
"Huffff...."
Aku duduk sambil menyandarkan kepalaku diatas meja. Dengan malas, kucoba untuk meraih hp ku dan membuka kunci layarnya.
"Sudah jam 12 siang..."
"Waktunya untuk istirahat..."
Namun, jangankan untuk berdiri, mengangkatkan kepala saja aku malas.
Dari pagi sampai siang, toko kami selalu kebanjiran pembeli. Belum lagi ditambah dengan pesanan-pesanan yang harus diantarkan.
Tepat hari ini, sudah sebulan aku bekerja disini. Aku mulai terbiasa dengan kehidupanku yang seperti ini.
Awalnya memang aku agak kesulitan untuk belajar.
Pernah satu waktu, aku hampir membakar seisi dapur karena kecerobohanku.
Belum lagi dengan insiden nyonya Anna, dimana aku secara tidak sengaja menumpahkan saus cokelat di bajunya yang mahal. Nyonya sinting itu membuat satu toko menjadi gempar dengan sumpah serapanya kepadaku.
Untung saja ada Nana, sahabat sekaligus room-mate ku.
Dia selalu mengajariku dengan sabar ditempat ini. Sedangkan di rumah, kami selalu menghabiskan waktu dengan bercanda bersama, shopping serta pergi spa bareng.
Kami berdua sudah seperti saudari.
Sedangkan boss Julian, dia adalah atasan yang sangat baik.
Beliau selalu memperhatikan kami para karyawannya. Boss tidak ingin kami menjadi tertekan dengan pekerjaan kami. Setiap kami berhasil melewati target penjualan, boss pasti akan memberikan bonus. Dan setiap akhir pekan, toko kami selalu tutup lebih awal karena boss akan mengajak untuk mentraktir kami sekedar nongkrong maupun karaokean.
Pokoknya boss Julian 'Is The Best'lah...
*****
"Neng..."
"Melamun aja..."
"Ntar kesambet setan loh..."
Mataku kemudian melirik kearah sahabat terbaikku Nana yang saat ini sudah duduk disampingku. Wajahnya juga tampak kelelahan.
"Lagi mikirin apa sih Lun...?"
"Mukanya manyun aja daritadi...."
"Nggak mikirn apa-apa sih..."
"Cuman capek doank..." balasku dengan malas.
"Oh kirain apa..."
"Eh iya... hampir aja lupa..."
"Apaan...?" tanya ku.
"Ntar jam 2 kamu tolong antarkan pesanan kue ya..."
"Dimana...?"
"Sands Corp..."
"Itu tuh, perusahaan yang didekat sini..."
"Kamu bisa kan...?"
"Soalnya, hari ini aku nggak bisa..." ekpresi Nana yang memelas.
Nih anak kok wajah memelas gitu sih...?
"Oke deh..."
"Nah gitu donk..."
"Oke, yuk kita makan dulu di cafe depan..."
"Ntar ahhh..."
"Masih males..."
"Udah jangan males..."
"Yuk ahhh..."
"Udah laperr nih..."
"Oke, nggak usah maksa gitu kali..."
Aku nggak pernah bisa menang kalau berdebat dengannya.
Kami pun akhirnya pergi makan siang di cafe depan.
*****
"Mati aku..."
"Inikan kantornya Kevin..."
Mataku bergantian menatap resi yang kupegang dan kantor megah dihadapanku.
Salahku sendiri juga sih.
Kenapa juga aku nggak nanya dulu ke Nana kalo yang mesan siapa.
"Maaf ibu..."
"Cari siapa ya...?"
Seorang satpam yang berjaga di pos kini datang menghampiriku.
"Ini pak..."
"Saya mau antar pesanan kue atas nama pak Hendra..."
"Oh pak Hendra ya..."
"Silahkan ibu masuk aja kedalam..."
"Nanti bisa langsung nanya sama resepsionis..." jawabnya dengan sopan.
"Makasih pak..."
"Boleh sekalian titip motor saya pak" jawabku sekalian melirik motor matic milik toko kami yang biasa digunakan sebagai kendaraan operasional.
"Iya nggak apa-apa bu..."
*****
Walaupun ini bukan yang pertama kalinya aku kesini.
Tapi sumpah...!
