
Malika menghubungi Ricky di ruangannya. Nampak sekali penampilan wanita itu acak-acakan.
"Halo Pah, Papah aku rasanya sudah tidak sanggup bekerja di sini!" Adu Malika pada Papahnya, Ricky.
"Kenapa Malika, ada apa sayang?" Tanya Ricky dalam sambungan teleponnya.
"Aku tidak suka bekerja di sini, ini sangat tidak cocok dengan duniaku Pah. Aku ingin pulang saja ke Kota J." Malika merengek tak tahan.
"Oh No Malika, kamu harus bisa bertahan di sana. Papah akan bantu kamu. Apa yang tidak bisa kamu kerjakan?"
"Banyak Pah, banyak sekali. Kepalaku serasa mau pecah sekarang juga. Sudahlah nanti aku telepon Papah lagi" Malika memutus panggilannya.
"Huft, aku bisa gila jika seharian berada di ruangan ini. Sebaiknya aku minum kopi dulu." Malika membenarkan penampilannya, lalu meraih tas nya dan keluar.
"Loh, Bu Malika mau kemana?" Tanya Zack yang baru saja ingin masuk ke ruangannya.
"Aku ingin keluar sebentar."
"Saya ingin mengantarkan berkas ini ke Bu Malika." Zack menyodorkan tumpukan berkas lagi pada wanita itu.
"Zack!! Kau mau buat aku mati di tempat?"
"Tidak Bu, ini sudah jadi tugas Bu Malika."
Malika memutar bola mata nya jengah dengan keadaan saat ini. "Yang pertama jangan panggil aku Bu dan Bu, panggil saja Malika. Yang kedua, aku tidak ingin di ganggu sekarang. Lebih baik kau taruh itu di dalam saja. Aku akan keluar dulu!"
Wanita itu pergi meninggalkan Zack di depan ruangannya. Zack mengangkat kedua bahunya. "Banyak sekali permintaannya."
Malika memasuki coffee shop yang tak jauh dari kantor Pranata Group. Dia sibuk mencari sesuatu dalam tas nya hingga tak sengaja menabrak seorang pria di depannya.
"Aduh!!"
Tas Malika jatuh ke lantai, segera pria itu mengambilnya dan memberikan pada Malika. "Sorry, tapi kamu yang menabrak ku." Ucap pria itu yang bernama Lukas.
"Ck, iya sorry." Malika meraih tas nya dan menatap wajah tampan Lukas.
"Sorry, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Nampaknya wajahmu tidak asing bagiku." Lukas meneliti wajah Malika, dari atas hingga bawah.
"Sepertinya tidak."
Wanita itu menyelonong jalan ke salah satu meja. Lukas mengikuti nya dan ikut duduk di depan Malika.
"Please, jangan ganggu. Cari tempat lain sana!" Tolak Malika dengan ketus.
Tapi Lukas tetap duduk di depan Malika, "Kamu Malika kan?" Ucap Lukas membuat wanita di depannya menaikkan satu alisnya.
"Dari mana kau tahu namaku?" Malika juga ikut heran. "Lima tahun lalu kamu menggelar pesta ulang tahun d Kota J, aku datang menggantikan Wira pada saat itu. Karena dia tidak bisa hadir."
Malika kembali mengingat di lima tahun silam. Di mana Lukas menghadiri pesta ulang tahunnya membawa hadiah, menggantikan Wira yang tidak bisa hadir. Itu membuat wajahnya sedikit kesal.
"Ya, sekarang aku ingat" Jawab Malika cuek.
"Hm, dan sekarang kamu semakin cantik." Puji Lukas, sukses membuat Malika tersenyum kecut. "Basi!"
"Aku Lukas"
Pria itu melayangkan tangan nya pada Malika, dan mereka bersalaman. "Malika." Lukas tersenyum dan mengangguk.
"Mau pesan apa?"
"Americano."
"Baiklah, pelayan!" Panggil Lukas pada pelayan coffee shop. Mereka minum kopi bersama siang menjelang sore di kafe.
Nayla masih bersama Wira di apartemen nya. Dia mengelilingi sekeliling apartemen itu untuk melihatnya.
"Ini akan menjadi kamar mu nanti." Ucap Wira membuka pintu kamar di hadapannya. Nayla masuk bersama Wira.
Mata nya tak henti takjub dengan dekorasi dalam kamar yang sangat indah itu. "Kamarnya bagus sekali." Puji Nayla terpesona dengan kamarnya.
"Jika kamu tinggal di sini, kamu bisa mendekorasi sesukamu kamar ini." Wira duduk di tepi ranjang. Menatap ke Nayla yang masih melihat-lihat kamar itu.
"Kemari Lah"
Nayla menghampiri Wira yang duduk di tepi ranjang, pria itu menariknya ke dalam pelukan. "Mas.."
"Apa kamu benar sudah menerimaku?" Nayla mengangguk. Wira mencium pipi gadis itu dalam pelukannya.
"Terima kasih." Ucap Wira merasa bahagia saat ini. Nayla tersenyum dengan tingkah Wira. "Apa aku boleh tanya sesuatu?" Nayla ingin bertanya beberapa hal pada Wira.
Nayla masih duduk di pangkuan Wira. "Katakan"
"Aku tidak mempermasalahkan itu."
"Lalu, bagaimana dengan keluarga Mas Wira nanti. Aku tidak yakin keluarga Mas akan menerimaku." Tanya Nayla lagi hati-hati sekali dalam bicaranya.
"Aku sudah tidak punya keluarga, kedua orang tuaku sudah lama meninggal." Jawab Wira dengan berat hati. Dia membuang wajah nya ke arah lain. Lalu menatap Nayla lagi dengan tersenyum.
