Love In November

Love In November
Fitting Baju



Wira lumayan banyak minum di club. Zack mencoba menghentikan atasannya itu. "Presdir sudah minumnya. Anda sudah mabuk" Ingat Zack pada Wira.


"Nggak apa Zack, aku ingin minum malam ini. Kau minum lah juga" Wira menarik sudut kanan bibirnya.


"Tidak Presdir, saya harus menyetir nanti"


"Ya sudah Zack kau jangan bawel! Pesan saja apa yang kau mau. Malam ini aku yang traktir" Lagi-lagi Wira tersenyum aneh.


"Tumben Presdir minum banyak malam ini. Apa dia sedang bertengkar dengan Nayla?" Batin Zack bertanya-tanya.


Waktu menunjukan pukul satu malam. Nayla sedikit panik menunggu kepulangan Wira. Teman-temannya bahkan sudah pulang dari pukul sepuluh tadi.


"Haduh, Mas Wira kok belum pulang ya, apa dia pulang ke rumahnya? Tapi kenapa dia tidak mengabari ku. Sebaiknya aku telepon Zack kali ya?" Nayla mondar-mandir di depan sofa ruang tengah.


"Ah nggak-nggak.. Masa aku telepon Zack, apa kata dia nanti. Sedangkan aku tidak begitu akrab dengannya. Dia sama saja seperti Mas Wira. Sangat dingin dan kaku"


Sambil menimang-nimang pikirannya. Tidak lama Zack menekan bel pintu apartemen Wira.


"Mungkin itu Mas Wira, tapi kenapa dia tidak langsung masuk?" Nayla bingung, tapi ia tetap berjalan membukakan pintu.


"Astaga Zack, ada apa dengan Mas Wira?" Nayla melihat Wira sedang di rangkul Zack. "Sayaangg..." Racau Wira yang setengah sadar.


"Presdir mabuk Nay, bantu aku membawanya ke kamar"


"Ah, iya-iya baik Zack."


Sampai di kamar Zack berpamitan dengan Nayla. "Nay sisa nya kamu yang urus ya, tadi Presdir lumayan banyak minum di sana. Aku pamit pulang dulu"


"Baiklah Zack, terima kasih karena sudah menjaganya"


"Hm, sama-sama"


Akhirnya Zack pulang, Nayla membantu melepaskan sepatu yang masih terpasang di kaki Wira.


Lalu dia menyelimuti tubuh Zack. "Mas kamu kenapa minum banyak sekali sampai seperti ini" Nayla tidak tega melihat kekasihnya yang mulai memejamkan mata dengan tenang. Tapi wajannya sudah semerawut dan acak-acakan.


"Ma... Pa..." Racau Wira dengan mata terpejam.


Nayla mengusap wajah Wira pelan, dia juga membenarkan rambutnya. "Mas kamu pasti merindukan orang tuamu."


Ingin membuat Wira merasa nyaman. Nayla menyalakan suara hujan yang remot nya terletak di meja samping ranjang.


"Semoga ini bisa membantumu lebih tenang Mas" Raut wajah Nayla sangat iba dengan keadaan Wira. Nayla akhirnya ikut berbaring di sebelah Wira dan ikut memejamkan mata.


Suara hujan benar-benar menyihir rasa kantuk Nayla yang sudah ia tunda sedari tadi.


Keesokan harinya Wira bangun dengan kepala yang teramat pusing. "Ssshh..." Suara hujan masih menyala. Wira melihat Nayla tidur di sampingnya masih pulas.


"Kamu memang cantik sekali Nay" Puji Wira memandangi Nayla dan memegangi kepalanya.


"Aku pasti semalam mabuk"


"Mas kamu sudah bangun?" Nayla mulai mengedipkan matanya, dan mengucek pelan. "Sudah Nay, maaf ya semalam pasti kamu kerepotan mengurusku"


"Nggak kok Mas. Zack yang membantu Mas ke dalam kamar." Nayla duduk dan bersandar di sandaran ranjang Wira.


"Mas apa aku boleh tanya sesuatu?"


"Hm, tanyakan saja sayang"


"Nay, tadi kamu bilang ingin bertanya. Tanya kan sekarang, kenapa kamu malah pergi?" Wira merasa di gantung dengan rasa penasaran.


