
"Gimana hasil pertemuan tadi sama tuan Kevin...?" tanya Nana sambil mengambil bungkusan keripik ubi.
"Huuufff..."
"Kacau..."
Jawabku dengan lesu.
Saat ini kami berdua sedang bermalas-malasan di ruan TV. Kegiatan nonton TV sambil ngemil dan bergossip adalah ritual malam yang tak pernah absen untuk kami lakukan di rumah.
"Kacau kenapa...?" Nana kembali bertanya sambil mengunyah keripik ubi yang dia pegang.
"Mulai besok aku sudah tidak bekerja di toko milik boss Julian lagi..."
Sebenarnya ini ku katakan kepadanya tentang kontrak perjanjian tadi pagi, tapi aku takut. Dalam perjanjian tersebut, salah satu poin utama adalah untuk merahasiakannya.
"Hah...?"
"Maksud kamu...?"
"Resign gitu...?"
Kali ini Nana mulai mengangkat posis tubuhnya yang tadi tiduran menjadi duduk.
"Iya..." jawabku lesu.
"Emank kenapa...?"
"Gaji kamu kurang...?"
"Ada yang sirik sama kamu di toko...?"
"Terus, boss Julian sudah ngijinin kamu buat berhenti...?"
"Setelah ini kamu mau kerja dimana...?"
"Satu-satu donk pertanyaannya..."
"Kan bingung aku mau ngejawab yang mana...?" protesku terhadap rentetan pertanyaan Nana.
"Oke-oke..."
"Aku akan nanya satu-satu..."
"Kamu kenapa resign...?"
Pertanyaan pertama pun dilontarkan.
"Aku dipaksa buat kerja jadi sekretarisnya di perisahaan Sand's Corp..."
"Apa...!"
"Jadi sekretaris dari CEO di perusahaan Sand's Corp...?"
"Kamu lagi bercanda kan...?"
Nana pun membelalakkan matanya tanda kaget dan tak percaya.
"Emank tampangku sekarang lagi bercanda...?"
"Ya ampun jadi betulan...?"
"Sahabatku..."
"Mimpi apa kamu semalam sampai ketiban rejeki durian runtuh..."
Matanya pun berbinar-binar menatapku.
"Rejeki apaan...?"
"Malah ini membuat hidupku sial...?"
"Sial dimananya...?"
"Ehh... Lun, denger ya..."
"Sand's Corp itu adalah salah satu dari empat perusahaan terbesar di Asia..."
"Bekerja di perusahaan sebesar itu adalah impian setiap orang..."
"Namun, nggak semua orang loh yang bisa kerja disitu..."
"Dan kini, sahabat terbaik ku malah jadi sekretaris dari CEO perusahaan itu..."
Apakah perusahaan milik Kevin memang sebesar itu...?
Lagian...
Untuk apa orang sehebat dia bisa sampai sudi memilih diriku untuk menjadi tunangan kontraknya...?
Bukankah dia bisa memilih wanita yang berkelas untuk menjadi tunangannya.
Orang seperti dia kan pasti menjadi idaman dari seluruh wanita di dunia.
"Ngomong-ngomong..."
"Kamu sudah ngomong sama boss mengenai hal ini...?"
Pertanyaan Nana tiba-tiba membuatku tersadarkan kembali dari pikiranku.
"Hmmm..."
"Aku belum ngomong apapun sama boss..."
"Tapi tuan Kevin bilang, dia sudah membahasnya dengan boss..."
"Gilaaa...!"
"Bahkan sampai tuan Kevin sendiri yang meminta dirimu dari boss..."
"Jangan-jangan si CEO tampan itu sudah jatuh cinta sama kamu..." katanya sambil menghayalkan hal yang aneh-aneh.
"Cinta pantat mu...!"
"Kenal aja enggak..." umpatku.
"Bodo amat...!"
"Aku yakin dia pasti jatuh hati sama kamu..."
Kini Nana mulai memegang tanganku dan menatapku dengan serius.
"Nyonya..."
"Mulai saat ini, berbaik-baiklah denganku..."
"Ingatlah akan aku di masa depanmu yang cerah nanti..."
"Kamu ngomong kayak di drama aja..."
Akupun tak dapat menahan tawa ku. Akhirnya kami berdua pun tertawa lepas di ruang TV.
Hemppttt...!
Ada-ada saja pemikiran dari sahabatku yang polos ini.
Nana, andai saja kamu tau alasan yang sebenarnya.
*****
Ini adalah hari pertamaku bekerja sebagai sekretaris dari CEO Sand's Corp. Sejak pagi aku sudah disibukkan denga berbagai tugas. Vino yang saat ini sudah beralih menjadi asisten Kevin pun selalu mengajariku dengan sabar mengenai semua tugas-tugas yang harus dilakukan oleh sekretaris.
Si boss baru ku pun sejak pagi hanya mengurung diri di ruangannya. Dan seperti biasa, dia selalu menjengkelkan.
Tadi pagi, aku sudah sengaja datang dari awal untuk menyambutnya. Aku sengaja bertanya kepada asisten Vino tentang jam kedatangan boss di kantor.
Akupun berdiri setelah mendengar pintu lift terbuka. Saat boss Kevin datang aku langsung dengan sigap menyapanya.
Dasar laki-laki gunung es...!
*****
Aku melirik jam yang ada di hp ku.
Sekarang sudah jam 12 siang, sudah waktunya istirahat makan siang.
Di kantin kantor, aku memesan makanan dan juga minuman. Tapi aku hanya meminta untuk membungkusnya saja.
Jujur, aku tak terbiasa makan bersama dengan orang-orang asing.
