LUNA

LUNA
Bab 18



BAB 18


‘Kamu meninggalkannya dalam bahaya. Dan membiarkan dia bersama Hiot. Dibuli bersama orang-orang yang mengerumuni dirinya.’ Suara lain yang menggema di dalam pikiran Marie.


Marie berdiri sesaat, mengamati dirinya di depan cermin panjang. Dirinya dari atas ke bawah, dari sisi ke sisi, kedalamannya. Marie kurang dalam. Seberapa dangkalnya dia? Dipermalukan? Marie meninggalkan Luna dalam tangan Hiot. Marie meninggalkan Luna dalam bahaya. Bagaimana mungkin Marie tega melakukan itu terhadap Luna, kakaknya, sendiri? Marie melarikan diri darinya saat dia paling memnutuhkan Marie.


Selubung gelap terangkat dari mata Marie. “Kau pengecut!” kata Marie dengan suara lantang di depan cerminnya. Dia mengatai dirinya sendiri. Lutunya goyah dan terperenyak ke lantai.


Marie berkhianat dan dia memang seorang pengecut. Marie meninggalkan Luna saat dia sangat membutuhkannya. Luna percaya pada Marie. Dia memercayakan dirinya pada Marie. Dia mengandalkan hidupnya.


Orang macam apa yang melakukan itu pada orang lain? Orang yang dikasihaninya? Adik model apa dia? Marie telah berjanji pad dirinya sendiri, Marie akan selalu menjaganya. Lalu saat dia berada di titik paling rapuh, Marie membuatnya kecewa.


Betapa piciknya dirinya. Marie malu. Marie lemah. Marie menyerah pada ketakutan. Reputasi lebih penting ketimbang membela kakaknya dari serangan. Entahlah bahkan Marie tidak punya reputasi yang bisa dibanggakan di dalam lingkungan sekolah.


Hal itu menakutkan, hal yang dicoba oleh kakaknya. Penampilan yang sangat mencolok. Setiap kali Liuna keluar ke depan umum, Marie ketakutan terhadap apa yang dikatakan atau dilakukan orang. Hiot. Orang-orang seperti dia. Bagaimana kalau kekerasan itu juga menular pada Marie? Kefanatikan itu? Dan kebencian itu. Marie tidak bisa menghadapinya. Mana ada orang bisa menghadapi itu. Marie tidak punya kekuatan, karakter.


“Tidak,” kata suaranya yang lain. Lalu lebih lantang. “TIDAK! Kekuatanmu itu wajar. Siapa pun akan takut. Kau hanya manusia biasa. Jadi wajar. Ya, kau memikirkan dirimu sendiri ketimbang orang lain. Kau berlari. Tapi jika kau datang menyelamatkannya kali ini, kau akan melakukannya seumur hidup. Tidak akan ada yang berubah.”


Itu benar. Tidak akan ada yang berubah jika Marie selalu menyelamatkan Luna. Dan sesuatu harus berubah. Mereka tidak bisa begini terus. Mereka akan saling melukai.


Adegan terakhir Luna kembali mengkristal dalam pikiran-pikiran Marie. Tolong gue, Mar, pintanya dengan pancaran mata yang seolah-olah memohon.


Tidak, jawab Marie. Tidak akan.


Pada saat itu, dia menyadari aku tidak ada untuknya, dia melihat ke dalam diriku dan mengetahui kebenaran. Dia melihatku sebagai pengecut.


Dia tahu. Dia benar-benar sendirian di dunia ini. Deras air mata Marie mulai mengalir turun, kemudian mengucur deras dari kedua matanya. Air matanya tidak pernah berhenti untuk menangis. Tidak pernah.


Marie menangis untuknya. Menangis untuk dirinya sendiri. Marie menangis untuk dunia yang tidak mengizinkannya menjadi diri sendiri.


...****************...


Marie tidak ingat kapan dirinya menaiki tempat tidurnya. Menutup mata dan tertidur, tapi Luna sudah berada di sana, duduk di kasur dengan bersandar di headboard. Rambutnya terurai di wajah Marie. “Thanks,” bisikannya di telinga Marie.


Dia kejam. Marie menelan isak.


“Ada apa? Luna memanjat dan meluncur turun dari tempat tidur. Dia berlutut di lantai di sebelah Marie, wajahnya sejajar dengan Marie. “Mar?” katanya lembut.


