LUNA

LUNA
Akhir Dari Diriku



Kumpulan awan hitam masih tetap setia menutupi langit tanpa memberikan kesempatan bagi sang mentari untuk memancarkan sinarnya. Walapun hari sudah pagi dan badai pun sudah mulai redah, lagit masih saja gelap.


Saat ini diriku hanya bisa memantau keadaan didalam rumah melalui jendela saja sambil terus bersembunyi dari anak itu.


Kejadian semalam masih terngiang-ngiang di kepalaku. Sampai saat inipun aku masih sangat terkejut.


Kuputar kembali memori yang ada di kepalaku, mencoba untuk mengingat kejadian semalam.


Anak itu menunjukan jarinya tepat kearahku. Untung saja aku bisa dengan cepat mengatasi panik di dalam kepalaku dan langsung berteleportasi keluar dari ruangan tersebut. Aku hanya bisa mengintip dari jendela melihat anak itu kebingungan mencari keberadaanku. Pamannya pun sama kebingungan, berusaha melihat kearah yang ditunjuk oleh ponakannya namun tak menemukan apapun disitu.


Huffff....


Mulai saat ini aku harus lebih berhati-hati. Akan sangat sulit untuk mendekati Kevin jika anak itu berada di sekitar kami.


*****


"Vino..."


Kevin memanggil sekretarisnya yang sedang duduk dikursi kemudi.


"Ya tuan..."


"Sebentar siang ingatkan aku untuk membelikan cake stroberi buat David..."


"Dia pasti akan gembira jika aku membelikan kue itu untuknya..."


"Baik tuan..."


"Sebentar saya akan pergi membelinya di toko kue dekat kantor..." jawab sekeretaris Vino.


"Aku juga akan ikut..."


"Lagipula siang nanti aku sudah tidak memiliki jadwal..."


"Sesudah itu kita langsung kembali ke rumah utama..."


Kevin nampak memberi jeda dan kemudian berbicara lagi.


"Vino sepertinya kamu kurang sehat hari ini..."


"Apakah kamu tidak beristirahat dengan baik semalam...?"


Walaupun bertanya dengan nada datar, tapi sepertinya Kevin agak kuatir dengan kondisi sekretarisnya itu.


"Tidak tuan..."


"Saya beristirahat dengan baik semalam..."


"Mungkin hanya kecapean saja..."


Sekretaris Vino yang nampak sedikit pucat berusaha untuk menutupinya dari Kevin. Semalam dia memang tidak bisa tidur dengan baik karena aunty Jeny selalu mengganggunya melalui chat maupun telepon di dalam kamar.


"Hahaha...."


"Sepertinya aunty Jeny sudah terobsesi dengan dirimu..."


"Kau harus bisa menegurnya dengan tegas..."


"Tidak apa-apa tuan..."


"Saya juga tidak berani untuk menegur nyonya Jeny..."


"Ya sudahlah..."


"Terserah kamu..."


Merekapun segera mengakhiri percakapan setelah sekretaris Vino membelokan mobil memasuki gerbang utama kantor.


*****


Tak ada hal maupun kejadian yang istimewa selama setengah hari berada di kantor.


Seperti biasa, Kevin selalu memandang seluruh karyawan dengan tatapan dingin mengintimidasi. Selain itu, nada bicaranya selalu saja datar.


Baru kali ini aku mendapatkan manusia yang seperti dia. Biasanya manusia-manusia yang kudapati sebelum ini kebanyakan hanya memiliki masalah dengan pacar, keluarga ataupun depresi dengan keadaan pekerjaan mereka.


Setelah menyelesaikan semua urusannya, Kevin pun melirik ke arah jam tangan kemudian mengambil tas kerjanya lalu menuju ke pintu.


"Vino... ayo kita pergi..."


Sekretaris Vino pun langsung segera merapikan seluruh berkas yang ada di atas mejanya dan kemudian langsung berdiri mengikuti tuannya.


"Antarkan aku ke toko kue yang kau sebutkan tadi..." perintah Kevin yang langsung dibalas dengan anggukan oleh sekretarisnya.


*****


Siang itu mobil yang kami kendarai berhenti di sebuah toko yang sudah sangat aku kenali.


Ini adalah toko kue yang kemarin aku datangi.


Tanpa menunggu pasangan sekretaris dan majikan aneh itu aku segera berlari menuju kedalam toko kue tersebut. Menyusuri semua etalase yang ada. Inilah tempat yang paling nyaman untuk diriku.


Cklekk...


Tiba-tiba pintu depan terbuka dan nampaklah wajah yang sudah sangat ku kenal masuk kedalam toko ini. Kehadiran Kevin dan sekretarisnya mengundang perhatian seluruh manusia yang ada di dalam toko ini. Mereka semua memandang dengan sangat kagum. Terlebih lagi para kaum hawa. Mereka memandang dengan mata yang berbinar-binar serta pipi yang merona.


