LUNA

LUNA
Kangen



Hari sudah hampir petang ketika mobil yang kami kendarai memasuki sebuah kawasan perumahan yang elit. Jalan yang begitu lebar dilengkapi dengan pohon-pohon yang rindang berbaris rapi.


Kawasan ini hanya memiliki jumlah rumah yang sedikit, mungkin ini adalah kompleks tempat tinggal hanya bagi para umat manusia yang memiliki kasta paling tinggi dan tentu saja mungkin hanya yang terpilih saja yang bisa tinggal disini.


Setiap rumah yang berdiri megah disini terdiri dari dua lantai dengan gaya arsitektur eropa. Tak hanya itu saja, pekarangan rumah yang luas dan dihiasi berbagai macam jenis bunga-bunga yang indah ini menambah kesan yang begitu mewah.


Mobil yang kami kendarai akhirnya berhenti di sebuah rumah yang berada di tengah-tengan kawasan perumahan ini.


Setelah menghentikan mobil, sekretaris Vano kemudian keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuk Kevin.


"Kita sudah sampai tuan..."


Dengan cekatan sekretaris Vano langsung membuka sebuah payung untuk melindungi tuan nya dari air hujan.


Ya, karena saat ini langit memang masih dengan intens menerjunkan butir-butir air ke bumi. Dan itulah yang sejak tadi selalu membuatku selalu was-was, taku akan muncul lagi sebuah petir yang akan membuatku kerepotan.


Walapun dengan perasaan was-was, tetapi aku tetap menikmati pemandangan yang ada disini.


Sebuah taman dengan rumput hijau dan bunga-bunga yang beraneka warna membuat diriku merasa kagum.


"Wah... keponakan aunty sudah semakin tampan saja..."


Tampak didepan pintu seorang manusia berjenis kelamin perempuan sudah menyambut kedatangan kami.


Walapun dirku tak begitu mengerti dengan cara manusia bergaya. Tapi sepertinya gaya manusia yang satu ini terlihat sangat tidak cocok dengan cara bepakaian maupun cara berias dirinya.


Dari ujung kepala sampai ujung kaki dia memakai segala sesuatu yang berwarna pink. Memakai sebuah rambut palsu yang berwarna kuning menyala membuat mataku sakit melihatnya.


Makeup berlebihan yang dipakai, membuatnya terlihat seperti badut.


Dan yang melengkapi keanehannya itu adalah dia sudah berumur sehingga terlihat seperti nenek-nenek yang bergaya remaja.


"Sudahlah anty Jeny, aku sangat capek hari ini..."


"Apakah nenek masih beristirahat di kamarnya...?" jawab Kevin dengan nada datarnya seperti biasa.


"Kamu ini tidak pernah berubah..."


"Sudah jarang pulang, setiap pulang kerumah selalu saja berbicara seperti itu pada auntynya"


"Padahal aunty sudah berdandan seperti ini untuk menyambutmu" jawab aunty Jeny dengan kesal.


Kevin kemudian melihat auntynya dari ujung kepala sampai keujung kaki dengan ekspresi


nanar.


"Hari ini aunty terlihat sangat cantik dengan dandan seperti ini" walapun komentarnya hanya basa-basi untuk menghibur aunty, tapi sepertinya aunty Jeny sangat senang dan menampilkan ekspresi genit yang menjijikan.


"Nak Vino yang tampan..."


"Mari masuk..." pandangan mata aunty Jeny pun langsung beralih ke sekretaris Vino.


"Kalian mau nginap disini kan?" tangannya dengan cepat langsung menggandeng lengan si sekretaris dengan manja.


"Mari sini, duduk di sofa..." aunty jeny langsung menyeret sekretaris Vino menuju ke sofa di ruang tamu.


"Ta... Tapi nyonya..."


"Saya harus mendampingi tuan..." sekretaris Vino mencoba untuk melepaskan tangan aunty Jeny dengan sopan.


"Sudah..."


