
Hari pernikahan yang di tunggu-tunggu oleh Wira dan Nayla telah tiba. Nayla memakai gaun silver naik ke altar bersama Wira. Sorak gembira dari seluruh undangan para tamu memenuhi aula gedung itu.
Zack tersenyum melihat kebahagiaan di wajah Wira. Dia tidak menyangka kalau atasannya itu sedang mengucap janji suci.
Wira dan Nayla telah mengikat janji suci, di saksikan dengan banyak orang. Sebuah ciuman di atas altar semakin membuat suasana menjadi bersorak gembira.
"Mas.." Nayla merasa malu karena di cium oleh Wira di depan banyak orang.
"Kamu cantik sekali Nay"
"Terima kasih Mas." Nayla menunduk malu.
Fatma dan Siska berdandan cantik hari ini. Mereka di undang ke dalam pernikahan Nayla yang sangat mendadak itu.
"Huaaaa mereka so sweet sekali ya Sis.. Aku jadi ingin seperti itu" Fatma tak henti menatap Nayla dan Wira di depan. "Makanya kamu cari pasangannya dulu sana" Jawab Siska yang terkekeh melihat sahabatnya begitu ingin.
"Huh, pacar saja nggak punya. Apa aku bisa ya mendapatkan jodoh seperti Pimpinan Wira? Tidak apa lah jika hanya sekedar Asisten nya saja." Fatma asal mengkhayal, barang kali khayalan nya menjadi kenyataan.
"Fat kalau berkhayal jangan ketinggian. Nanti kalau nggak sesuai kenyataan malah sakit." Siska menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fatma.
Sebuah tatapan sinis mewarnai wajah Malika. Dia duduk bersama dengan orang tuanya. "Pa, aku benci menghadiri acara ini. Aku ingin pulang saja!" Rengek Malika merasa panas dan tidak suka.
"Hei kamu jangan pergi dulu. Kita harus bersikap layaknya orang bahagia melihat mereka menikah. Jangan sampai Wira menilai kita tidak-tidak, Malika." Jawab Ricky mencegah tangan Malika yang mau pergi.
"Tapi Pa, aku sangat benci melihat wanita kampungan itu menikah dengan Wira! Dia benar-benar tidak pantas bersanding dengan Wira di atas sana!!"
"Sudah kamu diam saja! Jangan banyak bicara, tunggu sampai acara ini selesai" Pinta Ricky dengan wajah menekannya.
Malika merasa malas, dia tetap pergi untuk berkeliling. "Ya sudah, aku ingin ke toilet dulu" Alasan Malika agar bisa pergi dari Ricky.
Dia memang tidak mencintai Wira. Dia hanya tidak suka karena Wira menikah dengan wanita yang biasa saja menurut Malika. Bahkan jauh dari kata sempurna baginya. Malika memang masih memiliki hubungan saudara dengan Wira. Jadi tidak mungkin ia menikah dengan saudaranya sendiri.
Dia tidak mungkin mengharapkan Wira untuk menjadi pendamping hidupnya. Hanya yang ia harapkan adalah, bisa mengambil hatinya Wira untuk soal harta dan perusahaan saja.
Kedua wajah sepasang suami istri yang duduk di depan begitu terharu melihat putrinya menikah dengan pria yang ia cintai.
Ya, Luna dan Frans nampak sedih karena terharu akan kebahagiaan anaknya, Nayla. "Semoga kamu selalu bahagia sayang" Ucap Luna tidak terasa meneteskan air mata.
"Ya Bu, semoga mereka selalu bersama. Seperti janji yang baru saja mereka ucapkan. Semoga kebahagiaan selalu bersamanya." Timpal Frans mengharapkan yang baik-baik untuk Wira dan Nayla.
"Siska, aku kebelet pipis nih. Aku ke toilet dulu ya, kamu mau ikut nggak?" Fatma memegangi dress yang ia pakai. Seperti nya ia kebelet buang air kecil.
"Nggak, aku ingin ke stand makanan yang ada di sana saja. Nanti kamu susul aku di sana ya" Pinta Siska menunjuk ke arah barat. Di sana terdapat meja yang penuh dengan buah-buahan yang di tata cantik.
