
Mobil Wira berhenti di sebuah penerbangan pesawat pribadi. Landasan yang cukup luas tapi bukan di bandara.
"Ayo turun" Wira membawa tangan Nayla untuk turun dan berjalan di sampingnya. Gadis itu melihat ke sekitar area penerbangan.
Beberapa pesawat dan helikopter berjajar terparkir di landasan itu. "Kita mau apa Mas?" Nayla begitu penasaran.
Hati yang sebelumnya bergetar karena ketakutan, kini berubah menjadi rasa terharu dan bahagia. "Ini hobiku, Nayla." Jawab Wira tersenyum.
Dua petugas yang sudah menunggu di depan helikopter mempersilahkan Nayla dan Wira masuk ke dalam.
"Selamat sore Tuan Wira." Sapa seorang pria yang merupakan Pilot di area penerbangan itu.
"Sore"
Wira memakaikan peralatan lengkap dan sabuk pengaman ke tubuh Nayla. "Kamu tidak bisa kemana-mana Nay." Pria itu tersenyum manis sekali di depan Nayla, membuat gadis itu tersenyum juga.
Setelah di pastikan alat pengaman yang di pakai Nayla terpasang. Gantian Wira memakai juga peralatan dan keamanannya untuk menerbangkan helikopter pribadinya.
Ya, selain sukses di dunia bisnis. Wira memiliki hobi menerbangi helikopter. Jika dapat waktu senggang dia akan menjelajahi langit dengan helikopternya. Melihat keindahan bumi dari atas. Bahkan dia sering ke luar Kota mengendarai helikopternya sendiri bersama Zack.
Wira mencoba berkomunikasi dengan ATC yang akan mengatur lalu lintas udara saat penerbangannya.
"Ehem,, RQ Tower Jetblue 1528 siap lepas landas menuju Kota S, izin mendarat di tower 12B." Ucap Wira di speaker pada ACT.
"Check, laporan di terima. Jetblue 1528 ready to fly, mendarat di Tower 12B, Kota S." Jawab ACT pada Wira.
"Thank you" Jawab Wira.
Pria itu mulai memainkan stir helikopternya. Dia mulai menerbangkan helikopter itu semakin tinggi dan membawanya ke atas bersama Nayla.
"Wahh..." Nayla begitu takjub dengan keindahan kota M dari atas langit. "Mas ini benar-benar menakjubkan.."
Pria itu hanya meliriknya dan tersenyum. "Kamu suka?"
"Hum, iya Mas. Ini sungguh luar biasa." Deretan gigi rapi milik Nayla itu terlihat oleh Wira. Kelihatan sekali kekasihnya begitu bahagia dan menikmati penerbangannya.
"Aaaaa...." Nayla setengah berteriak ketika helikopter itu semakin tinggi. "Apa ini akan membawa kita ke Kota S?" Nayla penasaran sekali.
"Hum, ya."
Dua puluh menit helikopter yang membawa Nayla dan Wira terbang di atas udara. Kini kendaraan yang memiliki harga fantastis itu mendarat di tower 12B.
Merupakan tower landasan di atas villa milik Pranata Group. Mereka berdua turun dan masuk ke dalam villa itu menggunakan lift.
"Di mana ini Mas?" Tanya Nayla memasuki villa yang sangat megah dan mewah.
"Villa keluargaku."
"Wah tempat ini besar sekali." Nayla mengitari ruangan villa yang terbagi beberapa ruang di sana. Gadis itu berjalan mendekati sebuah piano berwarna hitam.
"Kamu bisa memainkannya?" Tanya Wira menghampiri kekasihnya. "Tidak bisa." Nayla tersenyum, dia memegangi piano itu. "Biar aku yang memainkan ini."
Wira duduk di bangku piano nya dan mencoba memainkan alunan musik yang terdengar sedih. "Kamu luar biasa Mas." Puji Nayla yang tidak ada habisnya kagum dengan kepintaran yang di miliki Wira.
Nayla menikmati alunan musik yang merdu keluar dari piano itu. Nada-nada yang di mainkan Wira begitu nyaman di telinganya.
"Sudah, ayo kita ke sana."
Pria itu membawa Nayla ke sebuah balkon di villa, ternyata di sana sudah ada dua pelayan yang tengah menunggu kedatangan mereka.
"Silahkan Tuan dan Nyonya makan malamnya sudah siap." Ucap salah satu pelayan pria. "Hm, terima kasih."
Nayla menutup mulutnya dengan tangan, dia sangat merasa bahagia dengan kejutan malam ini. "Mas apa kamu yang menyiapkan ini semua?" Gadis itu duduk di kursi makan yang telah siap.
"Ya, ini untukmu"
"Terima kasih Mas."
Meja bundar yang hanya memiliki dua kursi saja. Sangat pas bagi sepasang kekasih yang duduk makan malam saat ini.
"Nikmati makan malamnya, Nayla." Wira tersenyum, dan Nayla membalasnya juga. "Hum, iya Mas." Dia mulai memotong daging steak di piringnya.
Setelah melakukan makan malam. Wira dan Nayla duduk di sebuah ruangan yang terdapat sofa besar berwarna hitam. "Mau menginap di sini malam ini?" Tanya Wira menyelipkan anak rambut ke belakang telinga kekasihnya.
"Besok masih hari kerja Mas."
"Pagi-pagi sekali kita bisa pulang dari sini." Wira tidak mau memusingkan hal itu, karena diri nya tinggal terbang memakai helikopter.