"Jangan pedulikan dia...!"


"Dia bukan anak kecil yang harus kau jaga..."


"Disini saja sama aunty yang cantik ini..."


Aunty Jeny kemudian mengedipkan mata dengan nakal sambil mencubit dagu sekretaris Vino. Tampak raut waja sekretaris Vino sangat tidak nyaman, namun dia tidak berani untuk menolak maupun membantah.


"Bi... bibi..." panggil aunty Jeny.


Tak lama seorang pelayan yang dipanggil pun segera datang.


"Ia nyonya..." jawab pelayan tersebut.


"Tolong buatkan minuman yang paling enak dan juga bawakan kue untuk sekretaris tampan kita ini..."


"Baik nyonya..." pelayan itu pun langsung pamit menuju ke dapur.


"Maaf nyonya, sebaiknya saya..."


"Jangan panggil nyonya..."


"Panggil Jenny aja..."


"Panggil sayang juga boleh..."


Potong aunty Jeny dengan manja, dal hal tersebut membuat sekretaris Vino semakin tidak nyaman.


"Eh iya..."


"Malam ini nak Vino nginap di kamar tamu aja..."


"Atau kalau nak Vino mau, tiduk dikamar Jeny juga bisa kok..."


"Jeny nggak keberatan kok, malah senang..."


"Maaf nyonya, saya tidur di kamar tamu saja..." jawab sekretaris Vino dengan tegas.


*****


Meninggalkan drama yang menggelikan ini, diriku pun langsung bergegas mencari Kevin yang sudah sejak tadi meninggalkan sekretaris Vino dan aunty Jeny.


Sial...


Gara-gara keasikan menonton drama konyol tadi, aku jadi lupa dengan Kevin.


Kemana dia pergi...?


Akun pun berjalan menyusuri tangga yang ada dan menuju ke lantai dua. Rumah ini sangat besar, bagaimana aku bisa menemukannya...?


Untung saja diantara kamar-kamar yang berjejer disepanjang koridor lantai dua, ada satu kamar yang pintunya agak sedikit terbuka. Dari dalam kamar tersebut terdengar ada suara yang sedang berbicara.


Jadi ini neneknya ya...?


Aku menatap kedalam kamar melihat Kevin yang sedang duduk disamping ranjang sambil memegang tangan neneknya yang sedang terbaring lemah.


"Apakah nenek harus selalu sakit agar kamu mau pulang ke rumah...?


" Kalau begitu nenek sakit terus saja setiap hari, supaya kamu ada di rumah..."


"Bukan begitu nek..."


"Kevin hanya sibuk saja, jadi belum sempat untuk pulang ke rumah..."


Bujuk Kevin sambil memegang tangan neneknya dengan lembut.


Ternyata manusia gunung es ini masih memiliki sikap yang hangat juga rupanya.


"Oh ya... nenek dari tadi belum makan kan...?"


"Mari, biar Kevin suapin nenek ya..."


Kevin pun mengambil mangkuk bubur diatas meja yang sedari tadi belum dimakan oleh neneknya.


"Cucuku..."


"Kamu masih menyalakan nenek atas kejadian itu...?"


Pertanyaan dari neneknya membuat Kevin terdiam. Setelah temenung sejenak, Kevin kemudian mengambil nafas panjang dan menghembuskannya. Sorot matanya kemudian terlihat sedih.


Deg...


Kenapa dadaku kembali sesak...?


Ini kejadian yang kedua kalinya.


Kenapa dadaku selalu sesak setiap matanya menunjukan ekspresi kesedihan...?


"Kejadian itu sudah lama..."


"Akupun tidak pernah menyalahkan nenek atas kejadian itu..."


"Mari kita lupakan saja kejadian itu..."


Kevin pun kembali mengambil satu satu sendok bubur dan akan menyuapi neneknya lagi.


Neneknya pun segera mengankat tangannya yang lemah seraya memberi kode kalau dia sudah tidak mau makan lagi.


