
Bab 23
“Gue pendengar yang baik.” James menelengkan kepala dan berusaha menatap mata Marie. “Ceritakan apa saja yang ada pada diri lo dan gue akan menceritakan punya gue juga. Keluarga gue juga gak beres, gue taruhan dengan hal itu bakal bisa mengalahkan ceritamu.”
Marie mendengus. “Berapa besar taruhan yang bisa lo buat?”
Alis mata James melengkung. Dia tidak sedang menekan Marie, tapi malah sebaliknya. Marie tidak siap. “Gue harus pergi.” Marie harus keluar dari mobil James sekarang.
Dengan cepat James membuka pintu dan mengejar langkah Marie ke teras rumah. Mata Marie menatap langit mencari bulan, bintang. Nyatanya tidak ada. Tidak ada cahaya yang bersinar. Kegelapan abadi. James menjamah tangan Marie kalau dia berusaha menciummnya.
Tak disangka oleh Marie, dia tidak melakukannya. Dia hanya menautkan jari-jarinya pada jari-jari Marie dan meremasnya dengan lembut. “Gue bakal telepon lo buat kencan minggu depan, ok?”
Dia masih mau menemuinya? Kalaupun Marie menganggukkan kepalanya, itu hanya karena kepalanya terasa begitu berat hingga Marie tidak bisa menahannya tetap tegak.
...****************...
Hal pertama yang mengagetkan Marie adalah ruangan yang kosong dan luas. Barnag-barang sudah dipindahkan, di tata ulang. Semua komputer Luna berada dalam keadaan menyala, keempat-empatnya. Dengan screensaver berkedip-kedip. Bukan gedung pencakar langit kali ini. Angka-angka. Serangkaian angka-angka, berputar di layar monitor. Meja kecil tempat laptopnya biasa diletakkan sudah dibersihkan. Sesungguhnya seluruh ruangan bersih.
Luna pasti menghabiskan sepanjang malam untuk membersihkan kamarnya. Seperti berkemas-kemas untuk bersiap meninggalkan dunia ini.
Marie menerobos masuk ke kamar tidurnya. Dia meringkuk sambil mendengkur di tempat tidurnya. Masih mengenakan rok dan sweter. Jam digital di lemarinya menunjukkan pukul 21.02. Marie perlahan menutup pintu dan bernapas lega.
Marie seperti terjatuh ke jurang. Dalam dan gelap dengan pinggiran bergerigi. Tubuhnya seperti habis didorong dari tebing dan menubruk setiap tonjolan baru selagi meluncur turun. Memar dan luka-luka, teramat sangat lelah. Marie berbaring di tempat tidur, dan memejamkan matanya.
...****************...
Kelopak mata Marie berkedip pelan dan terbuka perlahan. Marie menudungi mata dari sinar menyilaukan.
“Bangun, Mar.” Sebuah tangan menyentuh pundaknya. “Gue butuh bantuan lo.”
Marie memicingkan mata melihat sosok samar-samar uang merunduk di atasnya. Luna. “Jam berapa sekarang?”
Luna melihat arlojinya. “Empat tiga puluh.”
“Pagi?” Marie duduk dengan enggan. Malam yang suram menyelinap lewat jendelanya. Masih tanpa sinar bulan hanya cahaya terang lampu bundar di atas kepalanya.
“Gue butuh temen.” Luna menyerahkan setumpuk baju yang terlipat rapi. Baju Marie.
Luna berdandan sangat rapi. Memakai blazer, rok yang sepadan, dan sepatu hak tinggi.
Marie menguap. “Mal belum buka sampai beberapa jam lagi,” gumam Marie pelan.
Luna menarik selimut yang membungkus tubuh Marie. “Cepat. Kita harus pergi dalam sepuluh menit.”
Luna meninggalkan Marie sendiri untuk berpakaian. Waktu Marie keluar dari kamar, Luna sudah menunggu di tangga. “Kita akan menyelinap keluar. Ayah menonton TV semalaman.”
“Gue tahu,” ujar Marie. Mereka saling memelototi waktu Marie masuk ke rumah sepulang dari kencan. Kencan tersingkat sepanjang sejarah. Ayah dan Marie sebenarnya tidak saling bicara. Dia juga tidak menonton TV. Hanya berbaring di sofa dengan lengan terlipat, kaku seperti mayat.