Berbeda dengan teman-temanku di toko, disini semua karyawan pada cuek. Bahkan ada yang memandangku dengan sinis.
Tapi, sudahlah.
Mungkin mereka begitu karena belum kenal saja.
Siang ini aku memutuskan untuk menuju ke bagian atap gedung kantor. Akan lebih menyenangkan jika aku menghabiskan makan siangku disitu.
Ya, tempat ini memang paling pas untuk ku. Makan siang dengan ditemani oleh hembusan angin yang sejuk serta pemandangan yang indah membuatku merasa lebih nyaman.
Selesai menghabiskan makan siang, diriku pun bersantai di tempat ini menikmati hembusan angin sambil menunggu jam makan siang selesai.
*****
Begitu pintu lift terbuka, aku pun langsung bergegas keluar menuju ke meja kerjaku. Masih ada sisa waktu, aku tidak terlambat. Aku tak ingin membuat kesalahan di hari pertamaku bekerja.
"Dari mana saja kamu...?"
Saat ini tuan Kevin dan asisten Vino sudah berdiri menungguku di depan meja kerja ku.
"Saya habis makan siang tuan..."
"Makan siang sampai jam segini...?"
"Ta... tapu tuan..."
"Saya kan sudah kembali tepat sebelum jam makan siang selesai..."
Memangnya apa kesalahanku...?
Aku kan tidak melanggar aturan jam kerja...?
"Kamu masih mau membantahku...?" kali ini wajahnya seperti akan memakan seseorang.
Aku melirik ke arah asisten Vino untuk meminta jawaban dari sikap boss yang aneh ini. Dia hanya menggeleng kecil sambil memberikan kode.
"Maafkan saya tuan..."
"Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi..."
Akhirnya diriku memilih untuk mengalah.
"Aku tak ingin ada karyawan yang tidak becus bekerja bersamaku..."
Aku hanya menganggukan kepala tanoa bersuara, orang ini sungguh tak punya hati.
"Persiapkan semua dokumen, hari ini kita ada pertemuan dengan klien di restoran..." perintahnya sebelum dia kembali masuk kedalam.
"Baik tuan..." jawabku sambil mulai menyiapkan dokumen yang dia minta.
Begitu pintu ruangan tertutup, asisten Vino langsung menghampiri ku.
"Nona..."
"Lain kali mohon untuk ada di ruangan sebelum tuan muda..."
"Beliau tidak suka jika dia tiba, ruangan dalam keadaan kosong..."
"Baiklah..."
"Kedepannya aku akan lebih memperhatikannya lagi..." jawabku.
Siapa juga yang mau kena semprot seperti tadi.
Vino pun segera kembali ke meja kerjanya sambil menunggu tuan Kevin keluar dari ruangannya.
*****
Siang itu kami bertemu dengan klien di sebuah restoran sambil merundingkan rencana kerja sama. Kami menempati sebuah ruangan privat yang disediakan oleh pihak restoran. Setiap restoran mewah memang menyediakan ruangan privat bagi tamu VVIP.
Pertemuan kali ini sepertinya berjalan dengan lancar tanpa ada kendala. Hanya sesekali saja ada perdebatan kecil diantara kedua belah pihak.
Tuan Kevin sangat profesional dalam pertemuan dengan klien ini.
Asisten Vino pun dengan sigap selalu menyediakan segala macam dokumen yang diperlukan.
Sedangkan diriki, walaupun ini adalah pengalaman pertama, tapi aku juga tak mau kalah. Aku selalu mencatat hal-hal penting yang diperbincangkan, tak ada satupun yang terlewatkan.
Pertemuam kami pun berakhir saat hari sudah sore. Saat ini kami sedang berkendara keluar dari parkiran restoran.
Asisten Vino berada di kursi kemudi, sedangkan diriku duduk disamping kemudi. Tuan Kevin duduk di kursi belakang sambil terus memperhatikan tabletnya.
"Tuan..."
"Apakah akan langsung kembali ke kantor atau mengantar nona Luna dulu...?" asisten Vino akhirnya membuka pertanyaan untuk mengatasi kecanggungan yang ada di dalam mobil.
"Kita tak punya waktu untuk melakukan hal yang tak penting..." jawabnya dengan ketus.
"Jadi..." asisten Vino berencana untuk bertanya kembali.
"Saya turun di lampu merah depan saja..." dengan cepat aku langsung memotong perkataannya.
"Tapi nona..."
"Nggak apa-apa..."
"Saya ada keperluan sebentar, jadi saya belum berniat untuk kembali ke rumah..."
Aku juga masih tau diri untuk tidak memaksa diantar pulang.
"Ikuti saja apa yang dia katakan..." lanjut si boss dengan singkat.
"Baik tuan..."
Asisten Vino sepertinya merasa tak enak. Namun, dia juga tidak bisa membantah keinginan dari boss brengsek ini.
"Saya bisa pesan taksi online kok..."
Aku pun memberikan senyuman untuk membuat asisten Vino agar dia tidak lagi merasa bersalah.
"Saya berhenti di depan saja..."
Akhinya asisten Vino pun menghentikan kendaraan di dekat lampu merah.
"Terima kasih tuan atas tumpangannya..."
Aku tak lupa memberi hormat sebelum menutup pintu.
"Hati-hati di jalan nona..." balas asisten Vino, sedangkan si boss aneh itu hanya mengutak-atik tabletnya tanpa memperdulikan.
"Dasar boss yang tak punya hati...!"
Aku hanya mendengus kesal menatap kepergian mereka.
Ya sudahlah...
Mumpung hari ini sudah bebas, mending aku jalan-jalan ke mall dulu.
\=\=\=\=\=
TO BE CONTINUE