“Maafkan gue.” Suara Marie yang keluar dari bibirnya serak. Hanya itu yang bisa dikatakan Marie. Kedengarannya sama dangkalnya dengan yang Marie rasakan. Marie begitu bingung, ia tidak bisa mengerti dan menyatukan perasaannya. Marie menyayangi kakaknya.


Tidak, Marie tidak harus. Itu pilhannya. “Gue gak bermaksud meninggalkan lo di sana dengan Hiot. Gue gak sengaja.”


“Gue tahu. Maafkan gue karena menempatkan lo di posisi seperti itu. Gue kira lo gak akan ada di sana setelah jam sekolah. Gue gak berpikir. Itu egois. Gue udah banyak berharap dari lo...”


“Gak.”


“Ya,” Luna ngotot, meremas lengan Marie. “Ya, Marie. Gue selalu di sini, menangis di pundak lo, minta pendapat lo, menghabiskan waktu bersama lo. Itu gak adil buat lo. Selama bertahun-tahun, gue gak adil sama lo.” Dia menegakkan tubuhnya. “Gue udah egois, memikirkan diri sendiri. Gue gak mempertimbangkan perasaan lo juga. Gue terlalu bersandar dipundak lo. Tergantung bergantung sama lo.”


Marie tidak ingin mendebatnya. Marie ingin berkata, gue adik lo. Lo bisa bersandar sama gue. Sudah seharusnya itu. Tapi kata-kata itu tidak mau keluar. Marie tidak bisa mengucapkannya. “Kenapa lo berdandan di sekolah?” tanya Marie. “Kenapa lo harus melakukan itu?”


Luna menurunkan pandangannya. “Lo bilang gue harus. Gue harus menguji diri gue sendiri. Untuk melihat apa bisa gue melewati ini. Gue harus tahu bahwa gue punya kepercayaan diri, kehendak untuk melakukannya setiap hari.


Luna akan melakukannya setiap hari? Marie tak pernah punya kehidupan. Dia tak mengerti. Perasaan Marie tidak berarti baginya.


Luna mengulurjan tangan dan merapikan rambut Marie yang berantakan dari wajahnya. Marie berjengit begitu dia menyentuhnya. “Maafkan gue karena sudah nyakitin lo,” katanya pelan, “atau mempermalukan lo di depan James. Gue hanya melakukan apa yang harus dilakukan. Ini masalah hidup atau mati untuk gue, Mar. Kalau gue gak melakukan ini, gue rasa gue akan mati.”


Seluruh aliran darah tersedot dari wajah Marie. Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan ini? Dia pasti bercanda.


Mata mereka bertemu dan pengertian itu mengalir di antara mereka berdua. Pemahaman sepenuhnya.


Marie paham. Akhirnya Marie mengerti. Perubahan itu harus terjadi dalam dirinya. Penerimaan, dukungan, cara memandangannya sebagai sesama wanita.


“Ada yang terluka?” tanya Marie.


Luna mengembuskan napas kesal. “Idiot itu. Gak, gue bertahan kok.” Luna meremas lengan Marie. “Itulah yang ingin gue katakan sama lo. Gue bertahan. Gue membuktikan diri gue hari ini. Gue bisa. Lo ikut andil dalam hal ini untuk gue. Lo buat gue jadi diri sendiri di atas kedua kaki gue, memberi dorongan yang gue butuhin. Lo menyuruh gue menghadapi sendirian, yang memang harus gue lakukan pada akhirnya.”


Air mata Marie menggenang lagi. Marie benci karena dia harus melakukannya sendirian. Marie benci dengan adanya perjuangan, pertempuran, perang dengan diri sendiri, dengan dirinya, dengan semua orang di dunia ini. Dan ini baru aja permulaan.


Luna berdiri dan melangkah ke cermin panjang. Dia melepas kaus sablon yang dikenakannya, lalu memeriksa pundak kiri bawah tali branya. “Bagus,” cetusnya. “Gue akan punya memar di area sini. Menurut lo, foundation bisa menutupi bekas memarnya?” dia berputar untuk memperlihatkannya pada Marie.


Bilur sebesar kepalan. Hiot meninggalkan tandanya pada Luna. Ku harap cowok itu bangga pada diri sendiri karena memukuli cewek. Luna mungkin harus bertahan lewat dengan penampilan ini, pikir Marie, tapi dia tidak sendirian di dunia ini. Marie menyibakkan selimut dan berkata, “Ambil alat rias lo. Bawa balik ke sini. Kita akan menutupinya bersama sehingga gak akan ada yang tahu.”


...****************...


tbc