
Perlahan kubuka pintu toko kue ini, mencoba melangkah masuk. Agak deg-degan juga, karena ini pengalaman pertamaku masuk ke toko kue ini sebagai manusia.
Kucoba menutup mataku untuk meresapi aroma yang ada. Tercium bau harum dari seluruh penjuru ruangan. Ujung mataku mulai menitikan air mata. Merasakan betapa bahagianya diriku berada di sini.
Aku pun berkhayal sedang berada disebuah kerajaan dongeng yang dipenuhi oleh berbagai macam kue dan permen. Aku merasa menjadi seorang puteri dikerajaan tersebut, menikmati beraneka macam hidangan tanpa ada yang mengganggu.
"Ahhh..."
"Bahagianya diriku..."
Menghayalkan ada seorang pangeran yang datang melamarku dengan membawa sebuah cake stroberi.
"Hehehe..."
"Permisi..."
"Nona..."
"Anda kenapa...?"
Tanya pelayan yang tiba-tiba mengusik imajinasiku.
"Ganggu aja...!
"Orang lagi menghayal..."
Refleks kubentak aja pelayan itu.
"Ahhh..."
"Pangeranku..."
"Kueku..."
Bayangan mereka akhirnya menghilang dari otakku.
"Maafkan saya nona jika mengganggu anda..."
Kata pelayan tersebut dengan senyuman hangat diwajahnya.
"Emm... Anu... Apa..."
"Eee... Saya yang haru minta maaf..."
"Maafkan saya..."
Kali ini justru diriku yang merasa malu. Semua mata tertuju pada diriku. Akupun menutupi pipiku yang sudah mulai merona karena malu.
"Silakan memilih kue yang anda inginkan..."
"Jika butuh bantuan panggil saja saya atau rekan-rekan saya..."
Kata pelayan itu dengan lembut sambil mempersilahkan diriku.
Aku pun berbalik menjauhi pelayan itu dengan rasa malu yang tak bisa disembunyikan. Ini hari pertamaku sebagai manusia, aku tak boleh melakukan hal-hal bodoh yang membuat diriku menjadi mencolok.
*****
Wah...
Akhirnya kita bertemu kembali.
Ku tatap deretan cake stroberi itu dengan lekat. Mataku sangat berbinar-binar. Tanpa kusadari ada cairan yang keluar dari sudut bibirku.
Ku beranikan diri untuk mengambil sepotong cake stroberi itu. Menghirup aroma cream yang dipancarkan oleh potongan tersebut. Perlahan ku coba untuk membuka mulut dan menggigit. Merasakan potongan itu yang melumer didalam mulutku.
Arrggghhhh....!
Ini sungguh enak....!
Ku gigit buah stroberi yang ada di atasnya. Rasa manis dan asam bercampur menjadi satu di atas lidahku.
Nggak cukup satu.
Setelah menghabiskan potongan pertama, aku kembali mengambil potongan lainnya, lagi dan lagi. Aku tak memperdulikan mulutku sudah belepotan dengan cream.
"Nona..."
"Anda harus bayar dulu sebelum makan..."
"Nona... Nona..."
Ehhh...!
Jantungku dibuat terkejut. Tiba-tiba ada tangan yang nenyentuh pundaku sehinggah membuat wajahku berbalik ke arah sumber yang mengganggu kesenanganku.
Deggg...!
Pemilik toko itu sudah berada di depanku.
"Ckckck...."
"Anda sudah membuat tokoku berantakan..."
Pemilik toko tersebut memandang etalase yang sudah berantakan karena ulahku.
"Muababa... sua... iaaa..."
Mulutku yang penuh dengan kue membuat cara bicaraku menjadi kacau. Pemilik toko itu pun hanya memandangku sambil tertawa.
"Habiskan dulu makanan di mulutmu..."
"Baru ngomong..." pintanya.
Tanpa aba-aba segera kutelan dengan paksa kue yang sedang ada dimulutku.
"Maafkan saya..."
Kepalaku hanya tertunduk malu. Ini kejadian memalukan kedua yang sudah kulakukan hari ini. Rasanya, ingin kugunakan kekuatanku untuk segera menghilang dari hadapannya.
"Saya permisi dulu..."
"Mohon maaf sudah mengacaukan toko anda..."
Aku mengambil langkah untuk pergi sambil terus menundukan kepalaku.
"Eh..."
"Tunggu dulu..."
Tangannya yang kekar segera meraih lenganku. Karena kaget, aku tak bisa mengendalikan keseimbangan tubuhku.
Aku terjatuh ke dakam pelukannya. Otot-otot yang begitu kencang dari balik kemejanya sangat terasa menekan tubuhku. Aroma tubuhnya pun kini merasuk kedalam hidungku.
