LUNA

LUNA
Makan Kayak Kebo



Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, akhirnya kami berhenti di depan


sebuah restoran sederhana. Saat ini aku menumpangi mobil sport milik Kevin,


sedangkan asisten Vino langsung pulang mengendarai mobil Kevin yang satunya


lagi.


“Kamu yakin kita akan makan di tempat seperti ini…?”


Kata Kevin


dengan agak cemas sambil memperhatikan restoran seafood yang ada di depan. Dari


raut wajahnya, sangat terlihat jelas kalau dia tidak pernah makan di tempat


yang sederhana seperti ini.


“Tentu saja…”


Jawabku yang sudah tak tahan dengan amukan dari cacing-cacing di dalam perutku yang sudah


sejak tadi menggeliat.


Restoran seafood ini adalah tempat makan favoritku bersama Nana. Walaupun ini hanya


restoran sederhana, tapi menu makanan yang ada di dalamnya dijamin enak. Selain


itu harga-harga makanannya pun murah, sesuai dengan isi kantong kami.


“Emmm…”


“Kita pindah tempat yang lain saja deh…”


“Jangan tuan…”


“Kita makan di sini saja…”


“Lagian tempatnya juga bersih kok…”


“Tapi aku nggak pernah makan di tempat beginian…”


Dasar horang kaya...


Hanya biasa makan di restoran-restoran mewah saja…


 “Tapi kan,tadi tuan sendiri yang bilang kalau aku bebas memilih tempat…”


 “Ia…”


“Tapi tidak juga di tempat kayak beginian…” protesnya.


“Tuan Kevin…”


“Kalau kita mau pindah tempat, akan memakan waktu lagi untuk mencari restoran lainnya…”


“Perutku sudah lapar karena belum makan sejak siang…”


“Tuan juga pasti belum makan kan…?”


 Aku mengambil jeda sesaat kemudian berbicara lagi.


“Lagian,tempat ini juga bersih kok…”


“Terus menu makanan di tempat ini juga enak, nggak kalah sama yang di restoran mewah…”


“Emmm…”


“Baiklah,kamu turun dulu untuk pesan tempat…”


“Aku mau parkir mobil dulu…”


Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia mengalah untuk setuju makan di tempat ini.


*****


“Tuan mau pesan apa…?”


Tanyaku sambil membolak-balik buku menu makanan yang diberikan oleh pelayan.


“Terserah kamu saja…” jawabnya kikuk.


 “Mas…”


“Saya pesan kepiting saus padang, cumi bakar pedas, udang asam manis, ikan kakap goreng sambal terasi, ayam goreng mentega…”


“Terus saya juga mau pesan sup tom yam dengan sayur kangkung cah…”


“Baik mbak…” jawab pelayan tersebut sambil mencatat semua pesananku.


“Untuk minumnya apa mbak…?”


“Hmmm…”


“Saya pesan jus melon….”


“Tuan mau minum apa…? Tanyaku pada Kevin yang sedari tadi hanya sibuk meminkan tabletnya.


 “Aku ikut kamu aja…” jawabnya dengan mata yang masih asik melihat ke layar tabletnya.


 “Jus melon yang tadi bikin jadi dua ya mas…”


“Oh iya, airmineralnya juga dua…”


 “Baik mbak….”


“Silahkan ditunggu pesanannya…” ucap pelayan tersebut lalu kemudian berjalan meninggalkan meja kami.


Saat ini, kami duduk berdua di meja makan sambil menunggu pesanan tiba. Aku pun menyadari pandangan-pandangan mata yang mengarah kepada kami, lebih tepatnya ke arah Kevin sih. Ada yang memandang dengan tatapan terkagum-kagum, ada juga yang memandang dengan tatapan iri. Mungkin jika dilihat sepintas, kami berdua seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan.


Kencan…?


Jangan mimpi…


Saat ini aku tidak berminat untuk hal itu…


Aku bukanlah manusia seutuhnya yang harus pusing dengan hal-hal tersebut. Lagi pula, jika


aku ingin berkencan dengan manusia mana mau aku berkencan dengan gunung es ini.


