LUNA

LUNA
Cukup Sampai Disini Dulu



"Tu... Tuan Kevin..."


"Ada apa...!"


"Se.. se... sepertinya..." kata manusia itu dengan dengan terbata-bata, ekspresinya memperlihatkan sebuah kecemasan yang sangat besar.


"Bicara yang jelas...!"


"Aku mempekerjakanmu bukan untuk berbicara yang tidak jelas seperti itu...!" bentak dari manusia yang bernama Kevin itu.


Untuk menutupi rasa gugupnya, dia kemudian menarik nafas yang dalam, kemudian diam sejenak dan kembali menghembuskan nafasnya tersebut.


"Kli... klien kita sepertinya... mem.. membatalkan per... pertemuan hari i... ini..."


Meskipun dengan perkataan yang terbata-bata akhirnya dia berhasil menyampaikan informasi kepada tuannya.


"Apa...!"


"Batal...?"


"Terus untuk apa aku dari tadi duduk disini...?"


"Cih... waktuku terbuang percuma...!"


"Ma... maafkan saya tuan"


"Ya sudahlah..."


"Terus apa alasan klien membatalkan pertemuan kali ini...?"


"Maaf tuan..."


"Klien kita hanya memberitahukan kalau dia saat ini ada urusan mendadak..."


"Apa kamu pikir alasan seperti itu akan menjawab kekesalanku...?"


"Dasar sekretaris tidak berguna...!"


"Segera beritahukan pada klien itu bahwa aku bisa saja membatalkan perjanjian ini...!"


"Aku tak suka dipermalukan seperti ini...!"


"Baik tuan, aku akan segera menghubunginya..." sekretaris itu pun segera mengambil handphone dari dalam saku celananya.


"Sudah... sudah..."


"Nanti saja kau menghubunginya..."


"Sekarang segera antarkan aku ke rumah untuk beristirahat... Kepalaku saat ini sedang sakit..."


"Apa perlu saya panggilkan dokter...?"


"Tidak usah..."


"Baik tuan..."


*****


Sombong, angkuh, dingin, emosional dan kejam...


Itulah lima kata yang menggambarkan penilaian awalku pada manusia yang bernama Kevin ini.


"Apa benar manusia ini sedang sedih...?"


"Jangan-jangan data yang ada diperkamen ini mungkin salah...?"


Sambil mengikuti mereka berdua, pertanyaan-pertanyaan itu selalu menyelimuti pikiranku.


*****


"Segera menuju ke rumah..."


"Baik tuan..."


Kami bertiga saat ini sudah berada di dalam sebuah kendaraan yang mewah. Si sekretaris duduk didepan memegang kemudi, sedangkan aku duduk dibelakang bersama dengan manusia yang bernama Kevin ini. Dan tentu saja mereka tidak bisa melihatku.


"Tuan Kevin, apakah perlu saya memanggilkan dokter...?


Si sekretaris akhirnya bertanya karena merasa sedikit khawatir dengan tuannya yang sedari tadi selalu memegang keningnya sambil memejamkan mata.


"Itu bukan urusan mu...!"


"Kemudikan saja mobilnya dengan benar...!"


"Ma... maafkan atas kelancangan saya tuan..."


Hmmm...


Ini tidak bisa dibiarkan...!


Kata-katanya sudah keterlaluan...!


Apa salahnya jika dia mengucapkan terima kasih...?


Aku selalu tidak mengerti dengan jalan pikiran umat manusia...


Aku harus melakukan sesuatu...


"Anda harus minta maaf" itulah kata-kata yang kubisikan ke telinganya, lebih tepatnya kedalam hati manusia ini.


Tak menunggu waktu yang lama, raut wajahnya kemudian sedikit berubah. Ku rasa sepertinya dia bereaksi dengan perkataanku.


"Maafkan saya karena sudah berbicara kasar..."


"Antarkan aku ke apartement saja, malam ini aku tidak ingin pulang ke rumah"


"Baik tuan..."


