
Bab 21
Flashback.
Mami sedang berbicara dengan tetangga sebelah rumah, Nyonya Carmen. Mereka duduk di kursi santai di halaman belakang, mengawasi anak-anak, Marie, Luna dan Katie, sementara mereka asyik saling bermain air dengan cara menciprat dalam kolam renang anak. Katie berseru, “Lihat ini, Mami.”
Dia memanjat keluar dari plastik itu, Katie berdiri, berputar, lalu melompat masuk, memuncratkan air pada Marie dan Luna.
Katie mengulangi kegiatannya. Yaitu memperagakan gerakan-gerakan yang ada di TV fashion show yang bisa dia tonton. Dan memperlihatkannya kepada Maminya dan mereka semua yang ada di sana untuk memperhatikan dirinya berlenggok. Marie cekikian melihat gerakan yang diciptakan oleh Katie. Katie berjalan menuju kolam renang setelah selesai memeragakan lenggokkannya. Tak mau kalah, Luna pun mencoba menggerakkan kakinya seperti yang diperagakan Katie padanya.
Luna berseru, “Mami, lihat aku.” Dia meniru Katie, berlenggak-lenggok bak model yang sudah profesional. Dan setelah selesai memperegakannya, dia juga menceburkan dirinya ke dalam kolam renang sehingga dia menciptakan cipratan dengan gelombang besar untuk Marie dan Katie. Marie tidak mengikuti mereka. Marie dan Katie melihat ke arah Luna dengan peragaannya sambil cekikikan. Mereka senang dengan hal itu.
Mami masih bergosip ria dengan tetangganya. Mami berkata, “Paling tidak dia bisa membawa anak-anak.”
Nyonya Carmen tertawa. Mereka berdua tertawa.
Katie berdiri dan menyentakkan bagian belakang baju renangnya lagi. Dia melangkah keluar dari kolam plastik dan berlari di rerumputan. “Terlalu gatal, Mami.” Dia menarik renda elastis di sekitar kakinya dan merentangkannya.
“Oh, kemarilah. Aku tahu renda di sekitar kaki terasa terlalu kaku dan lengket.” Nyonya Carmen memberitahu Mami, “Hanya saja dia harus memakai baju renang Hello Kitty ini.”
Luna yang melihat itu bertanya kepada Marie, “Bisa begini?” Dia meluncur seperti salamender di dasar kolam dan mengelilingi pinggirannya. Marie menirunya. Saat mereka sudah membuat satu lingkaran penuh, mereka melihat Katie meloncat-loncat ingin melakukan lompatan indah kembali ke arah Marie dan Luna.
Marie berdiri dan mencoba melakukan apa yang dilakukan oleh Katie. Dia bertanya kepada Mami, “Boleh aku melakukan gerakan itu juga, Mami?”
Mami melambai acuh. “Silakan saja.”
Marie pun melakukannya dan melompat ke dalam kolam renang itu.
Luna berpura-pura menggerak-gerakkan kakinya di air, tapi Marie tahu sebenarnya dia sedang duduk di dasar kolam. Dia belum bisa berenang. Dia memandang Katie, kemudian memandang Marie. Marie menunjukkan pada Katie bagaimana menjadi salamender dan mereka berputar-putar di dalam kolam. Sebuah gerakan yang membuat Marie mendongak. Luna sudah berdiri dan bersiap dengan gerakan lenggak-lenggoknya yang seperti model ternama. Selama satu menit dia mencoba berdiri seperti itu sebelum dia memulai langkahnya. Jangan sampai gagal dan jangan sampai dia terjatuh terkilir.
Katie dan Marie bersorak mendukung apa yang akan dilakukan oleh Luna. Dengan gerakkannya.
Sayangnya Luna terjatuh sebelum sampai di kolam renang. Dia tersandung batu kecil yang bersembunyi di rerumputan. Dia tersungkur.
Nyonya Carmen melihat reaksi Luna, “Apa yang sedang dilakukannya? Apakah Luna terjatuh?”
“Luna!” Mami menjerit. Suara melengkingnya membuat mereka ketakutan setengah mati. Mami berlari secepat kilat menghampiri Luna, Marie dan Katie. Dia menyambar tubuh Luna yang masih terbaring kesakitan di atas rerumputan itu.
“Oh, astaga. Apa yang terjadi?” Sambil mengangkat tubuh Luna, membersihkan tanah yang melekat di kaki lututnya, dan kaki-kakinya. Ada sedikit luka yang terlihat di lututnya.
Luna seketika menangis, mengamuk.
Katie dan Marie berpelukan di ujung kolam renang yang paling jauh.
“Hentikan tangisanmu! Hentikan itu sekarang!” perintah Mami.
