LUNA

LUNA
Bab 25



Bab 25


Gak. Luna gak bisa melakukan ini. Marie menarik tangannya. “Bagaimana mungkin lo bisa pergi?”


Luna memiringkan kepalanya dan menjawab dengan lembut, “Dan bagaimana mungkin gue bisa tinggal?”


Mata mereka saling bertatapan selama satu menit dan itu sangat menegangkan. Kemudia, sambil bersedekap, Luna menambahkan, “Kita akan berakhir untuk saling membenci, Marie.”


“Gue gak pernah bisa benci sama lo, Luna. Lo kakak gue!”


“Bukan lo, tapi Ayah.”


Ayah. Lagi-lagi Ayah. Selalu saja Ayah. Luna benar. Marie tidak bisa menahan kakaknya lagi, dan dia pun menangis terisak.


“Oh, Marie...,” Luna beranjak dari kursinya dan mengganti posisi duduknya menjadi dekat dengan Marie.


“Gue mohon,” isak Marie, “Jangan pergi. Nanti juga Ayah bisa menerima lo. Menerima keputusan lo.”


“Mungkin,” ujar Luna dengan tenang. “Gue berharap seperti itu. Tapi gue harus melakukan ini sekarang.”


Tangis Marie semakin kencang. Luna segera merangkul pundak Marie dan Marie langsung bersandar di pundaknya. Marie membiarkannya memeluknya. “Ini bukan salah mereka, oke?” ujarnya.


Luna membaca pikiran Marie dengan sekilas, Marie sangat membenci orangtuanya.


“Ini bukan salah siapa-siapa. Gue gak mau lo menyalahkan mereka. Ini yang gue maksud sang dewi untuk gue. Hanya saja gue gak tahu kenapa.”


Air mata Marie tak bisa berhenti. Ia terus saja menangis tergugu.


Luna mengulurkan tangannya dan mengambil tasnya dari tempat duduk. Dia mengambil sebungkus tisu dengan ukuran kecil dan mencabut sehelai. Sambil membuka lipatannya, dia menyerahkannya pada Marie. “Jangan tinggalkan gue di sini,” pinta Marie dengan isakannya.


“Bawa gue juga sama-sama lo.”


Luna membelai kepala Marie dengan lembut, “Gak bisa.”


Marie merengek, “Apa yang akan gue lakukan tanpa lo?”


“Hidup,” jawab Luna. “Berbahagia. Berbahagialah.”


“Gak bisa!” jerit Marie. Marie menjatuhkan diri dipangkuannya, yang penuh dengan tumpukan daging dan lemak yang bercampur aduk di pahanya. “Gue gak bisa.”


“Gue mohon, Marie,” bisiknya dengan suara parau. “Jangan lakukan ini. Jangan membuat gue meraung dan menarik kembali keputusan gue. Walaupun keputusan gue gak bisa gue tarik. Begitu gue mulai...”


Marie merasakan dadanya yang naik turun. Dia mengusap punggung Marie, memeluknya sampai Marie bisa mengangkat kepalanya cukup tinggi untuk melihat hidung Luna. Orang-orang memandangi mereka, tapi Marie tidak peduli dengan pandangan mereka itu. Masa bodo* dengan apa kata orang.


Terdengar sebuah pengumuman bergema di ruangan mereka berada berkumandang. Dengan lembut Luna mendorong Marie dari pangkuannya dan mengambil boarding pass dari dalam tasnya. Perut Marie terasa bergejolak. “Ups... bukan pesawatku ternyata.” Luna memasukkannya kembali ke kantong depan tas. Sambil tersenyum pada Marie.


“Ayo kita ngobrol hal yang lebih ceria. Ceritakan tentang pacar lo yang keren itu,” ujar Luna mengalihkan kesedihan yang terjadi di antara mereka.


Marie menyeka sudut kedua matanya dengan telapak tangan. “Dia bukan pacar gue.”


“Belum,” Luna menggoyangkan kedua alisnya. “Lo ke mana semalam?” tanyanya lagi.


“Apa? Oh. Keluar makan malam. Nonton juga.”


“Nonton film apa?”


“Gak ingat.” Marie kemudian menyikut Luna, “Bukan gara-gara itu. Kami gak lama berada di sana.”


“Mmm,” goda Luna.


Marie berdecak sebal.


Terdengar lagi pengumuman lain tentang peraturan keamanan, jangan meninggalkan koper tanpa pengawasan. Luna bertanya, “Lo bakal kencan dengannya lagi, kan?”


Semalam Marie kehilangan konsentrasinya sampai dia benar-benar lupa apa yang dikatakan oleh James. Undangannya. Pernikahan Ibunya.


“Yah, Sabtu depan. Ibunya akan menikah dan dia ingin gue datang bareng dia ke pernikahan iyu, dan langsung ke resepsi.”


“Wow, kedengarannya menyenangkan sekali.”


“Yah, menyenangkan sekali.” sebuah pikiran muncul dibenak Marie. “Bakalan jadi super aneh gak sih kalau tenyata Mami yang menjadi Wedding Plannernya?”


Luna terbahak mendengarnya.


Marie menjulingkan mata kepada Luna. Rasa panik menyergap dadanya. “Apa yang harus gue pakai? Gue belum pernah datang ke acara nikahan. Gimana gue harus bersikap? Apa yang harus gue lakukan?”


“Oh iya, ada kotak buat lo di mobil,” ujar Luna memotong gumaman Marie. “Bukalah waktu lo sampai di rumah. Buang semua yang lo punya dan mulai dengan yang baru. Beri warna dalam hidup lo, Marie. Lo butuh itu. Untuk sikap, gampanglah. Jadilah diri lo sendiri.”


