LUNA

LUNA
Kita Bertemu Juga



Matahari kini sudah berada tepat diatas kepalaku.


Aku duduk disebuah bangku taman sambil terus mengamati setiap manusia yang lewat, berharap menemukan sesuatu.


Sudah hampir seharian aku berusaha untuk mencari petunjuk dimana letak keberadaan manusia yang bernama Kevin ini.


Namun, sampai saat ini aku belum memiliki perkembangan apapun.


"Aromanya wangi sekali"


Suara tersebut tiba-tiba membuyarkan lamunanku.


Aku melirik kesebelah kanan, tepat dibangku seberang aku melihat pengemis buta itu yang sudah duduk disitu sedari pagi.


Karena merasa penasaran, akupun berdiri dari tempatku dan mulai melangkah untuk mendekati pengemis itu.


"Semakin lama aroma ini semakin kuat"


"Aroma ini berbeda dari bunga-bunga yang ada ditaman ini"


Sontak hak tersebut membuat langkahku terhenti.


Pengemis itu kemudian memalingkan wajahnya kearahku.


Apakah dia bisa melihatku? Jangan-jangan dia sebenarnya tidak buta? aku mengucapkan pertanyaan ini dalam pikiranku sabil mengambil beberapa langkah mundur.


Pengemis itu mulai memajukan badannya kearahku sambil tangannya terus meraba berusaha untuk menggapai sesuatu.


Bahaya!


Aku harus segera pergi dari sini!


*****


Dari seberang jalan aku terus memperhatikan pengemis itu. Dia sepertinya masih kebingungan.


Apakah dia dapat merasakan keberadaanku?


Di dunia ini memang ada beberapa manusia yang terlahir dengan kemampuan khusus. Mereka bisa merasakan keberadaan alam lain disekitar mereka, adapula yang dapat berinteraksi.


Pengemis itu kemudian perhalahan-lahan berdiri dari tempat dia duduk kemudian mengambil tongkatnya dan berjalan perlahan meninggalkan tempat itu.


Bodo ahh...!


Bukan urusanku...!


Lagian aku masih punya tugas yang sedang menanti, tak ada waktu untuk memikirkan hal yang lain.


*****


Aku kembali berjalan mengintari tempat ini untuk melanjutkan pencarianku.


Tempat ini sangat ramai, banyak manusia yang berlalu-lalang disini.


Untungnya, dengan wujud ini aku dapat berjalan dengan bebas menembus kerumunan manusia tanpa terhalang sedikitpun.


Mereka hanya berjalan tembus melewati tubuhku tanpa bisa menyentuhku.


Disebuah perempatan, aku berhenti sejenak untuk melihat dua pengamen yang sedang bernyanyi sambil meminta uang receh dari para manusia yang lewat.


Jujur, suara para pengamen itu sangat tidak enak untuk didengar.


Tapi entah kenapa, aku terus mendengarkan lagu-lagu yang dilantunkan oleh mereka.


*****


Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu.


Walaupun hanya sesaat, tetapi aku bisa merasakan keberadaan manusia itu.


Perkamen yang kupegang pun tiba-tiba memendarkan cahaya keemasan.


Aku berjalan kesana-kemari mencari dimana manusia itu.


Kuperhatikan setiap manusia yang ada disekitar sini, tak lupa juga aku memeriksa semua kendaraan yang lewat untuk memastikan bahwa targetku berada di dalam salah satunya.


Nihil...


Sepertinya aku gagal lagi.


Diriku duduk dengan lemas dipinggir trotoar sambil mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin.


Gulungan perkamen yang ku pegang pun sudah tidak memendarkan cahaya lagi.


Mungkin hari ini lagi sial saja.


*****


Tepat didepan mataku, sebuah gedung berlantai tiga yang lumayan besar berdiri.


Gedung itu adalah sebuah rumah sakit khusus ibu bersalin.


Diriku melangkah masuk kedalam rumah sakit tersebut.


Didalam ruangan lobi terlihat beberapa manusia yang sepertinya sedang sibuk.


Dibangku tunggu, ada beberapa wanita berperut buncit yang sedang duduk.


Aku menjadi penasaran dengan benda apa yang ada didalam perut mereka.


"Didalam perut mereka ada bayi yang akan segera lahir...."


"Bukan batu meteor..."


"Berhentilah mengendus seperti itu didepan perut mereka"


"Jangan membuat pemandangan yang aneh untuk dilihat"


Aku menoleh kearah suara yang sudah tidak asing bagiku...


"Lailah..."


"Aku butuh bantuanmu"


Tanpa basa-basi aku langsung meminta pertolongannya.


Malaikat Lailah adalah malaikat yang bertugas sebagai 'Pemberi Kehidupan Bagi Janin".


Singkat kata, dia adalah malaikat yang membantu manusia untuk memiliki keturunan.


"Belum juga menyapa, langsung saja seenaknya meminta bantuan"


"Castiel... kamu memang belum berubah sedikitpun"


Balasnya dengan senyum.


*****


Kami berjalan menyusuri sebuah koridor di rumah sakit ini.


Aku menemani Lailah yang sedang berpatroli untuk membantu para ibu hamil agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Didepan kami melihat seorang wanita sedang duduk sambil memegang perutnya.


