
Zack pulang dengan mobilnya sendiri. Dia melewati jalan pintas untuk cepat sampai ke kantor lagi. Tapi ketika melewati pohon besar di sebelah kiri. Ponselnya terjatuh ketika hendak memasukan ke dalam jas nya.
"Ck, pakai jatuh lagi" Kesal Zack sambil berusaha meraba kabin mobil dengan tangan kiri nya.
Ponselnya sudah ia dapat, lalu Zack membenarkan posisinya. Tiba-tiba hampir saja mobilnya menabrak seseorang.
Ciiitttt......
"Aaaaaaa...."
"Wah, hampir saja" Zack bernafas lega. Dia lalu turun untuk mengecek kondisi orang itu.
Nafas gadis itu terasa sesak seperti tertahan. Kedua tangannya menutup telinga, dan matanya terpejam. Lututnya berjarak lima centi lagi dengan mobil Zack.
"Kau baik-baik saja kan?" Tanya Zack di dekatnya.
Gadis itu perlahan membuka matanya dan menatap ke arah Zack. "Pak Zack?" Ucapnya tidak menyangka.
Zack masih tidak tahu siapa sosok gadis di depannya. Tapi melihat dari seragam yang dia gunakan. Sekarang Zack paham bahwa gadis itu bekerja di Pranata Group.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Zack sekali lagi. "I-iya Pak, saya nggak apa-apa kok" Jawabnya gugup sambil mengangguk.
"Kalau jalan hati-hati yah, bahaya seperti tadi"
"I-iya Pak, maaf." Tubuh Fatma sedikit gemetar. Matanya menangkap sosok tampan di depannya bagai malaikat turun dari langit.
Entah malaikat apa yang Fatma lihat, wajah Zack begitu dingin. Tapi tetap terlihat tampan dan menawan.
"Ya sudah kalau tidak apa-apa." Zack lalu masuk ke dalam mobil. Fatma pun minggir memberi jalan untuk Zack.
Nayla dan Wira masuk ke dalam butik, mereka bertemu dengan Jhon di dalam.
"Hei... Hei... Hei.. Mari kita lihat siapa yang datang?" Sapa Jhon dengan sedikit nada meledek. "Tunjukan baju nya pada Nayla, Jhon." Pinta Wira tidak basa-basi.
"Ulala, ternyata keluar dari butik ini. Terus masuk ke Pranata Group. Sekarang kau jadi jodohnya si Wira." Ucap Jhon pada Nayla yang masih terdiam kaku.
"Hai Mr. Apa kabar?" Sapa Nayla.
"Kabar baik Nay, haduh... Yuk, kita cobain bajunya. Gue sudah siapkan baju yang paling terbaik buat pernikahan kalian"
"Sayang, aku tunggu di sini." Wira tersenyum lalu duduk di sofa. "Iya Mas"
Nayla ikut Jhon mencoba gaun pengantin, di bantu dengan Asisten Jhon bernama Lela. "Lela, coba kau pakaikan yang ini ya" Jhon menyuruh Lela untuk membantu Nayla memakaikan bajunya.
"Baik Mr."
Lela membantu Nayla memasangkan sebuah gaun putih yang terbuka di bagian dada dan bagian paha yang terdapat belahan.
Keduanya lalu keluar untuk memperlihatkannya pada Wira.
"Mas" Panggil Nayla.
Wira yang tengah memainkan ponselnya menoleh ke arah Nayla. Pria itu berusaha menelan saliva nya melihat tubuh Nayla yang indah di balut gaun pengantin yang cantik.
Di tambah dia sudah beberapa hari tidak melihat kekasihnya. Nayla semakin cantik saja bagi Wira.
"Kamu cantik sekali Nay" Puji Wira tak mengedipkan mata.
"Terima kasih Mas."
"Hm, tunggu! Ganti gaun nya yang tertutup di bagian dada dan paha. Aku tidak ingin memperlihatkan tubuhnya pada semua orang." Ucap Wira pada Jhon.
"Haduh Wir, lo tuh gimana sih? Hari gini mau yang tertutup. Sedangkan semua pengantin cewek rata-rata minta nya yang kayak gitu. Seksi dan menarik perhatian banyak orang" Jelas Jhon untuk gaunnya yang super mahal.
"Ya,,ya,,ya.. Tapi tidak untuk Nayla! Cepat carikan yang aku mau."
"Okay,, baiklah. Lela ambilkan gaun yang itu"
"Baik Mr."
Nayla mengganti pakaiannya lagi dengan sebuah gaun berwarna perak dengan lapisan swarovski yang menempel sempurna di gaun itu.
Kali ini gaun itu menutupi belahan dadanya. Tapi sangat membentuk tubuh Nayla. Hingga pahatan tubuh Nayla yang molek terlihat begitu jelas dan menggoda.
"Cantik sekali Nona memakai gaun ini" Puji Lela.
"Terima kasih Lela. Gaun ini memang cantik" Nayla jatuh hati pada gaun yang ia gunakan sekarang.
"Mas, bagaimana?" Tanya Nayla lagi.
Lagi-lagi pria itu menelan saliva nya melihat Nayla begitu menggoda. "Cantik sekali.." Puji Wira tidak dapat di pungkiri lagi.
"Aku mau yang ini saja" Ucap Wira pada Jhon.
