LUNA

LUNA
Ternyata Jadi Manusia Juga Sulit



Ting tong...


Suara bel pun berbunyi ketika aku menekan sebuah tombol disamping pintu rumah. Aku melihat disekitarku, memperhatikan kondisi rumah ini. Rumah yang sederhana namun tampak begitu asri dan terawat. Ada sebuah taman kecil yang begitu indah disamping rumah ini.


Hmm...


Barangkali tuan rumahnya sedang keluar...


Coba sekali lagi ah...


Akupun kembali menekan tombol bell disamping pintu. Setelah ketiga kalinya aku menekan bell, akhirnya pintu rumah pun terbuka.


"Selamat siang..."


"Dengan ibu Elsa...?"


"Benar..."


"Saya sendiri..."


"Nona siapa ya...?"


Tampak seorang wanita yang saat ini sudah membukakan pintu. Usianya saat ini sudah tidak muda lagi. Tampak garis-garis kerutan di wajahnya. Namun hal tersebut tetap tidak menghilangkan kecantikan serta keanggunan yang terpancar dari wajahnya.


"Saya dari J's Bakery..."


"Saya kesini untuk mengantarkan pesanan ibu..." jawabku dengan sopan.


"Oh... iya..."


"Mari silahkan nona..."


"Luna..."


"Nama saya Luna..."


"Wah nama yang indah..."


"Sama seperti orangnya..."


"Ahhh... ibu bisa aja..."


Ya ialah...


aku kan memang gadis manis...


Hehehe...


"Mari masuk..."


"Nggak baik seorang gadis manis hanya berdiri diluar saja..." ibu Elsa pun mengajak diriku masuk kedalam.


"Silahkan duduk disini dulu ya..."


"Saya akan ke dapur untuk menyiapkan teh..."


"Nggak usah bu..."


"Aduh saya sudah ngerepotin..."


"Lagian saya sudah harus balik lagi ke toko..."


"Sebentar saja nona Luna..."


"Lagian puteri dan menantu saya saat ini sedang di kantor, sedangkan cucu saya masih di sekolah..."


Aku pun akhirnya mengiyakan permintaan dari ibu Elsa. Lagian orangnya sangat ramah dan juga baik hati.


"Sebentar ya..."


"Saya tinggal ke dapur dulu..."


Kini sedang duduk disebuah ruang tamu yang begitu nyaman. Bagian dalam rumah ini sangat bersih dan rapi. Ada beberapa perabotan dan hiasan antik yang semakin memperindah interior dari rumah ini.


Aku melihat sebuah meja yang tak jauh dari tempatku duduk. Ada beberapa bingkai foto yang terpampang di atas meja tersebut. Karena cukup penasaran akupun melangkah menuju ke meja itu.


Ini pasti anak beserta cucu dari ibu Elsa.


Pandanganku tertuju pada sebuah bingkai foto. Didalamnya ada gambar dari ibu Elsa bersama dengan putri, menantu dan cucunya.


Hmm...


Keluarga yang sangat bahagia...


Akupun mengambil sebuah album foto yang ada disudut meja tersebut. Membuka halamannya satu-persatu.


Wah...


Ini foto-foto ibu Elsa waktu masih muda.


Juga ada foto-foto dari puterinya sewaktu masih kecil.


Tanpa sadar, ada dua lembar foto yang terjatuh dari album tersebut. Kelihatannya dua lembar foto tersebut hanya diselipkan kedalam album, tidak ditempel.


Langsung saja kupungut dua lembaran-lembaran foto tersebut dari lantai.


Foto-foto ini sudah sangat tua.


Di lembar yang pertama ada gambar dari seorang wanita yang sedang berdiri disampimg seorang pria. Aku mengenali foto wanita tersebut sebagai ibu Elsa waktu masih muda. Sedangkan yang pria aku tidak tau siapa.


Di lembaran foto yang kedua, hanya gambar dari pria tersebut. Pria tersebut terlihat sangat tampan.


