
Mobil Wira berhenti di sebuah bangunan tinggi yang terlihat elegan di tengah Kota M. Escala adalah apartemen termahal di Negaranya. Jaraknya tidak begitu jauh dari gedung perusahaan Pranata Group.
Nayla tidak banyak bicara, dia diam saja karena masih kesal pada Wira. "Ayo turun.." Ajak Wira dengan lembut. Gadis itu manut saja dan ikut turun.
"Tempat apa ini? Kenapa terlihat mewah sekali." Batin Nayla memperhatikan sekitar bangunan Escala.
Sebuah hunian griya tawang yang terletak di lantai 30. Wira meraih key card di jasnya dan menempelkan benda itu di pintu smart yang berukuran besar.
"Masuklah.."
"Hum, tunggu. Kita ada di mana Presdir?" Nayla tertahan di pintu. "Escala." Jawab Wira singkat, dia menarik tangan Nayla masuk ke dalam.
"Tempat apa ini?" Nayla melihat sekeliling dalam griya tawang itu. Dia merasa masuk ke dalam hunian yang selalu ia lihat dalam drama korea.
"Ini fasilitas untukmu sebagai Asistenku." Wira berdiri di depan Nayla.
"Fasilitas?" Wira mengangguk. "Ya, rumahmu sangat jauh dari kantor. Dan ini aku berikan padamu sebagai tempat tinggal yang nyaman dan dekat dari kantor." Jelas pria berwajah tampan dan memiliki tinggi 174cm itu.
"Apa, tinggal di sini?" Nayla masih bingung.
"Hm, karena kamu Asistenku. Kamu berhak mendapat fasilitas ini. Sama seperti Zack."
Zack mendapatkan fasilitas apartemen yang mewah juga sebagai Sekretarisnya. Tapi milik Zack tidak di Escala. Melainkan gedung apartemen yang berada di belakang Escala.
"Ta-tapi ini berlebihan Presdir. Saya tidak bisa menerimanya." Nayla menolak lembut, dia merasa tidak pantas menerima apartemen itu menjadi tempat tinggalnya.
"Kenapa?"
Wira aneh dengan Nayla, kalau wanita lain di kasih apartemen. Mereka tidak akan menolaknya, tapi Nayla malah terlihat biasa saja dan sungkan.
Nayla menggelengkan kepalanya. "Saya masih punya rumah Presdir." Wira menghela nafasnya. "I know, Nayla."
"Iya, jadi saya tidak memerlukan ini. Saya masih sanggup pulang dan pergi dari rumah saya ke kantor Presdir." Nayla tersenyum kaku. Dia merasa tidak nyaman berada di tempatnya sekarang.
Gadis itu mengikuti Wira yang menarik tangannya ke arah balkon. Mata Nayla merasa disuguhi dengan suasana indah dari atas gedung Escala.
Mentari yang menyinari bangunan di sekitarnya benar-benar sangat indah. "Wah..." Ucap Nayla pelan. Dia berdiri di balkon itu dan Wira menarik sudut bibirnya.
Tiba-tiba tangan pria itu menggenggam tangan Nayla. "Nay, mari menikah." Tatapan Wira begitu dalam. Berbeda dari sebelumnya dia meminta Nayla untuk menikah dengannya.
Nayla menatap balik mata indah Wira. Dia merasakan getaran di hatinya. Kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Kenapa?" Wira menyentuh pipi gadis itu.
Nayla mulai merasakan nafasnya agak sesak. Dia sangat gugup, tapi berusaha terlihat santai. "Saya bukan wanita yang pantas untuk Presdir."
"Apa kamu tidak menyukaiku?" Wira berbicara serius sekali pada Nayla. Gadis itu menggelengkan kepalanya lagi. "Bukan, siapa yang tidak suka dengan pria seperti Presdir. Tapi Presdir bisa mendapatkan wanita yang setara, bukan saya." Nayla tersenyum.
Hatinya merasakan desiran yang aneh, entah kenapa bibirnya mengatakan hal itu meninggalkan sesak di dada.
"Aku tidak pernah berkencan dengan wanita manapun, only you. Dan kamu berbeda dari yang lainnya." Akhirnya seorang Wira bisa mengutarakan isi hatinya dengan jujur tanpa gengsi.
"Tapi__"
"Nay.."
Wira tidak ingin Nayla menjawabnya dengan sebuah penolakan. Gadis itu menunduk, dia bingung harus berkata apa.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu lagi. Tapi tinggal lah di sini." Wira mengangkat dagu gadis itu. Dia tersenyum hangat, gambaran wajah dingin dan datarnya tidak ada saat ini.
"Saya akan memikirkannya lagi Presdir." Wira mengangguk setuju. Dia tidak ingin memaksa Nayla, takut membuat gadis itu risih dan tidak nyaman.
Akhirnya mereka kembali ke kantornya lagi. Zack menghampiri Wira saat ini. "Presdir ada info bahwa Malika putri dari Tuan Ricky akan bekerja di kantor pusat Pranata Group." Ucap Zack dan Nayla bisa mendengarnya.
"Kapan dia datang?"
"Hari ini Presdir."
Wira tidak memberikan respon apapun, tapi guratan wajahnya nampak dingin. "Ke ruanganku sekarang!" Titah Wira pada Zack.
Di dalam ruangan Zack berdiri di depan meja kerja Wira. "Ricky pasti menyuruh Malika untuk melanjutkan misinya. Zack periksa kembali saham yang di miliki dia, dan pastikan Malika mendapatkan posisi yang sulit!" Perintah Wira tidak main-main.
"Baik Presdir."
Benar saja, tidak lama kemudian. Datang seorang wanita menggunakan dress ketat berwarna putih. Nayla yang duduk di kursi kerjanya melirik ke arah Malika.
