
"Laporan keuangan yang aku minta kemarin udah selesai...?"
"Saya masih sedang menyusunnya tuan..." jawabku.
"Lambat sekali kerjamu..."
"Seperti siput saja..." ucapnya dengan wajah seperti ingin menelan orang.
"Maaf tuan..."
"Akan segera saya selesaikan..." jawabku lagi dengan hati dongkol.
Apa-apan sih...
Dia pikir aku ini robot...?
Emank gampang apa menyusun semua laporan neraca keuangan perusahaan dalam tiga tahun terakhir...?
Betisku sampai mau pecah karena bolak-balik ke divisi keuangan.
"Aku tunggu sampai jam 1 siang semua laporan keuangan sudah harus ada di mejaku..."
"Kamu nggak boleh kemana-mana sebelum laporan itu selesai...!"
"Baik tuan..."
Inikan tugas dari divi keuangan...
Kenapa harus aku sih yang ditugaskan...?
"Oh satu lagi..."
"Jangan biarkan ada seorang pun yang masuk keruangan ku..."
"Aku tak ingin diganggu hari ini..."
Dan akupun hanya membalasnya dengan anggukan.
Huhhh...
Semakin hari, aku semakin jenuh dengan suasana yang ada di sini. Setiap hari aku selalu mendapatkan perlakuan yang sama dari pria gunung es yang menyebalkan itu.
Di depan para karyawan serta kolega kerjanya dia selalu memperlakukan diriku seperti tuan puteri.
Sedangkan disaat tidak ada orang lain, dia selalu bersikap dingin, memberiku setumpuk pekerjaan yang tidak ada habisnya, plus dia selalu marah-marah yang tidak jelas.
Arggghhh...!!!
Aku rindu suasana tempat kerjaku yang lama. Walaupun hanya sebuah toko kue, tapi suasana di tempat itu begitu hangat, kami para karyawan saling bercengkrama satu sama lain, belum lagi ditambah dengan boss tampan yang sangat peduli dengan kami.
Berbanding terbalik dengan tempat ini. Diruangan yang sebesar ini hanya ada aku dan asisten Vino. Terasa seperti di rumah hantu saja. Belum lagi ditambah dengan teror dari boss yang tidak punya hati itu.
Melengkapi suasana yang menjengkelkan hari ini tiba-tiba aku direpotkan lagi dengan kedatangan wanita pengacau ini.
"Kevin ada di dalam...?"
"Aku ingin bertemu..."
"Maaf mbak..."
"Apakah anda sudah buat janji dengan tuan...?"
Tanyaku yang berusaha sesopan mungkin.
Ini kedua kalinya aku melihat wanita pengacau ini datang.
Aku tak tau dan juga tak mau tau siapa namanya.
"Aku tak perlu janjian untuk bertemu dengan tunanganku..."
Jawabnya dengan ketus sambil menuju ke ruangan boss.
Hahhh...?
Tuangan...?
Bukannya tunangan Kevin itu aku...?
Walaupun cuma pura-pura sih...
"Ehhh....!"
"Maaf mbak, anda tidak boleh masuk...!"
"Tuan Kevin tidak mengijinkan siapun untuk masuk...!"
Aku segera berlari untuk mencegah wanita itu di depan pintu CEO.
Bisa-bisa aku bakalan diomelin seharian sama Kevin jika membiarkan wanita itu masuk.
"Kamu budek ya...?"
"Aku sudah bilang kalau dia itu tuanganku..."
Sambil terus memaksa untuk menerobos masuk.
"Peduli amat...!"
"Mau tunangan kek... Alien kek..."
"Anda tetap tidak boleh masuk...!"
Jawabku jengkel sambil terus bergulat dengannya di depan pintu.
Cklek....
Akhinya pintu pun terbuka dan tentu saja Kevin melirik ke arah kami yang masih dalam posisi tidak mengenakan.
"Maaf tuan..."
"Saya sudah berusaha melarang..."
"Tapi mbak ini memaksa untuk masuk..."
Mati aku, bisa-bisa gajiku bakalan dipotong karena kejadian ini. Diriku hanya bisa meratap denga pasrah.
"Bella...?
"Untuk apa kamu datang kesini...?"
"Luna..."
"Biarkan saja dia masuk..."
Ehhh...?
Apa itu benar-benar Kevin...?
Kok dia berbicara dengan ramah kepadaku...?
"Sudah ku bilangkan..."
"Harusnya kamu sadar diri...!"
"Kamu itu hanya sekretaris sedangkan aku adalah tunangannya..."
Kata-kata wanita gila ini sungguh membuatku geram.
"Bella..."
"Jaga bicaramu..."
Bentak Kevin dari tempat duduknya.
"Luna, kamu boleh kembali ke meja mu..."
