
Nayla duduk di sofa ruang tv, dia menemani Wira yang tengah sibuk dengan laptopnya. Ponsel Nayla tiba-tiba berdering. Sebuah panggilan masuk dari Luna tertampil di layar ponselnya.
"Ibu?"
"Halo Bu"
"Halo Nay, Ibu sama Ayah sudah pulang ke rumah. Kok kamu nggak ada di rumah?" Tanya Luna yang sudah sampai di rumahnya. Niat hati ingin memberi kejutan pada anaknya. Tapi Nayla tidak ada di rumah.
"Apa, jadi Ibu sama Ayah sudah pulang ke rumah? Kok Ibu nggak bilang sama Nay." Nayla terkejut, Wira sampai melirik ke arah kekasihnya itu.
"Iya, Ibu sengaja tadinya mau bikin kejutan buat kamu. kamu di mana Nay?"
"A-aku lagi menginap di Escala Bu" Jawab Nayla jujur tapi hatinya gugup. "Escala? Di mana itu Nay?" Luna tidak paham yang di jawab putrinya.
"Maaf Bu, nanti Nayla akan cerita sama Ibu. Besok Nay akan pulang ke rumah"
"Baiklah, kamu hati-hati di sana. Ibu sama Ayah akan menunggu kamu di rumah." Luna percaya dengan anaknya.
"Iya baik Bu" Panggilan dari Luna telah selesai. Luna memilih istirahat setelah perjalanan dari Kota Y.
Wira menghentikan kegiatannya, dia melihat Nayla tidak nyaman duduk di sofa. "Ada apa Nay, apa keluargamu sudah pulang?"
"Iya Mas, Ibu sama Ayahku sudah pulang. Besok aku akan pulang ke rumah, aku akan cerita pada mereka."
"Biar aku yang mengantarmu besok"
"Hum, sepertinya aku pulang sendiri Mas. Aku akan bercerita pada mereka tentang hubungan kita. Mas ke rumahnya lain kali saja ya" Nayla berharap Wira akan mengerti maksudnya.
"Baiklah, jika itu keinginanmu. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku ya" Wira memeluk Nayla agar kekasihnya sedikit tenang.
"Iya Mas, terima kasih karena Mas Wira sudah mau mengerti"
Cup..
Wira mengecup kening Nayla, dia menatap wajah kekasihnya yang cantik. "Hm, sekarang kita tidur ya" Ajak Wira tersenyum padanya.
"Iya Mas"
Esok hari nya setelah pulang kerja, Nayla pulang ke rumah menggunakan mobil barunya. Awalnya dia menolak menerima pemberian mobil dari Wira.
Tapi pria itu memaksanya dengan berbagai macam alasan. Beruntung Nayla bisa mengendarai mobil, sebab dulu ia sering membantu Frans di bengkel mobil. Mengetes beberapa mobil setelah di dandani.
"Mas, itu mobil siapa ya?" Tanya Luna pada Frans melihat ada mobil mahal terparkir di halaman rumahnya.
"Nggak tahu Bu."
"Astaga Mas, itu Nayla.." Luna terkejut saat melihat yang turun dari mobil itu adalah putrinya sendiri. Beberapa pasang mata tetangga Nayla juga melihatnya.
Para tetangga begitu takjub melihat mobil mewah yang di kendarai Nayla.
"Nayla?"
"Ibu...Ayah..."
Nayla berlari dan berhamburan ke pelukan Luna juga Frans. "Aku kangen sekali dengan kalian" Ucap Nayla melepas rindu.
Saat memeluk Frans, Nayla terkejut ketika kedua tangan Frans membalas pelukannya.
"A-ayah??" Nayla ternganga tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Iya Nay"
"Ta-tangan Ayah sudah sembuh?" Tanyanya menanti sebuah jawaban dari Frans. "Iya Nay, tangan Ayah sudah sembuh." Frans mengangguk senang.
"Aaaaa... Syukurlah Ayah" Nayla kembali memeluk Frans dengan bahagia.
Mereka masuk ke dalam rumah, "Makanan apa Nay?" Luna membuka plastik putih yang di bawa Nayla.
"Wahh, kue lapis legit kesukaan Ayah kamu. Sama ini ada beberapa macam lauk. Kamu nggak perlu repot-repot belikan ini Nay, Ibu bisa masak kalau kamu mau." Luna terharu dengan perhatian Nayla padanya.
"Nggak apa-apa kok Bu. Ibu kan baru pulang, nggak usah masak dulu. Kita langsung makan saja nanti" Nayla tersenyum ceria.
