LUNA

LUNA
Siapa Kau Sebenarnya



Langit hari ini sangat cerah. Sinar mentari pagi begitu terang menyinari tempat ini menembus sela-sela gedung tanpa terhalang oleh awan.


Walaupun ini masih pagi, tetapi tempat ini sudah cukup ramai sejak tadi. Banyak manusia yang berjalan melintasi tempat ini, ada yang berjalan dengan santai maupun berjalan dengan sedikit berlari. Hiruk pikuk kendaraan yang melintas pun menambah suasana yang ada. Seperti inilah rutinitas sehari-hari dari kota ini, kota yang sangat besar.


Disinilah aku berdiri saat ini, memijakan kaki didepan apartement milik Kevin.


Kurasa sebentar lagi dia akan segera keluar.


Ya, tentu saja.


Karena saat ini si sekretaris yang bernama Vino sedang berdiri didepan pintu menunggu tuannya untuk keluar.


Tepat seperti dugaan, tak lama Kevin pun keluar dari pintu. Hari ini dia memakai setelan jas berwarna biru dongker yang dipadu dengan kemeja putih dan dasi berwarna biru laut.


Vino langsung segera membukakan pintu mobil bagi tuannya sambil menyapa terlebih dahulu.


Aku pun tak membuang-buang kesempatan yang ada. Langsung saja diriki masuk kedalam mobil tersebut melalui sisi pintu yang satunya lagi, lebih tepatnya menembus pintu.


*****


"Vino..."


"Apa saja jadwalku hari ini...?"


Kevin bertanya kepada sekretarisnya sambil membuka dan membaca dokumen-dokumen yang dipegangnya.


"Siap tuan"


"Jam 10 pagi kita ada rapat rutin seperti biasa sedangkan jam 12 siang nanti kita pertemuan dengan klien sambil makan siang".


" Bagaimana dengan klien yang membatalkan pertemuan kemarin...?"


"Apakah dia sudah mengkonfirmasi alasannya membatalkan pertemuan...?"


"Sudah tuan..."


"Beliau tadi sudah menghubungi saya"


"Apa alasannya membatalkan pertemuan...?"


"Maaf tuan..."


"Beliau mengatakan bahwa kemarin putrinya tiba-tiba masuk rumah sakit, karena itu beliau memutuskan untuk membatal pertemuan"


"Beliau juga menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya untuk tuan"


"Ya sudah..."


"Nanti ingatkan aku untuk pergi menjenguk ke rumah sakit"


"Siap tuan..."


"Oh iya... tadi juga bibi anda menelpon saya..."


"Tuan diminta untuk pulang ke rumah utama, katanya nyonya besar sedang sakit..."


"Oke..."


"Selesai jam kantor antarkan aku ke rumah utama..."


"Siap tuan..."


Tak lama kemudian, mobil yang kami tumpangi memasuki sebuah area kantor yang begitu besar.


Kantor ini memiliki area parkir yang begitu luas dan ditengah-tengah area ini berdiri sebuah bagunan besar yang begitu megah.


*****


Brakkk...!!!


Tiba-tiba saja sebuah tangan menghantam meja.


"Kalian bisa kerja atau tidak...!!!"


"Laporan apa ini...!!!"


Kevin yang sedang berdiri didepan sambil kedua tangannyanyang bertumpu diatas meja sehingga membuat tubuhnya sedikit menunduk kedepan.


"Apa saja yang kalian lakukan selama ini...!"


"Aku tidak menggaji kalian untuk bermain-main....!"


Dia menatap seluruh staf yang ada diruang rapat itu satu per satu. Tatapan matanya yang begitu dingin dan tajam dipenuhi oleh aura membunuh membuat seluruh orang yang ada diruangan itu hanya menunduk sambil ketakutan.


Suasana di ruangan tersebut sungguh sangat mencekam, tak ada seorang pun yang berani mengangkat wajah menatap sang pimpinan yang sedang marah.


"Jadi dia ternyata seperti ini ya...?"


"Spertinya tugasku kali lumayan berat..."


Aku hanya bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepala menonton adegan ini.


"Perbaiki laporan ini...!"


"Dan besok sudah harus ada di mejaku sebelum jam 9 pagi...!"


Kevin berkata-kata sambil mengangkat sebuah dokumen ditangannya dan kemudian membantingnya kembali di atas meja.


"Baik tuan..."


"Akan segera kami perbaiki..." para staf pun menjawab secara bersamaan.


"Rapat hari ini selesai..."


"Silahkan kalian kembali bekerja..."


Seluruh staf pun segera meninggalkan ruangan rapat ini sambil membungkuk untuk memberi hormat sebelum keluar.


"Lissa..."


"Tolong panggilkan Vino ke sini..."


"Dan sebentar jika ada yang mencariku, katakan bahwa aku sedang ada urusan di luar kantor..."


"Baik tuan..."