Membuat Nayla merasa bersalah mengatakan hal itu. "Maaf Mas, sungguh aku tidak tahu."
"Tidak apa, itu sudah berlalu." Wira menyelipkan anak rambut Nayla ke belakang telinga.
"Pantas saja Mas Wira terasa dingin sebelum-sebelumnya. Ternyata dia hanya tinggal sendiri. Dia pasti sangat kesepian." Batin Nayla bermonolog sendiri. Dia merasa iba dengan Wira saat ini.
"Kenapa menatapku seperti ini?" Wira meraih dagu Nayla yang tengah menatapnya dengan wajah sendu.
"Umm, ti-tidak apa-apa." Nayla tersenyum hangat.
Wira tidak tahan dengan bibir gadis itu, dia mencium bibir Nayla dengan lembut dalam pangkuan nya.
Nayla melingkarkan tangannya di leher Wira. Dia menikmati permainan Wira saat ini. "Nay, entah kenapa aku tidak tahan melihatmu seperti ini. Jangan berpikiran yang macam-macam padaku. Kamu milikku Nay"
Pria itu menatap dalam pada Nayla, hingga Nayla bingung harus berkata apa. "Mas.."
"Nay, menikahlah denganku. Aku tidak main-main." Pinta Wira sangat serius.
Entah sudah berapa kali ia meminta Nayla untuk menikah dengannya. "Mas, aku tidak ingin terburu-buru. Aku juga belum menceritakan tentang kita pada orang tuaku."
"Aku mengerti, lalu kapan kamu mau menikah denganku, Nay?"
Nayla mencoba menenangkan situasi saat ini. "Aku sangat menghargai keputusan Mas, tapi berikan aku waktu sebentar lagi." Pintanya dengan lembut.
"Baiklah, aku mengerti. Tapi jangan salahkan aku jika tidak tahan padamu." Wira mencium pipi Nayla lagi, lalu tersenyum.
Wira menjatuhkan Nayla ke atas tempat tidur, pria itu sudah mengungkung nya. "Apa kita harus melakukannya lagi di sini?" Goda Wira pada Nayla yang wajahnya sudah memerah.
"M-mas aku tidak mau lagi"
"Bibirmu mengatakan tidak ingin, tapi wajahmu memerah Nayla." Wira tidak henti menggoda kekasihnya.
"Ti-tidak.. Mas!" Nayla memegangi wajahnya sendiri.
Wira tertawa dengan tingkah Nayla yang lucu, dia membantu Nayla duduk lagi. "Aku tidak tega menggoda kekasihku yang sudah merona seperti ini."
"Mas Wira..." Nayla merasa malu. Dia bahkan mencubit lengan Wira.
"Aku tidak melakukannya lagi, tapi tidak tahu di lain waktu. Ayo, kita keluar." Wira mengajak Nayla keluar dari kamar itu.
Mereka menuju balkon utama dalam apartemen, Nayla menghirup udara sore hari di atas balkon yang tinggi sekali. Wira memeluk Nayla dari belakang.
"Aku akan menunggu kabarmu nanti malam."
"Iya Mas, aku mengerti."
"Mas Wira, sebenarnya aku ingin minta maaf atas kejadian itu. Hingga membuat Mas Wira merasa bersalah." Nayla membalikkan tubuhnya menghadap Wira.
"Ssstt, aku tidak ingin membahas itu lagi. Nanti akan membuatmu marah seperti waktu itu." Wira enggan membahas kejadian itu.
"Aku marah pada diriku sendiri, bukan pada Mas Wira. Aku marah karena aku tidak bisa menahannya, pasti aku sangat terlihat bodoh sekali malam itu. Mungkin terlihat seperti wanita murahan." Nayla menunduk merasa malu pada Wira.
"Jangan mengatakan seperti itu. Malam itu kamu dalam pengaruh obat. Aku yang salah karena mengajakmu ikut ke dalam pesta itu. Aku minta maaf Nayla." Wira mendongakkan wajah Nayla untuk melihatnya.
"Hum, semua sudah terjadi Mas. Tidak perlu ada yang di salahkan lagi. Aku menghindar kala itu, karena aku malu. Karena i-itu yang pertama kalinya bagiku. Aku benar-benar bodoh." Nayla merutuki diri nya sendiri.
"Berhenti mengatai dirimu bodoh. Semenjak kejadian itu aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak. Rasa bersalahku lebih besar karena sudah melakukan itu padamu.
Aku menemui mu untuk bertanggung jawab. Tapi saat itu kamu masih sangat marah padaku. Lalu aku tidak menemui mu lagi, karena aku pergi ke Amerika cukup lama bersama Zack." Jelas Wira pada Nayla dengan sejujurnya.
"Lalu aku kembali ke Kota ini saat ulang tahun perusahaan. Dan takdir malah mempertemukan aku lagi padamu malam itu di kantorku sendiri, sebelum aku berniat menemui mu lagi."
"Mas mau menemui ku lagi?"
Wira mengangguk, "Iya, selama setahun aku tidak pernah menemui mu. Aku berniat untuk bertemu kamu lagi. Aku sibuk waktu itu, ada urusan yang tidak bisa aku tinggali, maaf."
Ya benar, pada waktu itu Wira langsung terbang ke Amerika bersama Zack. Karena ada proyek yang tidak bisa di tinggali. Sebab itu Wira dan Nayla tidak pernah bertemu lagi.
"Aku juga berpikir saat itu kalau kita tidak akan pernah bertemu lagi. Aku mencoba melupakan semuanya, meskipun hari-hari ku menjadi tidak biasanya. Tapi nyata nya aku malah bekerja di kantor Mas." Nayla tertawa kecil, mencairkan suasana yang tegang.
"Apa itu yang di namakan jodoh?" Tanya Wira menaikkan satu alisnya.