Memang sih wajahnya tampan, tapi aku masih lebih suka melihat wajah boss Julian.


Oh, boss Julian…


Sudah orangnya tampan, baik, selalu tersenyum, perhatian lagi…


Ehhh…?


Kenapa aku justru mengkhayalkan boss Julian…?


Luna…


Singkirkan pikiran mesum mu itu…!


Aku harus menyadarkan diri dari pikiran itu. Walapun sebenarnya aku pun merindukan sosok boss Julian yang selalu ramah padaku.


“Ngapain kamu cengar-cengir menatapku dari tadi…?” tiba-tiba perkataannya membuyarkan lamunanku.


“Aku tau kalau diriku memang tampan…”


“Tapi kuperingatkan sekali lagi…!”


“Jangan pernah punya perasaan apapun pada diriku, karena hal itu tak akan terbalaskan…!”


“Hahhh….?”


“Maksud tuan…?”


Dia ngomong apa sih…? Batinku yang tak mengerti maksud dari perkataannya.


“Hubungan kita hanya sebatas kontrak saja…”


“Jadi jangan pernah berharap apa-apa dari diriku…” jawabnya ketus.


“Tuan…”


“Jangan ge’er deh…”


“Anda itu bukan tipe saya…”


Orang ini kepedean deh kayaknya.


“Mau tipemu kayak monyet kek atau apa…”


“Itu bukan urusanku…!”


“Ini orang kenapa sih…?”


“sakit jiwa kali…” gumamku karena kesal.


“Jangan mengumpatku…!”


“Yang sopan kalau ngomong sama atasan….” katanya dengan ketus.


“Iya…”


“Maafkan saya tuan…” aku menjawab dengan malas.


*****


Akhinya pesanan yang ditunggu-tunggu pun sudah dating. Melihat semua makanan lezat yang sudah tersaji di atas meja membuat mood jelek ku hilang. Akupun langsung mencocol semua hidangan yang ada seperti sedang kesetanan.


“Ahhh…”


“Lezatnya….” gumamku sambil menikmati daging kepiting saus padang yang sudah memenuhi mulutku.


Setelah puas dengan kepiting saus padang, aku lanjut mencicipi sup tom yam yang sudah sejak tadi menggodaku. Sensasi kuah dengan rasa asam pedas tersebut membuat lidahku menari-nari. Belum lagi ditambah dengan potongan-potongan seafood segar di dalamnya.


Jarang-jarang aku makan dengan menu sebanyak ini. Biasanya aku dan Nana hanya memesan paling tinggi dua menu saja. Kalau pesan sebanyak ini, bias-bisa kami berdua hanya makan mie instan selama seminggu karena kehabisan uang.


“Hmmm…”


“Tuan kenapa nggak makan…?”


Aku agak tersadar setelah melihatnya yang sejak tadi hanya memperhatikan semua makanan di atas meja dengan bingung.


“Hemm…”


“Aku tak bisa makan yang pedas-pedas…” jawabnya dengan sedikit khawatir.


“Hahh…?”


Apa aku nggak salah dengar…?


Seorang Kevin Reinhard Sander tidak bisa makan makanan pedas….?


Aku pun berusaha untuk menahan tawaku.


“Jangan menertawai aku…!”


“Walaupun hanya tertawa dalam hati…”


“Cepat pilihkan makanan yang tidak pedas…!” dia berbicara dengan wajah yang kesal.


“Anda bisa makan yang ini, ini dan ini tuan…”


Ucapku sambil menunjuk ayam goring mentega, ikan kakap goring dan sayur kangkung cah.


“Benarkah ini aman…?”


“Awas kalau bohong…” dengan gaya penuh sidik.


“Iya tuan…”


“Ini nggak pedas…”


“Silahkan dicoba dulu kalau nggak percaya…”


Dengan ragu, dia mulai mengambil potongan paha ayam goreng mentega dan mencicipinya. Merasa cocok dengan rasanya, dia pun menyirami nasi yang ada di atas piringnya dengan saus ayam goreng tersebut.


