
Malam ini aku berendam di dalam bathtube, melemaskan semua otot-otot yang sudah kelelahan karena bekerja seharian. Belum lagi ditambah dengan beban pikiranku saat ini.
Huffff...
Apa yang harus ku lakukan besok...?
Pikiranku terus berputar-putar, aku tak tau bagaimana nanti harus menghadapi si monster gunung es itu.
Sebenarnya mau dia apa sih...?
Kan tadi dia tinggal langsung bilang aja...
Atau jangan-jangan dia minta ganti rugi uang yang banyak...?
Nggak mungkinlah...
Aku mau bayar pake apa...?
argggghhh...!
Bodo ahh...!
Selesai berendam, akupun berdiri untuk mengambil handuk dan melingkarkannya di tubuhku. Setelah itu aku langsung keluar menuju kamar untuk berganti ke piyama.
Selesai memakai piyama, aku pun langsung melemparkan tubuhku ke kasur empuk yang sudah sejak tadi terus menggodaku.
Ahhh...
Mending aku tidur sekarang...
*****
Sudah sekitar 30 menit aku berbaring. Tapi mataku tetap tak bisa terpejam. Pikiranku tetap memikirkan tentang pertemuanku dengan Kevin besok.
Arrrrggghh...!
Bikin frustasi aja deh...!
Dengan malas, kulirik jam yang ada di meja samping tempat tidurku.
Baru jam 9 malam.
Mending aku cari angin aja diluar.
*****
Malam itu ku putuskan untuk duduk melamun di balkon lantai dua rumah kontrakan Nana. Sudah satu bulan aku tinggal disini. Rumah ini bukanlah rumah yang mewah. Tapi setidaknya rumah ini sangat nyaman untuk ditinggali. Sebuah rumah mungil berlantai dua dan berada di pinggir pantai.
Pemandangan kota di malam hari sungguh sangat indah. Gemerlap lampu kota berpadu dengan cahaya bintang-bintang dilangit. Melihat pemandangan seperti ini, perlahan-lahan membuat pikiranku agak rileks.
"Belum tidur neng...?"
Nana pun langsung muncul dari pintu sambil membawa dua cangkir minuman.
"Nih..."
"Aku buatin kopi buat kamu..."
Sambil menyodorkan salah satu cangkir yang dipegangnya.
"Masih belum ngantuk..."
"Btw, thanks buat kopinya..."
Aku pun mengambil kopi yang diberikan Nana sambil menghirup aromanya.
"Masih kepikiran ya...?"
"Emang kamu ketemu dimana sih sama pak Kevin...?" Nana pun mulai membuka percakapan diantara kami.
"Aku juga bingung harus ngejelasinnya mulai dari mana...?"
"Pokoknya kejadiannya agak ribet..."
Sebenarnya aku nggak mungkin ngomong ke Nana bahwa aku sebenarnya adalah malaikat yang menolong nyawa dari Kevin.
"Ya udah deh..."
"Nggak apa-apa kalo kamu belum mau cerita sekarang..."
"Tapi janji ya..."
"Berikut kamu harus cerita semuanya ke aku..." tuntutnya.
Sahabatku yang satu ini emang paling pengertian deh.
"He'em" gumamku.
"Janji...?"
"Ia... janji..."
Saat itu kami berdua pun kembali tertawa. Malam ini kami hanya duduk di sofa yang ada di balkon sambil menatap langit.
"Na..." panggil ku.
"He'em..." jawabnya santai.
"Aku mau nanya nih..."
"Tentang apa...?"
"Sebenarnya kemarin kamu dapet ide dari mana sih kasih aku nama Luna..." saat ini aku sudah berbalik menghadap ke arahnya.
Mendengar pertanyaanku tiba-tiba saja dia seperti kaget. Dia pun bangun dan memasang ekspresi salah tingkah.
"Anu..."
"Itu..."
"Emmm..."
"Nggak usah gagap gitu kali..."
"Hehehe..." dia kemudian tertawa, tapi seperti tawa yang dipaksakan.
"Kamu dapet nama itu dari mana...?"
"Apa itu nama adik atau kakak kamu...?