"Baiklah, aku akan menyusul mu ke sana." Fatma berlari kecil ke toilet karena sudah tidak tahan.
Selesai dari toilet Fatma berjalan keluar dari sana sambil menundukkan wajahnya. Ia membenarkan dress yang ia pakai. Karena tak fokus dia menabrak seseorang di depannya.
"P-pak Zack? Haduh maaf Pak, saya tidak sengaja"
"Hm, bisakah kau melepaskan tanganmu?" Fatma langsung tersadar kalau tangannya memegangi lengan Zack. Dirinya hampir terjatuh tadi dan reflek berpegangan.
"Ah iya, maaf Pak"
Zack tanpa menjawab langsung berlalu dari hadapan Fatma. "Jutek sekali dia, tampan tapi angkuh. Aku sumpah i dia dapat pasangan yang super bawel!" Fatma menggerutu. Dia mencari keberadaan Siska di stand makanan.
"Sudah ke toiletnya?" Tanya Siska yang asik mengunyah buah melon di tangannya. "Udah Sis, tadi ketemu sama Pak Zack. Gila yah, dia tuh cowok super cuek abis. Cuma nabrak doang aja dingin banget" Celoteh Fatma tak henti hingga akhirnya potongan melon berhasil menyumpal mulutnya.
"Bawel banget deh dari tadi ngomong mulu. Makan nih melon" Ujar Siska yang menyuapi melon padanya.
"Iih, Siska... Orang lagi kesel juga!" Fatma semakin bete.
"Ya kan kamu tahu sendiri. Pak Zack itu memang kayak gitu dari dulu. Dingin dan nggak banyak bicara sama orang"
"Hih, pasti menyebalkan jika punya pasangan seperti dia. Amit-amit deh" Lanjut Fatma masih saja mengoceh.
"Nanti kepincut beneran tahu rasa kamu! Kita ke Nayla yuk, mumpung di sana lagi sepi." Ajak Siska yang melihat Nayla tidak terlalu sibuk mengobrol dengan para tamu.
"Yukk.."
"Nay, selamat ya atas pernikahan kamu dan Pimpinan Wira. Semoga kalian langgeng sampai kakek dan nenek." Ucap Siska yang menghampiri Nayla di atas pelaminan.
"Iya Nay, selamat ya. Semoga cepat dapat momongan he he he." Ujar Fatma sambil cekikikan. Dia hobi sekali meledek sahabatnya.
"Iya, makasih ya kalian sudah mau datang. Nanti main ya ke rumah kalau libur" Jawab Nayla yang masih dengan rasa bahagianya.
"Kalian bisa main kapan saja ke rumah. Karena Nayla nanti akan di rumah terus, dan tidak bekerja di kantor lagi. Saya bebaskan kalian mau ke rumah kapan saja." Ujar Wira dengan wajah yang juga berseri.
"Wah Pimpinan baik sekali. Terima kasih banyak, suatu kehormatan untuk kami. Pasti kami akan main ke rumah menemui Nayla" Jawab Siska sedikit canggung.
"Baiklah"
"Nay kamu cantik banget sumpah. Aku sampai pangling sama kamu" Fatma tak henti menatap wajah sahabatnya itu.
"Kamu bisa aja Fat, aku jadi malu"
"Kamu memang cantik sekali hari ini sayang" Bisik Wira di depan Siska dan Fatma.
"Duhhh asik sekali ya pengantin baru. Ya udah kita ngga mau ganggu deh. Kita ke sana dulu ya Nay. Sekali lagi selamat ya untuk kalian. Dan ini kado dari kita berdua" Siska memberikan sebuah kotak berwarna putih untuk Nayla.
"Wah,, apa ini Sis? Makasih ya Fatma dan Siska, aku akan membuka nya nanti" Nayla tersenyum menerima kado pemberian dari kedua sahabatnya.
"Iya sama-sama Nay. Ya udah kita kesana dulu ya" Akhirnya Fatma dan Siska benar-benar pergi dari atas pelaminan.