"Nayla tuh punya body yang bagus Wir. Di pakaikan apa saja masuk. Ini gaun baru gue selesain bulan kemarin." Ucap Jhon merasa puas.
"Baiklah aku mau yang ini"
Di dalam mobil Wira terus memegangi tangan Nayla. "Mas, kamu nggak apa-apa nyetir tangan satu seperti itu?" Nayla terkekeh melihat tingkah Wira yang suka kekanak-kanakan.
"Hm, sudah biasa"
"Baiklah"
"Nay, kita ke rumahku dulu ya. Nanti malam aku akan mengantarmu pulang" Pinta Wira dengan senyuman manisnya.
"Iya Mas"
Mereka berdua sampai di rumah Wira yang besar dan mewah itu. Bisa di katakan rumah Wira sudah seperti Mansion.
"Ayo masuk" Ajak Wira menggenggam tangan Nayla.
Wira mengajak Nayla ke dalam kamarnya, dia sudah menahan sesuatu sejak tadi di butik Jhon. "Mas kita kenapa ke kamar?" Tanya Nayla masih bingung.
Sampai di dalam kamar. Wira langsung mencium bibir Nayla dengan rakusnya. "Aku merindukanmu Nay" Ucap nya lalu melanjutkan kembali ciumannya.
Sambil bercumbu dengan Nayla, Wira melepaskan jasnya dan melemparkannya ke bawah begitu saja. Nayla sudah sangat paham apa yang akan terjadi selanjutnya.
Wira berjalan maju hingga Nayla berjalan mundur. Kakinya mentok di ranjang Wira, dengan cepat pria itu mendorong tubuh Nayla dan mereka jatuh di atas ranjang empuk milik Wira.
"Mas.."
"Sssstt... Aku menginginkanmu Nay" Bisiknya dengan suara berat. Nafasnya sudah memburu, Wira menggigit kecil telinga Nayla.
"Ahh.."
Wira melepaskan kemejanya, lalu ia melepaskan dress merah yang di kenakan Nayla. Sebuah pemandangan yang Wira rindukan terpampang nyata di depannya.
Gairahnya sudah memuncak, Wira langsung menarik paksa bra yang melekat pada tubuh Nayla. Dua gundukan itu mencuat keluar dari sarangnya.
"Masshh.."
Wira melahap benda kenyal milik Nayla, yang sedari tadi ingin ia manjakan. "Nnggghhh..." Lenguh Nayla tidak bisa diam di buat Wira terlena.
Tangan Wira meremas bergantian, dan menghisap kuat hingga Nayla merasa geli yang tiada tara. "Akhh Mas,,,"
"Ya sayang.."
Ciuman Wira turun ke perut lalu turun lagi ke bawah. Pria itu merobek ****** ***** Nayla dengan paksa. Nayla hanya bisa pasrah jika hasrat Wira sudah menggebu-gebu karena dirinya.
Wira menatap Nayla sebelum melakukan aksinya di lembah milik Nayla. "Mas jangan,,,," Pinta Nayla menahan kepala Wira.
Karena kalau Wira sampai melakukan aksinya di sana. Nayla seperti kerasukan, dia tidak bisa menahan geli di sekujur tubuhnya.
"Kamu milikku Nay"
Wira langsung menyambar lembah itu, dan menyapunya dengan lidah. "Aakhhhh...." Cukup lama Wira memainkan lidahnya di sana. Nayla sampai di buat lemas duluan olehnya.
"Mas sudah hentikan, aku sudah tidak tahan lagi."
Akhirnya Wira beranjak dari bawah sana. Dia menyamakan posisinya dengan Nayla, lalu melepaskan celana nya. Mengarahkan miliknya yang sudah mengeras dan menancapkannya dengan sekali hentakan.
Nayla menggigit bibir bawahnya, merasakan sesak di bagian bawah. Wira melihat itu sangat gemas, dan menggagahi Nayla tiada henti.
"Ahh... Nayla milikmu sempit sekali" Racau Wira tidak berhenti memompa nya.
"Mas pelan.." Pinta Nayla yang sudah lemas di bawah kungkungan Wira. Tapi pria itu tidak mendengarkannya, ia malah memaju mundurkan miliknya dengan cepat.
"Ahhh... Shhh... Mas Wira"
"Akhh,,, ngghh...."
Mereka melakukannya hingga malam. Nayla tidak jadi pulang karena sudah larut.
"Malam ini kamu menginap saja sayang. Besok pagi aku akan mengantarmu pulang" Wira mengecup kening Nayla yang tengah berbaring di sampingnya.
"Iya Mas, ini semua karena Mas Wira" Nayla sedikit kesal. Karena Wira memiliki nafsu yang tinggi dan tidak suka penolakan.
"Maaf sayang, aku tidak bisa merelakan mu pulang begitu saja tadi" Wira memeluk Nayla di balik selimutnya.
"Mas aku lelah.."
"Kamu makan dulu ya, aku sudah menyuruh Zack menyiapkan makan malam di bawah"
"Zack memasak?"
"Tidak, dia membelinya di restoran dan menyusunnya di bawah. Ayo turun!" Ajak Wira agar Nayla mengisi perutnya yang sudah lapar.
"Iya Mas, aku akan berpakaian dulu" Wira mengangguk paham.