LUNA

LUNA
Bab 16



BAB 16


“Gue gak akan pernah memaafkan lo,” Marie bersumpah dengan lantang berharap Luna mendengarkan lewat dinding yang membatasi kamar tidur mereka.


“Gak akan pernah.”


Ketukan lembut terdengar di pintu, “Mar...?”


Marie berguling di tempat tidur tak menanggapi. Luna mengetuk lebih kencang. “Gue tahu lo di dalam. Ada asap yang keluar dari pintu.”


Marie mengambil remot dan menyetel CD Player dengan kencang. Sepertinya Luna tahu Marie tidak ingin di ganggu.


Beberapa saat kemudian Luna kembali datang ke kamar Marie. Luna berdiri membungkuk di atas Marie, menatap Marie sambil tersenyum ragu. Luna berkata, “Mar... gue minta maaf.” Luna meletakkan tangan di pundak Marie.


Marie menepis tangan itu. “Permintaan maaf lo gak cukup baik, Luna. Lo menghancurkan hidup gue. Ngerti gak, sih? Gue tidak mengakui lo sebagai kakak gue. Keluar dari kamar gue!”


Luna tetap tidak beranjak. Dia malah mengoceh, “Jam berapa lo mau belanja hari ini?”


“Ya ampun!” Dia benar-benar dungu.


Marie melempar selimut, lalu bangkit dari tempat tidurnya.


“Kumohon, Mar. Gue harus membeli sesuatu buat besok malam, untuk ketemu idola gue.”


“Bawa alat rias dan sampah lo, lalu keluar dari kamar gue,” tukas Marie.


“Gue gak ingin liat satu titik pun jejak lo waktu gue kembali.” Marie menyambar bathrobe dari lantai menuju ke kamar mandi.


Waktu Marie keluar dari sana, beberapa menit kemudian, Luna mondar mandir di depan pintu.


“Apa?” Marie menatap Luna. Marie benar-benar berteriak di depan wajah Luna.


Luna menggelengkan kepala. “Belanja?” tanya Marie.


“Gue gak akan mau belanja dengan lo,” Marie sengaja berkata pelan seperti pada anak kecil, tepat di depan wajah Luna.


“Ngerti? Apa. Lo. Mengerti.”


Luna menelan salivanya. “Kalau begitu gue akan pergi sendiri.”


“Ide bagus. Lakukan saja!” Marie mendorongnya ke dinding.


...****************...


Saat Marie terbangun, keadaan masih gelap. Marie memicingkan mata melihat jam. Alat rias dan cermin lampu yang dimiliki Luna sudah berpindah dari kamar Marie. Tidak lama kemudian, Marie mendengar suara tangis yang awalnya pelan, kemudian perlahan menjadi lebih kencang, dan jelas. Suara itu, begitu pamiliar di telinga Marie.


Luna menangis tersedu-sedu, memilukan. Cegukkan dan meratap dibantalnya. Luna hampir menangis di setiap malam. Kalau Mami dan Ayah mendengar, pasti mereka tidak akan membiarkannya. Dulu Marie pernah berusaha menenangkan Luna, dengan mengelus-elus punggungnya, setiap kali Luna menangis. Tampaknya sekarang dia ingin menderita sendirian.


‘Tidak masalah. Silahkan saja,’ gumam Marie dalam hati.


Kira-kira apa yang menyebabkan tangisannya kali ini? Pikir Marie. Apa Luna marah dengan gue? Mungkin karena apa yang gue katakan tadi. Apa Mami dan Ayah sudah memarahi Luna dengan apa yang terjadi di rumah keluarga Matera? Jika David atau Elis menelepon, Marie yakin dia akan ikut di omeli.


Tangisan Luna bertambah kencang. Marie merasakan apa yang dirasakan Luna. Hati Marie ikut terenyuh mendengar tangisan Luna, tapi air mata Luna tidak pernah kering.


...****************...


Senin pagi.


Sarapan. Waktu makan bersama dengan keluarga Marie. Mami sibuk mengoceh, sedang Ayah sibuk dengan rutinitasnya membaca headline news di koran setiap pagi.


Telepon dapur berbunyi, Luna dan Marie terperanjat. Ayahnya menggerutu.


“Siapa sih pagi-pagi begini?” Ayah beranjak dari kursinya.