'Tian kekasihku...'


'Aku selalu menunggumu...'


Sebuah tulisan yang sudah mulai memudar berada dibelakang foto tersebut.


Mungkin ini foto dari mendiang suami ibu Elsa.


Aku berasumsi seperti itu karena di foto-foto keluarga ibu Elsa tidak ada seorang pria yang seumuran dengannya.


"Itu adalah foto dari mantan tunangan saya..."


Aku terkejut mendengar suara seseorang dari belakang.


"Ehhh...!"


"Maafkan saya bu..."


"Saya sudah lancang membuka album foto dari keluarga ibu..."


Ucapku sambil terus membungkukkan badan.


Memalukan...!


Salahku juga sih, terlalu 'kepo'.


"Nggak apa-apa..."


"Mari silahkan..."


"Kita minum teh dulu sambil ngobrol..."


Ibu Elsa sudah memegang sebuah baki yang berisi dua cangkir teh dan juga potongan kue tart yang tadi aku bawa dari toko.


"Sekali maafkan saya bu..."


"Saya sudah lancang..."


"Sudah nggak usah dipikirkan..."


"Silahkan diminum tehnya..." kata ibu Elsa dengan senyum ramahnya.


"Ngomong-ngomong pria yang ada di foto itu mantan tunangan ibu ya...?"


"Saya pikir itu suami ibu..."


Jiwa 'kepo' ku masih saja bergelora.


"Betul..."


"Dia adalah mantan tunangan sekaligus ayah dari puteri saya..."


"Ehhh...?"


"Jadi...?"


"Kami tidak menikah..."


Potong ibu Elsa setelah membaca isi pikiranku. Beliau kemudian terdiam sesaat, pandangan matanya terlihat seperti sedang menyimpan sebuah luka lama.


"Maaf bu..."


"Saya tak bermaksud untuk membuat ibu sedih dengan mengingat masa lalu..."


Aku pun memegang kedua tangan ibu Elsa.


Luna...


Kamu benar-benar *****...


Jiwa 'kepo' mu malah membuat seseorang jadi bersedih...


"Nggak apa-apa nak Luna..."


"Ibu malah merasa senang bisa berbagi cerita dengan orang lain..." walaupun sudah tidak muda lagi, ibu Elsa tetap saja masih terlihat cantik seperti yang ada di foto.


Ibu Elsa pun melanjutkan cerita kisah hidupnya. Berdasarkan ceritanya, laki-laki yang bernama Tian itu adalah tunangan yang meninggalkan ibu Elsa yang pada saat itu sedang mengandung. Tunangan ibu Elsa meninggalkannya untuk meraih kesuksesan. Dia ingin membuktikan kepada orang tua dari ibu Elsa yang saat itu tidak merestui hubungan mereka. Sebelum pergi, pria itu meminta ibu Elsa untuk menunggunya kembali. Setelah sukses, dia akan kembali untuk melamar ibu Elsa.


Kejam banget sih itu orang...


Sudah bertahun-tahun ibu Elsa dengan setia menunggunya.


Sampai sekarang masih belum ada kabar.


*****


Gawat...!


Karena keasikan ngobrol, aku jadi lupa waktu...!


Mana udah sore lagi...!


Saat ini aku sedang mengendarai motor matic yang sering kugunakan untuk mengantarkan pesanan kue. Aku agak memacu kecepatan motor karena terburu-buru. Sempat bebebrapa kali hampir terserempet dengan kendaraan lain, tapi aku cukup hati-hati dan tetap memperhatikan keselamatan berkendaraan.


Untung saja saat ini diriku sudah mulai mahir membawa motor.


Mudah-mudahan si boss nggak marah...


Jangan-jangan gajiku bakalan dipotong...!


Atau bisa jadi aku dipecat...!


Arrrghhh...!!!


Luna... kamu koq ***** banget sih...!