Saat ini, mata kami hanya saling menatap dengan lekat. Tatapan matanya begitu cerah, membuatku terhanyut.
"Nona..."
"Jika kamu terus menatapku seperti..."
"Aku mungkin akan segera menikahimu..."
Ehhh...?
Aku segera melepaskan tubuhku dari pelukannya. Manusia ini cukup narsis juga.
Kami berdua pun menjadi agak canggung sesaat.
"Maafkan saya tuan..."
"Saya permisi dulu..."
Aku hendak berbalik untuk pergi, namun pemilik toko ini kembali mencengram tanganku. Dia memasukan tangannya yang satu lagi untuk mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Mulutmu belepotan sekali sih..."
"Kayak anak kecil saja..."
Dengan lembut dia mengusap sisa cream yang melekat di bibir dan pipiku menggunakan sapu tangan yang dikeluarkan dari sakunya.
Perasaan apa ini...?
Kenapa aku merasa bahagia...?
Dadaku berdebar-debar.
"Terima kasih tuan..."
"Saya permisi dulu..."
Wajahku sudah merona karena malu.
"Mau kabur ya...?"
Tangannya masih mencengkram kuat.
"Ada apalagi sih...?"
Kali aku pun sudah mulai kesal...
"Kamu belum bayar..."
"Kamu sudah menghabiskan lima potong kue..."
"Selain itu, kamu sudah mengacak-acak tokoku..."
Kini tangannya sudah menengada kearahku.
Bayar...?
Astaga...!
Aku lupa...!
Para manusia selalu membayar segala sesuatu dengan alat tukar.
"Maaf tuan..."
"Tapi saya tidak memiliki alat tukar seperti yang sering digunakan oleh manusia..."
Mudah-mudahan dia mau melepaskanku.
"Kamu mau main-main dengan saya ya...?"
"Ahhh..."
Kini dia sudah mendekatkan wajahnya kearahku.
"Jangan-jangan kamu alien yang dikirm kebumi...?"
Bisiknya di telingaku.
"Anggap saja seperti itu..." jawabku asal-asalan.
Dia kemudian memundurkan kepalanya kemudian tertawa.
"Nona berhentilah bermain-main denganku..."
"Atau mau kuhubungi polisi saja untuk menangkapmu...?"
Polisi...?
Astaga itu kan kumpulan manusia berseragam dengan membawa senjata.
Mereka selalu menangkap manusia-manusia jahat dan mengurungnya di dalam penjara yang gelap.
Menyeramkan...!
Aku tak mau berada disana...!
"Jangan...!"
"Jangan menghubungi polisi...!"
"Saya takut...!"
Bagaimana ini...? Aku tak mau berakhir di tempat itu.
"Kalau begitu kamu ikut keruanganku..." sambil menarik tanganku.
"Tolong panggilkan Nana keruanganku" perintahnya kepada salah satu pelayan.
*****
Saat ini, aku sudah berada didalam sebuah ruangan. Diriku duduk disebuah kursi sambil kedua tanganku bertumpu pada lutut. Diseberang meja, sang pemilik sedang duduk sambil menatapku dengan penuh selidik.
Aku sangat ketakutan, mataku selalu tertunduk tak berani menatapnya. Kenapa waktu didalam ruangan ini berjalan begitu lambat?
Toktok...
Terdengar suara ketukan di pintu.
"Masuk..." perintahnya.
"Anda memanggil saya boss...?" seorang pelayan wanita langsung masuk dan menyapa. Kelihatannya dia masih muda.
"Dia siapa boss...?"
"Itulah yang ingin kutanyakan padanya..."
"Oh iya..."
"Ini adalah asisten kepercayaanku..."
"Namanya Nana..."
"Dan namaku adalah Julian..."
"Aku adalah pemilik toko kue ini..."
Dia memperkenalkan dirinya.
"Siapa nama mu...?"
"Kamu tinggal dimana...?"
"Kamu masih sekolah? kuliah? atau sudah bekerja...? rentetan petanyaan pun mulai keluar dari mulutnya.
"Boss..."
"Satu-satu donk kalau nanya..."
"Kan dianya jadi bingung..."
Kali justru Nana yang menjawab sambil tertawa. Sedangkan diriku masih saja tertunduk dan hanya sekali-sekali mengangkat kepala.
"Baiklah..."
"Kita mulai dengan pertanyaan pertama..."
"Siapa namamu...?"
Nama...?
Aduh bagaimana ini...?
Aku kan tak mungkin membongkar identitasku. Masih untung kalau mereka percaya. Nah kalau tidak? Bisa-bisa mereka akan menganggapku manusia kurang waras.
Ehh...? Aku kan bukan manusia.
"Saya tidak memiliki nama manusia tuan..." jawabku asal-asalan.