Kali ini, gentian aku yang yang menatapnya makan dengan heran. Dia begitu menikmati makan ayam goreng, ikan kakap goreng serta sayur kangkung cah.


Tuh kan…


Aku bilang juga apa…


Dia pikir makanan di restoran yang sederhana seperti tidak enak apa…


“Enak ya makanannya tuan…?” aku pun hanya senyum-senyum melihatnya makan dengan lahap.


“Biasa aja makanannya…”


“Rasanya agak hambar…” jawabnya dengan cuek.


 “Coba aku cicipi…”


Plakkk…!


Tangannya menepis tanganku yang berniat untuk mengambil potongan ikan kakap goreng.


“Jangan ambil makananku…!”


“Makan saja punyamu…!


Dia segera membuat benteng dengan kedua tangannya untuk melindungi semua makanan itu.


Ckckck…


Dasar pembohong…!


Katanya hambar…


“Mas…” Kevin memanggil pelayan yang berdiri di dekat kami.


“Ada yang bisa saya bantu tuan…?” Tanya pelayan tersebut sambil menghampiri meja kami.


“Tolong tambah nasinya satu mangkuk…”


“Dan juga tambahkan menu-menu yang ini masing-masing satu porsi…” tambahnya dengan menunjuk semua ayam goreng, ikan kakap goreng dan sayur kangkung yang hampir habis.


“Baik tuan…”


“Mohon menunggu sebentar…” jawab pelayan tersebut dengan ramah.


“Dan satu lagi…!”


“Nggak pake lama…!”


Pelayan tersebut pun hanya tersenyum dan tidak berani tertawa dengan kekocakan pelanggan yang satu ini.


Aku hanya bisa melongo tak percaya dengan hal yang ku lihat barusan.


Setelah pesanan tiba, dia pun melanjutkan ritual makannya. Kali ini justru dia yang makan kayak orang kesetanan. Semua makanan yang diatas meja dihabiskan sendiri, kecuali makanan yang pedas tentunya. Sedangkan diriku sudah kenyang dan tak mampu untuk menghabiskan makananku.


Sebaiknya sisa makanan ini ku bungkus saja untu dibawa pulang…


Hitung-hitung besok ada makanan gratis untuk sarapan…


Nana juga pasti senang jika aku pulang bawa makanan…


Ya maklumlah, kami berdua kan termasuk dalam golongan ‘missquen’ alias miskin…


*****


Akhirnya Kevin pun bersandar di kursi dengan nafas lega setelah menghabiskan seluruh makanan miliknya. Dia pun segera memanggil pelayan untuk meminta bill. Setalah pelayan tersebut dating kembali dengan membawa bill, Kevin pun langsung membayar sambil mengatakan bahwa pelayan tersebut untuk mengambil kembaliannya sebagai tip.


“Tuan…”


“Apa kita akan kembali sekarang atau anda masih ingin ke tempat lain…?”


Aku pun akhirnya bertanya karena sekarang sudah hamper jam sembilan malam.


“Sebentar lagi…”


“Perutku masih penuh dan nafasku sesak…” jawabnya.


Ya ialah…


Gimana nggak mau sesak…?


Makan kayak kebo…


“Besok kamu dan Vano dampingi aku untuk bertemu dengan tuan Bastian Pramono…”


“Mudah-mudahan dia mau bekerja sama dengan kita…”


“Aku membutuhkan lukisan A Hundred of Angels miliknya untuk dipamerkan pada pembukaan museum kita bulan depan…”


“Baik tuan…” jawabku.


“Lukisan tersebut memiliki nilai historis yang sangat tinggi…”


“Tapi sampai sekarang si tua bangka itu tidak berniat untuk menjualnya padaku…”


Raut wajahnya pun mulai kesal.


“Ya sudah…”


“Ayo kita pergi…”


Dia pun mengambil jeda beberapa saat.


