Magic Shine/Origin

Magic Shine/Origin
Chapter 23: Terpojok



Kegelapan menyelimuti seluruh Medan pertempuran, yang merupakan sebuah Desa kecil yang selalu diliputi tindak kriminalitas. Desa tersebut telah hancur, dan hanya menyisakan beberapa orang yang masih hidup, namun nasib kebanyakan orang di desa itu masih belum diketahui.


Saat ini, seorang anak yang ditadirkan sebagai seorang pahlawan, sedang berdiri di tengah desa yang dulunya merupakan tempat air mancur dan sebuah patung, bisa dibilang kalau tempat yang saat ini sedang ia pijak merupakan alun-alun desa. Namun sekarang, tempat itu telah hancur menjadi puing-puing bangunan.


"Nah, bocah! bukan kah kita harus menyebutkan nama masing-masing, sebelum kita melakukan pertarungan singkat ini?" Ucap monster bertubuh Orc tersebut.


"Gen, Genius Ren Arion!" Tegas Gen, menyebutkan nama nya tanpa basa-basi.


"Wah wah, kelihatannya kau sangat bersemangat ya. Baiklah, Namaku adalah Gilbert. Camkan namaku, supaya ketika kau mati nanti, kau dapat mengingatnya di akhirat!" Cetus Gilbert.


"Hmm, menarik. Baiklah, akan ku ingat, agar aku dapat membuatkan makam untuk mu nanti. Jangan khawatir, aku akan sering berkunjung, untuk mengejek mu didepan makam mu atas kekalahan mu nanti!" Balas Gen.


"Kau terlalu banyak bicara! Baiklah, ayo maju!"


Gen memperbesar Auranya, untuk memberinya penerangan agar dapat melihat orang-orang yang ada disana. Setelah selesai dengan pengamatannya, Ia langsung melepas Almamaternya, kemudian melemparnya ke arah Ciel.


"Pegang itu untuk ku! Ciel, aku tidak tahu apa yang telah terjadi padamu, tapi kumohon, percayalah padaku saat ini saja. Pegang Almamaterku, lalu pergi menjauh dari ku, jangan sampai kau membuat gaduh, paham?"


Ciel memeluk erat Almamater Gen, dan ia memaksakan dirinya untuk mengangguk dihadapan Gen. Setelah itu, Ciel pun pergi berlari meninggalkan Gen sendirian di medan pertempuran.


Setelah Ciel pergi, Gen langsung meredupkan kembali Aura yang ada di tubuhnya. Karena tiadanya bulan dan penerangan lainya seperti lampu, kini hanya Gen lah yang menjadi sumber cahaya bagi semua yang ada di sana.


Tentu saja ini sangat merugikan Gen, karena ia tidak dapat melihat musuhnya dengan jelas, namun keuntungan yang didapat tidak lebih dari sekedar menyelamatkan seorang gadis kecil, namun Gen tetap yakin dengan keputusan yang telah ia ambil.


"Kau yakin ingin bertarung seperti ini? Jika begini, aku bahkan dapat mengalahkan mu tanpa harus menggunakan kekuatan!" Ujar Gilbert, dari kejauhan.


"Tidak usah banyak bicara, maju dan hadapi aku!" Tantang Gen.


Setelah mendengar mengucapkan hal tersebut, ia langsung mendengar suara langkah kaki seseorang yang sedang berlari. Gen langsung mempersiapkan kuda-kudanya, untuk menyambut serangan yang bisa datang kapan saja.


Belum semenit semenjak pertarungan dimulai, wajah Gen langsung mendapat hantaman keras dari Gilbert. Belum cukup sampai disana, Gilbert menyerang bagian tubuh Gen yang lain, seperti perut, pipi, dan dada, yang menyebabkan Gen terpelanting ke tanah.


Darah keluar dari mulut dan hidung Gen secara bersamaan, namun meskipun begitu, Ia masih dapat bangkit kembali. Sudah hampir satu jam Gen menggunakan bentuk Elemen, namun ia tidak mengalami penurunan kondisi seperti biasanya.


Itu jelas, karena di Fase 3 ini, Gen mengalami beberapa peningkatan kekuatan. Di Fase 1, stamina dan mana yang digunakan di fase itu tidak terlalu banyak, namun tetap menurun seiring berjalannya waktu. Meski terbilang hemat, namun di fase 1, Gen tidak dapat mengakses seluruh kekuatan yang ada di dalam bentuk Elemen yang sedang ia gunakan.