“Emangnya kita mau ke mana?” Marie berjingkat menaiki tangga belakang. Tidak ada bunyi derak. Dia pasti sudah mematikan efek suaranya.
Mereka berdua menyelinap melewati Ayah yang tertidur, tidak masalah. Ayah masih terlelap, sebotol bir kosing tergeletak di karpet di samping tangannya.
Luna memasukkan kode keamanan mobilnya dan mereka berdua segera masuk, menutup intu mobil dengan perlahan. Waktu mesin meraung hidup, mereka sama-sama merunduk ngeri, tapi tidak ada lampu yang menyala. Sungguh sudah seperti maling yang menjalani misi. Tidak ada pintu yang terbuka. Luna memundurkan mobilnya ke jalan.
Marie menunggu mobil menjauh dari rumah dan mulai berani untuk berbicara. “Ke mana pun kita pergi, lo pasti dilirik karena dandanan lo itu, sangat wow!”
Wajah Luna berseri-seri. Memang benar. Dia tampak sangat cantik. Setelannya dijahit, mahal, wol putih, dengan kemeja biru navy dan sepatu serasi. Tak lupa dengan wig nya yang berwarna pirang baru, wig berponi yang memanjang sebahu, membuatnya tampak sangat glamor. Pasti ini hadiah ulang tahun untuk dirinya sendiri.
Matanya memantulkan sinar lampu jalan di sepanjang jalan tol waktu dia berkonsentrasi pada jalanan. Namun, cahaya itu tampaknya berasal dari dalam.
Sesuatu yang lain juga bersinar. “Hei, lo suka, gak?” Marie menunjuk telinga. Dia sudah melupakan hadiah ulang tahunnya sendiri untuk Luna.
Luna menyentuh telinga kanannya. “Iya, gue suka banget.” luna menoleh dan tersenyum. “Terima kasih. Mereka sungguh sempurna.”
Marie sengaja memilih sepasang anting-anting emas, bentuknya bulan separuh. Pasangan anting-anting itu akan membentuk bulan utuh jika disatukan.
Begitu melewati batas kota, mereka menaiki kecepatan. Pada jam sepagi ini jalanan masih sepi. Apalagi ini hari minggu. Semalam sepertinya sudah berabad-abad yang lalu. Marie ingin bicara pada Luna tentang Mami dan Ayah, tapi dia tidak yakin bagaimana memulai topik itu. Apa yang harus dikatakannya. Mereka sudah diuji sebagai orang tua dan gagal. Nol persen.
Mereka melaju begitu cepat hingga Marie nyaris tidak melihatnya. Penunjuk jalan. “Kita akan ke arah bandara?” Marie menoleh ke belakang untuk memastikan.
Ekspresi Luna tidak berubah.
Jantung Marie berdetak kencang. Berdentum dalam dadanya. Mereka masuk ke jalur penumpang yang akan berangkat, dan Luna memarkir mobil di tempat parkir sementara. Dia membuka pintu, mengayunkan kedua kakinya keluar dan berdiri.
“Kita ngapain di sini?” tanya Marie mengikuti keluar.
Luna membuka bagasi dan mengeluarkan koper yang tampak penuh, tas jinjing, dan laptop dalam tas kulit yang belum pernah Marie lihat sebelumnya. Dia menyerahkan tas jinjing dan laptop pada Marie.
Jantung Marie serasa menembus tulang iga. “Tolong kasihtahu gue. Ada apa sih sebenarnya?”
Sepatu hak tingginya berdetak di trotoar saat dia berjalan menuju ke arah lift.
“Luna...”
“Oh, gue lupa sesuatu!” Luna seakan berputar di tempat. “Gue lupa jaketnya. Mau kan lo ambilkan jaketnya? Please..” Luna menyerahkan kunci mobil pada Marie.
Marie bergegas untuk mengambil jaket di dalam mobil Luna. Jaket itu di tempat duduk belakang, menutupi selembar amplop. Di atasnya tertera, “Mami dan Ayah”, dalam warna pink khas Luna. Kerongkongan Marie tercekat saat melihatnya. Di sebelah amplop itu ada kotak dan selembar kartu di tempel di atasnya dengan tulisan nama Marie.
Marie membanting pintu bergegas untuk menyusul Luna yang sudah ada di antrian loket tiket keberangkatan.
...****************...
tbc