
Seberkas cahaya putih begitu menyilaukan ketika aku membuka mata secara perlahan. Karena belum terbiasa dengan cahya tersebut, akhirnya kugunakan tanganku untuk menghalaunya.
"Aku ada dimana...?"
"Apa yang terjadi dengan diriku...?"
Sambil terus memaksakan hingga mataku bisa terbuka dengan sempurna.
Setelah kesadaranku benar-benar pulih, aku berusaha membangunkan tubuhku hingga berada dalam posisi duduk.
"Awww..."
"Benda apa ini...?"
Mataku melirik sebuah jarum yang menancap di pergelangan tangan kiriku. Pantas saja dari tadi tanganku terasa ngilu. Aku pun berusaha untuk melepaskan jarum yang menacap di pergelangan tangan kiriku. Rasa sakitnya sungguh tak bisa dibayangkan.
Perlahan, kucoba untuk memandang semua yang ada disekitarku. Ada begitu banyak ranjang yang tersusun begitu rapi dan dipisahkan oleh sekat-sekat.
Akupun mulai berjalan meninggalkan ranjangku. Begitu banyak manusia yang berlalu-lalang disini. Sebagian dari mereka menggunakan pakaian serba putih.
Setelah mengintari sebagian sisi dari ruangan ini, langkah kakiku tiba-tiba terhenti di depan sebuah cermin. Sontak hal tersebut membuat diriku menjadi sangat panik.
Aku menatap lekat cermin tersebut hingga pantulan wajahku terlihat begitu jelas.
"Sayapku...!"
"Mana sayapku...?"
Melalui pantulan cermin aku tak melihat ada sepasang sayap yang menempel di pundakku.
Kucoba untuk mengalihkan pandangan ke arah pundak untuk memastikan bahwa cermin itu salah. Dan sekali lagi sebuah kenyataan pahit yang harus kuterima, sayapku sudah menghilang.
Dengan pasrah akhirnya kuangkat pegelangan kiriku untuk memastikan sebuah hal yang sudah sangat kuketahui akan terjadi.
"Bagaimana ini...?"
Hanya itu kata-kata yang berhasil terucap dari bibirku setelah melihat garis di pergelangan tanganku yang hanya tersisa tinggal satu saja.
Semua perasaan takut, frustasi dan kebingungan bercampur menjadi satu dibenakku.
Tunggu dulu...!
Sejak kapan aku bisa merasakan perasaan seperti ini...?
Bukankah itu hanyalah perasaan yang dimiliki oleh manusia...?
Apakah diriku sudah sepenuhnya menjadi manusia...?
"Nona..."
"Kenapa anda berdiri disini...?"
"Anda harus kembali beristirahat hingga kondisi ada pulih kembali..."
Tiba-tiba ada suara yang membuatku kaget.
Aku menatap perawat tersebut dengan penuh selidik sambil menghindari tangannya yang berusaha untuk menyentuhku.
"Anda bisa melihatku...?" tanyaku.
"Sepertinya kepala anda sedikit terbentur akibat kecelakaan itu..."
Jawab perawat tersebut dengan senyum.
"Mari... Saya antarkan anda kembali ke tempat tidur..."
Perawat itu akhirnya menuntunku berjalan kembali ke arah ranjangku semula.
Saat berjalan kembali ke ranjang, mataku tiba-tiba menangkap beberapa manusia yang sedang berdiri berkerumun di salah satu ranjang yang tidak terlalu jauh dari posisiku.
Aku sangat mengenali mereka. Mereka adalah keluarga dari Kevin. Ada nenek, aunty Jeny dan juga sekretaris Vino. Selain itu ada juga seorang pria yang menuruktu berusia hampir sama dengan aunty Jeny. Mungkin dia adalah ayahnya Kevin.
"Saya bisa melakukannya sendiri..."
Akupun berkata kepada perawat tadi yang saat ini sedang memapahku.
"Baiklah nona..."
"Jika anda butuh sesuatu, silahkan memanggil kami..."
Kata perawat tersebut dengan senyum lalu berjalan meninggalkanku.
Akupun kembali mengarahkan perhatianku ke keluarganya Kevin.
Kenapa mereka ada disini...?
Siapakah yang sedang terbaring di ranjang itu...?
Jangan-jangan itu Kevin. Mungkin dia juga dibawa ketempat ini. Mudah-mudahan kondisinya baik-baik saja. Aku kan sudah menyembuhkan semua luka-luka ditubuhnya waktu kecelakaan.
Tanpa kusadari ada sepasang mata yang cukup lama memperhatikanku dari kejauhan.
Selama beberapa saat kami saling bertatap mata. Aku pun perlahan mengambil langkah mundur.
Gawat...!
Itu sekretaris Vino...!
Dia melihatku...!
Tatapan sekretaris itu membuat nyaliku menjadi ciut. Dan lebih parahnya lagi dia sedang berjalan kearahku.
