Love In November

Love In November
Terbang Ke Jepang



Nayla masuk ke ruangan Wira membawakan secangkir teh juga brownies bar sebagai temannya.


"Ini teh nya Presdir, dan juga temannya" Ucap Nayla tersenyum meletakkan teh itu di atas meja Wira.


"Terima kasih Nay. Oh ya, pulang kerja nanti kamu siapkan baju ya untuk ke Jepang besok lusa." Pinta Wira yang sedang membaca laporan.


"Ke Jepang?" Wira mengangguk.


"Aku ikut Mas? Bukannya kamu sama Zack yang pergi kesana."


"Mana mungkin aku tidak membawamu kesana. Kamu harus ikut Nay." Jawab Wira memaksa Nayla untuk ikut bersamanya.


"Tapi jika tidak ikut juga nggak apa-apa kok Mas. Kamu bisa beri aku tugas seperti biasa di sini" Usul Nayla merasa tidak pantas ikut ke Jepang. Di tambah ia belum pernah ke luar negeri.


"Tugasmu adalah mengurusku, jadi kamu harus ikut bersamaku"


"Hum, baiklah Mas. Aku akan menyiapkannya nanti malam. Aku juga akan menyiapkan perlengkapan Mas Wira nanti"


"Ide bagus sayang" Wira tersenyum lalu menyeruput teh yang di bawa Nayla.


"Kamu sudah punya paspor nya?"


"Belum Mas, aku belum punya paspor. Aku juga belum pernah ke luar negeri." Jawab Nayla tersenyum kaku. "Baiklah nanti biar Zack yang mengurusnya"


"Hum, terima kasih Mas"


Malam harinya Nayla sedang menyusun baju di kamar mewahnya yang berada di Escala. "Sebaiknya aku kabari Ibu kalau mau pergi ke Jepang" Gumam Nayla lalu mengambil ponselnya.


Dia menghubungi Luna dan meminta izin padanya. Setelah itu Nayla kembali melanjutkan kegiatannya merapihkan baju dan memasukan nya ke dalam koper berwarna silver.


"Akhirnya sudah selesai semuanya. Sekarang gantian aku ke kamar Mas Wira untuk menyiapkan perlengkapannya."


Nayla bergegas keluar dari kamarnya menuju kamar Wira. Dia mengetuk pintu karena tahu Wira ada di dalam.


"Mas aku masuk ya.." Ucap Nayla.


Kemudian ia masuk ke dalam dan melihat sekeliling kamar Wira. "Kemana Mas Wira?" Di dalam Nayla tidak menemukan Wira.


Dia berniat langsung menuju ke walk in closet nya Wira, tapi pintu kamar mandi terbuka. Membuat dirinya menoleh.


Wira yang baru saja selesai mandi keluar dari pintu kamar mandi itu. Nayla berusaha menelan saliva nya. Melihat tubuh kekar milik Wira terekspos sempurna di hadapannya.


"Ya Tuhan... Kenapa dia tampan sekali" Batin Nayla berbicara. Bahkan matanya tidak berkedip menatap Wira.


Sadar karena di perhatikan Nayla, Wira mendekati kekasihnya.


"Kamu ada di sini Nay?" Ucap Wira sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Tubuhnya hanya berbalut handuk sepinggang saja.


"Hum, i-iya Mas. A-aku mau menyiapkan baju Mas untuk ke Jepang" Jawab Nayla gugup, dia mencoba menetralkan perasaannya.


"Kenapa kamu gugup?"


"Ng-nggak.."


Wira tersenyum menatap gadis di depannya gelagapan. Sebuah ide jahil terlintas di benak Wira.


"Sebenarnya meskipun kamu sedang datang bulan, aku masih bisa____" Ucap Wira berjalan menyudutkan Nayla ke tembok.


"Masih bisa apa Mas?"


Wajah Wira mengikis jarak antara diri nya dengan Nayla. Aroma sabun yang segar tercium di hidung Nayla.


"M-mas mau ngapain?" Nayla semakin gugup.


Tangan Wira mengelus pipi kanan Nayla. Mata gadis itu berkedip beberapa kali. "Aku mau___" Tangan Wira turun ke leher Nayla hingga ke bagian dada. Nayla diam saja, entah kenapa tubuhnya tidak bisa berkutik.


"Mas aku tidak bisa, aku sedang datang bulan." Jawab Nayla cepat.


