LUNA

LUNA
Bab 24



Bab 24


Luna berdiri di samping loket tiket, ditanyai petugas keamanan di sana. Dia mengangguk pada petugas itu. Sementara Marie bergegas menghampirinya, petugas itu memanggil petugas lain, dan bicara dengannya selama beberapa saat. Mereka membelakangi Luna dan tertawa cekikikan. Sebatang anak panah menggores jantung Marie.


Saat Marie tiba di loket, petugas pertama menyerahkan kembali SIM Luna. Luna menyambar laptop dan kopernya, dan bergegas mendekati Marie, kemudian menyambar berjalan melewati koridor menuju toilet. Marie berlari kecil di belakangnya, akhirnya berhasil menarik jaketnya. “Tolong beri tahu gue, apa sih yang lo lakuin?”


“Memangnya belum jelas?” Luna balik bertanya, nyaris tanpa melihat Marie. “Tolong jaga barang-barang gue sampai gue kembali, ya...”


Dia menjatuhkan tas laptopnya dan tas jinjingnya di dekat kaki Marie, lalu merunduk dan menghilang ke dalam toilet wanita. Seorang petugas tiket mendekat dan Marie berkata, “Salah satu toiletnya meluap.”


Dia menyeringai jijik dan cepat-cepat melangkah menjauh. Beberapa menit kemudia Luna keluar. Sambil membungkuk mengambil tas laptop dari lengan Marie yang mati rasa.


Luna beranjak dari sana dan menuju loket tiket, kemudian cek-in. Dia kembali menemui Marie, melihatnya menyeret jaker Luna di lantai, dia mengambilnya dari tangan Marie dan mengibas-ngibaskannya. Dia menyelipkan boarding pass ke dalam kantong tas dan melihat jam. “Masih ada satu jam sebelum penerbangan. Mau makan sesuatu? Gue kelaparan, nih.”


“Gak mau.” Marie menjawab dengan nada marah. “Gue mau lo menceritakan apa yang sedang lo lakuin.”


Sambil melongok ke sekeliling, dia menjawab, “Gue akan pergi ke Paris. Veronica salah satu temen gue yang ada di sna punya kamar ekstra untuk gue tinggal sementara sampai gue punya cukup uang untuk pindah, bahkan sampai mapan. Dia akan bicara dengan ahlinya hari Selasa untuk melihat apa pelatih untuk modeling akan langsung menerima gue.”


“Untuk?” Marie bertanya.


Akhirnya Luna memandang adiknya. “Untuk evaluasi. Untuk memulai perubahan yang ada di gue. Untuk memulai standar perawatan bahkan pelatihan selama ini untuk menjadi model terkenal. Sudahlah, lo gak usah khawatir. Ayo makan croissant.” Luna berderap cepat menuju koridor.


Luna berbelok masuk ke kedai kopi dan berdiri di depan konter, membaca menu di papan tulis. Dia memesan secangkir latte dan croissant isi coklat, lalu menanyakan pesanan Marie.


Sementara Marie masih berjalan menyusul dirinya.


Luna berkata kepada kasir, “Jadinya dua croissant deh. Dan jus jeruk.” Lalu Luna membayar dan mengikuti Marie ke meja. Tidak terlalu banyak orang di sana karena masih menunjukkan pukul 05.30 di hari Minggu. Kru pemeliharaan. Marie melirik keluar jendela, pesawat kecil melaju pelan di landasan terbang. Di depan Marie ada Luna yang lahap memakan croissant, tapi tidak dengan Marie. Dia sangat sedih dengan kepergian kakaknya itu.


“Mami gak pernah nyakitin gue. Dia gak akan...”


“Mami tahu tentang lo kan?” Marie menatapnya. “Selama ini dia tahu, kan?”


Luna memejamkan matanya dan menunduk. Dia mendesah. “Pernah gak sih gue cerita waktu dia memergoki gue di kamarnya?”


“Gak,” ujar Marie. “Kapan?”


Luna mengangkat tangan dan menyesap kopinya. “Itu bukan yang pertama kalinya sih. Gue selalu mengira gue udah berhati-hati, tapi lo kan tahu, gue selalu terlena di depan cermin dan waktu berlalu begitu saja.” Luna tersenyum getir. “Terakhir kali,kalau gak salah gue berumur sepuluh atau sebelasan lah. Gue gak tahu semua orang saat itu, tapi gue ingat, gue pakai gaun tidur Mami yang tipis dan sepatu hak tinggi, dan wig. Gue berdandan, ketika tiba-tiba, tanpa gue sadar, Mami muncul. Gue nyaris aja nyolok mata gue dengan pemulas maskara.” Luna mengerjap waktu mengenang hal itu, matanya menerawang jauh.


