
BAB 17
Sambil melangkah berat ke aula, merasa hampa dan depresi, Marie melihat James. Dia orang terakhir yang ingin Marie temui hari ini. Dia sednag bersandar di barisan loker di depan loker Marie. Dia sedang mengobrol deng Sharon dan beberapa orang lainnya. Mereka sama-sama tertawa mendengar lelucon yang dibuat oleh James.
Dia menyentakkan diri dari sandarannya dan berjalan ke arah Marie. Saat Marie menyadarinya saat itu juga Marie terlihat panik. Marie tidak bisa berhadapan dengannya. Sabtu malam kemarin terlalu kacau, terlalu banyak kejadian di luar ekspektasi keromantisan. Marie pun langsung berbalik menuju kamar kecil cewek yang paling dekat.
“Marie!”
Marie mulai melangkahkan kaki nya cepat, dan lambat laun kaki nya mulai berlari meninggalkan James yang berteriak memanggil namanya. Marie bersembunyi dan tak ingin membalikkan palingannya ke belakang.
Bel terakhir di kelas keterampilan membuat Marie terjaga. Marie tidak ingat hari sudah berlalu dan kembali pada praktikum idiot yang Marie sungguh tidak sukai.
Marie kembali ke tempat lokernya dan mendapati James yang berdiri di loker Marie. Marie tidak dapat menghindari James kali ini. Sungguh Marie malu atas tindakan yang dilakukannya malam Minggu.
“Marie! Kita butuh bicara,” ujar James yang tidak beranjak dari posisinya.
“Apa yang ingin lo bicarain ke gue?” tanya Marie sambil menunduk. Tak dipungkiri Marie masih menunduk tak berani menatap mata James.
“Lo tahu gue gak bisa melupakan apa yang sudah terjadi saat malam Minggu itu. Bayangan lo terus mengiyang di pikiran gue,” jelas James.
“Apa sih maksud lo? Gue gak paham!”
“Jujur, waktu pertama kali kita ketemu di kelas Kimia, dan gue berani menegur lo, itu pertama kali gue memberanikan diri untuk mendekati lo,” ujar James yang masih berdiri santai di depan loker Marie dengan gaya sandaran dan tangan kiri di saku.
Marie sejak tadi ingin membuka lokernya jadi tertunda karena adanya James di sana.
“Boleh lo geser sedikit? Gue butuh loker gue,” ucap Marie akhirnya memberanikan diri untuk mengusir James. Daripada tiba-tiba jantungnya ingin meledak karena keberadaan James.
“Dengar, gue suka sama lo, Marie. Sekali lagi gue katakan itu sama lo. Setiap gue berpikir, bayangan lo selalu muncul. Tentang kita yang di belakang gudang melihat sapi-sapi walaupun gelap. Dan akhirnya para polisi mengejar kita. Itu adalah suatu moment yang tidak terlupakan”
‘Apakah James lagi menyatakan cinta terhadap gue?’ pikir Marie.
“Bagaimana kalau malam Minggu ini kita berkencan?” Ajak James langsung.
Apa? Dia mengajak malam Minggu dan langsung mengajak ‘kencan’? Tanpa sadar Marie menutup lokernya dan menatap James.
“Apa? Kencan? Lo.. suka sama gue?” Marie bertanya.
“Iya. Bagaimana? Gue gak akan mengecewakan lo lagi seperti malam Minggu kemarin. Mari bersama menciptakan momen indah bersama, Marie.” Jelas James dengan raut wajah yang serius.
“Gue...” Belum sempat Marie menjawab pertanyaan dari James yang entah dia setuju atau tidak pergi kencan dengan James. Tapi kalau dipikir ini adalah momen langka yang jarang. Marie tahu perasaannya dan dia sudah tergolong gila. Apa dia sudah tidak waras? James suka padanya? Yang benar saja. Dia bahkan menyatakan cinta di depan loker. Sangat tidak keren. Tapi ini romantis juga. Pikir Marie.
Teriakan melengking terdengar dari lorong. Marie terkejut. Dia tahu suara siapa ini. Apa yang terjadi? Begitu juga dengan James yang kaget dengan teriakan yang mereka dengar di arah lorong itu.
“Hei, bagaimana?” tanya James menyadarkan Marie.
“Apa yang terjadi? Kenapa teriak-teriak?” Marie tidak menjawab. Ia bertanya dengan kejadian suara yang melengking.
