LUNA

LUNA
Bab 19



Bab 19


Cermin lemari obat retak di tengah. Marie harus menjulurkan kepala untuk bisa melihat sepenuhnya sementara Marie mengepang rambut. Rambut Marie tidak sepanjang biasanya, dan dia tidak mengepang rambut ala-ala selama bertahun-tahun, dan Marie sudah lupa bagaimana menjalinnya. Tangan Luna menyelimuti tangannya. “Biar gue bantu,” katanya.


Dengan senang hati Marie menyerahkan rambut kusutnya pada Luna.


Dia tersenyum pada Marie. Dan itu terlihat di dalam cermin. Sebelah wajahnya lebih tinggi ketimbang yang lain, terbelah dua. Marie melihat ke belakangnya, dia meletakkan tasnya di dekat pintu. Gelombang panik menyerang Marie seketika.


Seolah bisa membaca pikiran Marie, Luna berkata, “Gue gak akan membuat lo mengelami itu lagi. Gue akan berdandan di sekolah. Cukup tahu kalau gue bisa. Gue gak berniat dihajar hingga babak belur setiap hari. Gue akan mengantar lo kalau lo mau.”


Rasa lega melanda seluruh tubuh Marie. Marie ingin Luna menjadi diri sendiri, tahu kalau Marie sangat mendukungnya. Marie tidak ingin menjadi egois.


Luna mengikat ujung kepangan Marie dan menambahkan, “Gue akan ke mal untuk membeli hadiah ulang tahun untuk gue. Lo mau sesuatu? Hei, lo menemukan sepatu yang sebelah.”


Marie mengikuti tatapnnya ke kakinya. “Ya, James yang menemukannya.” Marie tidak dapat menyembunyikan senyum lebarnya. Cowok itu mencucinya dan meletakkannya di dalam tasnya. Di dalam sepatu dia memasukkan kotak musik mungil yang memainkan lagu Twinkle, Twinkle little star. Manis sekali, bukan?


Luna mengangkat kedua alisnya, “Apa gue akan mendengar lonceng pernikahan?”


“Bisa diam, gak?” Marie mendorongnya keluar dari kamar mandi, menutup pintu di depan wajah Luna yang sedang menyeringai.


...****************...


Marie sedang menuju ke kafetaria untuk makan siang saat Alyson muncul di sebelahnya. “Mau gak lo kasih ini pada Luna?” Dia mengangsurkan kado pada Marie.


Apa Aly sudah dengar tentang kemarin? Berita seperti itu akan menyebar sangat cepat seperti virus dalam komputer. Marie sudah bersiap-siap menerima akibat yang sudah terjadi, tapi sejauh ini tidak ada apa-apa. Jika orang menghindari Marie, hal itu sulit dibedakan dari hari-hari biasanya.


Hadiah itu dibungkus dengan kertas kado yang unik. Marie mendongak dan menatap Alyson. Dia tidak kelihatan baik-baik.


Dia kelihatan gugup.


“Bilang padanya gue akan belikan gaun untuk pesta ulang tahunnya, kalau gue tahu lebih awal dia bisa memakai baju feminim dan berdandan seperti kemarin.” Setelah mengatakan itu, Alyson beranjak dan berjalan pergi.


“Aly,” panggil Marie.


Dia berjalan menjauh dengan cepat, sudah separuh jalan melewati bagian tengah gedung sebelum Marie berhasil mengejarnya. Marie meraih lengannya. “Gue pengen kasih tahu lo sesuatu.”


Dia berputar dan memaku dengan tatapan penuh dengan pertanyaan.


Seluruh tim pemandu sorang berhamburan di sekitar mereka, tertawa dan bercanda. Mereka menunggu sampai tim sorak berlalu. Marie merendahkan suarannya dan berkata, “Dia orang yang sama yang selama ini lo kenal. Hanya saja dia lebih bahagia dengan penampilan yang sekarang.”


Dia paham dengan perubahan yang tiba-tiba itu. Tapi satu yang tidak disukai Alyso, dia suka dengan penampilan Luna yang seperti itu. Dimatanya Luna sudah cukup baginya.


Marie berseru pada punggungnya, “Kalau lo bener-bener mencintainya, itu gak akan jadi masalah.”


Marie menunduk dan berjalan menuju kamar kecil terdekat. Kejam sekali, Marie, Marie mencela dirinya sendiri. Bagaimana perasaan lo kalau lo jadi dia? Sok suci.


Marie ingin mengejar Aly, tapi tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan padanya..