“Dia menyuruh gue berhenti. Mami bilang, ‘Lebih baik kamu berhenti sekarang juga.’” Luna menirunya dengan sempurna. “Kayak gue bisa aja berhenti. Mami tidak benar-benar mengerti. Gue benci karena gak menceritakan ini ke lo, Mar. Gue kira harus lo tahu kalau Mami sudah tahu. Tapi dia memperingatkan gue, ‘Jangan pernah beri tahu ke siapa-siapa Luna. Apalagi Marie. Bagaimana kalau topik ini muncul dalam pembicaraan dan ayahmu dengar? Bagaimana kalau dia melihatmu seperti ini? Kau tahu apa akibatnya? Kau tahu apa yang akan dilakukannya padamu?” Bibir Luna membuka dan dia menghela napas pendek.


Tega-teganya Mami tidak memercayai Marie. Tidak heran Luna takut pada Ayah. Dia tahu apa yang akan dilakukan Ayah. Menghentikan atau membunuhnya. Tepat seperti apa yang telah terjadi.


“Itu bagian yang paling sulit, menyimpan rahasia ini antara Mami dan gue.” Luna berbicara terus sambil menggeleng pelan. “Ya, selama ini Mami sudah tahu. Hanya saja dia tidak tahu harus bagaimana cara menghadapinya. Atau gue.” senyum kecil merebak di bibir Luna. “Dan dia kasih gue tas rajut favoritnya waktu ulang tahun yang ke empat belas.” Luna tergelak.


Semua perkataan Luna berseliweran di kepala Marie, bercampur dengan kenangan mereka berdua. Marie lebih bingung dengan Mami kenapa Mami tidak mendukung Luna? Apakah menjadi model sangat buruk dimatanya? Atau dia hanya berperan sebagai seorang ibu? Entahlah.


Luna terus saja mengoceh tentang prosedur pelatihan yang akan dilaksanakannya.


“Bagaimana dengan sekolah?” sergah Marie. “Lo mau kabur gitu aja? Dan kuliah? Semua beasiswa yang dapat?”


“Gue gak bisa memikirkannya sekarang.” Luna meminum habis kopinya, meletakkan cangkir di meja di tengah mereka dan menambahkan kata, “Gue kira gue punya cukup modal untuk lulus. Kalau tidak, gue bakal ambil ujian susulan. Tapi kalau kuliah,..belum waktunya.” Luna menggeleng.


“Gue butuh waktu untuk diri sendiri, Mar.” Lanjutnya lagi.


“Ya, semua tentang dirimu. Selalu.”


Matanya bertemu dengan mata Marie, tapi sayangnya Marie tidak dapat membalas tatapannya itu. Pandangan Marie kabur seketika, terpecah, dia memandang ke arah langit-langit, ke lantai, ke konter, ke menu,ke tanda-tanda yang ada, dan ke mana saja selain ke arah Luna. Marie gak sanggup menghadapi ini.


Luna mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Marie. “Ini pasti sudah menjadi beban untuk lo kan, Mar?”


“Gak.” Tenggorokkannya tercekat.


“Lo tahu gue melakukan ini selain untuk gue, untuk lo juga, Mar.”


“Apa maksud lo?”


“Gue kira lo tahu.”


Gak. Marie gak tahu. Detak jantung Marie semakin cepat. Jantungnya serasa ingin meledak. “Gue menarik semuanya. Semuanya. Semua yang gue pernah katakan sama lo. Gue gak ada maksud kek gitu. Lo boleh gunain kamar gue kapan pun lo mau. Lo boleh berdandan di sekolah. Gue gak peduli. Gue gak mau lo pergi. Gue gak mau lo jauh.”


“Gue harus pergi,” kata Luna.


“Gak, lo gak harus!” teriak Marie. Dadanya terasa nyeri. Kerongkongannya terbakar. Teganya dia. Tega dia melakukan ini, berkemas-kemas dan pergi begitu saja? Dia punya kehidupan di sini. Dia punya Marie.


“Bagaimana dengan Alyson?” tanya Marie. “Lo pergi tanpa pemberitahuan dengan dia?”


“Gue sudah ngirim email ke dia.”


“Oh, lo sudah kirim email sama dia.” Marie mengejek Luna. “Pasti itu yang membuatnya merasa senang, merasa penting. Dia hanya butuh waktu untuk menerima ini.”


“Justru waktu yang tidak gue punya,” kata Luna sambil meremas lengan Marie. “Gue gak bisa nunggu siapa pun, Mar.”


...****************...


tbc