
Aku sedang duduk dipinggiran atap pada sebuah bangunan gedung tinggi.
Aku menatap setiap sudut kota dari atas sini sambil memegang sebuah gulungan perkamen yg berwarna keemasan ditangan kananku. Dari atas sini semua pemandangan di kota ini terlihat sangat jelas.
Aku menatap kebawah, mengamati setiap pergerakan manusia dibawah sana.
Orang-orang sibuk berjalan tanpa saling menghiraukan satu sama lain, kendaraan-kendaraan berbaris dengan rapih di jalanan yang sedang padat lalu-lintas.
Disudut persimpangan ada seorang anak kecil yang terlihat sangat lusuh sedang menjajakan koran yang sedang dijual
Terlihat beberapa orang hanya melewatinya dengan acuh, ada pula orang berhenti kemudian mengambil koran anak itu.
Aku kemudian mengalihkan pandanganku ke sebuah taman yang ada dujung sebelah kanan.
Taman itu memiliki banyak pohon yang rindang.
Dibagian bawah taman tersebut dihiasi berbagai jenis bunga yang indah.
Menurut cerita yang ku dengar dari para malaikat lain, taman itu sebenarnya sudah lama ingin dihancurkan untuk dibangun sebuah gedung.
Tapi segala usaha mereka selalu gagal karena dihalangi oleh berbagai macam hambatan-hambatan yang terasa janggal untuk manusia.
Pada suatu ketika.
Para pekerja yang sedang bersiap-siap untuk menghancurkan taman tersebut tiba-tiba tidak bisa melanjutkan pekerjaan karena semua peralatan mereka tidak berfungsi.
Ada juga kejadian yang belum lama, dimana seluruh pekerja yang hendak meratakan taman tersebut tiba-tiba lari ketakutan.
Katanya mereka seperti melihat sosok hantu menyeramkan di dalam sebuah pohon besar ditengah-tengah taman tersebut.
Setelah itu, para manusia sepertinya sudah menyerah untuk menghancurkan taman tersebut.
Tentu saja mereka tidak bisa menghancurkan taman tersebut.
Taman itu dilindungi oleh Malaikat Orifiel sang 'Penjaga Hutan'.
Dia tak akan membiarkan seorang manusia apapun yang berniat merusak taman tersebut.
*****
Aku masih tetap disini menikmati pemandangan yang ada disekitar.
Aku menatap kesebuah gedung tepat didepanku, dari kaca jendela nampak para manusia didalamnya yang sedang sibuk bekerja.
Bangunan ini adalah sebuah kantor tempat manusia bekerja.
"Castiel.... Castiel..."
Tiba-tiba lamunanku terbuyarkan.
Aku memalingkan wajahku ke arah belakang untuk mencari sosok yang mengeluarkan suara tersebut.
"Kamu disini lagi rupanya" kata sosok tersebut sambil berjalan menuju ke sampingku.
"Muriel...?"
"Sudah lama kita tak berjumpa"
Aku membalas sapaan dari sosok tersebut yang saat ini sudah berdiri disampingku.
"Sekarang saatnya untuk diriku bertugas"
"Dengan kemunculan diriku, kau tau kan sekarang bulan apa" dia berbicara kepadaku sambil menatap pemandangan kota ini.
"Yah... Bulan Juni" jawabku singkat.
Muriel adalah seorang malaikat yang bertugas sebagai 'Penjaga Bulan Juni'.
Itu artinya,
Dia hanya muncul sekali dalam satu tahun pada bulan juni menurut penanggalan kalender manusia.
Sedangkan diriku.
Aku adalah Malaikat Castiel sang 'Pendamping Orang Yang Bersedih'.
*****
"Bagaimana dengan tugas saat ini...?"
"Apakah ada kejadian besar yang terjadi...?"
Aku bertanya untuk membuka kembali percakapan diantara kami.
"Hmmm..." dia bergumam sebentar sambil menoleh kearahku.
Kemudian dia kembali menatap kedepan sambil berkata "Tak ada hal khusus... Hanya tugas rutin, menjaga umat manusia untuk melewati bulan ini dengan bahagia".