"Saya juga mohon maaf karena tadi sudah lancang"


Akhirnya suasana didalam sini sedikit menyenangkan.


*****


Tak lama kemudian, kami tiba disebuah gedung bertingkat yang begitu megah. Sepertinya ini adalah apartement yang dia maksud.


"Tidak usah mengantarkan aku sampai kedalam..."


"Kau pulanglah dan beristirahat..."


"Jangan lupa untuk menjemputku besok jam 7 tepat..."


Akhirnya dia terlihat sedikit lebih ramah.


"Baik tuan..."


"Selamat beristirahat..." jawab sekretaris tersebut.


"Oh iya, Vino..."


"Nenek ku menelpon dan bertanya, bilang saja malam ini aku sedang lembur dan tak bisa pulang kerumah"


"Baik tuan..."


*****


Kami memasuki sebuah lobi yang begitu besar. Sepertinya ini apartemen yang dibangun untuk dihuni oleh para bansawan, karena sedari tadi para manusia yang ku lihat berlalu-lalang disini semuanya terlihat sangat menawan dengan pakaian yang mewah.


Aku terus mengikuti Kevin yang sedang berjalan menuju kesebuah lift. Dia kemudian menekan sebuah tombol sambil menunggu pintu lift tersebut terbuka kemudian langsung masuk kedalamnya.


Di dalam lift tersebut hanya ada dirinya sendiri, berdua tentunya jika dihitung dengan diriku.


Inilah kesempatanku untuk mengamatinya. Mataku terus menjelajahinya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki. Tak ada satupun yang luput dari pandanganku.


Semuanya normal, tak ada yang aneh.


Tetapi, ada satu hal yang menarik perhatianku.


Tatapan matanya.


Dia memiliki mata hitam yang sangat jernih. Hanya saja, tatapan matanya terlihat sendu dan hampa, sangat jelas tersirat bahwa ada kenangan pahit yang tersimpan didalam tatapan tersebut.


*****


Lift pun akhirnya berhenti tepat dilantai 12. Kami pun segera keluar dari lift mengikuti sebuah koridor yang lurus dan panjang.


Aku terus mengikutinya dari belakang, sambil terus memperhatikan dirinya. Dari langkah kakinya yang agak pelan dan berat, sepertinya dia memang agak kurang enak badan.


Akhinya kami tiba disebuah pintu yang bertuliskan angka '1204'. Dia langsung saja mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya dan menempelkan kartu itu disebuah alat sensor dan kemudian menekan beberapa angka.


Tak lama kemudian alat itu membunyikan sebuah nada dan pintunya langsung terbuka.


Setelah pintu terbuka, dia langsung masuk kedalam dan menutup pintunya kembali.


Sebenarnya, aku bisa saja langsung masuk menembus pintu itu, tetapi...


"Hari ini cukup sampai disini dulu Kevin... Kita lanjutkan lagi besok..."


Sepertinya, mulai sekarang aku tak perlu memanggilnya 'manusia' atau panggilan yang lain.


Ya...


Karena dia punya nama, dan namanya adalah Kevin. Sedangkan sekretarisnya yang tadi bernama Vino.


*****


Malam ini langit tampak begitu cerah, cahaya bintang dan bukan begitu bersinar menerangi segala sesuatu yang ada di bumi ini.


Sambil berjalan keluar dari apartement tempat Kevin tinggal, mataku bergerak menyapu bersih seluruh pemandangan yang ada. Walaupun hari sudah malam, tapi tempat ini masih saja ramai.


Langkah kakiku tiba-tiba terhenti didepan sebuah toko kue. Bagian depan toko tersebut memiliki sebuah jendela kaca yang sangat besar sehingga sampir semua yang ada didalam toko tersebut bisa terlihat dari luar.


Wajahku menempel di jendela tersebut sambil menatap kedalam. Aku mengamati seluruh pemandangan yang ada didalam toko tersebut sambil merasakan sebuah aroma yang masuk kedalam penciumanku.