Aku deg-degan...!
Bisa bahaya kalo sampe ketemu sama si Kevin atau Vino.
Bisa-bisa aku bakalan digantung atau direbus hidup-hidup.
Arrrggghhh...!
Dasar sial...!
Yah udalah...
Toh ini kan kantor yang besar.
Orang-orang yang ada di sini kan nggak mungkin hanya mereka berdua.
Aku harus menguatkan batinku.
Luna...
Kamu harus semangat...!
"Selamat siang..."
"Ada yang bisa saya bantu...?"
Tanya resepsionis yang aku samperin.
"Permisi mbak..."
"Saya mau antar pesanan untuk pak Hendra..."
"Pak Hendra nya ada...?
"Bentar ya bu, saya cek dulu..." jawabnya sambil mengangkat gagang telpon.
"Silahkan ibu naik lift yang ada sebelah situ dan naik ke lantai empat..."
"Ruangan pak Hendra tepat di depan lift"
"Makasih ya mbak..." jawabku.
"Sama-sama ibu..."
*****
Di depan lift langsung aja kupencet tombol call, berhubung liftnya lagi berada di lantai atas, jadi agak lama nungguinnya.
Untung aja aku udah mulai belajar mengenai teknologi manusia. Jadi nggak gaptek-gaptek amat.
"Tunggu...!"
Ehh copot...!!!
Siapa sih yang teriak-teriak...?
Langsung saja aku melirik ke sumber suara yang membuat keributan.
Mati aku....!!!
Sekretaris Vino...!!!
Dengan gugup ku pencet tombol call nya berulang-ulang. Untung saja pintunya terbuka disaat yang tepat. Langsung saja aku berhamburan masuk kedalam lift. Tanpa jeda, langsung ku pencet tombol close dan tombol angka empat. Untung di dalam lift nggak ada orang.
Pintu lift pun terbuka di lantai empat. Aku pun melangkah menuju ke pintu di depan lift. Karena punya terbuka, jadi aku langsung masuk saja. Ruangan ini lumayan besar, ada sekitar sepuluh orang di dalamnya.
"Maaf mbak..."
"Saya mau mengantar pesanan milik pak Hendra..."
Aku pun bertanya pada seorang wanita yang mejanya paling dekat dengan pintu.
"Pak Hendra sedang keluar bu..."
"Tapi tadi dia sudah bilang kalau ada yang datang anterin kue, titip sama saya aja..." jawabnya.
"Oke..."
"Ini pesanannya mbak..."
Sambil memberi bungkusan pesanan dan juga lembar resinya.
Karena pembayarannya juga sudah melalui aplikasi, jadi aku nggak perlu untuk menerima uang tunai dari pembeli.
Oke selesai....!
Saatnya untuk segera keluar dari kantor ini...
Bisa bahaya kalo sampe ketemu sama sekretaris sinting itu....
Di depan lift aku tidak memencet tombol call, karena sudah ada beberapa karyawan yang juga sedang menunggu untuk dapat masuk ke dalam.
Deg...!
Dadaku tiba-tiba sesak saat pintu lift terbuka.
Ada seseorang di dalamnya. Matanya menatapku dengan tajam membuatku mengambil langkah mundur. Ku urungkan niatku untuk masuk kedalam, walapun sebenarnya lift itu masih muat untuk satu orang lagi.
Kevin...?
Kenapa dia ada disini...?
Aku masih diam mematung saat pintu lift tertutup. Kali ini aku lolos, mungkin juga dia nggak kenal aku.
Tiba-tiba pintu lift terbuka kembali dan semua orang yang tadi masuk langsung buru-buru keluar dengan takut.
Semuanya, kecuali orang itu.
"Masuk..." kata-katanya yang tajam langsung mengintimidasiku.
Kakiku melangkah dengan lemas kedalam lift itu. Langsung saja kutekan tombol call dan kemudian menekan lagi tombol G untuk ke lantai dasar.
Saat ini aku hanya berdiri membelakanginya, tak berani menoleh. Terasa seperti ada hawa jahat yang mencoba untuk menyerangku dari belakang.
Gila...!!!
Bisa mati lemas aku disini...!
Tapi.
Dia kok hanya diam saja ya...?