Sesampai di toko, aku langsung memarkir motor dan bergegas untuk masuk. Sempat diriku mengerling ke sebuah mobil mewah yang terparkir di depan toko, namun segera kuabaikan. Saat ini aku sedang terburu-buru.


Namun, saat hendak masuk ke dalam tokog, langkah kaki ku terhenti di depan pintu. Ada empat orang yang memakai setelan jas hitam kenghalangiku untuk masuk.


"Kalian siapa...?"


"Maaf saya sedang terburu-buru..."


Ucapku sambil berusaha untuk menerobos masuk.


"Lepaskan...!"


"Kalian mau apa...!" aku berusaha untuk melepaskan cengkraman dari orang tersebut.


"Selamat sore nona Luna..."


"Akhirnya kita bertemu lagi..."


Jantungku sesaat berhenti berdetak setelah berpaling melihat orang yang barusan bicara.


Sekretaris Vino...!


Kenapa dia bisa ada di sini...?


Vino kemudian memberikan kode untuk melepaskan cengkraman dari orang itu.


"Saya harap kali ini ada tidak berpikiran untuk mencoba kabur lagi..." terlihat seringai jahat muncul dibalik senyumannya itu.


"Mari silahkan masuk..."


"Harusnya aku yang ngomong gitu..."


"Ini kan toko tempatku bekerja..." balasku dengan nada jengkel sambil memegang gagang pintu.


"Oh... maaf kalau begitu..." jawabnya kembali dengan senyum.


"Lunaaaa....!"


"Kamu dari mana saja...?"


Nana kemudian berlari menghampiriku. Ekspresinya terlihat sangat khawatir.


"Aku habis mengantarkan pesanan..."


"Ada apa sih...?"


"Kamu dicari boss diruangannya..."


"Sekarang...!" kata-katanya sambil mengerlingkan mata ke arah sekretaris Vino yang berada dibelakangku.


"Hufff..."


"Baiklah..."


Aku sudah mengetahui masalah apa yang sedang menanti di depanku.


Dengan langkah gontai aku berjalan menuju ruangan boss. Sekretaris Vino masih mengekor dibelakang tanpa berbicara.


Saat berada di depan pintu ruangan boss, jantungku semakin berdetak tak karuan. Padahal biasanya aku selalu masuk dengan santai ke ruangan boss. Tapi kali aku sangat gugup dan agak ketakutan.


Saat memegang gagang pintu aku mengalihkan pandanganku ke arah sekretaris Vino.


"Silahkan masuk..."


"Saya akan menunggu di sini..." pintanya.


Akupun akhirnya membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam.


Deg...


Dihadapan ku kini ada dua orang yang sedang duduk sambil menatap tajam kearahku. Yang satunya sudah pasti boss Julian, sedangkan yang satunya lagi adalah wajah yang tidak ingin aku liat.


"Silahkan bergabung disini..."


Boss Julian pun akhirnya berdiri dan melangkah ke arahku. Dia memegang pundaku sambil tersenyum lalu melangkah ke arah pintu.


"Boss mau kemana...?" aku mencengkram lengannya dengan gemetar.


"Aku tidak akan mengganggu percakapan kalian..."


"Lagian pekerjaanku hari ini begitu banyak..."


Boss Julian pun tersenyum dan berniat untuk beranjak keluar.


"Boss..."


Kedua tanganku masih saja mencengram lengannya. Sambil memperlihatkan ekspresi memohon.


"Tenanglah..."


"Tidak akan terjadi hal yang aneh-aneh..."


Boss Julian yang menyadari bahwa tanganku bergetar karena ketakutan akhirnya berusaha untuk menenangkanku.


"Kamu nggak usah takut..."


"Dia tidak akan berbuat macam-macam di sini..."


"Kan ada aku, boss tampan yang akan melindungimu" entah kenapa perkataannya sedikit mengurangi rasa taku di dalam diriku.