Dia hanya menggeleng.
"Ibu kamu...?"
"Nenek kamu...?"
Dia masih tetap menggeleng.
Orang ini kenapa sih?
Dari tadi geleng-geleng kepala terus.
Sebenarnya aku juga agak penasaran dengan keluarganya. Kenapa dia hanya tinggal sendiri di kota ini. Apakah keluarganya tinggal di kampung? Toh dia juga nggak pernah cerita tentang keluarganya.
"Terus..."
"Dari mana donk...?" tanyaku mulai penasaran.
"Tapi kamu janji jangan marah ya...?"
"Iya aku nggak akan marah..."
"Lagian nama Luna cantik kok..."
"Buat apa aku marah...?"
Nana kemudian mulai mengambil nafas panjang dan bersiap untuk bicara.
"Sebenarnya Luna itu adalah nama hamsterku..."
"Aku dulu punya seekor hamster, tapi dia mati karena kebanyakan makan..."
"Hahhh...?"
"Sialan kamu...!"
"Masak aku disamain dengan hamster sih...!"
"Eit...!"
"Kamu kan janji nggak bakalan marah..."
Dia kemudian tertawa geli.
Aku kemudian melemparkan bantal sofa ke kepalanya.
"Ehhh...!"
"Pelanggaran...!"
"Kamu tadi udah janji nggak bakalan marah kan...?"
"Maaf tanganku kepleset..." jawabku asal.
Akhirnya kami berdua pun tertawa lepas. Malam itu aku bisa melupakan sejenak masalah yang mengganjal dipikiranku.
*****
Saat ini aku sudah berdiri di depan pintu masuk Sand's Corp. Dengan pasrah aku melangkahkan kaki kedalam perusahaan tersebut.
"Permisi mbak..."
"Saya ingin bertemu dengan tuan Kevin..."
"Apa tuan Kevin ada diruangannya...?"
"Maaf..."
"Apakah ibu sudah buat janji...?" tanya resepsionis itu dengan ramah.
"Sudah mbak..."
"Oh baiklah..."
"Kalau begitu silahkan naik ke lantai sembilan..."
"Tuan Kevin baru saja selesai meeting..."
"Anda bisa langsung ke ruangannya..."
"Terima kasih..."
"Sama-sama..."
Akupun langsung menuju lift. Saat ini lift yang kunaiki lumayan penuh. Diantara kami semua, hanya diriku saja yang menekan tombol lantai sembilan sehingga orang-orang yang lain menatapku seperti tak percaya.
Pintu lift pun akhirnya terbuka. Aku melangkah berjalan menuju sebuah ruangan yang lumayan besar. Di ujung ruangan ada sebuah meja kerja yang tepat berada di depan pintu besar.
Sebenarnya ruangan ini sudah tak asing bagiku, karena sebelumnya aku sudah beberapa kali kesini.
"Nona Luna..."
"Anda sudah datang ya..."
Sapa dari seseorang yang ada di meja tersebut. Tentu saja orang itu adalah sekretaris Vino.
"Mohon menunggu sebentar..."
"Tuan Kevin sedang ada tamu..." pintanya sambil menunjuk sofa yang ada di samping.
Di dalam ruangan Kevin, aku seperti mendengarkan suara dua orang yang sedang bertengkar. Yang satunya sudah pasti suara milik Kevin, sedangkan yang satunya adalah suara milik seorang wanita.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Tampak seorang wanita cantik yang menggunakan dress ketat berwarna merah keluar dengan wajah cemberut. Akupun segera berdiri dan menyapanya. Namun, wanita itu hanya menatapku sinis dan langsung pergi begitu saja.
Siapa wanita itu...?
Kok nggak sopan sekali orangnya...
Mataku terus menatap punggungnya yang berlalu menuju lift.
"Silahkan nona Luna..."
"Anda boleh masuk..."
Sekretaris Vino pun membukakan pintu bagiku
Di dalam ruangan sudah ada Kevin yang sedang duduk di atas kursi kehormatannya. Disampingnya juga sedang berdiri seorang pria paru baya yang memegang tas kerja.
