LUNA

LUNA
Bab 20



BAB 20


“Apa?” Pekik Ayah. “Lelucon yang bagus. Aku tertipu,” lanjut Ayah.


Ponsel Mami berdering. Dia menyambarnya. “Tidak, David, itu tidak berhasil. Tidak ada akses untuk kursi roda di sana.” Mami berdiri dan berderap menuju kamar tidur.


Sedangkan Ayah masih menentang dengan perubahan yang di alami Luna.


“Tidak.” Luna memandangnya lamat-lamat. “Ini diriku yang sebenarnya. Inilah diriku selama ini.”


Sunyi senyap. Suasana di ruangan pun berubah. Wajah Ayah berubah menjadi serius. Kaku.


Luna mengerjap beberapa kali dan mengembuskan napas. “Tolong, jangan libatkan Marie dalam hal ini. Ayah gak tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Ini tidak ada hubungannya dengan Marie.” Sambil menekan dadanya, dia melanjutkan, “Ini tentang ku, Ayah. Aku!”


Wajah Ayah kelihatan menyangkal? “Kamu ini... kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan.” Nada suaranya membuat Marie mengerut ketakutan.


Luna menelan ludahnya. “Seperti yang aku katakan tadi, aku ingin menjadi model setelah lulus. Aku tidak mau menjadi atlet. Seharusnya aku lakukan dari dulu, sampai-sampai aku tersiksa karena Ayah dan kepercayadirianku menghilang. Ayah tidak tahu kalau orang lain membuli ku? Maka jangan menyuruhku menjadi atlet yang Ayah inginkan.”


“Apa?” Pekik Ayah.


“Tidak apa-apa.” Luna menggumam. Dia mengambil donat dan mengangkatnya ke mulut. Tangannya gemetar saat ingin menggigit donat. Dia terus-menerus mengunyah. Segumpal gula lemon menempel di bibir atasnya.


Mami tak acuh dengan perdebatan kecil ini. Entahlah bisa dibilang dengan perdebatan kecil atau tidak.


Dia benar-benar pergi. Apa dia buta? Tuli?


“Mami!” seru Marie.


Luna berkata kepada Marie,”Tolong ambilkan serbetnya.”


Marie mengangkat tatakan serbet dan menyerahkannya pada Luna. Dia memaksakan senyuman tipis di wajahnya. “Thanks.”


Luna meletakkan donat dan menyeka ujung-ujung jari. Dia mendorong kursi dan menjawab dengan tenang. “Aku akan pergi sekarang. Aku ada janji dengan salon yang akan memanikur jariku.”


Marie menukas dengan cepat, “Lo mau gue temani?”


Luna menatap mata Marie. Jawabannya, tentu saja.


Marie menggenggam pinggiran meja untuk menumpu berat badannya dan berdiri, tapi Ayah membentak, “Memangnya kalian pikir kalian mau ke mana? Duduk!”


Ayah berdiri dan menyerbu mengejar Luna, yang sedang berjalan menuju lorong depan, dan mengeluarkan kunci mobil dari tasnya. Ayah menghalangi pintu depan.


“Kamu tidak akan meninggalkan rumah ini dengan pakaian seperti itu. Kamu kelihatan seperti... badut jalanan. Turun ke ruangan mu dan ganti pakaian!”


Punggung Luna tegak. “Tidak. Ini diriku yang sesungguhnya, Ayah. Aku ingin hidup seperti ini.”


“Tidak dalam rumahku! Tidak kalau aku bisa memperbaikinya.” jari-jari Ayah mengepal dan dia menarik lengannya.


Marie menjatuhkan kursinya. Berlari kencang untuk berdiri di atas mereka. Marie mendengar dirinya sendiri berteriak, “Jangan, Ayah! Jangan! Hentikan!”


Ayah mengulurkan tangan kirinya dan mendorongnya ke arah Marie. Meskipun tangannya tidak menyentuh Marie, tenaga yang dihasilkan menghantam dada Marie seperti batu bata. Marie tersengal. “Tetap di tempatmu, Marie. Ini urusanku dan Luna.”


Kepalan tangan Ayah mengencang. Keras, buku-buku jarinya memutih. Sikunya tertarik jauh ke belakang, lengannya bergetar.


Marie sungguh tidak bisa bergerak, tidak bisa berbicara. Marie hanya terpaku dalam ruang dan waktu. Marie membayangkan tamparan Ayahnya menghantam wajah Luna. Menyakitkan dan mematikan. Ayah berperawakan besar, dan kuat. Dan lebih marah ketimbang yang pernah dilihatnya selama ini.


Kepala Luna mendongak, menunggu. Nyaris menantang Ayah untuk melakukan kekerasaan. Detik terus berlalu. Rasanya seperti satu abad.


Kemudian, pelan-pelan, Ayah melepaskan kepalannya. Paru-parunya seakan tak berfungsi lagi. Luna mengulurkan tangan melewati Ayah untuk meraih pegangan pintu. “Permisi,” ujar Luna.


Tepat di telinganya, Ayah mengatakan sesuatu, “ Kalau kamu keluar dari pintu itu, tidak usah repot pulang ke sini lagi.”


“Ayah!” Suara Marie serak.


‘Kumohon, Tuhan. Ini doaku. Buatlah agar ini tidak terjadi.’ Hati Marie menjerit berdoa.