Dia berubah menjadi ramah kembali saat berbicara denganku.
"Baik tuan..."
"Saya permisi dulu..." jawabku dengan linglung.
Dia, tunangannya Kevin...?
Lalu untuk apa Kevin memintaku berpura-pura jadi tunangannya...?
Ahhh...
Cara berpikir manusia memang aneh...
Akupun kembali ke meja kerjaku. Daripada memikirkan hal yang tidak penting, lebih baik aku mencemaskan pekerjaanku yang sudah harus selesai siang ini.
*****
Setelah beberapa saat, akhirnya wanita yang bernama Bella itu pun keluar dari ruangan. Dia kemudian menatapku dengan sinis, namun aku hanya membalasnya dengan senyuman sehingga membuatnya membuang muka lalu beranjak pergi.
Dia hanya melewati asisten Vino yang baru saja sampai dengan cuek. Padahal asisten Vino berniat untuk menyapa.
Bingung dengan sikapnya Bella, asisten Vino pun menatapku untuk meminta penjelasan namun hanya kubalas dengan mengankat kedua bahuku.
Saat itu juga, Kevin segera keluar dari ruangannya.
"Hei, kamu...!"
"Pulang kantor nanti pergilah ke butik untuk membeli pakaian..."
Mungkin tadi aku hanya salah liat saja.
Buktinya sekarang dia sudah kembali lagi menjadi orang yang menjengkelkan.
"Untuk apa tuan...?"
"Tentu saja untuk melaksanakan tugasmu seperti yang ada di kontrak..."
"Sebentar malam kamu harus berpenampilan cantik, jangan bikin malu...!
"Tapi tuan..."
"Jangan membantah..."
"Apa kamu ingin melanggar perjanjian kita...?"
"Bukan itu tuan..."
"Tapi saya sudah janji untuk makan malam bersama dengan teman-teman ku..."
Padahal aku kan sudah janjian dengan Nana dan teman-teman lainnya untuk makan-makan bersama.
"Kalau cuma untuk makan..."
"Sebentar malam juga kamu akan ku traktir..."
Jawabnya dengan enteng.
"Baiklah tuan..."
Akupun hanya bisa menghela nafas panjang.
Mudah-mudahan Nana dan yang lainnya bisa mengerti.
"Nanti Vino akan mengantarkan mu ke butik dan salon..."
"Untuk laporan yang ku minta tadi kamu selesaikan saja besok..."
Setidaknya aku bisa sedikit lega karena deadline pekerjaanku diundur sehari.
*****
Sore itu aku ditemani oleh asisten Vino ke mall yang ada di pusat kota. Kami pun memasuki sebuah butik mahal yang ada di dalam mall tersebut.
"Ehhh..."
"Nak Vino..."
"Sudah lama tak ketemu..."
"Apa kabar...?" sapa dari wanita pemilik butik tersebut.
"Saya baik-baik saja mbak Mer..." jawab asisten Vino dengan sopan.
"Saya datang untuk mencari gaun malam buat nona Luna..."
"Wahh..."
"Untuk gadis secantik ini, gaun apapun pasti cocok..." pujiannya tersebut otomatis membuatku tersenyum kikuk.
"Pacarnya nak Vino ya...?" tanya wanita yersebut sambil melirik nakal ke arah asisten Vino.
"Bukan..."
"Dia tunangannya tuan Kevin..."
"Ehhh...?" pemilik butik tersebut agak sedikit kaget.
"Hmmm...."
"Tuan Kevin memang memiliki selera yang baik dalam memilih calon nya..."
Calon apaan...?
Aku hanya bisa tertawa dalam hati dengan semua sandiwara konyol ini.
"Mari sayang..."
"Saya akan memilihkan gaun yang akan membuatmu tampil sempurna malam ini"
*****
Setelah mencoba beberapa pakaian, akhirnya ibu Meri memberikanku sebuah gaun hitam yang elegan.
Sebuah gaun dengan ukuran yang cukup ketat di badan sehingga bisa memperlihatkan lekuk tubuhku. Gaun ini menutup sampai di mata kaki dengan belahan dibagian tengah.
Sedangkan atasan dari gaun ini terbuka sehingga memperlihatkan kulit dada dan punggungku yang berwarna putih.
"Wahh..."
"Anda cantik sekali nona..."
"Tuan Kevin pasti akan tepesona dengan penampilan anda..." puji dari pemilik butik tersebut.
Akupun hanya senyum-senyum sendiri sambil menatap diriku didepan kaca.
Untunglah butik ini juga memiliki salon sendiri. Kan bakalan repot kalau aku harus pindah-pindah tempat dengan penampilan yang seperti ini.