Kenapa sih...?
Setiap kali melihatnya, nyaliku langsung ciut...
"Sampai kapan kamu mau berdiri disitu...?"
"Ayo cepat...!"
"Waktuku tak banyak..."
Perintahnya dengan suara yang mengintimidasi.
"Ba... Baik tuan..."
Akupun segera berjalan dengan cepat menuju kursi di depan mejanya.
"Baiklah langsung saja kita mulai..." suara datarnya begitu menyeramkan.
"Kamu masih ingatkan dengan hutang ganti rugi mu itu...?"
"Itulah maksud kedatangan saya tuan..."
"Jika anda ingin meminta ganti rugi, saya tidak sanggup untuk membayarnya..."
"Saya hanya karyawan kecil di sebuah toko kue..."
"Terus..."
"Kalau sudah tau..."
"Kenapa anda masih ngotot untuk meminta ganti rugi...?"
"Kamu bisa menggantinya dengan cara yang lain..."
Tiba-tiba wajahnya memamerkan senyuman yang licik.
"Maaf tuan..."
"Saya bukan wanita yang seperti itu..."
Aku pun mulai ketakutan sambil menutup dada dengan kedua tanganku.
Sialan...!
Dia memang mesum...!
Mana aku hanya memakai dress dengan dada terbuka lagi.
Akupun mulai melihat di sekeliling, berusaha memperhitungkan cara untuk bisa kabur jika dia berani macam-macam.
"Memangnya siapa yang tertarik dengan tubuhmu itu..."
"Pikiranmu terlalu mesum nona..."
Lohhh...
Kok malah aku yang dituduh mesum...?
"Terus dengan cara apa saya bisa membayar ganti rugi...?"
"Jika bisa, saya akan mencicil selama satu tahun..."
Ya, itulah cara penyelesaian yang terbaik.
"Bukan uangmu yang aku inginkan..."
"Terus apa yang anda inginkan...?"
Waduh...
Ini orang maunya apa sih...?
Pikiranku saat ini menjadi kalut.
Aku tak bisa berpikir lagi.
"Jadi tunanganku..."
"Baiklah... jadi tunangan anda..."
"Ehhh....!!!!"
Dengan spontan aku menutup mulutku dengan kedua tangan, sedangkan mataku terbelalak menatapnya.
"Ma... maksud tuan...?"
"Kamu tuli ya..."
"Tentu saja, kamu jadi tunangan aku..." jawabnya dengan cuek.
Gila...!
Ini orang nggak salah makan kan...?
Ngapain dia tiba-tiba minta aku jadi tunangannya...?
"Ta... Tapi tuan..." akupun berusaha untuk mengumpulkan kesadaranku.
"Saya tidak ingin menjadi tunangan anda..."
"Aku juga tidak sudi bertunangan dengan wanita aneh dan tidak jelas sepertimu..."
Ini orang...
Sudah seenaknya minta jadi tunangan...
Sekarang malah menghina lagi...
Aku hendak berbicara untuk melayangkan protes, tapi tiba-tiba dia mengangkat tangannya untuk memberikan kode agar aku diam.
"Ini hanya tungan pura-pura saja..."
"Tunangan kontrak selama satu tahun..."
Penjelasannya membuatku sedikit lega. Nggak kebayang bagaima hidupku nanti jika benar-benar menjadi tunangannya.
"Maaf tuan..."
"Apa tujuan anda membuat saya menjadi tunangan kontrak...?"
Sepertinya Kevin mengerti dengan kebingunganku. Dan akhirnya dia menjawab.
"Kamu lihat kan wanita yang barusan keluar..."
"Ia..."
"Wanita judes itu..."
"Ehhh..."
"Maaf tuan... saya tidak bermaksud lancang..."
Luna...
Mulut kamu kok **** banget sih...!
Nggak bisa di rem...!
"Hahaha...."
"Kamu tuh orangnya polos banget..."
"Lucu..."
Loh...
Kok dia malah tertawa sih...?
Ku pikir tadi dia akan langsung melemparku dari jendela.
"Wanita tadi itu adalah mantan tunanganku..."
"Sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi di antara kami..."
