LUNA

LUNA
Bab 22



Bab 22


Lampu berkedip-kedip. Luna dan Marie memutar kepala bersamaan. Suara derap langkah di anak tangga mengumumkan kehadiran orang yang Marie sangka takkan ke rumah lagi.


“Hei.” Aly berdiri di pertengahan anak tangga. Dia tampak penuh dengan tekad.


“Hai.” Luna melompat berdiri. “Hai, Aly.”


Mata Aly mengamati tubuh Luna dari atas sampai ke bawah. “Selamat ulang tahun,” katanya, suara gemetarnya menutupi kepercayaan dirinya. “Hai, Marie.” Alyson tersenyum kepada Marie.


“Hai.”


Sebelum Luna atau Marie bisa bereaksi, apa pun reaksinya yang diharapkan dari Luna dan Marie, Alyson sudah meluncur ke arah komputr dan memungut joystick. “Ada permainan yang harus kita selesaikan,” katanya. “Gue harus mencari cara untuk bisa keluar dari lembah itu.” Dia duduk di lantai sebelah kaki Luna.


Luna melebarkan mata ke arah Marie. Marie hanya mengangkat bahu. Apa harapan sedang mengalir dalam pembuluh darah Marie? Harapan ini juga mengalir dalam diri Luna. Dia tampak lebih tinggi, kulit tidak begitu pucat dan mata yang lebih terfokus.


Alyson menggenggam joystick di pangkuannya dengan kedua tangan dan menghela napas panjang. “Gue gak tahu berapa lama waktu yang gue habiskan untuk memahami keadaan ini.” Alyson bicara pada udara di tengah mereka. “Sulit banget. Ngerti, gak?”


Luna perlahan duduk di sebelah Alyson. “Gue ngerti,” jawabnya pelan. “Ambillah sebanyak waktu yang lo butuhkan, Alyson.”


Alyson mendesah gugup. “Bisa gak kita menyelesaikan permainan ini?” Dia menjejalkan joystick ke pangkuan Luna dan menyambar satu lagi untuk dirinya sendiri. “Permainan ini membuat gue mimpi buruk.”


“Lo gak mau kencan?” tanya Luna.


“Gue badmood. Kita selesaikan permainan ini lebih baik.” jawab Alyson.


Luna tak berbasa-basi lagi segera masuk ke Play mode dengan tersenyum, kemudian duduk dengan lebih nyaman di karpet. Dia membenahi rok yang dikenakannya untuk menutupi kakinya yang terlipat. Alyson berkata, “Mulai waktu kita sembilan tahun. Gue mau memainkan ulang tahun itu lagi.” Dia menoleh melihat Luna, untuk pertama kalinya, kontak mata dengan mata. “Lo pasti gak serius dengan pakaian seperti itu, kan?” katanya.


Punggung Luna menegak. “Apa? Apa yang salah dengan ini?”


“Sweter?” Alyson kembali menatap layar monitor. Dia menekan tombol dan suara jeritan kloningnya membelah udara. Kemudian Alyson menambahkan, “Gue harap lo gak mendapatkan nasehat dari Marie.”


“Hei!” protes Marie.


Alyson tidak menanggapi, tapi Marie bisa merasakan senyumnya. Hati Marie meledak dipenuhi dengan nyanyian. Marie sayang Alyson. Dia menyayanginya lebih daripada sebelumnya. Marie menyayanginya seakan dia kakak lelakinya.


...****************...


Mereka duduk di bioskop. James merangkul pundak Marie,saat pembicaraan terakhirnya dengan Luna terngiang kembali dipikirannya. Alyson akhirnya pulang setelah memenangkan permainan itu. Menurut Marie, Luna membiarkannya menang. Luna berjongkok di lantai, memasang casing pada mother board, dan Marie bertanya apa dia bisa membantunya memilihkan baju.


“Gak bisa, Mar,” jawabnya. “Gue harus menyelesaikan ini. Waktu yang tersisa gak banyak.”


Apa maksudnya dengan gak banyak waktu yang tersisa? Untuk siapa? Kenapa?


“Lo di mana, Marie?” James mengetuk pundaknya.


Marie terperanjat, “Apa?”


“Kadang-kadang lo menghilang gitu aja, lo tahu itu?” Dia berbisik di telinga Marie. Filmnya sudah dimulai. Kepan filmnya dimulai? “Ada yang salah?” tanya James. “Kelihatannya lo gak pengen berada di sini malam ini.”