Tampak jelas ekspresi diwajahnya seperti sedang menahan rasa sakit.


Dengan cepat Lailah langsung menghampiri wanita itu.


Dia kemudian meletakan tangannya diatas perut wanita.


Tangannya memancarkan sebuah cahaya.


"Anak baik..."


"Jangan banya bergerak..."


"Ibumu sedang kesakitan..."


Tak menunggu waktu yang lama, wanita tersebut pun menjadi tenang kembali, ekspresi kesakitan sudah menghilang dari wajahnya.


"Kamu memang sangat ahli dalam melaksanakan tugasmu" pujiku.


"Janin itu pasti akan tumbuh menjadi pria yang tangguh nantinya" Komentar Lailah pada pada janin yang ditolongnya tadi.


"Bagaimana kau bisa tau kalau janin itu berkelamin laki-laki?" tanyaku penasaran.


"Anak laki-laki biasanya lebih aktif didalam kandungan"


"Mereka akan banyak bergerak didalam perut, sehingga hal tersebut menimbukan rasa nyeri bagi sang ibu"


Kata Lailah dengan ekspresinya yang tetap tenang dan anggun.


"Oh iya"


"Kau tadi ingin meminta bantuanku kan?"


"Apa yang kau perlukan?"


Tanya Lailah tiba-tiba.


Akupun tak menyia-nyiakan kesempatan ini.


Aku membuka gulungan perkamen yang selalu kubawa dan menunjukannya kepada Lailah.


"Manusia ini adalah tugasku selanjutnya"


"Bisakah dirimu membantuku untuk melacak keberadaannya?" tanyaku tanpa basa-basi.


"Kevin Reinhard Sanders" gumamnya singkat.


"Wah... bayi mungil ini ternyata sudah tumbuh menjadi seorang pria yang gagah dan tampan"


"Rasanya, baru kemarin aku mendengar tangisan pertamanya sewaktu dia lahir"


Komentar Lailah yang seperti sedang bernostalgia.


"Kamu kenal dia kan...?"


"Dimana dia sekarang...?"


"Kamu pasti bisa merasakan keberadaannya..."


"Tolong bantu aku..."


Sekarang aku malah terlihat sedikit merengek seperti anak kecil.


"Satu-satu ngomongnya"


"Ya..."


"Aku kenal dengan pria ini..."


"Dahulu aku yang membantunya pada saat lahir ke dunia ini" jawab Lailah seraya mencoba menenangkanku.


"Hmmm..."


"Dia tidak berada terlalu jauh dari tempat ini"


"Dimana dia sekarang?" tanyaku dengan tidak sabar.


"Pergilah berjalan kearah timur"


"Aku merasakan keberadaannya disana, tidak jauh dari tempat ini"


"Jika sudah berada dekat denganya, kau pasti akan segera tau"


*****


Aku terus berjalan kearah timur sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh Lailah tadi.


Disepanjang jalan, aku selalu memperhatikan semua manusia yang sedang berjalan kaki, menaiki kendaraan maupun gedung-gedung yang ada disekitar.


Mungkin targetku ini bisa saja berada dekat denganku, mungkin saja dia bisa menjadi salah satu diantara mereka.


Tepat seperti dugaan.


Walaupun hanya sepintas, aku kembali merasakan kehadirannya.


Kali ini tak akan kulepaskan.


Aku harus mengejarnya.


*****


Aku tiba didepan sebuah restoran yang kelihatan mewah.


Aku merasakan aura yang kuat dari manusia itu.


Perkamenku pun dari tadi berpendar memancarkan cahaya yang semakin kuat.


Pada saat itu juga aku putuskan untuk masuk kedalam restoran tersebut.


Diriku menembus sebuah dinding yang terbuat dari kaca.


Toh aku juga bukan manusia, jadi terserah aku mau masuk dengan cara apa.


Lagi pula mereka juga tak bisa melihatku.


Ada begitu banyak manusia didalam restoran ini.


Kelihatannya mereka semua berasal dari kasta bangsawan.


Terus dimana targetku itu?


Aku menyusuri setiap lorong dan ruangan di dalam restoran ini, memastikan tak ada satupun yang terlewatkan.


"Sudah begitu dekat, tapi tetap saja tak ketemu" keluhku dalam hati.


Dengan lesu aku duduk disebuah kursi didepan sebuah pintu bertuliskan VVIP.


Kemudian ada seorang pria yang kemudian keluar dari toilet dan bergegas membuka pintu didepannya untuk masuk.


Aku acuhkan saja orang itu.


Toh aku sudah memeriksa ruangan itu sebanyak dua kali.


Sungguh merupakan hal yang sangat melelahkan untuk berkali-kali memeriksa semua manusia yang ada disini.


Ditambah lagi tak satupun dari mereka yang mirip dengan foto yang ada didalam perkamen ini.


*****


"Tuan Kevin"


"Anda sudah kembali dari toilet?


"Silahkan duduk disini, saya akan segera memanggil pelayan"


Suara tersebut sontak membuatku kaget.


Tanpa berpikir panjang, aku segera berdiri dan masuk kedalam ruangan tersebut menembus dinding yang ada.


KEVIN REINHARD SANDERS...


*AKHIRNYA...


KITA BERTEMU JUGA...


\=\=\=\=\=


TO BE CONTINUE*