Mereka berdua pun nampaknya agak terkejut dengan ucapanku dan kemudian saling bertukar pandang.
"Boss..."
"Jangan-jangan dia hilang ingatan..."
Hilang ingatan...?
Baiklah, lebih baik mereka menganggapku begitu.
"Kamu tidak ingat namamu...?"
"Tempat tinggalmu...?" Julian bertanya dengan ekspresi tidak percaya.
Akupun hanya menggelengkan kepalaku.
"Hmmm...."
"Baiklah..."
"Mulai besok kamu akan bekerja di tempat ini..."
Sontak membuatku terkejut dan menatapnya dengan tidak percaya. Nana pun sama terkejutnya denganku.
"Kamu masih ingat kan denga kejadian yang tadi...?"
"Atau mau kulaporkan saja ke polisi...?"
Polisi...?
"Jangan tuan..."
"Aku tidak ingin berurusan dengan manusia yang bernama polisi...!"
Nana dan Julian pun hanya tertawa melihat ekspresiku.
"Jadi...?" di kini menatapku dengan serius.
"Baiklah..."
"Saya akan bekerja disini..."
Kenapa nasibku jadi seperti ini?
Aku adalah malaikat.
Tapi kenapa aku harus bekerja layaknya manusia...?
Aku hanya menghela nafas panjang meratapi nasib malangku.
"Nona ini ngegemesin deh..."
"Dia lucu..." Nana kemudian menatapku dengan gemas.
"Nana, rumah kontrakanmu kan punya dua kamar..."
"Bagimana kalau sementara dia tinggal denganmu...?"
"Tidak masalah boss..."
"Malah seneng punya teman..."
"Daripada tinggal sendiri..."
"Bagus..."
"Untuk sementara kamu tinggal dulu dirumah Nana sampai ingatanmu pulih kembali..."
"Aku yakin kelurgamu juga pasti sedang mencari keberadaanmu..."
Keluarga...?
Akukan tak punya yang namanya keluarga.
"Tenanglah..."
"Aku nggak menggigit kok..."
Saat ini Nana sudah berdiri disampingku sambil menggenggam tanganku. Tangannya terasa begitu hangat.
"Akhirnya aku punya teman juga..."
Wajahnya terlihat begitu tulus menatapku.
"Hmmm..."
"Terus...?"
"Kami akan memamggilmu dengan sebutan apa...?"
"Kamu yakin nggak ingat dengan namamu...?
Tanya Julian.
Nama...?
Benar juga, aku butuh nama manusia untuk menyembunyikan identitasku.
"LUNA...."
Tiba-tiba kata itu keluar dari mulut Nana. Sontak aku dan Julian pun menatap wajahnya yang selalu tersenyum.
"Gimana...?"
"Kamu suka dengan nama itu...?
"Luna..."
Julian terlihat memikirkan nama itu, dia pun terlihat seperti sedang tersenyum sendiri.
"Luna..."
"Nama yang indah..." gumamnya.
"Kamu setuju kan...?" tanya Nana dengan antusias.
"Baiklah..." jawabku.
Nama itu tidak terlalu buruk.
"Luna..."
"Saat ini kita akan menjadi sahabat..."
Nana pun memeluk diriku dengan gembira.
Manusia ini mempunyai aura positif yang begitu besar.
"Hmmm..."
"Besok pagi kamu akan mulai bekerja disini..."
"Untuk seragam kerjamu, nanti Nana yang akan menyiapkannya"
"Baik tuan Julian..."
"Terima kasih..."
Hanya itu kata-kata yang bisa kuucapkan saat ini.
"Baiklah..."
"Sekarang ikut aku..." perintahnya sambil berdiri dari tempat duduk.
"Kita mau kemana...?" tanyaku penasaran.
"Mall..."
"Kamu kan tidak memiliki barang apapun..."
"Kita akan mencari semua keperluanmu, juga pakaian untukmu..."
"Nana... kau juga ikut..."
"Bantu Luna untuk memilih keperluannya..."
"Roger boss...!" jawab Nana dengan antusias.
"Dan satu hal lagi..."
"Berhentilah menyebutkan kata manusia"
"Sangat aneh dan canggung untuk didengar"
Pintanya.
"Iya Lun..."
"Bicaramu dari tadi aneh dan terlalu formal..."
"Kayak mau ikut pidato kenegaraan aja..."
Nana pun ikut menyambung kata-kata Julian.
"Panggil saja aku Julian..."
"Atau boss Julian juga bisa..."
"Jangan memanggilku tuan..."
"Dan aku Nana..."
"Na... Na..."
Aku hanya bisa menghela nafas...
Saat ini kehidupan ku sebagai manusia benar-benar akan dimulai.
\=\=\=\=\=
TO BE CONTINUE
Visual 4 : Julian