“Tidak!” teriak Luna. “Ini terlalu sakit. Kaki ku sakit!” Dia bertingkah seperti bayi, dan itu membuat Marie dan Katie terkikik di balik tangan mereka.
Mami mencengkram tangan Luna dan menyeretnya menuju pintu kaca geser. “Masuk ke kamarmu. Jangan keluar sampai kau bisa bersikap sopan dan tidak pecicilan seperti itu.” Mami menariknya masuk ke dalam rumah.
“Kalian baik-baik saja?” Nyonya Carmen berjongkok di sebelah anak-anak. Mereka berdua menganggukkan kepala.
Mami keluar lagi. Dia mengembuskan napasnya dengan kasar dan berkata pada Nyonya Carmen, “Kayaknya waktuku sudah tiba. Selama ini dia selalu menjadi anak yang mudah diatur, jauh lebih mudah ketimbang Marie.” Mami memutar matanya.
Nyonya Carmen hanya tersenyum menanggapi.
Mereka kembali duduk, dan melanjutkan obrolan sempat terputus.
“Gak mau.” Marie meluncur ala salamender. Marie marah pada Katie sekarang.
Telepon berdering dari dalam rumah dan Mami bangkit berdiri dari kursi santainya. Marie mendengar pintu geser membuka dan menutup. Satu detik kemudian suasana mengejutkan dengan teriakan Mami. “Apa yang kau lakukan? Oh Tuhanku. Taruh alkohol itu di atas meja!” Dia muncul di balik pintu, sambil menggendong Luna. “Carmen, aku harus membawa Luna ke klinik gawat darurat.”
Nyonya Carmen bergegas menghampirinya. “Ada apa?”
“Dia menekan lukanya dan... mengakibatkan pendarahan dan mencoba untuk menyiramnya dengan alkohol. Maukah kau menjaga Marie?”
“Tentu saja. Kau mau aku menelepon Jack?”
“Tidak usah,” jawab Mami cepat. “Tidak, aku bisa menangani ini. Dia tidak perlu tahu.” Mami mengatakan sesuatu lagi, tapi yang Marie lihat hanya darah yang mengalir menuruni kakinya.
Flashback off.
...****************...
Marie tidak memberitahu Luna. Marie tidak ingin membahasnya dan tak ingin mengonfirmasikannya. Luna sudah mengalami cukup banyak masalah hari ini. Ini hari ulang tahunnya. Dia sudah melepas wig-nya, tapi masih mengenakan rok dan sweter, sibuk mengutak-atik laptopnya, membuat kode untuk permainan yang dibuatnya, atau apa saja yang sedang dia kerjakan. Dia sudah kembali dalam dunianya sendiri. Dunia kepura-puraanya.
Marie tidak mau meninggalkan Luna sendiri. Tidak dengan hari ini. Tidak seperti ini. Marie tidak akan melakukannya. Jadi dia duduk di sofa, menyambar remote control dan menyalakan TV, mencari-cari film maraton sepanjang malam.
“Lo ada kencan kan malam ini?”
Suaranya membuat Marie terlonjak. Marie kira dia benar-benar tenggelam dalam dunianya.
“Mungkin lo harus bersiap-siap dari sekarang. Lunayan lama lho buat mendandani rambut lo.”
Marie mencibir pada Luna. “Gue pikir, gue bakalan tinggal, di rumah saja dan menggoda lo.”
Kursi Luna berputar sembilan puluh derajat. “Lo gak perlu mengasuh gue, Marie,”katanya.
“Gak. Siapa yang ngasuh lo?” Raut wajah Marie memerah.
“Iya. Apa lo masih menghukum gue karena membuat lo kehilangan pekerjaan?”
Marie melempar Luna dengan remote. Luna berhasil menangkapnya saat masih melayang di udara ke arah dirinya. “Wow,” kata Marie takjub. “Harusnya lo ikut main bisbol.”
Luna tidak tersenyum sedikit pun. “Lo melakukannya lagi. Lo bagus seperti itu, tahu.”
“Apa?”
“Membuat orang lain merasa bersalah.” Ujar Luna.
Marie mendengus pelan. Dia tidak sadar kalau dia juga begitu.
“Gue baik-baik aja kok,” katanya sambil melempar remote itu kembali kepada Marie. “Berhentilah mencemaskan gue. Jangan berani-berani untuk membatalkan acara kencan lo dengan James karena gue. Gue akan marah sama lo kalau lo sampai melakukannya.” Luna mencibir, mengerucutkan bibirnya.
...****************...
tbc
terima kasih yang sudah baca
kalau masih gak paham ceritanya, skip aja ya. thanks.