Love In November

Love In November
Kebiasaan Nayla



Malika melewati meja kerja Nayla dan masuk ke dalam ruangan Wira.


"Wanita itu terlihat cantik tapi sedikit angkuh, bahkan melewati aku begitu saja." Ucap Nayla tidak melarang Malika masuk, karena itu akan percuma baginya.


"Halo, Wir.. Apa kamu sudah senggang?" Malika masuk begitu saja dan duduk di hadapan Wira.


"Kenapa dia membiarkan wanita ini masuk!" Batin Wira tidak suka Malika masuk ke ruangannya begitu saja.


Pria yang sedang sibuk itu hanya melirik sekilas Malika dan melanjutkan pekerjaannya lagi. "Apa kau tidak lihat?" Jawabnya cuek.


"Ya.. Ya.. Aku melihatmu sedang sibuk, apa ada yang bisa aku bantu?" Malika pura-pura perhatian menggoda Wira.


Wira menatapnya di balik kacamata yang ia pakai. "No, kau pasti tidak mengerti." Jawaban itu sukses membuat Malika jengah.


"Kalau begitu ajari aku." Lagi-lagi Malika tidak kunjung menyerah. "Malika, kau bisa mengganggu ku lain kali. Aku sedang sibuk sekarang. Apa kau tidak punya kerjaan?!" Wira menghelas nafasnya kasar.


"Zack belum menyuruhku melakukan sesuatu."


"Kalau begitu nikmatilah saja waktu santai mu hari ini. Karena besok kau akan sibuk sepertiku" Ucap Wira tidak main-main.


"Oh ayolah Wira, kamu baru saja bertemu denganku lagi. Bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama?"


"Tidak bisa, aku sibuk!"


Malika mengibaskan rambutnya ke belakang. "Kamu sudah berubah Wir. Dulu kita sering main bersama. Tapi kenapa sekarang kamu malah terlihat cuek sekali." Rengeknya membuat Wira memijat pelipisnya.


"Malika kau sudah besar. Lebih baik sekarang kau keluar dari ruangan ini. Aku tidak ingin di ganggu!" Jawab Wira dengan nada menekan.


"Wira.."


"Ayo keluar"


Merasa jengah dengan tingkah Malika yang selalu ingi menempel padanya, Wira bangun dari kursinya dan menuntun Malika keluar dari ruangannya. "Okay, aku akan menurut kali ini tapi tidak lain kali." Balas wanita itu tersenyum lalu keluar dari ruangan Wira.


Wira melihat Malika sudah pergi, lalu dia menatap Nayla dengan tatapan dingin. "Lain kali tanyakan dulu padaku sebelum membiarkan orang lain masuk!"


"Hm, b-baik Presdir." Jawab Nayla melemah.


Dia merasa tatapan Wira masih kesal padanya. Entah apa yang pria itu kesal kan darinya. "Sepertinya dia masih tidak ingin berbicara padaku." Batin Nayla.


Pria itu kembali masuk ke ruangannya. Ketika sore hari Zack mengekor di belakang Wira untuk bersiap pulang. Dia akan mengantar Wira lebih dulu pulang ke rumahnya.


"Silahkan Presdir."


Zack menyuruh Wira masuk ke dalam mobil, dan pria itu duduk di kursi belakang. Nayla yang pulang menggunakan motor berhenti di depan gerbang perusahaan.


Dari dalam mobil Wira melihat Nayla tengah bersama Irwan. "Zack, berhenti sebentar!"


"Baik Presdir."


"Waduh, sepertinya Presdir melihat Nayla bersama pria lain. Pantas saja wajahnya dari tadi terlihat murung." Batin Zack menyadari hal itu.


Nayla duduk di atas motornya lalu memainkan ponselnya. Sepertinya Nayla bertukar nomor ponsel dengan Irwan. Wira mengepalkan tangannya kuat. Raut wajahnya tidak terima.


"Zack, jalan!"


Mobil Wira melewati motor yang di tumpangi Nayla. Dia bahkan tidak melirik sama sekali ke gadis itu. Berbeda dengan Nayla yang melihat mobil Wira keluar, dia melihat Wira yang duduk di kursi belakang.


"Hum, Irwan. Kalau gitu aku pulang dulu ya."


"Mau aku antar sampai ke rumah?" Tawar Irwan membuat Nayla tertawa. "Apa kamu ingin kita balapan?" Keduanya tertawa.


"Ide yang bagus." Irwan melihat wajah Nayla sangat cantik saat tertawa. Ada rasa kagum di hatinya.


"Kamu bercanda saja. Aku kan bawa motor. Aku pulang duluan ya, dahh.." Nayla pamit lebih dulu pulang ke rumahnya.


"Baiklah hati-hati, aku akan mengirimkan pesan ke kamu nanti." Ucap Irwan dan Nayla hanya tersenyum.


Malam harinya Wira nampak tidak bisa tidur di kamarnya. Pria itu memegang ponselnya, dia memandangi foto profil Whatsapp kontak Nayla.


"Apa dia tidak menyukaiku?"


"Apa pria yang dia suka seperti Irwan?"


"Ck, seleranya memang aneh." Wira bertanya pada dirinya sendiri. Dia mengusap wajahnya kasar. Saat pulang kerja, momen yang selalu dia dapatkan adalah kesunyian tinggal sendiri di rumah yang besar.


