
Semi**nggu yang lalu
Semenjak Arthur mengetahui bahwa ia adalah calon raja yang terbuang, ia merasa sangat terpukul. Dalam benaknya, Ia berfikir bahwa ketika ia berhasil mencabut pedang Excalibur, gelar "Aib Kerajaan" milik nya akan hilang. Namun nyatanya tidak.
Arthur termenung di kursi taman, sembari memikirkan tentang apa yang harus ia lakukan untuk kedepannya. Sambil melihat orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya, Tanpa memperdulikan Arthur sama sekali.
Mungkin mereka tidak menyadarinya, atau mungkin mereka tidak peduli dengan keberadaannya, sama seperti keluarganya. Arthur mengembuskan nafas panjang, kemudian bangkit dari kursinya, lalu berjalan sembari menunduk.
Ia berjalan-jalan, dengan maksud untuk pergi ke perbatasan. Namun baru setengah jalan, ia tiba-tiba dipanggil oleh seseorang.
"Arthur," Panggil seorang wanita.
Arthur nampaknya familiar dengan suara itu, kemudian ia menengok kearah suara yang memanggilnya. Rupanya itu adalah Selvia, yang baru saja kembali dari Guild.
"Selvia, rupanya kau," Sahut Arthur dengan nada suara yang berbeda dari biasanya.
"Kau mau pergi kemana? kelihatannya wajah mu suram sekali," Ejek Selvia.
"Tidak kemana-mana. Aku hanya, hendak menenangkan diri," Jawab Arthur.
Selvia nampaknya dapat membaca keadaan, ia pun mengajak Arthur untuk pergi ke Guild.
"Guild, untuk apa?" Tanya Arthur.
"Ayo ikut saja!" Desak Selvia.
Mau tidak mau, Arthur pun menuruti apa yang Selvia katakan. Mereka pergi ke Guild dengan cara berjalan kaki, meskipun jaraknya cukup jauh.
Mereka tidak berbicara sepatah katapun selama perjalanan. Setelah 8 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai. Waktu yang lama, karena pergi dengan berjalan kaki sembari beberapa kali beristirahat. Wajar saja, karena Guild itu berada di perbatasan sebelah timur dari Pendragon Hall.
2 kali lebih lama dari waktu yang ditempuh Selvia, karena ia adalah Elf, jadi ia dapat dengan mudah melompat dari atap bangunan ke atap yang lain, sehingga lebih cepat sampai.
Mereka pun mencari tempat duduk diluar Bangunan Guild yang hampir setara dengan Istana, namun tidak dilengkapi dengan ornamen yang mewah.
"Jadi, kau punya sesuatu untuk diceritakan?" Tanya Selvia, sembari menatap ke langit yang mulai gelap.
Arthur terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia pun mulai berbicara, "Keluarga ku, terlibat oleh Politik yang kotor. Kupikir menjadi Raja itu artinya kau dapat diakui oleh semua orang. Tapi, aku menyadari bahwa Raja itu tidak seperti pahlawan yang mendapat pengakuan. Raja itu, harus mendapatkan kepercayaan, bukan mengejar pengakuan."
"Lalu, kenapa kau tidak mengikuti saja bagaimana cara kerajaanmu berkerja?" Tanya Selvia lagi.
"Sejauh yang ku lihat, mereka menganggap Manusia adalah Makhluk yang Superior. Dan karena Rekan ku adalah Chimera, mereka langsung men-cap ku sebagai aib kerajaan. Dan aku tidak bisa menerima itu," Jelas Arthur.
"Hmm, jadi kau tidak setuju dengan mereka, tapi kau juga tidak mempunyai dukungan meskipun kau adalah Raja yang dipilih kan? Kisah mu mirip dengan beberapa orang yang ada di Guild." Ujar Selvia.
Pernyataan Selvia membuat Arthur mengerutkan dahi. Pasalnya, Arthur berfikir bahwa Guild hanyalah tempat untuk bertarung dan menghasilkan uang dari Upah Quest yang diberikan.
"Tempat ini adalah tempat dimana mereka berkembang, hidup di lingkungan yang sangat berbeda,"
Selvia mengalihkan pandangannya ke Arthur, "Di dunia ini, kita tidak dapat memiliki semuanya. Kau harus mengorbankan sesuatu, untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Akan tetapi, kita masih bisa memilih apa yang ingin kita raih. Jika kau ingin menjadi Raja, sekaligus ingin mengubah cara kerajaan bekerja, maka kau harus menghilangkan semua keraguanmu dan teruslah maju ke depan." Lanjut Selvia.
Arthur memikirkan baik-baik apa yang dikatakan oleh Selvia, sembari melihat kegiatan orang-orang yang ada di Guild. Tiba-tiba, ia teringat oleh sesuatu.
"Hei, bukankah menjadi Guild artinya kau melepas status kewarganegaraan mu?" Tanya Arthur.