*****


Saat ini ruangan pun sudah kosong, hanya tinggal kami berdua saja yang ada disini.


Kevin hanya berdiri disamping jendela kaca. Dia sedang menatap keluar jendela dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celananya.


Akupun perlahan segera berjalan mendekatinya. Kali ini aku memusatkan seluruh energi murni di telapak tanganku.


Perlahan, tanganku yang sudah bercahaya putih dengan energi mulai bergerak menuju kearah dadanya. Dengan ini, nantinya dia akan segera berubah menjadi manusia yang lebih ramah.


"Ehh...?"


Tanganku yang sudah hampir menyentuh dadanya tiba-tiba berhenti.


Ada yang aneh...


Kenapa tiba-tiba energinya menghilang...?


Berulang kali ku coba untuk mengumpulkan energi kembali, namun semua usahaku sia-sia. Setiap kali tanganku mendekat di dadanya, semua energi tiba-tiba menghilang.


Kenapa bisa seperti ini...?


Baru kali ini kekuatanku tidak berfungsi terhadap manusia.


Ah mungkin ini hanya kebetulan saja.


Ku alihkan pandanganku menuju ke matanya. Tatapan matanya begitu sendu dan pilu, sungguh berbeda dari tatapan yang tadi dingin.


Dia ini kenapa?


Mengapa tatapan matanya selalu berubah-ubah?


Ini aneh...!


Sungguh sangat aneh...!


Akupun mulai memegang dadaku.


Dengan ragu, kembali ku coba untuk menatap matanya lagi. Kali ini seluruh konsentrasiku justru semakin buyar.


Kevin...


*Siapa kau sebenarnya...?


Kenapa tatapan mata mu yang seperti itu membuat kekuatanku tidak berfungsi...?


Kenapa tatapan mata mu yang seperti itu membuat dadaku sesak*...?


Siapa sebenarnya manusia berhati gunung es ini...?


Cklekkk...


Kami pun menoleh kearah pintu yang perlahan terbuka.


"Tuan memanggil saya...?" terlihat Vino langsung memasuki ruangan.


"Siapkan mobil..."


"Kita akan segera menuju ke restoran tempat janjian untuk bertemu dengan klien"


Dia memberikan instruksi dengan nada yang datar dan dingin. Tatapan matanya pun kembali berubah menjadi dingin.


"Baik tuan..."


*****


Sepanjang siang sampai menjelang sore tak ada kejadian menarik atau pun hal-hal aneh yang terjadi. Semua berjalan dengan normal.


Mobil yang kami tumpangi sedang melaju menuju ke rumah utama Keluarga Sanders...


Di sepanjang jalan diriku hanya terus menatap matanya. Tak ada yang aneh. Mungkin kejadian tadi siang hanya kebetulan saja.


"Tuan sepertinya akan ada badai..."


Perkataan dari sekretaris Vino tiba-tiba membuatku terkejut dari dari lamunanku.


Apa...?


Badai...?


Ini gawat...!


Bisa-bisa wujudku bakalan terlihat oleh mereka.


Ditengah kepanikanku, tiba-tiba sebuah kilat menyambar begitu dekat. Aku hanya bisa menutup mata dan telingaku karena panik.


Dan sudah seperti yang kuduga, tubuhku mulai bertransformasi ke wujud fisik.


Namun, untung saja aku bisa menguasai kepanikanku dan berkonsentrasi. Dalam sekejap, tubuhku pun langsung kembali ke wujud astral.


"Aman..." pikirku.


Tiba-tiba aku merasakan ada sebuah pandangan mata yang aneh. Langsung saja ku alihkan tatapanku ke samping.


Nampak sepasang mata yang terbelalak menatap ke arahku.


Astaga...!


Aku lupa kalau saat ini Kevin sedang duduk disampingku.


Dengan mengumpulkan keberanian, dia kemudian menjulurkan tangan kanannya sambil meraba-raba kearahku.


"Sampai kapan kamu akan mejulurkan tanganmu...?"


Diriku sudah berada dalam pose yang tidak enak untuk dilihat. Tubuhku sudah menempel di pintu untuk menghindari tangannya. Walaupun tubuhku sudah kembali dalam bentuk astral, tapi bisa saja dia dapat menyentuhku.


Sedangkan akupun masih waspada jika akan ada kilat yang menyambar lagi.


"Ada apa tuan...?" Vino yang sedang menyetir sedari tadi memperhatikan gerak-gerik tuannya.


"Tidak apa-apa..."


"Sudah. Kamu tetap fokus saja menyetir..."


Kevin kemudian menarik tangannya sambil menegakan posis duduknya kembali.


Tapi, tetap saja dengan ekspresi gelisah dan ketakutan. Sesekali dia terlihat mengintip kearahku, dan hal itu membuatku tersenyum geli.


Akhirnya...


Aku dapat bernafas dengan lega...


Vino, hari ini aku berhutang padamu...


\=\=\=\=\=


TO BE CONTINUE