Dengan refleks, kubalikan tubuhku lalu mulai mengambil langkah cepat dan kemudian sedikit berlari kearah pintu di ujung ruangan ini.
Tak sengaja aku menabrak salah satu perawat yang sedang membawa baki. Hal tersebut otomatis menimbulkan keributan di ruangan sehingga hampir semua mata tertuju kepadaku.
"Pasien dilarang untuk berlarian diruangan ini..."
Perawat yang ku tabrak tadi berusaha untuk berdiri sambil merapikan obat-obatan yang sudah berserakan dilantai.
Rasanya ingin kubantu perawat itu. Namun ini bukan saatnya untuk mengkhawatirkan hal lain.
Aku harus menghindar dari tempat ini...!
Aku harus menyelamatkan diriku...!
Tatapan mata dari sekertaris Vino yang tadi kemudian kembali mengisi otakku. Hal tersebut membuatku sangat ketakutan.
Brakkk...!
Tubuhku menabrak sebuah pintu. Dengan tangan kiri yang masih mengusap keningku yang sakit aku kemudian membuka gagang pintu dengan cepat dan berlali meninggalkan ruangan tersebut.
Kenapa tadi aku tak bisa menembus pintu itu ya...?
Apakah karena kondisi ku sedang lemah...?
Kepanikan ku semakin bertambah. Karena saat ini sekretaris Vino masih mengejar di belakangku. Dia berteriak dengan sangat keras untuk menyuruhku berhenti.
"Enak saja menyuruhku berhenti..."
"Aku masih belum mau mati..."
Gumamku sambil terus berusaha memacu kecepatan lariku.
Kami terus melakukan kegiatan kejar-kejaran di sepanjang koridor rumah sakit. Tak peduli dengan keributan yang sudah kami timbulkan.
Akhirnya langkahku berhenti pada sebuah pintu di ujung koridor. Nafasku sudah tersengal-sengal. Dengan cepat tanganku meraih gagang pintu tersebut untuk membukanya.
Celaka...!
Pintunya tak bisa dibuka...!
"Anda sudah tak bisa lari kemana lagi nona..."
"Diam disitu dan jangan berusa untuk melawan...!"
Akupun membalikan tubuhku dan menatap sekretaris Vino yang saat ini sudah berjalan kearahku sambil menyeringai jahat. Tubuhku bergetar saking ketakutan.
"Jangan mencoba untuk kabur..."
"Karena itu perbuatan yang sia-sia..."
Aku semakin dibuat ketakutan dengan ekspresi wajahnya.
Bagaimana ini...?
Apa yang harus kulakukan...?
Kumohon...
Kali ini saja...
Kembalikan kekuatanku...
*****
Aku menyandarkan tubuhku di sebuah bangku yang ada di taman Rumah Sakit sambil kembali mengatur nafasku yang sudah tersengal-sengal.
Untung saja kekuatanku kembali muncul disaat yang tepat. Tak bisa kubayangkan jika saat itu aku tertangkap oleh sekretaris Vino.
Aku kembali mengingat kejadian di koridor tadi. Tepat disaat sekretaris Vino hampir meraih tubuhku, kekuatanku tiba-tiba muncul kembali sehingga aku bisa menembus pintu yang ada dibelakangku.
"Saat ini dia pasti sangat kaget..."
"Atau mungkin sedang ketakutan..."
Aku tersenyum sambil membayangkan bagaimana reaksinya saat melihat diriku tiba-tiba menembus pintu dan menghilang.
Masih belum aman...
Aku harus segera meninggalkan Rumah Sakit ini...
Sekretaris Vino bisa saja muncul tiba-tiba di depanku untuk menangkap diriku.
Setelah merasa bahwa nafasku mulai kembali normal. Aku segera berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Sekarang aku mau kemana...?
Setelah keluar dari Rumah Sakit, saat ini aku hanya berjalan sambil termenung dipinggir jalan raya. Cuaca sudah kembali cerah, matahari kembali bersinar. Walaupun tak tau sekarang jam berapa, tapi sepertinya sekarang masih pagi menjelang siang.
Akupun terus berjalan tanpa arah. Mungkin sudah menghabiskan waktu hingga berjam-jam. Namun aku tak begitu perduli, karena saat ini isi kepalaku hanya memikirkan rentetan kejadian mengejutkan yang sudah kualami akhir-akhir ini.
*****
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya tanpa sadar langkahku terhenti di depan sebuah banguan yang sudah sangat kukenali.
"Huffff...."
"Sepertinya ini tempat selalu menjadi tempat yang paling cocok untukku menenangkan diri..."
Tanpa bepikir lagi, segera kulangkahkan kaki untuk masuk ke dalam toko kue tersebut.
\=\=\=\=\=
TO BE CONTINUE
Visual 3 : Vino