Ayah berkata lagi,”Aku serius, Luna.”


Lengan Luna merosot.setiap tulang dalam tubuhnya seolah lepas saat pundaknya menjadi lunglai. Dia berkata, “Aku sadar aku sangat mengecewakanmu, Ayah. Maafkan aku tidak bisa menjadi anak yang kau banggakan. Maafkan aku.” sambil bersedekap melindungi dirinya sendiri, dia berjalan pelan melewati ruang duduk menuju tangga lantai dasar. Kekalahan menggantung di udara seperti sisa-sisa bom nuklir yang telah diledakkan.


“Aku benci pada Ayah,” Marie berteriak pada Ayah. “Aku benci padamu,Ayah!” Marie langsung berputar, berderap menuju kamar tidur utama, tempat Mami masih berbicara di telepon.


“Tutup teleponnya,” pinta Marie.


Mata Mami melotot kepada Marie.


“Tutup. Teleponnya.” Ancaman yang terkandung dalam suara Marie bahkan mengejutkan dirinya sendiri.


“David, aku harus pergi,” celoteh Mami. “Aku akan segera menelepon balik. Kau boleh urus dan follow ke semua gedung. Oke?” Mami menutup teleponnya. Dengan mendesah lelah, dia bertanya, “Apa?”


“Apa?” ulang Marie. “Mami, Lihat. Apa Mami tidak tahu apa yang sedang terjadi di sini?”


Pandangannya terjatuh pada telepon di tangannya. “Aku tidak punya waktu untuk ini. Tidak hari ini.” dia mengangkat ponsel di telinganya.


Marie menghampiri Mami, dan merampas ponsel dari tangannya. Marie melempar ke seberang ruangan tempat ponsel itu menghantam dinding.


“Marie!”


“Mami!” Marie benar-benar berteriak di depan wajahnya. “Kenapa Mami pergi? Luna sedang dalam masanya. Mami mengerti maksudnya?” Tentu saja dia tidak mengerti. “Dia sedang memperjuangkan masa depannya. Cita-citanya. Selain dia menahan bulian dan ingin menjadi apa yang dia inginkan! Dia tidak ingin menjadi apa yang seperti Ayah inginkan!”


Mami mengerjapkan mata sekitar sepuluh menit. “Kenapa sih dia harus melakukan itu sekarang,” kata Mami. “Aku tidak bisa menghadapinya hari ini. Aku punya acara pernikahan tanpa gedung resepsi dan jasa katering yang berada di bawah penyelidikan departemen kesehatan...”


“Diam..”


Mami tercengang. “Apa kamu bilang?”


“Aku bilang, Diam, Mami. Dengarkan aku, setidaknya kali ini. Luna membutuhkanmu. Dia sangat membutuhkanmu. Kami semua membutuhkanmu,” kata Marie.


“Luna.” Mami berdecak.


Marie tidak bisa percara apa yang dilakukan Mami selanjutnya. Dia berjalan menyebrangi ruangan dan memungut ponselnya dari lantai. Dia mulai menekan-nekan beberapa nomor.


“Mami, demi Tuhan...”


Mami tahu. Marie berdiri di ambang pintu Mami, menatap punggungnya sementara dia berjalan mengelilingi kamar dengan ponselnya yang masih melekat di telinga. Selama ini dia sudah tahu.


Mengapa dia tidak menolong Luna? Mendampinginya? Mengapa Mami berlaku seperti itu? Dia bisa saja membuat hidup Luna lebih mudah. Dia bisa membersarkan Luna dengan cita-cita Luna yang ingin menjadi model. Mengapa dia tidak melakukannya?


Ayah? Ayah tentu saja dia tidak tahu keinginan terbesar Luna. Harusnya Mami memberi tahu Ayah tentang ini. Bertahun-tahun Ayah menyiksa Luna dengan memaksanya berolahraga, dan ingin menjadikannya atlet. Pengarapan yang tidak realistis. Dia membuat Luna merasa seperti anak yang gagal, dan tidak cukup baik. Luna tidak berbakat untuk menjadi atlet. Dan itu membuat Ayah menjadi ayah yang merasa tidak cukup baik.


Mami bisa saja memberi Ayah waktu untuk bisa menerima ini, menerima Luna sebagaimanan siapa dan apa dirinya bahkan cita-citanya untuk masa depan.


Kenangan lain muncul, bersamaan dengan pertanyaan. Setelah Luna mencuri pil Mami untuk bunuh diri dan Marie membuangnya ke dalam toilet, waktu itu, mengapa Mami tidak menginterogasi mereka berdua? Apakah marah besar? Bertanya ke mana semua pilnya hilang dan lenyap?”


Kecuali kalau dia memang sudah tahu.


Kecuali kalau dia sengaja tidak menyimpan pilnya. Dia punya maksud. Dia memberi akses mudah untuk Luna.


“Ini, Luna. Ambillah. Sesuatu yang bisa menolongmu tidur. Sesuatu untuk meredakan sakitmu.” Marie bisa mendenagr Mami yang berpikir seperti itu.


Pelan-pelan, dengan tubuh yang sudah mati rasa, Marie berbalik dari kamarnya. Meninggalkan Mami.


...****************...


tbc