"Ada yang bisa saya bantu, apa Mbak sudah membuat janji dengan Presdir?"
"Kamu siapa?" Tanya Malika melirik Nayla dari atas hingga bawah.
"Saya Asisten Presdir Wira."
"Jangan panggil saya Mbak, saya akan masuk ke dalam." Jawab Malika acuh.
"Tapi Presdir sedang__" Nayla tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Malika sudah masuk ke dalam, Zack dan Wira bersamaan melirik ke arahnya.
"Siapa wanita itu, sepertinya punya hubungan dekat dengan dia." Gumam Nayla sedikit merasa cemburu.
Tanpa di sadari Nayla memang sudah menyukai Wira. Karena tidak ingin berpikir yang membuat hatinya terluka.
Nayla memilih pergi ke atas gedung Pranata Group. Malika duduk di kursi depan Wira, Zack masih berdiri di tempatnya.
"Malika." Ucap Wira singkat dan tanpa ekspresi.
"Aku kesini untuk bekerja dengan Pranata Group." Ucap Malika tanpa basa-basi. Tapi bahasa tubuhnya seolah merayu Wira.
"Hm, posisimu sedang di siapkan oleh Zack. Selamat datang dan semoga bisa mengandalkan mu di kantor ini." Wira tidak ingin basa-basi dengan Malika. Dia memang selalu terlihat penuh wibawa di kantor.
Wira ingin mengikuti permainan Ricky sampai sejauh mana. Maka itu dia menyambut kedatangan Malika.
"Zack, antar dia ke ruangannya!"
"Baik Presdir. Mari saya antar ke ruangan anda, Ibu Malika."
"Nanti saja, aku masih ingin di sini mengobrol denganmu Wira." Tolak Malika pada Zack, dia tersenyum menggoda Wira. Tapi sayang pria itu tidak terpengaruh.
Waktu kecil Malika sering bermain dengan Wira. Tapi saat di tinggal kedua orang tuanya. Wira menjadi anak yang sibuk hingga dewasa sekarang.
"Sorry, kita bisa mengobrol nanti. Aku sedang sibuk." Tolak Wira mentah-mentah.
"Hm, okay. Aku akan kembali lagi kesini nanti." Malika seperti memberi waktu pada Wira, akhirnya dia mengikuti Zack keluar dari ruangan itu.
Wira keluar dari ruangannya tapi tidak menemukan Nayla di mejanya. Meja kerja yang tepat berada di depan ruangan Wira.
"Kemana dia?"
Pria itu berniat pergi ke atas gedung, tapi siapa sangka dia melihat Nayla sedang mengobrol dengan Irwan di sana. Nampak sekali wajah Nayla ceria, dia bahkan tertawa bersama Irwan.
Tangan Wira mengepal kuat, dia menghampiri gadis itu dan juga Irwan.
"Ehmm.. Apa ini jam istirahat?!" Wira berdehem dan menampilkan wajah dinginnya.
"Presdir? Maaf, saya akan kembali bekerja lagi." Nayla berdiri dari kursi. "Irwan, kita mengobrol lagi nanti." Pamit Nayla padanya.
"Baiklah.." Balas Irwan.
"Maaf, saya akan kembali bekerja lagi Presdir." Irwan pun pamit dari hadapan Wira.
Wajah Wira berubah dingin, dia mengikuti Nayla yang berjalan untuk kembali ke meja nya. Wira menarik gadis itu ke sudut ruangan. Nayla terkejut karena pria itu menyudutkannya.
"Bagus ya,, saat bekerja kamu malah dekat dengannya!" Tegur Wira pada gadis itu, kedua tangan Wira terangkat dan menempel di dinding sisi kanan dan kiri Nayla.
Pria itu mengunci dirinya, membuat jantung Nayla berdetak kencang. Gadis itu bahkan tidak bisa bernafas teratur.
Manik mata Nayla menangkap wajah dingin Wira, mata pria itu seperti marah padanya. "Bukan seperti itu Presdir."
"Lalu seperti apa?!"
Nayla terdiam, dia merasa bersalah karena sudah tidak ada di tempat kerjanya.
"Maaf Presdir." Bibir Nayla kelu, dia tidak bisa bicara apa pun.
Wira menarik nafasnya berat, lalu melepaskan pergerakannya dari Nayla. Meninggalkan Nayla yang masih berdiri kaku di sudut ruangan.
Terlihat sekali Wira kecewa pada Nayla.
Sore harinya Nayla masuk ke ruangan Wira, pria itu terlihat sibuk sekali dengan laptopnya.
"Presdir, apa ingin saya buatkan jus stroberi?" Tanya Nayla ramah.
"No."
"Atau Presdir ingin minum sesuatu?" Biasanya sore hari Wira minta di buatkan jus stroberi. Tapi pria itu tidak merespon Nayla kali ini.
"No, thanks."
"Hm, baiklah Presdir. Saya akan kembali ke meja saya" Nayla merasa Wira masih marah padanya. Bahkan pria itu tidak melirik ke arahnya.
"Sepertinya dia marah padaku." Gumam Nayla sedikit sedih.
Malika duduk di ruangannya, ruangan yang cukup mewah dan peralatan yang lengkap. Dia melakukan video call pada Ricky.
"Halo Pah.. Aku sudah di ruangan kerjaku" Ucap Malika dengan bangga.
"Wahh,, ruangan kamu lebih bagus dari milik Papah sebelumnya." Jawab Ricky di layar ponsel Malika.
"Iya dong Pah. Papah tenang saja, Malika akan melakukan semua perintah Papah." Ricky pun tertawa karena senang. "Bagus sayang,,, bagus.." Jawab Papah Malika.