Lalu, ketika ia naik ke Fase 2, tubuhnya secara spontan mampu untuk mengeluarkan seluruh kekuatan yang terpendam di fase 1, karena itulah Fase 2 menjadi jauh lebih kuat dari sebelumnya. Namun, harga yang harus dibayar adalah meluapnya Aura yang ada di tubuh Gen, sehingga membuatnya lebih cepat kehabisan energi.


Namun saat ini, Gen telah berhasil mencapai tahap baru dalam kekuatan nya, itu adalah Fase 3. Dengan cara menyerap elemen yang ada disekitarnya, lalu menekan Luapan mana yang ada di tubuhnya, Gen berhasil mencapai puncak yang baru.


Dengan kata lain, Fase 3 ini merupakan bentuk sempurna dari Bentuk Elemen Api, dan masih bisa diterapkan di elemen lain. Bentuk yang hemat energi, namun tetap kuat seperti fase 2, ini adalah bentuk yang sempurna.


Walaupun menggunakan bentuk yang sempurna itu, Gen tetap kewalahan ketika menghadapi Musuh berwujud Orc yang sedang memukulinya dari segala arah. Hal ini sengaja ia lakukan, agar Ciel dan orang-orang yang masih hidup tidak menjadi sasaran dari para makhluk bengis itu.


Ia masih dalam posisi bertahan, namun jika begini terus, lama-kelamaan pasti tubuh Gen akan mencapai batasnya, dan berujung pada kekalahan, ia tidak boleh terus berada di posisi tersebut.


"Kau menyedihkan!" Ucap Gilbert, sebelum akhirnya melayangkan pukulan tepat di pelipis Gen.


Gen yang kala itu sedang babak belur, kini terjatuh karena tubuhnya yang sudah mulai kelelahan. Ia bahkan belum mendaratkan satu serangan pun kearah Gilbert, dikarenakan minimnya sumber cahaya, yang membuat Gen tidak dapat melihat arah datangnya serangan.


Gilbert menggenggam kerah baju Gen, kemudian mengangkatnya untuk berbicara dengan nya.


"Kau tahu, kau itu menyedihkan, Pahlawan!" Ketus Gilbert.


"Aku belum pantas menerima gelar pahlawan, tapi kau benar tentang diriku yang menyedihkan!"


"Kau melakukan ini hanya untuk menyelamatkan anak itu kan? Hahaha Naif sekali, akan ku ceritakan sesuatu yang menarik!"


"Kuharap cepat ya, karena nafas mu itu berbau busuk!" Gertak Gen.


Gilbert berdecak kesal, namun Gen masih menunjukan ekspresi tersenyum, meskipun saat ini kondisi nya sedang terpojok.


Sementara Gen dan Gilbert sedang bertarung, Gadis kecil bernama Ciel kini sedang bersembunyi sembari memeluk tubuhnya sendiri. Ia merasa ketakutan, sekaligus merasa bingung dengan apa yang telah Gen lakukan. Ia menganggap Gen sebagai orang yang bodoh, karena telah melakukan tindakan sejauh itu hanya untuk menyelamatkan satu orang.


"Aku akan memberitahumu, tentang anak kecil yang sedang kau selamatkan itu!" Ciel mendengar suara Gilbert.


Sepertinya, Gilbert sengaja mengeraskan suaranya, untuk memancing Ciel. Dan benar saja, Ciel langsung memalingkan wajahnya ke Medan pertempuran. Ciel dapat melihat tubuh Gen yang kini sedang diangkat oleh Gilbert. Ia terlihat khawatir, namun ia tahu, bahwa jika ia kesana hanya akan menjadi beban untuk Gen.


"Apa yang kau inginkan dengannya!"


"Tenang saja, mana ada seorang guru yang rela menyakiti muridnya!" Seru Gilbert.


Kata-kata itu membuat Ciel mengingat kembali kenangan buruknya, dan itu membuat air matanya mengalir tanpa ia sadari.


"Akan ku ceritakan, asal-usul anak itu, dan juga kenapa Desa ini dikenal dengan desa yang dipenuhi dengan kriminalitas!"


Bersambung