Cerdas sekali. Semua yang terjadi hari ini dengan Ayah dan Mami, dan Aly membebani pikiran Marie. Meresahkannya. Marie tidak bisa mengeluarkan Luna dari kepalanya. Marie tidak akan pernah bisa. Penerimaan Alyson tidak membuatnya sesenang yang dia kira. Marie menyangka di aakan menari-nari di udara, menyanyikan lagu favoritnya. Sebaliknya dia tampak murung, tidak mau berbicara, dan menjaga jarak.


“Marie?”


Pasangan di belakang mereka memberi tanda, “Sst!” dan James menurunkan lengannya dari pundak Marie. Dia berdiri mengepit bungkus popcorn mereka dan menarik tangan Marie.


“Ayo...”


Marie tidak menolak.


Di dalam mobil, James berkata, “Lo mau membicarakannya?”


Ya, lebih dari apa pun di dunia ini, Marie ingin membicarakannya. Marie ingin memberitahukannya apa yang sedang terjadi, menyingkapkan kebenaran mengenai kakaknya, Luna. Marie ingin mengeluarkannya di sini, menghadapinya, melihat bagaimana tanggapan James.


Dalam otaknya berkata, “Bicaralah,” tapi mulutnya tidak mau bergerak. Marie tidak bisa melakukan ini. Rahasia ini sudah begitu lama bersamanya, sudah menjadi bagian dari dirinya. Kalau Marie membongkarnya, Marie akan membuka dirinya sendiri. Untuk terluka, dicemooh, dan kehilangan.


James memecahkan keheningan di antara mereka berdua. “Gue punya kakak sepupu laki-laki yang menjadi korban bulian dan menjadi model.”


“Jadi?” Marie berputar menghadapnya. Iya, Luna juga seperti itu. Dan akan menjadi model. Sampai sekarang keinginannya itu. Walaupun tak mudah baginya. Marie ingin berteriak untuk menjelaskan kondisi Luna yang mengalami pembulian itu.


“Gue hanya bilang, gue gak punya urusan dengan... yah, lo tahu.”


James tidak tahu. Bagaimana mungkin dia tahu? Marie tidak bisa memberitahunya. Marie sungguh tidak bisa merangkai kata-katanya.


Ini terlalu baru untuknya. Memercayai seseorang. Marie tidak siap. Marie ketakutan. Kalau Marie memberitahu James yang sebenarnya, dia mungkin akan kehilangan James. Padahal Marie baru saja menemukannya.


James mengamati Marie, menunggu.


Marie bertanya-tanya berapa lama dia akan menunggu, sambil mengembuskan napas panjang, Marie mengucapkan kata-kata yang berhasil diungkapkannya, “Gue... gak bisa... belum.”


“Oke,” tukasnya cepat. “Gak masalah. Santai saja.”


Memang. Dia begitu santai. Namun sekalipun mereka duduk di sini lebih lama lagi, Marie tidak akan ikut santai. “Kita bisa pergi, gak?” tanya Marie.


“Apa pun mau lo, Marie.” James menyalakan mobilnya dan mengantarnya pulang.


Saat mereka berhenti di sebelah mobil Luna, James mematikan mesin dan menoleh kepada Marie.


“Maafkan gue,” kata Marie sebelum dia bisa memarahinya. Sebelum bisa mengatakan betapa menyesalknay dia bertemu dengan Marie. Sebelum dia memutuskan bahwa Mari etidak pantas untuk ditunggu. “Maafkan gue.” Kenapa Marie minta maaf terus? Untuk dirinya sendiri, untuk Luna, unruk semua yang salah di dunia ini.


Lampu lantai bawah mati, dan itu membuat Marie ketakutan. Tidak mungkin Luna sudah tidur jam segini. James meraih tangan Marie. “Ini hanya masalah keluarga,” gumam Marie. “Bukan tentang lo.”


“Hei,” katanya. “Masalah keluarga memang bisa membuat lo capek.”


Kalimat yang meremehkan memang. Tiba-tiba Marie marah. Marie berada bersama cowok yang luar biasa, yang membuatnya merasa istimewa, dan mentraktirnya makan malam, dan mengajaknya nonton, dan ingin menghabiskan waktu bersamanya, dan yang bisa dipikirkannya hanya apa yang sedang dilakukan Luna, kakaknya, apa yang sednag dipikirkan dan dirasakannya. Harusnya Marie tidak meninggalkan kakaknya sendirian pada hari ulang tahunnya, tidak malam ini. Tidak dengan sikapnya tadi.


...****************...


tbc


kalau dirasa sulit dipahami, skip aja.


thanks.