"Nenek sudah kenyang cucuku sayang..."


Tangannya kemudian dengan halus menyentuh pipi cucunya denga lembut.


"Cucuku, kamu pasti hidup menderita selama ini" mata sang nenek sudah maulai berkaca-kaca.


"Kalau saja dulu nenek tidak bersikap bodoh..."


"Sudahlah nek, jangan membahas itu..."


"Nanti nenek jadi tambah sakit" ucap Kevin memotong perkataan neneknya.


"Baiklah..."


"Nenek tidak akan mengungkitnya lagi..."


"Oh iya..."


"Apakah kamu sudah bertemu dengan Dave...?"


"Anak itu sangat merindukanmu..."


"Tengoklah dia dikamarnya, dia pasti akan gembira jika melihatmu pulang..."


"Baiklah nek, Kevin juga sudah kangen dengan Dave..." jawabnya.


"Ayah dimana...?"


"Dia masih ada di luar negri..."


"Mungkin dia akan pulang dalam beberapa hari lagi..." jawab nenek.


"Baiklah..."


"Nenek istirah dulu..."


"Aku akan pergi ke kamarnya Dave"


Kevin kemudian mencium kening dari neneknya dengan lembut, menarik selimut agar menutupi tubuh neneknya dan keluar secara perlahan dari kamar.


Aku mengikutinya berjalan dikoridor untuk menuju ke kamar yang ada di ujung. Dilantai bawa masih terdengar suara dari aunty Jane yang selalu bercerita dengan suara yang ribut, padahal sekretaris Vino hanya duduk disampingnya, dengan perasaan tidak nyaman tentunya.


Kita tinggalkan saja drama aneh di lantai bawah itu.


Didepan kamar, Kevin secara perlahan memutar kenop pintu agar tidak menimbulkan suara berisik.


Ternyata ini adalah kamar anak-anak.


Kevin masuk dengan perlahan menuju ke ranjang berusaha untuk tidak membangunkan yang sedang terbaring diatas ranjang tersebut.


Anak laki-laki kecil itu sedang tertidur, wajahnya sangat lucu. Kevin kemudian mengusap pipi dari anak kecil kemudian mencium keningnya.


Merasa ada yang mencium keningnya, anak itu pun perlahan membuka mata sambil mengusap matanya dari kantuk.


"Uncle Kev...!!!"


Anak tersebut langsung bangun dan memeluk sosok yang sedang duduk disampingnya.


"Little Dave..."


"Sudah bangun...?"


"Uncle minta maaf sudah mengganggu tidurmu..." sambil mengucap kepala anak itu dengan lembut.


Oh, jadi itu ponakannya ya...?


Dia terlihat sangat hangat dan lembut kalau berada di rumah. Tapi sikapnya sangat berbanding terbalik jika berada diluar rumah.


Dasar manusia aneh...!


"Unce Kev akan bobo dirumah kan malam ini...?"


"Uncle malam ini bobo sama Dave aja..."


"Dave kangen sma uncle..."


"Iya sayang..."


"Uncle akan bobo sama Dave..."


"Uncle juga kangen sama Dave..."


Sambil mencium kening anak itu dengan penuh kasih sayang...


Pemandangan ini sangat mengharukan. Meskipun aku sendiri tidak mengerti apa arti kata mengharukan ini. Karena memang sejak awal kami para malaikat tidak memiliki perasaan seperti manusia.


Anak itu kemudian kembali mengusap matanya seolah-olah ingin memperjelas pandangannya.


Matanya menatap menyisir segala sesuatu yang ada di dalam kamar ini.


Dia mengangkat jarinya yang mungil sambil menujuk sesuatu.


"Uncle Kev..."


"Siapa kakak yang cantik itu...?


" Apakah dia temannya uncle..."


*CELAKA...!!!


Jarinya menunjuk ke arahku*...!!!


\=\=\=\=\=


TO BE CONTINUE



Visual 2 : Little Dave / David Adrian Sanders