"Itukan tuan Kevin..." beberapa kaum hawa terlihat sedang berbisik.


"Betul... selain kaya, ternyata wajahnya memang benar-benar tampan..." balas yang satunya lagi.


Kevin yang mendengarkan perkataan mereka hanya berjalan acuh tanpa menghiraukan.


"Selamat datang tuan Kevin..."


"Anda ingin mencari sesuatu...?"


Seorang pelayan wanita menyapanya dengan wajah yang merona dan tampak malu-malu.


Orang yang dituju justru malah hanya lewat begitu saja tanpa menghiraukan sapaan pelayan tersebut.


Merasa bingung dengan perlakuan dari Kevin, pelayan tersebut berniat untuk mengejarnya tapi langsung dihentikan oleh sekretaris Vino.


"Tuan Kevin hanya datang untuk membeli beberap potong kue"


Kata-kata sekretaris Vino sambil memberikan kode agar pelayan tersebut tidak mengikuti lebih tepatnya mengganggu Kevin.


"Baiklah, maafkan saya..."


"Silahkan memilih kue yang sudah kami sediakan..."


Walupun dengan ekspresi yang sedikit kecewa, namun pelayan tersebut tetap bersikap profesional.


"Walaupun bersikap dingin... tapi justru malah kelihatan lebih tampan..." bisik pengunjung lain yang sudah tersihir melihat Kevin.


"Ia..."


"Wajahnya terlihat seperti sebuah mahakarya..."


"Dia terlihat seperti malaikat yang turun dari khayangan..." tambah pengunjung yang satunya lagi.


"Malaikat pantat mu...!" gumamku.


Akupun akhirnya mengabaikan suasana di dalam toko dan kembali menyusuri semua etalase yang ada.


Ini dia.


Mataku kembali berbinar melihat potongan-potongan cake stroberi yang tertata rapi di etalase.


"Andai saja aku bisa mencicipinya..." gumamku sambil menghirup aromanya. Potongan kue yang dibaluti oleh krim berwarna putih dengan beberapa potongan buah stroberi di atasnya.


"Vino..."


"Tolong ambilkan beberapa potong kue yang ini..."


Lamunanku dibuat buyar dengan perkataan dari Kevin yang tiba-tiba sudah berdiri tepat di sampingku.


Hmm...


Memang sejak awal kan dia datang kesini untuk membeli cake stroberi.


*****


Vino sedang mengantri di kasir, sedangkan Kevin hanya berdiri agak jauh karena merasa tidak nyaman berada didekat orang lain. Para pengunjung yang lain pun masih tetap pengerumuni dan memandanginya, walaupun mereka membuat jarak lumayan jauh darinya karena merasa takut akan membuatnya kesal.


Tiba-tiba terdengar sapaan yang ternyata berasal dari pemilik toko tersebut.


Aku sudah mengenali pemilik toko tersebut. Dia kan yang kemarin terjatuh waktu aku datang pertama kali.


"Kamu...?"


"Jadi ini toko milikmu ya...?"


Kevin menjawab dengan ekspresi yang agak sedikit kaget.


"Sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu..."


"Tapi ekspresimu selalu tidak berubah..."


"Apa begini caramu menyambut teman lama...?"


Pemilik toko tersebut lansung meninju lengan Kevin, tapi tidak dengan besungguh-sungguh.


"Hentikan basa-basi mu..."


"Kapan kamu kembali...?"


"Dua bulan yang lalu..."


"Ayah memaksaku untuk membantunya di perusahaan..."


"Tapi aku lebih memilih untuk mandiri dengan usaha yang kubangun sendiri..."


"Berhentilah untuk bermain-main..."


"Kalau bukan kamu, siapa lagi yang akan meneruskan usaha dari keluargamu...?"


"Tenang saja..."


"Kalau sudah tiba waktunya, aku pasti akan kembali kesana..."


"Oh ya, tumben kamu datang ke toko kue kami..."


"Aku sedang mencari kue untuk David..." jawab Kevin sambil melirik ke arah sekretaris Vino yang sedang menyelesaikan pembayaran di kasir.


"David...?"


"Oh iya, aku ingat..."


"Terakhir kali aku melihatnya ketika dia masih bayi..."


"Pasti sekarang dia sudah tumbuh menjadi anak yang menggemaskan..."


"Aku ingin sekali melihatnya..."


"Kalau begitu kapan-kapan datanglah mampir ke rumah..."


"Otakmu masih berfungsi kan untuk mengingat alamat rumahku...?"