"Nanti saja Mas, bukan apa-apa kok" Nayla tersenyum manis.


Nayla berniat menanyakan tentang kedua orang tua Wira. Namun dia merasa momen nya sangat tidak pas.


Hari terus berlanjut dan berganti. Dua hari lagi pernikahan Nayla dan Wira akan di laksanakan. Wira sudah menemui keluarga Nayla dan mereka merestuinya.


"Sayang sore nanti kita ada fitting baju di butik Jhon. Kamu jangan sampai lupa yah" Ucap Wira di dalam panggilan teleponnya dengan Nayla.


"Ya Mas, aku akan ke butik Jhon nanti sore."


"Iya, kamu akan di jemput Zack. Aku tidak mau kamu menyetir sendiri"


"Baiklah Mas. Aku mengerti, kamu semangat ya kerjanya"


"Iya sayang, aku tutup dulu teleponnya. Aku mau meeting dengan Divisi pemasaran" Nayla mengerti, akhirnya panggilan itu di matikan.


Ya, Nayla sudah tiga hari tidak masuk bekerja. Di karenakan Wira melarangnya agar tetap di rumahnya saja. Menghabiskan waktu bersama orang tua nya sebelum mereka menikah.


"Siapa Nay, calon suami kamu ya yang telepon" Tanya Luna yang baru saja datang di ruang tamu.


"Iya Bu, aku akan fitting baju sore nanti sama Mas Wira." Nayla tersenyum malu. "Oh begitu, iya sudah Nay. Ibu doakan semoga pernikahan kamu lancar dengan Wira. Pesan Ibu jangan sampai lupa ya"


"Baik Bu, terima kasih ya Bu"


Nayla memeluk Ibunya dengan erat. Dia akan merindukan Ibunya setiap hari saat setelah menikah. Luna berpesan pada Nayla agar menjadi istri yang baik dan patuh pada suaminya kelak.


"Ya sudah, Ibu mau antar makan siang ke bengkel ayah kamu ya"


"Iya Bu, hati-hati ya"


Frans membuka usaha bengkel mobil sendiri berkat bantuan Wira. Wira sengaja membelikan sebuah ruko yang tidak jauh dari rumah Nayla. Dan lokasi nya di jalan raya.


Tidak hanya membelikan ruko, Wira juga membelikan beserta alat bengkel yang lengkap untuk membantu bisnis Frans dan mengandalkan keahliannya. Wira yakin Frans adalah orang yang pintar di dunia perbengkelan.


Sore harinya Nayla di jemput oleh Zack dan pergi ke butik Jhon Richard. Di sana Nayla menunggu sebentar sampai Wira datang. Dia tidak ingin masuk ke dalam sebelum kekasihnya datang. Jadi dia menunggu nya di mobil saja.


"Zack, kamu sudah tahu hubunganku dengan Mas Wira?" Zack mengangguk. "Iya Nay"


"Hum, apa yang kamu pikirkan setelah mengetahuinya?" Nayla takut kalau Zack berpikiran buruk tentangnya. Secara Nayla berasal dari keluarga yang sederhana. Berbeda dengan Wira yang bisa di katakan memiliki kuasa di Negaranya.


"Tidak ada. Aku senang bisa melihat Presdir menemukan pasangan hidupnya. Aku harap tidak ada yang saling mengecewakan di antara kalian berdua" Jawab Zack dengan sikap datarnya.


Tapi siapa sangka, ternyata Zack sangat dewasa. "Terima kasih Zack. Ah, itu dia Mas Wira sudah datang." Pandangan Nayla tertuju pada sebuah mobil yang baru saja datang.


"Zack, aku akan menemui Mas Wira."


"Iya Nayla"


Nayla keluar dan menghampiri Wira. Dia memeluk Wira membuat pria itu senang. "Seperti nya ada yang sangat rindu padaku?" Ledek Wira membalas pelukan Nayla.


"Aku sangat merindukanmu Mas."


"Kenapa tidak masuk sayang?" Nayla melepaskan pelukannya. "Aku malu jika bertemu dengan Mr.Jhon duluan Mas" Wira tertawa kecil. "Apa yang membuatmu malu Nayla, ayo kita masuk" Ajak Wira menggandeng tangan Nayla dan masuk ke dalam.