
Wajah Nayla memerah karena Wira memanggilnya dengan panggilan sayang. Hal itu sedikit membuat hatinya berbunga-bunga.
"Apa Mas mau meeting di sini?" Nayla mengikuti Wira yang terus menggenggam tangannya. "Nggak, aku tidak ada meeting hari ini"
"Iya juga, lalu Mas mau apa kesini?"
Wira berhenti di depan sebuah mobil mini cooper berwarna merah. Seorang wanita menghampiri mereka yang melihat mobil itu.
"Selamat siang Tuan Wira. Senang bisa bertemu dengan anda lagi. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
"Ah, siang. Boleh, aku ingin lihat mobil ini."
"Boleh Tuan, silahkan jika Tuan mau melihat dalam nya juga. Ini keluaran terbaru di showroom kami. Hanya masuk 3 unit di negara kita Tuan." Jelas wanita yang memakai blazer merah dengan rok span selutut.
"Bagaimana menurutmu Nayla?"
"Mas ingin beli mobil ini? Mobilnya bagus, tapi apa warnanya yakin untuk Mas Wira?" Melihat deretan koleksi mobil Wira tidak ada yang berwarna merah. Nayla tidak yakin kalau Wira akan membeli mobil itu.
"Jelas bukan untukku, tapi untuk mu Nay" Wira membuka pintu mobil sisi kanan. Nayla tertegun dengan penuturan Wira.
"A-apa, untukku Mas? Jangan bercanda Mas. Aku mana sanggup membeli mobil ini" Nayla tertawa kecil menjawab kekasihnya.
"Iya, aku yang belikan ini untukmu. Coba kamu duduk di sini"
"Mas tapi__"
"Ayo duduk dulu" Wira memaksa Nayla duduk di kursi kemudi. Pria itu membingkai kekasihnya dari luar mobil. Menurut pandangannya mobil mini cooper merah itu sangat pas untuknya.
"Cocok untukmu" Wira tersenyum puas. "Mas jangan bercanda. Aku tidak membutuhkan mobil ini. Untuk apa Mas membelikan ini untukku" Nayla benar-benar tidak habis pikir.
"Kamu pasti akan membutuhkan ini nanti."
"Tidak, aku nggak mau Mas"
"Saya mau yang ini, tolong proses hari ini" Pinta Wira pada wanita yang merupakan manager di Showroom mobil itu.
"Baik Tuan, untuk proses pembayarannya Tuan bisa ikut saya"
"Ya, baiklah"
"Mas tapi, aku tidak mau mobil ini. Mas jangan mengada-ngada, harga mobil ini sangat mahal." Nayla keluar dari mobil mengejar Wira yang berjalan mengikuti manager wanita itu.
"Terima kasih Tuan Wira, pihak kami akan mengantarkan mobilnya hari ini. Semoga istri anda menyukainya. Dan semoga sukses selalu Tuan" Ucap manager itu berjabat tangan dengan Wira.
"Hm ya terima kasih, istriku pasti akan menyukainya" Jawab Wira melirik ke Nayla yang tengah terlihat malu menggigit bibir nya.
"Kamu menggigitnya lagi?" Bisik Wira dengan suara khas nya.
Nayla tersadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. "Hum, a-aku tidak menggigit apapun" Nayla mengelak.
Wira membawa Nayla masuk ke dalam mobilnya untuk pulang. "Ayo kita pulang" Nayla masuk ke sisi sebelah kiri, lalu Wira menyusul masuk ke pintu sebelah kanan.
Begitu pintu mobil tertutup, Wira menyalakan mesin mobilnya dan mencium Nayla dengan penuh gairah.
"Mmhh,,,, Mas"
Nayla yang mendapat serangan mendadak langsung terdiam. Ciuman Wira begitu dalam, tangan Wira menekan tengkuk Nayla agar kekasihnya tidak bisa kemana-mana.
"Sudah aku katakan jangan melakukan itu di depanku, maka ini balasannya" Ucap Wira menatap Nayla dengan nafas yang saling menderu.
"Hum, baiklah aku tahu"
Wira mengusap pelan pipi sebelah kanan Nayla, dia membenarkan posisinya lalu menjalankan mobilnya. "Mas soal mobil itu, aku tidak mau menerimanya." Nayla masih memikirkan pembelian mobil yang di lakukan Wira barusan.
"Ada apa?"
"Mas ini terlalu berlebihan. Aku pikir Mas akan belanja kebutuhan sehari-hari. Tapi Mas malah beli mobil" Nayla sedikit kesal.
"Sama saja, aku sudah tidak lama belanja. Terakhir kalinya satu bulan yang lalu." Wira menjawabnya dengan santai. "Benarkah, Mas belanja kebutuhan sehari-hari?"