"Dasar gunung es...!"


"Kamu pikir aku ini kakek-kakek pikun yang sudah lupa alamat rumahmu...!"


Balas pemilik toko itu sambil kembali meninju lengan Kevin.


*****


Aku pun meninggalkan percakapan dari kedua sahabat lama itu. Saat ini diriku sudah berada di pinggir jendela sambil memandang keluar.


Langit diluar masih saja gelap, dan sepertinya akan turun hujan.


Hari ini sampai disini saja. Lagipula aku tak bisa ikut dengan mereka ke rumah itu. Terlalu berbahaya. Hari ini aku harus mencari tempat perlindungan dari badai.


Kakiku melangkah diluar toko. Cuaca semakin buruk karena hujan sudah mulai turun. Langkah kakiku bergegas untuk menyebrangi jalan didepan tanpa menyadari ada kilatan petir yang tiba-tiba menghantam diriku.


Terlambat...


Diriku sudah bersimpuh dengan lemah di permukaan aspal. Aku terlalu lemah untuk dapat menggunakan kekuatanku. Seluruh tubuhku terlihat berpendar dengan ditutupi oleh air hujan yang membasahi diriku.


Dengan sisa tenaga, aku berusaha untuk bangkit berdiri dengan susah payah. Aku sadar akan bahaya yang sebentar lagi akan menghampiriku. Sebuah mobil yang berkecapatan laju sedang menuju ke arahku.


"Apakah ini akhir dari diriku...?"


"Apakah aku akan lenyap dari dunia ini...?"


"Apakah ini hukuman terakhir untuk ku...?"


Aku mengangkat tangan untuk melindungi mataku dari cahaya lampu mobil yang menyilaukan. Mobil tersebut sudah makin mendekat dan diriku hanya berdiam pasrah karena sudah kehabisan tenaga.


"Kamu mau mati ya...!!!"


Tiba-tida sepasang tangan memeluk dan mencengkramku dari belakang. Aku pun membalikan tatapanku ke arah pemilik tangan tersebut.


"Kevin...!!!"


Masih dengan keterkejutanku dia kemudian segera mendorong diriku hingga terlempar kesisi jalan...


Perlahan aku mencoba membuka kedua mataku.


"Tidak...!!!"


Mataku terbelalak melihat Kevin yang sudah tak sadarkan diri ditengah jalan. Tubuhnya tergeletak didepan mobil yang menabraknya.


Aku pun berlari menghampiri tubuh yang sudah tergelerak tak sadarkan diri itu. Wajahnya penuh dengan luka. Ada darah yang keluar dari mulut dan hidungnya.


Ku coba untuk memapah kepalanya. Namun aku langsung terkejut setelah melihat tanganku dipenuhi dengan darah. Darah segar yang terus mengalir dari bagian belakang kepalanya.


Pengemudi yang menabrak tadi langsung segera turun menghampiri kami. Semua manusia yang melihat kejadian tadi pun langsung datang berkerumun.


"Tuan Kevin...!"


"Anda tidak apa-apa...!"


Sekretaris Vino langsung datang bersama pemilik toko kue. Dia berteriak dengan panik sambil menepuk pipi tuannya.


"Cepat...!"


"Panggilkan ambulans...!"


Perintahnya dengan nada berteriak.


"Aku akan menyelamatkannya..."


Aku menahan tangan sekretaris Vino yang hendak memapah Kevin.


"Jangan bercanda nona...!"


"Kalau sampai terlambat, tuan Kevin bisa mati...!" bentaknya sambil berusaha untuk mengangkat tubuh Kevin.


Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuhnya hingga jatuh terduduk. Matanya terbelalak menatapku.


Ku silangkan kedua telapak tanganku dan menempelkannya tepat di dada Kevin.


Jantungnya masih berdetak walaupun lemah.


Aku berusaha untuk memusatkan konsentrasi berharap agar masih ada sisa kekuatanku.


"Bangunlah...!"


"Bangun Kevin...!"


"Kau harus selamat...!"


Setelah menghabiskan seluruh tenagaku. Akhirnya seluruh luka yang ada di tubuhnya sudah tertutup. Jantungnya pun sudah kembali berdetak normal.


Setelah ini, aku tak tau lagi hukuman apa yang akan kuterima. Mungkin aku akan langsung dilemparkan ke nereka. Akupun akhirnya hanya bisa tersenyum dengan lemah, tidak peduli dengan hukuman apa yang nantinya akan kuterima.


Pandangan disekitarku sudah berubah menjadi gelap. Aku hanya bisa mendengar suara-suara ditelingaku dengan samar.


Akhirnya, tubuhku ambruk diatas tubuh Kevin.


\=\=\=\=\=


TO BE CONTINUE