Pandangan Marie jatuh pada kotak di tangannya. Wow, entahlah apa isinya, tapi kelihatan berat. Ulang tahun Luna sabtu ini dan Marie belum membelikannya apa-apa.


Hmm. Marie akan memikirkan hadiah untuk kakaknya itu nanti.


^^^


James menelepon malam itu. Mengejutkan. Katanya dia mencoba mencari Marie sepanjang hari, dia menunggu di loker Marie sebelum dan sesudah jam sekolah dan Marie tidak pernah muncul. Gelombang rasa senang menyergapnya. Dia benar-benar menunggu Marie.


“Apa lo mengabaikan gue?” tanyanya.


“Gak. Tentu saja gak.”


Marie mengembuskan napas yang sudah dia tahan sejak tadi. “Jangan tanya deh.”


Dia tertawa. Membuat Marie juga ikut tertawa tanpa sadar. Mencairkan ketegangan yang tercipta antara dua insan itu.


“Jumat malam, Ibu mengadakan latihan makan malam dan dia ingin gue dan Alen hadir.”


Acara yang bagus.


“Marie, bagaimana dengan hari Sabtu, malam Minggu?” tanyanya. “Jam berapa gue harus jemput lo?”


Marie masih terdiam. Kepalanya masih berputar-putar seperti corosel.


“Gue kepikiran untuk pergi nonton. Mungkin kita bisa dinner dulu.” Jelasnya lagi.


“Lo harus berhati-hati kalau gue udah dekat dengan pisau,” ujar Marie.


“Gue akan mengambil risiko,” katanya dengan senyum tersirat di suaranya. “Gue gak takut sama lo.”


Dan mereka sama-sama tertawa. Menikmati obrolan absurd mereka selama dua jam. Mengobrol hal-hal konyol. Membuat lelucon, tertawa. James tidak menyinggung kasus Luna. Marie juga tidak membicarakannya. Topik ini tidak pernah muncul dalam pembicaraan mereka.


...****************...


Luna masih di kamar mandi waktu Marie mengintip keluar dari kamar tidurnya di hari Sabtu pagi. Marie bisa menyelinap ke kamarnya dan meletakkan kado ulang tahun dari Marie di tempat tidurnya.


Marie berubah pikiran tentang kado itu. Kotaknya begitu kecil, bisa saja dia mendudukinya. Sebaliknya, Marie meletakkan hadiah itu di atas peti harta karunnya bersama kartu yang Marie tunjukkan pada Luna. Dia pasti melihatnya.


“Selamat pagi,” Luna berjalan melintasi dapur. Ayah memunggunginya dan Mami masih mengoceh di telepon kesayangannya.


Luna mengambil donat isi lemon dan membawanya ke meja. Bajunya baru- rok jeans pendek dan setwer kuning. Dia mengenakan wig ikal cokelat. Sambil menempati kursi, dia mulai bernyanyi pelan, “Happy Birtday to Me.”


Luna menjumpai pandangan Marie dan mengedipkan mata. Dari wajahnya terpancar campuran emosi, kekuatan, perubahan, ketakutan.


“Selamat ulang tahun, Luna,” kata Marie sambil mengangkat jus jeruknya untuk bersulang.


“Thanks,” jawab Luna, ballik bersulang dengan susunya.


Pada saat itu Ayah pasti melihatnya karena dia memutar kepala dan tergagap, “Apa...?”


Mami pun tidak melihat penampilan anak gadisnya. Ada perubahan terhadap Luna hari ini.


Ayah berkata, “Apa? Apakah ini kamu, Luna? Kenapa penampilanmu seperti itu?”


Luna menjilat bibirnya. Bibirnya yang berwarna cranberry. Sambil menggenggam tangannya erat karena gugup, dia menjawab, “Iya, Ayah. Aku akan merubah penampilanku. Yang tadinya cupu akan seperti sekarang ini. Maafkan aku, Ayah.”


Luna menatap mata Marie lekat-lekat.


Mami hanya bergumam untuk menunjukkan reaksi terhadap perubahan Luna. Mami tidak mengambil pusing akan kejadian hari ini.


“Apa?” Pekik Ayah. “Lelucon yang bagus. Aku tertipu,” lanjut Ayah.


Ponsel Mami berdering. Dia menyambarnya. “Tidak, David, itu tidak berhasil. Tidak ada akses untuk kursi roda di sana.” Mami berdiri dan berderap menuju kamar tidur.


Sedangkan Ayah masih menentang dengan perubahan yang di alami Luna.


...****************...


tbc