
Warning 21+ !!!! Bijaklah dalam membaca cerita ini, bab ini mengandung unsur kedewasaan. Yang belum memenuhi syarat umur, bisa di skip. Terima kasih.
Nayla menatap serius ke arah Wira. Pria itu tersenyum mengelus pipi kanan Nayla. "Jika kamu menerimaku, masuklah ke kamar itu. Jika tidak kamu boleh pergi." Ucap Wira tidak main-main dengan perkataannya.
Gadis itu memaku di tempat, dia menatap wajah Wira dengan seksama. Ada rasa khawatir saat ini apa yang ada pada pilihannya.
"Perlu kamu pikirkan dari sekarang. Jika kamu masuk ke sana, aku tidak akan berhenti. Dan jangan harap kamu bisa lepas dari ku, Nay." Wira sudah tidak memikirkan gengsi nya lagi. Dia terus mengutarakan isi hatinya.
Saat ini dia benar-benar menginginkan Nayla. Berharap gadis itu mau menerimanya, dan menjadi pasangan Wira.
Satu langkah demi satu langkah Nayla berjalan ke arah kamar. Manik mata Wira tidak teralihkan, dia menatap Nayla yang berjalan ke kamar di ruang kerjanya itu.
Nayla berhenti di depan rak buku besar. Dia berbalik ke arah Wira lalu tersenyum dan masuk ke dalam kamar.
Sejujurnya langkah Nayla sudah merasa lemas, dia bahkan meremas ujung bajunya sendiri. Wira tersenyum mendapati gadis itu setuju dengan pilihan pertamanya.
Tidak ingin membuang waktu Wira melepaskan jasnya dan melemparnya ke sofa. Lalu masuk ke dalam kamar itu, dia mendorong Nayla ke dinding kamarnya. Pria itu melalukan aksinya lebih agresif dari sebelumnya.
Di lepaskannya blazer hitam milik Nayla, Wira menciumnya tanpa henti. Gadis itu tampaknya kewalahan dengan apa yang Wira lakukan.
"Kamu sudah masuk, jangan berharap bisa lepas dariku!" Bisik Wira tepat di telinga Nayla. Membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Wira melepaskan kemejanya. Dia tidak ingin berlama-lama setelah hasrat nya meninggi. Nayla menunduk melihat dada bidang milik Wira di depannya.
"Ya ampun, kenapa dia melepas pakaiannya di hadapanku. Jantungku terasa ingin meledak. Semoga pilihanku tidak akan mengecewakan aku ke depannya." Batin Nayla merasa cemas dengan pilihan hatinya sendiri.
Jujur dia sangat menyukai Wira, melihat pria itu lagi saat sekian tidak pernah bertemu. Membuat tubuhnya bergetar di acara ulang tahun Pranata Group kala itu.
Maka dia menghindar untuk menenangkan perasaannya. Siapa sangka, ternyata Wira juga menginginkan dirinya. Tapi dia takut, kalau hal ini hanya akan menjadi angan-angan dalam bayangannya saja.
Wira menuntun Nayla ke tempat tidurnya. Ia mengungkung gadis itu di bawahnya. Terlihat jelas di mata Nayla tubuh kekar milik Wira.
Perlahan Wira mencium Nayla dari kening turun ke hidung, lalu turun ke lehernya. Wira menghirup kuat aroma tubuh Nayla di bagian leher. Membuat gadis itu tak berdaya, menggeliat karena terasa geli.
Tidak ingin diam saja, tangan Wira yang satunya melepas kemeja yang di pakai Nayla. Membuka satu persatu kancing di bajunya. Nafas Nayla sudah tercekam. Dia bahkan merasa kesulitan bernafas karena Wira terus mencumbunya di titik-titik sensitif.
Pria itu menurunkan rok span selutut berwarna hitam milik Nayla. Wira berdiri di hadapan tubuh Nayla yang berbaring menatapnya sayup.
Lalu Wira melepaskan celananya juga, Nayla membuang pandangannya ke samping. Dia belum siap melihat benda yang pernah merenggut kesuciannya tahun lalu.
Di mana dirinya merasa kesakitan di **** ************* selama satu minggu. Mengingat itu Nayla memejamkan matanya.
Tubuh pria itu sudah polos, dia juga melucuti seluruh pakaian Nayla. Naik ke atas tubuh Nayla lagi dan menaruh kedua tangan Nayla di atas kepalanya.