" Apakah manusia yg disana bahagia?"
Jari menunjuk kearah taman tadi, lebih tepatnya kearah seorang manusia berumur parubaya yang sedang duduk disebuah bangku.
Orang itu terlihat begitu lusuh, dia memakai sebuah kemeja putih kotak-kotak dengan celana panjang berwarna cream.
Dia selalu memakai kacamata hitam dan selalu memegang sebuah kaleng ditangan kanannya dan sebuah tongkat ditangan kirinya.
Dia adalah seorang manusia yang dilahirkan buta sejak kecil.
Dia hidup dengan meminta belas kasihan dari manusia lain.
"Bagaiman dengan anak itu?" balas Muriel dengan jarinya menunjuk ke arah anak penjual koran tadi.
"Apakah dia bahagia?"
"Atau sedang bersedih"
"Kebahagiaan dan kesedihan umat manusia tidak dilihat dari bagamana mereka hidup"
"Semuanya tergantung dari bagaimana cara mereka menjalani kehidupan"
"Tentunya kamu yang lebih paham tentang hal ini"
"Apakah kamu dapat melihat adanya kesedihan dalam diri mereka?" lanjutnya.
Aku kembali menatap kedua orang tersebut.
Aku menggunakan kekuatan ku untuk menengok kedalam hati kedua orang tersebut.
Tak ada tanda-tanda kalau hati mereka sedang bersedih.
"Kamu benar"
Dan tahun ini pun, sekali lagi aku harus mengakui kekalahan dalam hal bersilat lidah dengan Muriel.
"Benar atau salah, bukan kita yang memutuskan" tutupnya.
"Bagaimana dengan tugasmu kali ini?"
"Apakah kamu sudah menemukan orang tersebut?"
Muriel kembali bertanya kepadaku sambil melirik gulungan perkamen yang sedari tadi terus berada di dalam genggamanku.
"Entahlah..."
"Aku belum menemukan orang ini"
"Hmm..."
"Sepertinya dia manusia yang hidup dengan baik"
"Apa benar dia sedang bersedih?"
Muriel memberikan komentar sambil melihat foto dari manusia yang ada digulungan perkamen yang aku buka.
"Kalau dia hidup dengan baik dan bahagia"
"Sudah pasti bukan wajahnya yang akan terpampang di perkamen ini" protesku.
"Betul juga" jawabnya dengan singkat.
"Sepertinya aku harus pergi, ada yang membutuhkan bantuanku"
Muriel kemudian membalikkan tubuhnya untuk bersiap pergi.
"Oh iya"
"Sebelum aku pergi, tak henti-hentinya aku mengingatkan mu kembali"
"Laksanakan tugas mu dengan sebaik-baiknya, dan jangan membuat kekacauan lagi"
"Kau masih ingat kan dengan kekacauan yang pernah kau ciptakan dulu"
"Iya, aku tak akan lupa" jawabku asal-asalan.
"Aku serius"
"Karena kudengar barusan ini ada malaikat yang dihukum jatuh kedalam dunia manusia"
"Tentunya kau tak ingin bernasib sama dengan dia kan?" tegasnya.
"Siapa malaikat yang di buang itu?"
"Kesalahan apa yang dia lakukan sampai mendapat hukuman yang seperti itu?" tanyaku dengan nada penasaran.
"Entahlah..."
"Aku belum mengetahui informasi yang sedetil itu" jawabnya.
"Oke..."
"Aku pergi dulu"
"Jaga dirimu baik-baik"
Setelah itu, Muriel pun menghilang dari pandanganku.
*****
Aku masih memikirkan siapa malaikat yang dihukum itu? apa kesalahan yang sudah dia perbuat?
Mungkin penasaranku ini tiba-tiba muncul karena aku juga pernah dihukum.
Bodo ahh...!
Toh, aku juga tidak mengenalnya.
Aku kembali menatap wajah yang ada digulungan perkamenku.
*hmm...
'Kevin*'...
Seperti apa wujud manusia ini...?
\=\=\=\=\=
TO BE CONTINUE...