Marie mendahului Ayahnya untuk menggapai gagang telepon, tapi sayang Mami lebih cepat mengangkat telepon itu. Marie menahan napas melihat tindakan Mami.


“Halo...” ujar Mami.


“Oh, halo, Elis.” Mami memberi tanda kepada Marie. Kemudian tangannya membeku di udara. “Tidak. Dia tidak bilang,” kata Mami.


‘Oh, Tuhan. Harusnya aku memberitahunya. Tapi, darimana aku harus memulai menceritakan kepada Mami?’ dalam hati Marie.


“Ya. Terima kasih. Tidak.”


“Baik, Elis, menurutku ini bukan urusanmu. Kalau tidak ada yang terluka,...”


Mami mendengarkan, punggungnya tegak. Tanpa peringatan, dia langsung membanting gagang telepon dengan kasar.


Luna dan Marie bersiap-siap untuk menantikan ledakan emosi yang terjadi pada Mami.


Ayah menanyakan siapa yang menelepon pagi-pagi kepada Mami. “Siapa?”


Mami hanya berlalu dan tidak menjawab apa yang ditanyakan Ayah.


‘Selamat, selamat,’ pikir Marie. Terlalu cepat dari ruang duduk bagi Mami.


“Marie.”


Marie tersentak dengan panggilan sang Mami seolah-olah ada hantu yang memanggilnya. Dan menoleh, mencari sumber suara yang didengarnya. Dan ternyat itu suara Mami. “Cuci baju setelah pulang sekolah!”


Mami membuka pintu. “Dan kosongkan pencuci piring.”


Ayah menurunkan korannya. “Ke mana Mami membuang sampah?”


Hening. Tak ada yang menjawab pertanyaan Ayah. Ayah hanya mengembuskan napas pelan. Kemudian Ayah mengamati mata Marie. “Aku hanya ingin kamu bicara kepadaku, Sayang. Aku ayah kesayanganmu, inget gak? Inget jaman dulu, kan? Kita biasa main putar-putar?”


Kerongkongan Marie tersumbat. “Aku harus pergi.” Marie menyelip dibawah lengan Ayahnya, lalu menerobos keluar dari pelukan Ayah. Dan ia berlalu dari sana. Keluar dari rumah. Dan Luna menyusul Marie menuju keluar rumah.


Luna menyeletuk, “Kita bisa ke mall.”


Marie menghadiahkannya tatapan maut.


“Bercanda,” kata Luna sambil menarik lengan kiri Marie seakan-akan ingin menghajarnya. Memang itu niat Marie. Luna menambahkan, “Gue ikut nasehat lo kemarin dan pergi sendirian kemarin.”


Marie kaget dengan apa yang dilakukan Luna. “Bagaimana hasilnya?”


Luna tidak menjawab. Wajahnya menceritakannya.


“Oh, Tuhan? Apa yang terjadi?”


Luna mengembuskan napas panjang. “Lo gak mau tahu?”


Benar, “Gue emang gak mau tahu.” Teruskan, jangan sertakan gue. Gumam Marie.


“Gue cuma pengen coba baju.” Suara Luna terdengar datar.


“Mereka gak perlu memanggil satpam.”


Mata Marie terpejam erat.


“Hei,” Luna kembali ceria. “Nanti malam mau ikut, gak? Ketemu idola gue di restoran bintang lima.”


Marie menoleh dan menggelengkan kepalanya. “Mahal.”


“Gue yakin dia gak keberatan kalau lo ikut. Lo bisa makan all you can eat yang gak gue mau dari menu yang tersedia di atas meja makan.”


“Gue yakin kalau kita gak bisa membayar semua hidangan yang disajikan di atas meja makan, kita akan di tahan dan di suruh untuk membantu mereka cuci piring di bagian dapur restoran itu. Lo mau ngelakuin itu? Menjadi sandraan sementara di restoran berbintang lima.”


"Keesokkan harinya wajah gue dan Lo akan terpampang di koran headline news. "'Dua orang pengunjung makan di restoran bintang lima dan membayar pakai jasa cuci piring. Dan sehabis makan-makan di restoran bintang lima, mereka berdua tidak dapat membayar semua hidangan yang telah mereka pesan.' Apa Lo mau Ayah membaca berita kita?" lanjut Marie.


Luna tertawa. Dia benar-benar tertawa. Rasanya lebih baik ketimbang membuatnya menangis.


...****************...


tbc