Dia baru merasakan hal seperti ini, karena sebelumnya Wira belum pernah merasa tertarik dengan wanita.


Keesokan harinya Malika di buat pusing oleh setumpuk pekerjaan yang di berikan Zack. "Ibu Malika, ini ada beberapa berkas dari Presdir Wira untuk anda. Sore ini Presdir meminta semuanya sudah selesai, silahkan."


Zack menyerahkan tumpukan dokumen di atas meja Malika. "Apa Zack?! Sebanyak ini kau bilang sore sudah harus selesai. Kau bercanda Zack!" Malika menggelengkan kepalanya.


"Ini sudah perintah dari Presdir, Bu Malika."


"Okay, kau boleh keluar."


"Baik, saya permisi dulu." Zack keluar dari ruangan Malika. Dia tersenyum puas bisa mengerjai anak dari pimpinan Ricky.


Malika melihat tumpukan berkas yang sangat tinggi di atas mejanya. "Sial Wira, dia benar-benar membuatku sibuk hari ini!!" Belum di mulai wanita itu sudah merasa pusing.


Nayla masuk ke dalam ruangan Wira pagi ini. Dia membawakan secangkir kopi yang biasa di antar setiap pagi untuk Wira.


"Selamat pagi Presdir, ini kopinya." Seperti biasa Nayla meletakkan nya di atas meja.


"Hm."


Wira tidak melihat Nayla sama sekali, dia fokus dengan ponselnya. "Apa ada yang Presdir butuhkan lagi?" Nayla memberanikan diri bertanya.


Pasalnya semenjak kemarin Wira tidak memberikan tugas apapun padanya. Hal itu membuat Nayla menjadi sungkan.


"Tidak ada."


"Presdir, apa anda sedang marah?" Dengan mengumpulkan keberanian, Nayla bertanya pada Wira. Dia tidak bisa diam saja seperti ini.


Wira menatap Nayla dengan dingin. "Apa maksudnya?"


"A-apa Presdir sedang marah pada saya? Karena kemarin saya meninggalkan meja saya. Kalau iya, dengan sangat menyesal. Saya minta maaf Presdir." Nayla menundukkan kepalanya.


"Aku____" Ucap Wira terjeda.


Belum selesai bicara Malika sudah masuk ke dalam ruangan Wira tanpa mengetuk pintu. "Wira!!"


"Kau bisa mengetuk pintu sebelum masuk!" Wira nampak jengkel dengan hadirnya Malika.


Nayla tidak ingin mengganggu, dia memilih keluar dari ruangan. "Saya permisi dulu Presdir."


"Tetap disitu Nayla!" Bentak Wira tidak tahan dengan keluguan Nayla, yang selalu menghindar. Malika mendekati Wira.


"Wira, kenapa kamu memberikan aku tugas yang banyak sekali! Apa kamu tidak salah?" Wanita itu mengeluh di hari pertama kerjanya.


"Kau belum mengerjakan, tapi sudah mengeluh! Masuk ke dalam pusat Pranata Group harus bisa bekerja dengan efektif dan efisien. Jika tidak bisa, lebih baik kau kembali saja ke Kota J" Ucap Wira dengan tegas dan nada menekan.


Nayla yang mendengar itu semua hanya diam dan menggigit bibirnya. Menandakan dia gugup, Wira melihat hal itu menahan dirinya dengan mengepalkan erat tangannya sendiri.


"Wira, aku menggantikan Papah di sini. Dan aku baru terjun di dunia bisnis. Tidak bisakah kau pelan-pelan mengajariku." Rengek Malika bernada lembut menggoda Wira.


"Dan aku tidak pernah menyuruhmu untuk masuk ke kantor ini. Sekarang keluarlah!"


Malika mengepalkan erat tangannya, ia geram dengan sikap Wira. Wanita itu memutar tubuhnya melihat Nayla dengan tatapan benci. Lalu keluar dari ruangan Wira.


Pria yang sedang di landa emosi itu mengunci pintu ruangannya dengan remot. Dan menghampiri Nayla yang masih menunduk.


Dengan gerakan cepat Wira melangkah, lalu mendorong tubuh Nayla ke dinding marmer berwarna putih di ruangannya.


"Sudah aku bilang jangan menggigit bibirmu di hadapanku!"


Wira melahap habis bibir ranum milik Nayla, dia tidak bisa menghentikan nafsu nya melihat kebiasaan Nayla yang suka menggigit bibirnya.


Tubuh Wira bahkan sudah tidak ada jarak dengan Nayla. Mereka sangat lekat membuat Nayla tidak bisa bergerak.


Seperti pria yang kelaparan, Wira ********** dengan agresif dan menuntut. Gadis itu selalu lemah di hadapan Wira dan pasrah menerimanya.


"Kenapa rasanya aku ingin memilikinya.. Nggak, nggak boleh Nay" Batin Nayla meronta.


Wira melepaskan pagutannya. Dia memegang dagu Nayla membuat gadis itu mendongak. "Nay, aku menginginkanmu"


Atas dasar apa Wira tiba-tiba mengatakan keinginannya seberani itu. Nayla masih bingung di tempat. Dia juga rasanya ingin bisa memiliki Wira. Tapi hatinya selalu tidak yakin karena dia cuma gadis biasa.


Nayla mengangguk tanda setuju, bibirnya tidak mampu berbicara. Wira tersenyum dan mencium bibir itu lagi. Kali ini lembut dan membuat hasratnya semakin memuncak.