"Makasih ya sayang" Luna memeluk Nayla lagi, rasa rindu nya masih belum terobati. "Iya sama-sama Bu"
"Nay, boleh Ayah tanya sesuatu sama kamu?"
"Boleh dong Ayah"
"Hmm, mobil yang kamu pakai itu milik siapa Nak? Mobil itu sangat mahal harganya, nanti kalau ada apa-apa bagaimana? Pasti biayanya tidak murah Nay. Ayah cuma khawatir saja." Frans merasa sedikit cemas.
"Hum, soal mobil itu... Sebenarnya itu mobil Nayla Yah, Bu. Nay juga mau cerita sesuatu sama Ibu dan Ayah"
"Apa?!! Mobil kamu Nay?" Luna dan Frans terkejut.
"Em, a-aku bisa jelasin Bu. Ayah sama Ibu tenang dulu ya" Nayla berusaha menenangkan keduanya. Ia menarik nafasnya sejenak.
"Kamu habis menang undian atau bagaimana Nay. Bisa memiliki mobil sebagus itu" Luna habis pikir, dia duduk di samping Frans dalam ruang tv.
"I-itu,,, aku bukan menang undian Bu. Mobil itu Mas Wira yang belikan untuk Nay" Tidak ingin berbohong, Nayla mencoba jujur. Tangannya sedikit gemetar.
"Maksud kamu,, Bos kamu yang belikan itu untuk kamu?" Giliran Frans yang bertanya, Nayla mengangguk pelan.
"Nay, coba ceritakan sama Ibu dan Ayah. Kenapa Bos kamu bisa membelikan mobil itu dan juga melunasi hutang Ayah kamu. Kamu bukan jadi simpanan nya kan? Nayla, jawab Ibu!" Luna sudah berpikir macam-macam pada putrinya.
"Nayla nggak jadi simpanan Bu. Mas Wira sama Nayla berpacaran. Nay juga sudah menolak keras soal mobil itu. Tapi Mas Wira kekeh sekali supaya Nay mau memakainya." Jelas Nayla menenangkan Ibu dan Ayahnya.
Frans menatap Nayla dengan sungguh-sungguh. "Bos kamu itu sudah punya istri atau belum Nay, kamu beneran bukan simpanan nya kan? Nay, Ayah sama Ibu hanya khawatir"
"Iya Ibu nggak mau kalau kamu sampai salah jalan Nay" Luna ikut cemas.
"Bu, Yah.. Aku bukan simpanannya Mas Wira. Dia belum menikah Bu" Nayla bingung harus menjelaskannya dari mana dulu.
"Aku sama Mas Wira menjalin hubungan, maka dari itu Nay ingin bilang sama Ibu dan Ayah."
"Syukurlah kalau Bos kamu itu belum menikah. Ibu hanya takut dia sudah menikah tapi dekat sama kamu Nay" Luna membawa kue lapis legit yang di beli Nayla ke meja.
"Iya Nay, tapi gimana ceritanya kok kamu bisa berpacaran dengan Bos kamu itu?" Tanya Frans penasaran.
"Sebenarnya Nay sudah kenal sama Mas Wira di tahun lalu Yah. ceritanya panjang Bu, Yah. Hum tangan Ayah sekarang sudah kembali normal lagi? Nay senang bisa melihat Ayah sudah sehat kayak dulu lagi" Nay berusaha mempersingkat cerita.
Mana mungkin dia bercerita kalau dulu, Wira yang telah merenggut kesuciannya karena kebodohannya sendiri.
"Iya Nay, Ayah kamu berobat alternatif di sana. Ayah melakukan terapi dan meminum ramuan jamu dari Bude kamu" Jelas Luna.
"Oh begitu, syukurlah Nay senang sekali mendengar kabar baik ini" Nayla tersenyum bahagia bersama keluarganya.
"Iya Nay, mungkin bulan depan Ayah akan mencari pekerjaan lagi"
"Nggak usah Ayah, Ayah di rumah saja sama Ibu. Biar Nay yang kerja. Ayah juga kan baru sembuh" Nayla tidak ingin Frans bekerja lagi seperti dulu. Mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi. Nayla tidak ingin mengambil resiko untuk Ayahnya.
"Ayah ini masih kuat Nay, tangan Ayah juga sudah sehat. Ayah tidak mau membebani kamu terus."
"Ayah ini bicara apa, Nay nggak merasa di bebani kok selama ini."
"Sudah-sudah nanti kita bicarakan lagi. Ini Ibu buatkan teh hangat buat makan lapis legit kesukaan Ayah kamu" Luna membawa tiga gelas berisi teh hangat.
"Terima kasih Bu"
"Wah,, sepertinya kue lapisnya enak" Frans mengambil sepotong kue lapis legit dan memakannya.