"Tapi dia terus saja ngotot minta untuk balikan lagi, dan itu sangat menggangguku..."
"Tugasmu adalah dengan berpura-pura menjadi tunanganku agar dia tidak mengusik hidupku lagi..."
"Selain itu, dengan kamu menjadi tunanganku maka keluargaku juga pasti akan berhenti untuk terus menjodohkan ku..."
Akhirnya dia menjelaskan alasan dari rencana gilanya itu.
"Tapi kenapa harus saya tuan...?"
"Saya kan hanya gadis kampung yang miskin..." tanyaku.
"Aku sudah tak punya waktu lagi untuk mencari wanita lain..."
"Lagipula, jika tugasmu berhasil..."
"Aku akan memberimu kompensasi..."
"Maaf tuan..."
"Saya tidak butuh uang dari anda..."
"Saya merasa hidup saya cukup kok walau hanya sederhana..."
Setidaknya aku masih punya harga diri. Lagipula aku kan tidak butuh uang manusia, toh kehidupan ku sebagai manusia hanya bersifat sementara saja.
"Terserah apa maumu...!"
"Pengacara Haris, tolong berikan surat perjanjian itu padanya..."
"Baik tuan..."
Pria paru baya itu pun mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya dan menyodorkan kepadaku.
"Silahkan dibaca baik-baik setiap poin dari perjanjian ini"
Akupun mengambil kertas tersebut dan.mulai membacanya satu per satu.
Pihak pertama dan pihak kedua wajib untuk merahasiakan pertunangan kontrak ini,
Pihak kedua wajib patuh kepada segala perintah dari pihak pertama,
Pihak kedua wajib untuk mendampingi pihak pertama kapanpun jika didepan publik atau jika dibutuhkan,
Pihak pertama dan pihak kedua tidak boleh saling mencampuri urusan pribadi masing-masing,
Kontrak ini berlaku selama satu tahun dan jika setelah kontrak ini selesai maka pihak kedua berhak mendapatkan kompensasi senilai USD 500.000,
Jika pihak pertama dan pihak kedua melanggar sekepakatan maka akan dituntut ganti rugi sebesar sepuluh kali lipat dari nominal kompensasi tersebut.
"Bagaimana...?"
"Apakah kamu keberatan dengan perjanjian ini...?"
"Atau kamu berubah pikiran dan tidak ingin menyetujuinya...?"
"Huffff...."
"Memangnya saya punya pilihan...?"
"Baiklah..."
Aku hanya bisa tertunduk lesu dengan hal ini.
"Oke..."
"Silahkan kedua pihak untuk menandatangi surat kontrak ini" pengacara Haris pun memberi petunjuk.
"Semua sudah selesai..."
"Oh iya..."
"Mulai besok kamu nggak perlu kerja di toko kue itu..."
"Aku juga sudah bicara dengan boss mu itu..."
Sontak perkataan dari Kevin membuatku sangat terkejut...
"Tapi tuan..."
"Kalau saya berhenti dari situ, terus saya mau kerja dimana...?" protesku.
"Mulai besok kamu jadi sekretaris saya..."
"Sedangkan Vino akan menjadi asisten saya..."
"Tapi..."
"Jangan membantah...!"
"Kamu masih ingatkan dengan poin perjanjian dimana kamu akan menuruti segala perintahku..." bentaknya.
"Ayo persiapkan dirimu..."
"Ikut denganku..."
"Kita mau kemana tuan...?"
"Tentu saja untuk membeli pakaian dan perlengkapan kantor yang akan kau pakai..."
"Atau..."
"Kamu ingin bekerja disini dengan seragam toko kue mu...?"
"Baiklah..."
"Terserah anda tuan..."
"Lagipula saya sudah tidak memiliki hak apa-apa lagi..."
Sudah untung dia tidak mengambil hak ku untuk bernafas...
"Sudah..."
"Jangan menggerutu lagi..."
"Asisten Vino sudah menunggu kita diluar
"Ayo kita pergi sekretaris Luna ku sayang..."
Hahhh...???
Sayang...???
\=\=\=\=\=
TO BE CONTINUE