"Tidak, aku membeli sebuah penerbangan di pulau Xxx"
"Apa yang kamu lakukan Nay, sepertinya kamu memancingku" Wira gemas karena Nayla mencubit lengannya berkali-kali.
Dia menaikkan kecepatan mobilnya menuju Escala. "Mas kenapa kita sudah pulang? Ini masih pukul tiga sore."
Wira membawa Nayla masuk ke kamarnya "Ini semua karena mu" Nayla masih bingung, tiba-tiba Wira mendorong dirinya ke atas tempat tidur.
"Mas Wira.."
"Kamu tadi sudah memancingku, sekarang aku minta kamu bertanggung jawab" Wira segera menindih kekasihnya. Menciumnya dari kening turun ke hidung, lalu turun ke bibir.
Nayla awalnya berontak, tapi tenaganya kalah kuat dari Wira. Kancing kemeja Nayla mulai di buka satu persatu oleh tangan kekar Wira, tanpa melepaskan tautannya.
Tanpa menunggu lama bagian atas Nayla sudah polos. Segera Wira mengeksplorasi dua bukit kembar milik Nayla.
"Aaah Mas,,,"
Tangan Nayla menjambak rambut Wira, rasa geli teramat tidak tahan di sekujur tubuhnya. Ulah Wira benar-benar membuatnya mabuk kepayang. "Mas.."
"Iya sayang"
Pria itu kemudian mencium turun ke bawah hingga perut. Menuruni rok yang di kenakan Nayla. "Maaf, tapi aku menginginkanmu Nay" Izin pria itu lalu melanjutkan kembali aksinya.
Wira mencium milik Nayla, hingga gadis itu menggeliat seperti cacing kepanasan. "Aakh.." Wira berdiri melepas bajunya sendiri hingga polos.
Nayla melihat benda tumpul milik Wira sudah berdiri tegak, dia mengalihkan wajahnya. Pipinya sudah memerah, Wira kembali mencium bibir Nayla.
"Mmm.." Racau Nayla tertahan saat milik Wira berhasil menggagahi dirinya, dia mendorongnya agak kencang. Memaju mundurkan pusakanya dengan tempo cepat.
Nayla di buat menggila oleh Wira, gadis itu menggigit bibir bawahnya lagi. Wira yang melihat itu malah semakin mempercepat temponya.
Dia kembali menyambar kedua bukit kembar Nayla, tangan yang satunya meremas secara bergantian. "Akh kamu milikku Nay" Racau Wira tidak tahan.
Miliknya sangat di jepit oleh Nayla, hingga merasa akan mencapai puncaknya. "Akhh.. M-mas pelan" Nayla seperti di bawa terbang, Wira benar-benar menggagahinya tanpa ampun.
Sudah merasa di ujung Wira mencabut miliknya, memeluk Nayla dan menumpahkannya di luar. Setelah gadis itu lebih dulu *******. Dia hanya tidak ingin jika Nayla hamil duluan sebelum melakukan pernikahan.
Walaupun Wira tidak mempermasalahkan itu, tapi dia tidak ingin Nayla kecewa. Wira mencium kening Nayla. "Aku tidak ingin mengundur waktu untuk menikah denganmu Nay"
"Aku mencintaimu" Wira mengecup singkat bibir Nayla.
Tatapan sayu nya menatap wajah Wira dengan rasa lega. Lega karena telah mendengar ungkapan perasaan yang selama ini ia tunggu.
"Kamu benar mencintaiku Mas?" Tanya Nayla yang masih ragu. "Hm, aku milikmu" Jawab Wira mencium ceruk leher Nayla.
Nayla tersenyum tapi belum membalas ungkapan perasaan Wira. "Terima kasih Mas" Nayla membalas pelukan pria itu.
Mereka tertidur pulas setelah kegiatan menguras tenaga.
Malam harinya Nayla memasak menu makan malam sederhana di dapur. Wira datang memperhatikan Nayla yang tengah memasak, dia duduk di kursi makan.
"Apa yang sedang kamu masak sayang?"
"Mas, kamu sudah selesai mandi? Aku masak sesuatu untuk makan malam. Kamu tunggu, sebentar lagi akan matang."
Dengan terampil Nayla menyelesaikan masaknya di dapur mewah itu. Dia menata masakan nya yang sudah jadi di piring. Lalu membawanya ke meja makan.
"Nah, sudah siap.."
Nayla memasak udang saos thailand, tumis buncis, dan daging teriyaki. Wira merasa lapar saat melihat makanan yang di sajikan Nayla begitu menggugah selera.
"Kamu semua yang memasak ini?"
"Iya dong Mas. Ayo di makan, biar aku ambilkan nasinya" Nayla menuangkan nasi ke piring Wira. Keduanya makan bersama di meja makan.
"Hmmm,,,, masakanmu lezat Nayla. Aku menyukainya" Puji Wira yang tidak henti makan masakan Nayla.
"Terima kasih Mas."