Nayla di buat merinding, bagian dadanya bahkan sudah di remas oleh Wira. "Akh,,, Mas___"


Berniat menjahili Nayla, malah Wira yang di buat pusing oleh ulahnya sendiri. Dia menghentikan aksinya, menarik tangan Nayla ke dalam walk in closetnya.


"Pilihkan baju-baju untuk di bawa ke Jepang nanti. Aku membiarkanmu lolos malam ini" Bisik Wira lalu pergi membuka salah satu deretan lemari di sana.


Dia memakai baju di hadapan Nayla, rasa canggung pria itu bahkan sudah tidak ada lagi pada Nayla.


Nayla memilihkan beberapa baju di lemari Wira. Setelan jas, dasi, dan juga beberapa baju casual untuk di kemas.


"Mas baju kamu di sini banyak sekali. Apa kamu membawanya dari rumah?" Tanya Nayla pada Wira yang sedang memakai celana.


"Nggak, aku memang menyediakannya di sini dan di rumah." Nayla mengangguk paham. "Ah, begitu ya.. Aku pikir Mas membawanya dari rumah"


"Tidak sayang, mau aku bantu?" Wira yang sudah selesai berpakaian, menghampiri Nayla yang masih memilih baju-baju dari lemarinya.


"Boleh Mas. Aku takut pilihanku tidak sesuai selera Mas."


"Aku akan pakai apa yang sudah kamu pilihkan. Semua baju di sini aku beli karena aku menyukainya. Jadi apa pun yang kamu pilih, aku tidak masalah"


"Benar juga, Mas pasti membelinya karena menyukainya." Nayla jadi merasa bodoh dengan ucapannya sendiri.


Hari terus berganti, hari ini mereka semua akan berangkat ke Jepang. Wira, Lukas, Nayla dan Zack sudah berada di bandara.


"Zack, berapa lama lagi kita akan berangkat?" Tanya Wira yang duduk di sofa dalam ruangan khusus VVIP.


"Lima belas menit lagi Presdir"


Suara sepatu hak tinggi terdengar nyaring semakin dekat. Malika tiba-tiba hadir di sana.


"Malika?" Lukas terkejut, begitu pun yang lainnya.


"Aku akan ikut bersama kalian" Ucap Malika membawa kopernya. Dia memakai dress hijau selutut dan sepatu heels berwarna putih.


"Aku tidak mengajakmu ke Jepang. Untuk apa kau di sini" Tegur Wira yang masih duduk santai di bangkunya.


"Aku terlibat dalam project baru mu Wira. Jadi aku boleh saja ikut bersama kalian." Malika tetap kekeh untuk ikut.


"Zack!"


"Maaf Presdir, ini benar-benar tanpa sepengetahuan saya" Jawab Zack merasa posisi nya terancam.


"Kau memang terlibat, tapi kau tidak perlu ikut Malika!" Ucap Wira dengan nada menekan. "Aku akan tetap pergi bersama kalian, aku juga sudah menyiapkan tiketnya." Jawab Malika acuh.


"Biarkan saja lah Wir, dia akan menjadi temanku selama di sana." Jawab Lukas tersenyum ada maksudnya.


"Terserah kau saja lah" Wira tidak ingin berdebat. Akhirnya Malika ikut bersama mereka ke Jepang.


"Dasar cewek kampungan, lo pikir bisa dekat sama Wira terus segampang itu!!" Batin Malika menatap Nayla tidak suka di balik kacamatanya.


"Presdir pesawatnya sudah siap. Kita boleh naik sekarang" Zack berdiri lebih dulu dan berjalan di belakang Wira dan Nayla.


Sedangkan Lukas lebih memilih berjalan di samping Malika. "Mau aku bantu bawakan tas mu?" Tawar Lukas yang melihat Nayla menjinjing tas hermes nya.


"Nggak perlu" Jawab Malika cuek.


Koper-koper mereka telah di bawakan oleh petugas bandara ke dalam bagasi pesawat. Nayla duduk di samping Wira. First class adalah pilihan Wira selama perjalanan ke luar Negeri.


"Mas aku takut" Bisik Nayla pelan.


Wira langsung menggenggam tangan kekasihnya. "Tidak perlu takut, ada aku bersamamu" Wira tersenyum hangat pada Nayla.


Tidak lama kemudian setelah pramugari menyampaikan informasi bahwa pesawat akan lepas landas. Akhirnya pesawat itu pun terbang membawa mereka ke Jepang.