Setelah beberapa jam wajah dan rambutku diobok-obok. Akhirnya penata rias pun mempersilahkan diriku untuk menatap ke cermin.
"Mbak..."
"Ini beneran aku...?"
Aku tak percaya menatap wajahku di depan cermin sehingga membuatku hampir menangis.
"Wajah nona memang sudah cantik kok..."
"Jadi nggak perlu repot-repot untuk merias anda..." kata penata rias itu sambil tersenyum ramah.
Setelah selesai dirias, akupun segera menghampiri asisten Vino yang ada sedang duduk di ruang tunggu.
"Pak Vino..."
"Aku sudah selesai..."
Asisten Vino yang sedang memainkan hp nya pun langsung terbelalak menatap diriku.
"Ehmm..."
"Sampai kapan mau menatapku seperti itu...?"
"Awas loh kalau sampai terpsona..."
Asisten Vino pun akhinya tersadar dan bersikap salah tingkah.
Hehehe...
Sekali-selaki kan nggak apa-apa klo aku sedikit iseng...
"Mari nona..."
"Kita segera pergi ke restoran..."
"Tuan Kevin pasti sudah menunggu disana..."
Pintanya dengan gugup.
"Oke it's show time..." jawabku dengan mantap.
*****
Setelah setengah jam perjalanan, kami pun tiba disebuah restoran mewah yang bergaya eropa. Akupun langaung melangkah masuk ke dalam resoran tersebut sedangkan Vino dia hanya akan menunggu di luar saja.
Setelah masuk kedalam restoran tersebut, aku berusaha untuk mencari dimana keberadaan Kevin.
Itu dia...
Akupun akhirnya menemukan meja tempat Kevin berada.
Tumben...
Biasanya kan dia selalu memesan ruangan privat untuk makan...
Lalu, siapa wanita yang sedang bersama dengannya...?
Bukan kah itu Bella...?
Akupun menarik nafas kemudian berusaha berjalan dengan anggun menuju ke meja mereka.
Ini orang-orang pada kenapa sih...?
Dari tadi melirik kearahku terus...
Apa aki kelihatan aneh...?
Aku agak sedikit risih dengan tatapan dari orang-orang yang ada di dalam restoran tersebut. Apalagi para pria yang selalu menatapku tanpa berkedip.
Bodo ahhh...!
Cuek aja...
Akupun terus melangkah ke meja Kevin dan Bella. Sepertinya mereka tidak memperhatikan kedatanganku.
"Selamat malam..."
"Maaf saya terlambat..."
Saat ini aku sudah berdiri di tengah-tengah mereka.
Mereka pun terkejut dengan kedatanganku.
Sama seperti asisten Vino tadi, Kevin juga menatapku dengan mata terbelalak. Sedangkan Bella pun ekspresinya sama dengan Kevin.
"Ehemm..."
Akhirnya akupun bersuara untuk memecahkan suana yang canggung ini. Kan capek dari tadi berdiri terus. Mana perutku sudah lapar lagi.
Setelah sadar, Kevin pun langsung berdiri dan menggandeng tanganku.
Deggg...
Perasaan ini...
Sama seperti lalu...
Kenapa dadaku berdetup dengan kuat...?
"Luna..."
"Kenalkan ini Bella, dia adalah temanku..."
"Bella..."
"Kenalkan ini Luna, tunanganku..."
Dia menekankan pada kata tunangan...
Oh...
Jadi ini ya tujuannya...
Menggunakan diriku untuk menyingkirkan Bella...
Dasar buaya darat...!!!
"Sayang..."
"Urusanku sudah selesai di disini..."
"Ayo kita pergi..."
Kami pun meninggalkan Bella yang masih melongo di tempat duduknya...
Selah keluar dari pintu restoran akupun segera melepaskan tanganku dari gandengannya.
"Tuan..."
"Kenapa kita pergi...?"
"Bukannya kita akan makan di sini...?"
Akupun akhirnya bertanya.
"Ia..."
"Kita makan di tempat lain..." jawabnya tanpa melihat wajahku.
"Loh..."
"Bukannya ini juga restoran...?"
"Kita makan di sini saja..."
"Lagian aku sudah lapar, dari siang belum makan..." protesku.
"Udah..."
"Jangan banyak protes..."
"Kita makan di tempat lain..."
"Terserah kamu mau kita makan di mana..."
"Kamu yang pilih tempatnya..."
"Nanti aku yang traktir..."
"Beneran nih...?"
"Ia...?"
"Janji...?
"Ia janji..."
"Buruan deh...!"
"Aku juga udah laper nih..."
"Oke..."
"Ikut aku..."
Akupun menjentikkan kedua jariku dengan senyum kemenangan.
\=\=\=\=\=
TO BE CONTINUE
Visual 7 : Luna & Kevin