"Kevin..."


"Tolong kamu jangan menakut-nakuti karyawanku..." kata-katanya boss Julian seolah menunjukan padaku bahwa dia akan melindungiku.


"Tenang saja bro..."


"Aku akan memeperlakukannya dengan baik..."


Terlihat ada seringai jahat dibalik senyum licik yang ditunjukan oleh Kevin.


Akupun hanya mematung kearah pintu yang sudah tertutup kembali setelah boss Julian keluar.


"Kamu masih berharap bahwa Agnes Monica akan masuk dari pintu itu untuk menyelamatkanmu...?"


"Ehh...!"


"Anu... itu...!"


Aku kehabisan kata-kata karena memikirkan ucapan bodohku waktu itu. Bisa-bisanya aku berteriak Agnes Monica agar bisa kabur...


Hahaha...


Dasar bodoh...!


Bukan saatnya untuk memikirkan hal yang tidak penting Luna...!


"Duduk...!"


Kevin pun memberi perintah sambil menujuk kursi yang diduduki oleh boss Julian tadi.


Seenaknya saja dia memerintahku. Aku kan bukan bawahannya.


"Tuan..."


"Bagaimana bisa tau kalau saya bekerja disini...?"


Setelah duduk, akupun berusaha untuk membuka percakapan diantara kami.


Dia hanya menatap mataku dengan tajam, setelah itu dia mengalihkan pandangannya ke arah dadaku.


"Jangan macam-macam...!"


"Dasar tuan mesum...!"


Akupun segera menyikangkan kedua tanganku di dada untuk menutupinya.


Saat ini aku benar-benar takut. Monster di depanku ini bisa saja melakukan hal yang aneh-aneh.


"Jangan ge-er..."


"Aku tidak tertarik dengan dada rata mu itu..."


Ucapannya terdengar sangat menghina.


"Ehhh...?"


Akupun agak merasa tersinggung dengan perkataannya. Walaupun dadaku memang tidak terlalu seksi, tapi jangan bicara terlalu jujur begitu donk.


"Kamu ini bodoh atau apa...?"


"Siapapun pas akan tau dimana kamu kerja hanya dengan melihat seragam itu..."


Oh...


Jadi begitu ya...


"Aku tidak punya banyak waktu..."


"Kemarikan ponselmu..."


Dengar ragu-ragu akupun memberikan ponselku kepadanya. Dia sedang mengetik sesuatu lalu kembali menatapku.


"Ini nomorku..."


"Jangan dihapus...!"


"Oh iya..."


"Besok jam 10 pagi kutunggu dikantorku..."


"Kita akank membahas caramu untuk ganti rugi kepadaku"


"Tapi tuan..."


Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dia kemudian langsung berdiri dan berjalan kearahku.


"Aku tak suka dibantah..."


Tak lama dia langsung menundukan wajahnya kearahku. Aroma parfum yang maskulin disertai dengan aroma mint dari nafasnya membuat jantungku berdetak tak karuan.


Aku terus menundukan kepalaku karena ketakutan. Kini wajahnya sudah berada tepat di pipiku.


"Jangan coba-coba untuk kabur..."


"Aku bisa dengan mudah untuk menghancurkan tempat kerjamu ini..."


Dia kemudian tertawa dan segera beranjak meninggalkanku.


"Jangan lupa..."


"Besok jam 10 pagi..."


Ucapnya sambil berjalan menuju pintu.


Apa-apaan orang itu...?


Seenaknya saja memaksa...


Tapi aku tidak bisa membiarkannya menghancurkan toko yang sudah susah payah dibangun oleh boss Julian...


Aku tak ingin usaha milik boss hancur gara-gara aku...


Huffff...


Aku hanya bisa melepas nafas panjang sambil terduduk lemas di kursi...


Ternyata jadi manusia juga sangat sulit...


\=\=\=\=\=


TO BE CONTINUE



Visual 6 : Nana