“Hahaha LO GAK PANTAS DANDAN DAN PAKAI BAJU MODIS! DASAR CUPU! ONDEL-ONDEL.”
Suara itu, iya suara yang merupakan suara dari Hiot. Marie berlari melihat kerumunan itu. Dia bahkan melihat Hiot mendorong seorang wanita yang tahu apa-apa. Menarik rambut wig yang sedang dikenakan oleh cewek itu.
James tahu itu adalah Luna. Dia menatap wajah Marie dan menatap kekerumunan. Dia juga tahu kalau Luna baru pertama kali ini menampakkan diri dengan dandanan yang dia tampilkan di publik. Biasanya dia berpenampilan cupu ala-ala cewek-cewek kutu buku. Selalu menundukkan kepalanya.
Nyaris saja dia terjatuh karena dorongan dari Hiot.
Luna?
Hiot menghardik, “ONDEL-ONDEL! LO MAU NGELAWAK? LIAT AJA DANDANAN LO YANG HAMPIR MIRIP DENGAN ONDEL-ONDEL! HAHAHA.” Kencang. Dan itu menarik perhatian beberapa cewek-cewek yang sedang berjalan menuruni tangga. Hiot mendorong pundak Luna lagi dan berteriak-teriak dengan buliannya.
Luna berkata dengan pelan. “Aduh, jangan.”
“Jangan? Jangan apa? Ini?” Hiot mengangkat tangannya dan menarik lepas wig yang menempel pada kepala Luna. Sejumput rambut Luna ikut lepas bersama jepitannya.
Cewek-cewek di tangga berpandangan lalu cekikikan. Mereka berlari menuruni tangga dan bergegas berlalu, tawa mereka terngiang-ngiang di telinga Marie.
Orang-orang berhamburan keluar dari ruang kelas menuju lorong dan lorong itu pun mulai penuh. Tiba-tiba banyak orang berkerumun di belakang Hiot dan Luna.
Melampaui kepala semua orang, mata Luna menemukan mata Marie. Dia membuka mulutnya untuk berkata...
“Marie, hei. Tas lo.”
Marie tersentak dan menoleh. James diam-diam sudah di samping Marie. Dia tersenyum, tapi tatapannya berpindah dari wajah ke kerumunan di tangga.
“Thanks.” Marie menyambar tas tangannya dari tangan James. Mata Marie memicing, mempertajam penglihatan Marie dan mencari tanda itu. EXIT. “Di luar.” Marie menarik sweter James dan hampir merobeknya.
Pintu terbanting menutup ke belakang mereka. Marie bersandar di tembok, tersengal-sengal, menahan ledakan yang akan segera terjadi dalam perutnya.
James juga ikut tersengal-sengal. Marie sudah membuatnya berlari di sepanjang lorong. Tidak cukup jauh. Tidak pernah cukup jauh. Marie membuka tasnya dan menarik keluar map tebal. Dia menyerahkan map itu padanya. “ini. Lo bisa menggunakannya tahun depan.” Marie menarik diri dari tembok dan berjalan cepat ke arah lain.
“Tunggu,” panggil James. “Marie, gue akan tunggu jawaban lo. Kapan pun itu. Dan gue lupa ada kejutan kecil dalam tas lo.”
Marie harus keluar dari sana. Membuat jarak sejauh mungkin antara dirinya dengan sekolah, antara dirinya dengan James.
James sudah melihat Luna.
“Kapan waktu yang baik untuk menelepon lo, Marie?” Suara James menembus suara gemuruh dalam telinga Marie, gejolak dalam perut pun terasa sangat nyata.
Sungguh, tidak pernah. Tidak pernah ada waktu yang baik.
Marie tak menjawab. Dia berlalu semakin jauh dari pandangan James.
...****************...
Bagaimana mungkin Luna muncul di sekolah? Marie sakit hati melihat orang-orang memandangnya, menunjuk-nunjuknya, menertawainya. Bagaimana kalau mereka menertawakan Marie juga? Atau membuat lelucon. Luna pasti menjadi objek lelucon orang-orang. Walaupun dari dulu dia mendapatkannya. Tapi ini sudah keterlaluan. Marie tidak bisa menutupi kalau itu adalah kakaknya. Dia tidak bisa untuk menutupinya. ‘Kamu meninggalkannya dalam bahaya. Dan membiarkan dia bersama Hiot. Dibuli bersama orang-orang yang mengerumuni dirinya.’ Suara lain yang menggema di dalam pikiran Marie.
...****************...
tbc