yang masih disana kini mulai mengeluarkan tawa khas nya kembali, yang ternyata mampu menarik perhatian para Prajurit.
"Siapa kau?" Tanya salah seorang ksatria.
"Astaga, dia adalah Iblis!" Ujar sang Penyihir, yang sudah mengetahui bahwa dia adalah Iblis.
Lagi-lagi, sang Iblis kembali menguarkan suara tawa mencekamnya itu. Hawa dingin mulai menyelimuti, dan aura intimidasi dari sang Iblis pun mulai keluar.
"Apa kalian berfikir seorang bocah bisa menghancurkan Desa ini bahkan sampai memanipulasi orang-orang? Cih, dia bahkan tidak dapat menggunakan sihir!" Hina Iblis itu.
"Jadi, pelakunya memang kau?" Tanya sang Komandan, sembari mengacungkan pedangnya.
"Hahahaha, kalian ini memang benar-benar naif. Ya benar, ini semua ulahku! Karena sekarang misi ku telah usai, maka aku izin pamit ya. Dadah~" Ujar Iblis itu.
Perlahan, tubuh sang Iblis pun mulai memudar. Namun sebelum ia benar-benar menghilang, ia mengatakan sesuatu kepada Gen.
"Kau lihat kan Genius? Aku yakin kau paham apa yang kumaksud. Nanti ketika kita bertemu lagi, maka kita akan menjadi musuh. Persiapkan dirimu ya, khikhikhikhikhi" Iblis itu pun menghilang dari hadapan mereka semua.
Keadaan pun menjadi hening, bahkan suara serangga malam pun kini mulai terdengar. Semua orang disana mencoba menenangkan diri mereka, setelah menyaksikan pemandangan yang kurang mengenakan ini.
Tak lama kemudian, sang penyihir pun mencoba untuk mendekati Gen "Hei, apa kau baik-baik saja?"
Namun Gen malah menepis tangan sang Penyihir, yang mencoba untuk menyentuh pundaknya. Kemudian ia pun berbalik, dan memperlihatkan ekspresi marahnya.
"Kau bilang ada yang aneh? Itu berarti kau sudah tahu, bahwa ada penyerangan disini. Tapi mengapa kalian tidak langsung datang, dengan begitu tidak akan ada korban jiwa sebanyak ini!" Bentak Gen.
Semua orang yang ada disana terkejut, termasuk Ciel. Tidak ada yang menyangka bahwa reaksi Gen akan separah ini, bahkan sampai melawan aparat kerajaan.
"Itu terlalu beresiko. Lagipula semua informasi belum jelas, kami tidak bisa mengambil resiko sebesar itu hanya untuk sesuatu yang belum pasti," Jelas sang Komandan.
"Itu karena kalian semua takut! Kalian hanya mementingkan diri kalian sendiri, kalian tidak pantas disebut sebagai Aparat. Kalian semua, kalian semua tidak berguna!!"
Setelah mengatakan hal itu, Gen pun langsung memukul sang Penyihir yang sedang berdiri dihadapannya tepat di wajahnya. Sang penyihir terjatuh, dan itu membuat ksatria yang lain menjadi Kesal.
"Kurang ajar!" Salah seorang ksatria ingin membalas perbuatan Gen, namun sang penyihir malah menghentikan niatnya.
"Cukup, lebih baik kita segera mengevakuasi orang-orang yang ada disini," Lirih sang penyihir, sembari mengelap darah dari hidungnya.
Gen menggendong Ciel, lalu ia pun pergi berjalan meninggalkan para Prajurit tanpa rasa bersalah sedikitpun. Gen mempelajari sesuatu hari ini, bahwa dunia yang dia tinggali ternyata tidak seindah bayangannya.
Perjalanan nya untuk menjadi seorang pahlawan yang ditakdirkan masih panjang, dan ini hanyalah awalnya saja. Gen harus mempelajari lebih banyak, bahkan hal yang paling dasar. Hal yang paling dasar itu adalah,
"Apa makna dari, kejahatan dan kebaikan?"
Bersambung