“Yang bener saja.”


“Iya. Lo sebenarnya cantik.”


Marie mendengus.


“Lo memang cantik.” Luna tampak kaget melihat reaksi Marie. “Lo belum pernah melihat diri lo sendiri?” Dia melepas tangan Marie dan berkacak pinggang. “Marie Natalie...”


“Kayak gue punya waktu bercermin aja.”


Luna mengangkat dagu Marie dengan jari telunjukmya, “Lihat gue. Lo itu cantik luar dan dalam. Lo baik dan murah hati, penuh belas kasihan dan perhatian. Lo orang yang paling perhatian di dunia ini. Lo penyelamat gue. Lo pasti tahu itu. Seandainya lo gak di sisi gue, Marie, selama bertahun-tahun...”


Suaranya hilang. Mata Marie berkaca-kaca. Mereka berdua harus melihat ke arah lain.


Luna merunduk dan berbicara langsung kepada Marie, hanya pada Marie, “Tahu gak, gue selalu ingin menjadi lo. Karena Ayah sangat sayang sama lo.”


Marie menggit bibirnya yang gemetar.


Luna pun bergegas mengumpulkan barang-barangnya. “Kita harus pergi.” Marie memungut sampah di meja, berusaha menenangkan diri sendiri. Mereka mengikuti tanda menuju checkpoint keamanan dan mengantri di akhir barisan. Pria dan wanita di depan mereka sama-sama bengong menatap Luna. Luna tersenyum pada mereka dan berkata, “Gue harap pengriting bulu mata gue gak mmebuat detektor logam berbunyi.”


Mereka mengalihkan tatapannya. Marie meninju Luna. Luna pun keluar dari barian dan menarik Marie ke tepi. “Gue hampir lupa.”


Luna merogoh kantong depan celananya dan mengeluarkan serenteng kunci, meraih pergelangan tangan Marie.


“Apa?” Marie melongo melihat tindakan Luna.


“Gue gak membutuhkannya lagi. Mungkin gue akan beli yang baru. Mungkin VW, yang bisa gue service.” Luna meringis mengatakan hal itu.


“Lo bercanda?” Luna memberikan mobilnya untuk Marie. Tidak mungkin.


“Selanjutnya, silakan.” Petugas keamanan melambaikan tangan kepada Luna dan Marie. Luna menatap Marie dalam. “Don’t say good bye,” perintahnya, suaranya bernada mengancam. “Ini bukan sebuah perpisahan. Ini adalah perjumpaan. Gue menganggap ini permulaan baru karena itulah artinya buat gue. Kelahiran baru. Gue mulai kembali dengan cita-cita gue. Lain kali kita akan bertemu lagi, lo bahkan tidak akan kenal gue lagi.”


“Itulah yang gue bilang,” gumam Marie.


“Oh, Marie.” Luna menghela napasnya dongkol, seolah-olah Marie masih anak kecil. Memang itu yang Marie rasakan. Kecil dan tersesat.


Luna meletakkan tas dan menurunkan tas jinjingnya dari pundak. Dia menaruh jaketnya di atas tas-tas itu, menggenggam lengan dan berkata, “Lo gak akan kehilangan gue. Gue akan selalu ada untuk lo. Lo ngerti?” Luna mengguncang-guncang pundak Marie. “Gue akan kirim lo email setiap hari, dan lebih baik lo membalas email gue. Kita bisa chatting, mungkin tiap tengah malam?”


“Lupakan. Gue berencana untuk tidur. Tapi gue akan mengirim lo email. Gue janji.”


Luna dan Marie saling menatap, lalu mereka berpelukkan. Enggan melepaskan satu sama lain. “Gue sayang sama lo,” kata Luna.


“Gue juga.”


Luna melepaskan pelukan dan memungut bawaannya. Untuk sesaat yang menegang ketika petugas memeriksa identitas dan boarding passnya, Marie hanya takut ditolak.


Petugas itu akhirnya membiarkan Luna lewat. Luna berjalan dua langkah dan berputar. Matanya menatap Marie dan tersenyum. Sebuah aura membingkainya, cahaya yang berpendar. Seluruh tubuhnya seperti bersinar-sinar saat dia memberi Marie kiss jauh.


Marie merasakan sapuan sayap kupu-kupu di pipinya. Membawanya terbang tinggi.


“Tidak apa-apa,” sebuah suara di dalam diri Marie berkata dengan lembut, “Dia akan baik-baik saja di luar sana. Dia akan bahagia.”


Marie tahu itu, bahkan ingin tahu. Lebih dari apapun di dunia ini, Marie ingin kakaknya bahagia.


Perlahan Marie melangkah mundur dan berbalik, berjalan, berjalan semakin cepat. Berlari. Menuju pintu keluar. Pintu masuk. “Selamat tinggal, kakak.” Marie berteriak dan mengucapkannya dengan lantang.


Sekian.


...****************...


terima kasih yang sudah membaca kisah Luna.


sampai di sini dulu ya, kisahnya.


gak perlu panjang-panjang sampai dia menikah dan punya anak dengan Alyson. Udah bakal ketebak seperti apa kisahnya.


Untuk Marie juga, dia pasti kencan untuk ke 2x nya sama James.


Untuk Mami dan Ayah, bagaimana? Ya, begitulah. Complicated. sampe yang nulis juga njelimet 😂


ok. sekian


sekali lagi thanks. see you.