“Oh Iya…”


“Besok kamu pesankan makanan di restoran ini untuk makan malam ku…”


“Anda suka dengan makanan yang ada di sini…?” tanyaku kembali.


“Ya… makanannya sangat cocok dengan lidahku…”


“Emmm…”


“Sebenarnya saya juga bisa memasak menu-menu makanan seperti ini…”


“Kalau anda mau, kapan-kapan saya bisa memasaknya untuk anda…”


Untunglah aku seorang malaikat jadi aku memiliki kemampuan untuk mempelajari segala hal, termasuk memasak tentunya.


“Benarkah…?”


“Memangnya kamu bisa masak…?”


“Jangan-jangan nanti aku malah sakit perut karena makan masakanmu…?”


Dia memandangku dengan tatapan tak percaya.


“Ya sudahlah…”


“Aku juga hanya sekedar bicara saja kok…” jawabku sambil mengangkat bahu.


“Ayo kita pergi…”


“Dimana rumahmu…?”


“Sekalian aku antar pulang…


*****


“Kau tinggal di sini…?”


Dia bertanya padaku sambil memperhatikan rumah dua tingkat yang berada di tepi pantai.


“Ya tuan…”


“Saya dan Nana tinggal berdua di rumah ini…” jawabku.


“Hmm…”


Balasnya sambil mengangguk-ngangguk memperhatikan rumah kontrakan kami yang sederhana.


“Anda tidak mampir tuan…?”


“Tidak…”


“Sekarangsudah larut…”


“Kamu langsung istirahat saja, besok jangan terlambat…”


“Terima kasih untuk traktiran dan tumpangannya tuan…”


Ucapku sambil melepaskan seatbelt dan membuka pintu.


“Oh tunggu sebentar…”


Kevin pun mengambil dompet di sakunya sambil mengeluarkan sebuah kartu.


“Pakai kartu ini…”


“Pin-nya 222222”


“Ehhh…!”


“Tidak perlu tuan…”


“Saya sudah sangat berterima kasih karena anda sudah membelikan saya gaun ini…”


“Lagian anda sudah mentraktir sekaligu mengatarku pulang…”


“Itu sudah lebih dari cukup…”


Setidaknya aku bukan cewek matre yang mata duitan.


“Pulang kantor besok, kamu ke supermarket untuk belanja bahan makanan…”


“Pakai kartu ini untuk membayar…”


“Ehhh…?”


Maksudnya apa sih…?


“Bukannya kamu bilang akan membuatkan makanan untuk diriku…?”


“Atau jangan-jangan tadi kau hanya membual saja…?”


“Baiklah…”


“Nanti saya akan memasak untuk anda…?”


“Bukan nanti…”


“Tapi besok sesudah jam kantor…”


“Ya sudah…”


“Aku pulang dulu…”


Ternyata dia serius…!


Akhirnya aku masuk kedalam rumah setelah melihat mobilnya menghilang dari pandanganku.


*****


“Cieee….”


“Yang habis kencan sama si boss…”


Tiba-tiba Nana memeluk diriku dari belakang.


“Apaan sih…?”


“Siapa juga yang kencan…?”


“Wawww…”


“Gaun mu indah sekali…”


“Dapet dari mana…?”


“Kamu udah jadi simpanan om-om ya…?”


“Hehh…!”


“Sembarangan aja ngomong…”


“Gaun ini tuh sebagai hadiah karena sudah membantu atasan…”


“Hmm…”


“Hari ini gaun…”


“Besok-besok mungkin kamu bakalan dibeliin rumah dan kemudian…” Nana lalu menggantung ucapannya.


“Kemudian apa…?” tanyaku penasaran.


“Cincin kawin…”


“Wkwkwkwk…..”


“Dasar kamu…”


“Ada-ada saja…”


“Nih… aku bawain makanan…”


 “Makasih beb…” jawabnya sambil langsung merebut bungkusan makanan yang ku pegang.


=====


TO BE CONTINUE