"Hmmm... baunya enak..."


Tanpa berpikir panjang, aku langsung masuk kedalam toko tersebut.


Didalam toko kue itu, aku menjelajahi hampir seluruh etalase sambil menatap dengan dengan kagum. Beraneka ragam kue dengan hiasan yang cantik terpampang di atas etalase membuat mataku sangat berbinar-binar melihat pemandangan tersebut.


Cukup lama aku berjalan-jalan mengintari setiap sudut dari dalam toko tersebut untuk mencari sumber aroma yang sudah sejak tadi membuatku penasaran. Akhirnya langkahku terhenti disebuah etalase yang bertuliskan 'Strawberry Cake'.


"Kue ini kelihatannya enak?"


Aku menatap beberapa potongan cake yang dihiasi oleh buah stoberi diatasnya.


"Seandainya saja aku juga bisa memakan ini..."


Walaupun kami para malaikat tidak memakan makanan milik manusia, namun aku tetap merasa cukup puas hanya dengan menghirup aromanya.


"Cake Stroberi di toko kami adalah yang terbaik di kota ini" tiba-tiba suara tersebut membuatku kaget, secara refleks aku melangkah kesamping sambil mengalihkan tatapanku ke sumber suara tersebut.


Tepat disampingku ada dua manusia yang sedang berdiri, yang satu adalah seorang pria dewasa dan yang satunya lagi adalah seorang gadis kecil.


"Adik mau ambil berapa potong?"


"Dua potong, yang satu buatku dan yang lagi buat mommy"


"Anak pintar" yang pria tersebut kemudian mengambil dua potong cake stroberi dan meletakannya di atas baki yang dipegang oleh gadis kecil tersebut.


Pria itu kemudian tersenyum sambil menatap gadis kecil yang berlari kecil menuju ibunya.


Sepertinya dia adalah pemilik dari toko ini. Aku langsung mengetahuinya dari pakaian yang dia gunakan, pakaiannya berbeda dari pegawai-pegawai lain yang aku perhatikan.


"Awww....!"


Pria tersebut terhuyung setelah menginjak lantai yang basah. Dia kehilangan keseimbangannya kemudian terjatuh. Kepalanya membentur sebuah lemari kemudian pingsan. Walupun benturannya tidak terlalu keras, tapi aku tau itu pasti sakit.


"Bosss....!"


"Anda tidak apa-apa....?"


Tiba-tiba salah satu karyawan perempuan berlari menuju ke tempat majikannya.


Dia menyandarkan kepala majikannya diatas pangkuan sambil menepuk-pipi dari majikannya tersebut.


Beberapa saat kemudian sang majikan perlahan membuka matanya kemudian secara perlahan mengambil posisi duduk. Sambil berusaha untuk duduk, matanya yang masih setengah terbuka mengarah kepadaku yang sudah dari tadi berjongkok didepan mereka.


"Anda tidak apa-apa boss...?"


"Bagian mana yang masih sakit...?"


Mendengar perkataan dari karyawannya, dia kemudian kembali menundukkan pandangannya sambil memegang kepalanya yang masih sakit.


"Tidak usah khawatir, aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing saja" kata sang majikan sambil memijit kepalanya.


*****


"Apa dia bisa melihatku...?"


"Hmmm... sepertinya itu hal yang mustahil..."


Aku bergumam dari seberang jalan sambil terus menatap ke arah jendela toko kue.


"Aku harap kondisinya tidak serius"


Pandanganku kemudian beralih ke sebuah gedung yang nampak dikejauhan dari tempatku berdiri saat ini. Tentu saja gedung itu adalah tempat Kevin tinggal.


"Kevin..."


"Persiapkan dirimu dengan baik..."


"Kelas kita akan segera dimulai besok..."


Aku bergumam dengan penuh senyuman.


\=\=\=\=\=


TO BE CONTINUE....



Visual 1 : "Kevin Reinhard Sanders"