Apa mungkin dia memang nggak mengenaliku...?
Toh dia hanya melihatku sekejap saja waktu itu.
Ya sudah...
Aku aja yang terlalu parno...
Pintu lift pun terbuka.
Akhinya aku bisa bebas.
Saat akan melangkah keluar, tiba-tiba lenganku dicengkram dari belakang. Dia menarikku mundur dan dengan cepat langsung menekan tombol close lalu tombol angka sembilan.
"Tu... tuan..."
"Anda mau apa...?"
Jantungku mau copot rasanya.
Saat ini aku sudah berbalik menghadapnya, namun aku tetap menundukan kepala karena takut.
Tangannya yang kekar kemudian mencengkram daguku dan membuat wajahku terangkat menghadapnya. Mataku masih tertutup, takut untuk melihatnya.
"Kita punya urusan yang belum selesai..."
Kemudian dia melepaskan cengkramannya di daguku dengan kasar.
"U... urusan apa tuan...?" tanyaku dengan gugup.
"Kamu sudah membuatku celaka..."
"Aku harus bikin perhitungan sama kamu..."
Jawabnya dengan dingin.
"Tapi saya nggak punya salah apa-apa sama tuan..."
"Kamu masih mau mengelak...?"
"Kamu sudah membuatku kecelakaan dan masuk rumah sakit..."
Hehh...?
Bukannya dia sudah kusembuhkan waktu itu...?
"Tapi tuan..."
"Aku hanya orang miskin..."
"Orang kampung..."
"Aku tak punya apa-apa untuk mengganti kerugian tuan..."
Aduh...
Sejak kapan aku jadi pinter bohong...?
Bodo ahh...!
Yang penting bisa selamat...
"Sudah...!"
"Jangan banyak omong...!"
"Aku akan menuntut kerugian darimu..."
Liftpun terbuka, dan dia menyeretku keluar.
"Nggak mau...!"
"Lepasin...!"
Aku meronta-meronta sambil mencengkram pintu lift.
Akhirnya dengan kesal dia berbalik menatapku lalu melepaskan tanganku dari pintu lift dengan paksa.
"Aku akan semakin memberatkan tuntutanku padamu, jika kau terus melawan nona..."
Seringai jahatnya membuatku semakin ciut.
"Ahh...!!!"
"Agnes Monica...!!!"
Aku berteriak sambil menunjuk ke arah belakang.
Dia kemudian memalingkan kepalanya ke arah yang ku tunjuk. Terasa cengkramannya di tanganku sudah mulai longgar.
Kesempatan...!
Langsung saja aku lepaskan cengkraman tangannya dan mendorong tubuhnya hingga menjauh. Tampaknya dia masih sedikit terkejut. Tak menyia-nyiakan kesemoatan untuk kabur, aku langsung mengambil langkah seribu menuju pintu lift yang belum tertutup.
Hufff...
Aman...
Akhirnya aku bisa lolos dari kandang macan.
"Sialan...!!!"
Teriakannya masih terdengar dari luar.
Bodo amat...!
Yang penting aku bisa keluar dari tempat ini.
Pintu lift akhirnya terbuka.
Langsung saja aku berlarian keluar, karena saat ini diriku masih belum aman.
Setelah lolos dari kandang macan, masih ada lagi kandang buaya yang perlu aku khawatirkan. Siapa lagi kalau bukan sekretaris Vino.
*****
Saat ini aku sudah berada diluar kantor. Berlarian kecil menuju ke motorku dan tanpa aba-aba langsung tancap gas.
Di jalan pulang, sesekali aku melirik ke arah kaca spion, siapa tau aja dia mengikutiku dari belakang.
Akhirnya benar-benar bisa bernafas dengan lega setelah sampai di depan toko. Motor ku parkir di depan dan langsung bergegas masuk ke dalam.
Setelah menutup pintu, aku mengintip dengan was-was dari kaca untuk memastikan tidak ada yang mengikutiku.
"Woyyy...!"
"Ngapain kamu cengar-cengir di depan pintu...?"
"Ehhh..."
"Pak boss..."
"Itu..."
"Anu..."
"Hehehe..."
Sialan...!
\=\=\=\=\=
TO BE CONTINUE
Visual 5 : Luna / Castiel