Di raihnya wajah Nayla, dan di ciumnya bibir itu dengan lembut. Nayla mengikuti pergerakan yang di berikan Wira.
Tangan Wira sudah mulai melepaskan blazer Nayla. Ciuman itu terus menuntut dan semakin panas. Suara dering ponsel dari milik Wira berbunyi.
Mereka menghentikan aktifitasnya. "Zack?" Wira menaikkan satu alis kanannya. "Kamu tunggu sebentar di sini. Aku angkat panggilan ini sebentar."
"Baiklah Mas."
Nayla tersenyum melihat Wira pergi ke arah luar villa. Dia masih menyukai nuansa dalam villa milik Wira. Mata nya terus menyapu ke setiap sudut.
"Halo Zack"
"Halo Presdir, saya sudah menyelidiki mobil yang tadi mengikuti Presdir. Sepertinya itu orang yang sama, karena mereka menggunakan mobil sewaan lagi Presdir." Lapor Zack mencari tahu pemilik sedan hitam yang mengikuti Wira sebelum ke Villa.
"Kau harus bergerak cepat Zack, temukan orang itu di mana pun dia berada!!" Tangan Wira mengepal kuat. Sebagai pria yang sukses di dunia bisnis. Dia sudah biasa di musuhi oleh para pesaing.
Tapi baru kali ini dia merasa di ancam keamanannya. "Baik Presdir, saya akan segera menangkapnya."
"Bagus Zack, terus kabari aku!"
"Baik Presdir."
Wira kembali ke ruangan di mana Nayla menunggunya. "Ada apa Mas, apa terjadi sesuatu?" Nayla melihat raut wajah Wira sedikit kesal. "Tidak ada, hanya laporan dari Zack tentang mobil yang mengikuti kita tadi."
"Apa baru kali ini ada yang mengikuti Mas?" Wira mengangguk. "Sepertinya orang yang sama pada malam itu. Mereka mengepung mobilku dan terjadi perkelahian."
"Astaga, jadi wajah Mas Wira waktu itu karena berkelahi dengan orang-orang yang membuntuti kita tadi."
"Hm, sepertinya."
Nayla langsung memeluk tubuh Wira dengan cepat. "Apa akan terjadi lagi? Aku khawatir mereka akan mengikuti Mas lagi."
"Kamu tidak usah cemas. Zack sedang mencari tahu. Ayo aku antar ke kamarmu." Wira menggendong tubuh Nayla, membuat gadis itu terkejut.
"Aaah Mas!! Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri." Rengek Nayla minta di turunkan.
"Kalau aku bisa menggendong mu, kenapa harus jalan sendiri." Jawab Wira meledek balik kekasihnya.
Satu per satu kaki Wira menaiki anak tangga hingga sampai di depan kamar yang memiliki pintu besar.
Kedua nya masuk ke dalam kamar. Wira menurunkan Nayla di atas ranjang. "Kamu mau bersih-bersih dulu?" Nayla mengangguk. "I-iya Mas"
"Baiklah, aku akan ke kamar sebelah."
Wira keluar dari kamar besar yang Nayla tempati. Pria itu masuk ke kamar yang tidak jauh letaknya berada di sebelah kamar Nayla.
Di waktu yang bersamaan Wira mengguyur sekujur tubuhnya di bawah pancuran shower. Nayla merendam tubuhnya di bathub yang berisi air hangat.
Dada bidang milik Wira begitu seksi dan kekar. Terlihat sekali pria itu sangat menjaga tubuhnya dengan rajin berolahraga. Kulitnya juga bersih dan putih.
Nayla juga memiliki kulit yang putih dan bersih. Wajahnya mulus tidak ada goresan sedikit pun. Alisnya yang berbentuk, hidung yang mancung. Bibir yang mungil kemerahan. Tubuh yang berisi dan kencang. Sungguh ciptaan Tuhan yang paling seksi. Bagaimana Wira tidak tergila-gila padanya, Nayla sangat cantik dan molek.
Setelah keduanya selesai membersihkan diri di kamar masing-masing. Nayla memakai bathrobe berwarna biru gelap. Membuat kulitnya semakin bersinar.
Ketukan pintu membuat gadis itu menoleh dan berjalan ke arah pintu. "Mas Wira?"
"Kamu sudah mandi?" Nayla mengangguk. "Biar aku bantu keringkan rambutmu." Pria itu menyelonong masuk ke dalam kamar.
"Tapi aku bisa sendiri Mas"
"Tidak apa, aku bisa."
Nayla duduk di kursi meja rias, Wira menyalakan hair dryer dan mengeringkan rambut kekasihnya itu. "Aku menyukai rambutmu Nay, kamu mempunyai rambut yang bagus." Pria itu memuji keindahan rambut Nayla.
"Benarkah Mas? Terima kasih" Nayla tersipu malu. Sering sekali Wira memujinya, tapi dia jarang memuji Wira.
"Nah sudah kering, sekarang waktunya tidur."
Wira menarik tangan Nayla dan membawanya ke atas ranjang. "Mas Wira tidur di sini?" Pria itu mengangguk. "Iya, aku akan tidur bersamamu."
"Mas tapi__"
"Aku janji hanya tidur saja." Wira tersenyum menggoda pada Nayla. Siapa yang bisa menolaknya, jika sudah seperti itu. "Baiklah hanya tidur bersama saja."
Akhirnya Nayla mau naik ke atas ranjang bersama Wira. Pria itu menarik selimut menutupi tubuhnya dan Nayla sampai sebatas dada. Tangan kekar Wira memeluk tubuh Nayla yang di sampingnya.