Nayla tidak tahu harus berbuat apa, di hanya mengikuti permainan Wira.
Wira kembali melanjutkan aksinya. Dia menyerang bagian dada Nayla yang saat ini semakin sintal dan padat. Siapa yang tidak tahan melihat gundukan kembar yang menggoda itu, membuat jiwa pria bergejolak.
Ia melahapnya dengan penuh nafsu. Nayla mendongakkan kepalanya, menekan kedua kakinya seperti menahan rasa sengatan listrik yang dahsyat. Matanya terpejam erat seolah menafsirkan sesuatu yang tidak dapat dia katakan.
"Mmhh.." Suara Nayla tertahan, dia tidak ingin mulutnya mengeluarkan suara-suara laknat.
Wira menyesapnya kuat, sisi kanan dan sisi kiri secara bergantian. Lidah pria itu memainkan bulatan kecil yang masih ranum.
Sungguh aroma tubuh Nayla tidak bisa membuat Wira berhenti. Dia terus menjamah tubuh Nayla. Benda pusaka miliknya di arahkan ke milik Nayla. Gadis itu merasakan ada sesuatu yang sangat keras berusaha memasuki **** *************.
Wira mensejajarkan tubuhnya di atas Nayla. Dia memegang wajah gadis itu. "Jangan menahannya.. Itu akan membuatmu sakit." Ucap Wira yang wajahnya sudah berkabut hasrat.
Nayla mengangguk membuat pria itu tersenyum lalu mengecup bibirnya. Wira berusaha mendorong lagi miliknya. Cukup sulit untuk menggagahi Nayla kali ini.
"Sial, kenapa miliknya sangat sempit seperti aku melakukannya tahun lalu. Nayla,,, kamu sudah membuatku tergila-gila" Batin Wira merasa di awang-awang langit kali ini.
"Aaakh.."
Jeritan Nayla merasakan miliknya perih dan sakit. "Apa sangat sakit?" Tanya Wira pelan, dia mendiamkan sejenak miliknya. "Hum" Nayla mengangguk.
Setelah itu Wira kembali melakukannya. Dia tidak bisa berkata-kata lagi. Wira sangat menikmati permainannya.
"Aaahh.."
"Presdir!"
Nayla merasa tidak berdaya sama sekali. Awal yang terasa sakit kini berganti rasa nikmat. Di bawah tubuh Wira, diri nya sudah berkali-kali mendesah tertahan.
"Apa begini kah rasa nya waktu itu?" Gumam Nayla dalam hatinya.
Wira benar-benar merasa dirinya melayang tinggi. "Jangan panggil aku Presdir. Panggil namaku Nay!" Pinta Wira yang tidak berhenti menggagahi Nayla.
"Aaakh.."
"Sudah hentikan, aku ingin..." Teriak Nayla.
"Keluarkan saja, sudah ku bilang aku tidak akan berhenti." Jawab Wira terus memompanya dengan tempo cepat. Entah sudah di menit keberapa dia melakukannya.
"Aaakh.. Presdir sudah!!" Nayla sudah seperti cacing kepanasan.
Ada sesuatu yang ia rasakan sebentar lagi akan keluar, rasanya tidak dapat di tahan.
"Panggil namaku Nay!"
"Keluarkan sayang." Wira mencium kening Nayla dengan lembut.
"Aaakhh..."
"Mas..."
"Nayla" Jawab Wira juga.
Tubuh Nayla bergetar dahsyat, baru kali ini dia merasakan hal seperti ini secara sadar. Akhirnya cairan hangat keluar dari milik Nayla. Membuat milik Wira berdenyut tak karuan. Di tambah milik Nayla semakin menjepit kuat miliknya.
"Bertahanlah sebentar lagi."
Wira terus menuntaskan permainannya. Tidak lama kemudian tubuh Wira juga merasakan hal yang sama. Menegang sepertinya dia telah mencapai puncaknya.
"Aaakhh.."
Segera pria itu menarik miliknya dan mengeluarkannya di luar. Nafas keduanya memburu, saling kelelahan. Wira berbaring di samping Nayla, dan menarik tubuh gadis itu ke pelukannya.
"Terima kasih" Ucapnya mengecup kening Nayla.
"Tidurlah, aku akan menemanimu." Wira membelai rambut lurus milik Nayla yang sudah acak-acakan akibat ulahnya.