"Yaa, lagipula aku jadi lebih bebas seperti ini. Oh iya, aku harus segera kembali. Sepertinya Gen dan Beliana sudah menunggu ku." Selvia pun bangkit dari kursinya.
"Ah iya aku hampir lupa. Jangan lupa untuk membaca sebuah buku kuno di Perpustakaan kerajaan di rak yang paling atas, itu pasti akan membantu!" Ucap Selvia, sebelum akhirnya ia melambaikan tangan lalu melompat dan pergi pulang.
Arthur merasa heran, bagaimana Selvia bisa mengetahui tentang Perpustakaan Kerajaan, apakah dia pernah memasuki nya?
Arthur pun termenung selama beberapa jam. Hingga akhirnya, jam besar berbunyi dan mengangetkan Arthur yang sedang termenung tetapi lebih mirip dengan Tidur sambil duduk.
Ia tidak menyadari jika sudah tengah malam, ia pun bangkit dari kursinya nya hendak kembali pulang. Akan tetapi, Chimera tiba-tiba berbicara dan membuat Arthur terkejut.
"Chimera, ada apa?"
"Aku merasakan ada Bau darah dari jarak beberapa Kilometer. Kita harus segera memeriksanya!" Seru Chimera.
Tanpa diperintah, Armor Elang Chimera tiba-tiba muncul, Dan langsung terpakai di tubuh Arthur. Lalu mereka langsung terbang ke langit lepas, dan pergi ke tempat yang Chimera maksud.
Dalam kondisi ini, Arthur sama sekali tidak mengendalikan Zirah nya, melainkan Chimera itu sendiri lah yang mengendalikannya. Beberapa menit mereka terbang, akhirnya mereka sampai di tempat yang Chimera maksud.
Saat Arthur hendak mendarat, ia langsung disambut dengan Bau Amis yang menyengat. Alangkah terkejutnya ia, ketika melihat bagian-bagian tubuh yang terpisah, ini membuat Arthur merasa mual, Namun ia tidak memuntahkannya.
Arthur juga mencium bau hangus dari mayat-mayat itu, yang dapat disimpulkan bahwa Pembunuh mereka adalah sesuatu yang dapat menggunakan Api.
"Ini aneh, bagaimana para Ksatria tidak menemukan para mayat ini?" Tanya Arthur.
"Tidak, mereka telah menemukannya terlebih dahulu. Akan tetapi, mereka tidak membawanya dan lebih memilih untuk meninggalkan mereka," Ujar Chimera.
"Tapi, kenapa begitu?"
"Apa kau lupa? Selvia mengatakan bahwa semua orang yang telah bergabung Guild akan kehilangan Kewarganegaraan mereka. Itu juga termasuk kehilangan hak sebagai rakyat, dilindungi oleh pemerintah!" Arthur tersentak ketika mendengar ucapan Chimera.
Tanpa basa-basi lagi, Ia segera pergi ke Guild untuk melaporkan tentang penemuan mayat. Setelah itu, ia kembali kerumahnya dan langsung mencari buku yang Selvia maksud.
Arthur langsung membaca buku itu, walaupun matanya dalam kondisi mengantuk. Setelah beberapa lembar, ia mulai memahami apa yang dimaksud oleh Selvia.
"Buku ini, menjelaskan tentang potensi dari Excalibur. Dan penulisnya sendiri adalah, Penyihir legenda, Merlin! Baiklah, aku akan mempelajari nya!" Ucap Arthur dengan penuh Tekad.
Matahari terbit, dan Arthur pun keluar dan langsung mencari tempat untuk berlatih, yaitu di hutan yang berada di dekat bukit.
"Baiklah! saatnya membuktikan teori buku tua itu!" Arthur menancapkan Pedang Excalibur di tanah.
"Pedang yang mampu menyerap energi yang berada di alam, lalu mengubahnya menjadi Energi yang cocok dengan si penggunanya, sehingga dapat digunakan sebagai peningkat kekuatan," Jelas Chimera.
"Yaa. Ayo mulai!" Arthur memfokuskan dirinya untuk menyatu dengan Excalibur.
Perlahan-lahan, ada beberapa Energi yang tertarik kedalam Excalibur. Selanjutnya, energi itu menyatu dengan tubuh Arthur, dan membuat beberapa urat di tubuh Arthur memancarkan sinar emas, Dan menjadi seperti Tato.
Setelah menunggu beberapa lama, Arthur mencabut Pedang nya dan ia berhasil melampaui batasannya.
"Jangan berbangga diri, bentuk ini masih belum stabil, kau masih punya banyak kelemahan!"
"Baiklah, akan ku latih bentuk ini dengan baik! Aku akan mengubah hukum alam di Kerajaan ku. Tapi sebelum itu, aku harus menjadi lebih kuat, jauh lebih kuat dari aku yang sekarang!" Ucap Arthur dengan tekad yang membara.
Bersambung