Nayla yang merasa sudah lemas dan kehabisan tenaga, dia memejamkan matanya dan tertidur. Wira tersenyum mendapati Nayla yang langsung tidur di pelukannya.
"Kenapa kamu membuatku gila Nay, semenjak kita tidak bertemu lama. Aku selalu memikirkan mu, entah apa yang sudah kamu lakukan. Yang jelas sekarang aku tidak akan melepaskan mu!" Ucap Wira lalu ikut tertidur.
Zack masuk ke dalam ruangan Wira membawa berkas di tangannya. "Kemana Presdir? Nayla juga tidak ada di depan. Apa mereka pergi?" Manik mata Zack melihat ponsel Wira di atas meja.
"Sepertinya tidak pergi, ooopss!!" Zack menutup mulutnya mendapati jas milik Wira tergeletak di atas sofa begitu saja.
Zack lebih memilih keluar dari ruangan Wira sebelum terkena masalah.
"Sepertinya Presdir dengan Nayla sedang____. Ah, sudahlah aku tidak ingin melanjutkannya lagi. Benar dugaan ku kalau Nayla dan Presdir memiliki hubungan. Nayla hebat, bisa membuat Presdir luluh padanya."
Zack sangat mengingat bagaimana dinginnya Wira pada wanita, selama bekerja dengannya Zack bahkan tidak pernah melihat Wira dekat dengan wanita manapun.
"Presdir hanya membuatku iri saja, apa aku harus mencari pasangan juga?" Zack malah bernegosiasi dengan dirinya sendiri.
Satu jam kemudian Nayla membuka matanya perlahan. Dia merasa ada yang melingkar di perutnya. Ternyata Wira yang masih memeluknya dan tertidur nyaman sekali di sampingnya.
Nayla tersenyum malu mengingat apa yang baru saja terjadi. Dia menyentuh pipi pria itu pelan, tapi nyatanya membuat Wira terusik dari tidurnya. Dia membuka matanya menatap Nayla.
Gadis itu pura-pura tidak melihatnya dan langsung duduk. "Kamu sudah bangun?" Wira ikut duduk di samping Nayla yang masih berbalut selimut. "Hum, iya."
"A-aku boleh pakai kamar mandinya?" Tanya Nayla ragu.
"Boleh Nayla, kamu boleh memakainya. Biar aku antar" Wira bangun dari tempat tidur. Diri nya polos tidak mengenakan apa pun.
Nayla membuang wajahnya ke samping, dia sangat malu melihat Wira. "A-aku bisa sendiri." Nayla mencoba bangkit namun kesulitan. "Akh!" Rasa perih itu masih terasa sakit sekali di miliknya.
"Sudah ku bilang, biar aku bantu."
Wira menggendong tubuh Nayla ke kamar mandi. Di letakkan nya gadis itu di dalam bathub. Wira menyalakan keran air hangat untuk mengisi bathub nya.
Melihat tubuh Nayla yang polos membuat milik Wira kembali berdiri tegak. Nayla tidak menyadarinya karena sedari tadi ia menunduk.
"M-mau apa?" Nayla melihat Wira ikut masuk ke dalam bathub.
"Kau milikku, sepertinya aku akan membuatmu tidak bisa duduk selama satu minggu." Ucapan Wira membuat Nayla merinding dan membelalakan matanya.
"P-presdir___"
"Sssttt, aku tidak mau di panggil itu." Wira mencium bibir Nayla.
Tangannya sudah bergerilya menjamah gundukan milik Nayla. "M-mas Wira mau apa?" Nayla sudah ketakutan.
"Mau melanjutkannya lagi."
."Aakhh..."
Di angkatnya tubuh Nayla yang sudah sempat terendam air hangat. Gadis itu terkejut karena Wira menggendongnya dan mendudukkan nya di wastafel.
"M-mas tapi aku___"
Wira sepertinya tidak main-main dengan ucapannya. Dia membungkam mulut Nayla dengan bibirnya. "Mmhh.."
"Mas, Akhh.."
Nayla tersentak karena tubuhnya sudah di gagahi Wira dalam posisi dia duduk di wastafel. Nayla menutup mulutnya dan tangan satunya menahan memegang bahu Wira.
"Aahh, kamu benar-benar membuatku gila Nay!" Bisik Wira tidak tahan. Dia terus melakukannya lagi di dalam kamar mandi.
"Mmm.."
"Lepaskan, aku ingin mendengarnya." Wira melepaskan tangan Nayla yang menutup mulutnya.